Chapter 17: MAIN MISSION

2065 Words
“Apa maksudmu?” Rayhan menatapku tidak suka. Aku bisa melihat setitik tanda iri hati di dalam matanya yang dalam saat ia melirik senjata yang ada di atas tanganku. Aku tidak akan terpancing olehnya. Aku baru saja mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Amel, dan hal itu membuatku tersenyum bangga ke arah gadis yang hanya memutar bola mata indahnya itu dengan kesal.             Blarr…             Seberkas api menyala membuatku terkejut. Meski terlihat sangat mustahil, Toni akhirnya berhasil mematik api dari sepasang batu yang entah darimana ia temukan. Toni membuat tumpukan kayu kering yang sudah terkumpul itu mulai sedikit terbakar. Aku menghampirinya, begitu juga anak-anak yang lain. Mendekatkan diri ke api itu membuatku merasakan kehangatan yang nyaman. Aku sudah menghilangkan kembali pedang Deathbringer yang bentuknya lebih mengerikan daripada Lightbringer, mengingatkanku pada orang-orang jahat yang entah pernah ku temui atau tidak.             “Bagaimana bisa?” pekik Tata antara kagum dan tak percaya dengan api yang muncul begitu saja. Ku lihat Toni tampak berlagak sedikit menyombongkan sebuah keberhasilannya. Aku membiarkannya, aku memberinya waktu untuk pamer karena bagaimana pun juga, tanpa dia, kehangatan di depanku ini tidak akan pernah ada.             Ku lirik Amel yang berdiri tepat di sebelahku. Mata gadis itu berbinar-binar saat melihat api yang perlahan semakin hidup berkobar. Aku yakin dia juga sangat kagum pada Toni, namun sikapnya yang enggan mengakui kehebatan orang lain itu membuatnya tetap terdiam seperti itu. Di sisi lain, Rayhan tampak nyengir memamerkan sederet giginya yang rapi. Ia pun merasakan kehangatan yang sama dengan yang ku rasakan saat ini.             “Jadi, apa yang kau maksud tadi, Verlez?” tanya Toni yang akhirnya memberikanku waktu untuk berbicara. Ku perhatikan api yang berhasil ia ciptakan dari gesekan antar batu itu sudah mulai berkobar dengan baik dan cukup tenang. Tidak terlihat tanda-tanda api itu akan membakar apapun di dekatnya saat ini.             “Buku itu, kita berlima memiliki satu buku untuk masing-masing,” ujarku memulai menyampaikan apa yang baru saja ku temukan beberapa menit yang lalu. Ku perhatikan mata mereka satu-satu, semuanya tertuju ke arahku dengan ekspresi serius. Membuatku sedikit merasa tidak enak ditatap seperti itu. Namun, aku harus tetap menjelaskan penemuanku.             “Minami tidak mungkin melepas kita begitu saja tanpa ada petunjuk. Aku yakin buku itu adalah petunjuk untuk kita,” tambahku percaya diri.             “Petunjuk yang bagaimana? Buku itu tidak berguna,” sela Rayhan sambil tertawa sumbang. Perbuatannya itu berhasil membuat Amel, Toni, dan Tata menatapnya dengan kesal. Sebuah tatapan yang menusuk dan membuatnya segera menutup mulutnya seketika. Rayhan berdeham aneh, seperti salah tingkah. Seperti biasa, aku akan mengabaikannya.             “Bagaimana kalau buku itu menunjukkan masing-masing peran yang harus kita ambil atau pelajari dalam latihan aneh buatan Minami ini? Buku Toni misalnya, buku tentang cara hidup di alam liar. Bukankah dari buku itu Toni bisa belajar menyalakan api ini?” suaraku mengeras karena aku mulai bersemangat untuk menjelaskan. Ku lirik Amel tampak menganggukkan kepalanya singkat, jari lentiknya sedang menggelitik ujung dagunya yang lancip.             “Dan bukuku, aku baru tahu kalau senjataku memiliki kelebihan untuk melakukan transofrmasi ke berbagai jenis senjata. Minami lah yang menciptakan senjataku, aku yakin dia tahu dan ia ingin aku belajar mengenal lebih banyak macam senjata sebagai referensi. Dengan begitu, buku tentang jenis-jenis senjata ini adalah bagian tugasku. Mungkin, ia sengaja membuatku menjadi petarung,” jelasku dengan bersemangat. Ku angkat buku di tanganku dengan bangga, Transformer tampak mendukungku dengan mengeluarkan kilatan cahaya yang lenyap hanya dalam hitungan detik. Aku yakin ia juga setuju akan hal itu. Aku tersenyum. Namun, Rayhan tentu saja mengeluarkan bunyi dengusan kesal, aku yakin ia semakin iri padaku sekarang. Aku tidak peduli.             Penjelasanku ini cukup masuk akal. Kalau sudah menyimpang, aku yakin Amel akan menyanggahku. Tapi, ku lihat ia hanya mengangguk seakan-akan ia pun memiliki pemikiran yang sama denganku. Begitu juga Toni yang tampak kembali menilik isi bukunya, dan Tata yang raut wajahnya menunjukkan antara percaya atau tidak dengan penemuanku.             “Buku milik Amel adalah tentang tanaman obat, aku yakin Minami memberikan tugas pada Amel seperti halnya seorang ilmuwan atau dokter penyembuh. Lalu Tata, ia memiliki kelebihan resisten terhadap racun dan bukunya adalah tanaman-tanaman beracun. Bagaimana kalau itu berarti Tata dipilih untuk mencari tahu jenis tanaman apa yang aman dikonsumsi dan tidak aman untuk dikonsumsi? Lalu Rayhan, sebuah buku sejarah…” aku tidak melanjutkan kalimatku yang sempat terdengar menggebu-gebu seperti kobaran api unggun di depanku. Aku tidak punya ide yang masuk akal untuk membahas fungsi dari buku sejarah yang diberikan kepada Rayhan. Ku lirik Amel untuk meminta pertolongan dan gadis itu sepertinya tahu sesuatu saat sudut bibirnya terlihat sedikit bergerak.             “Sejarah perang,” gumam Amel tanpa membalas tatapan mataku, “Apa yang dibutuhkan dalam sebuah peperangan selain senjata dan pasukan?” kali ini gadis itu menatapku penuh tanya seakan-akan ia baru saja mentransfer teka-teki ke dalam otakku. Aku mengangkat bahu, aku benar-benar tidak tahu jawabannya. Aku yakin, Amel pun tak butuh jawaban dariku sebenarnya.             “Strategi, Bodoh!” Amel mendengus setelah mengataiku bodoh, apa ia lupa siapa yang menemukan fungsi per buku itu pertama kali?             “Dalam buku sejarah perang pasti ada detail bagaimana kubu A mendapat kemenangan dan kubu B mendapat kekalahan. Dan itu artinya ada strategi yang tertulis dalam buku itu. Professor Minami menginginkan Rayhan untuk belajar sebagai ahli strategi. Ingat, kita adalah pasukan dan bukan individualis. Kita mengemban misi yang sama yaitu mengalahkan alien-alien itu. Kalau kita memiliki strategi yang kuat, aku yakin alien dengan tingkat kesulitan tertinggi pun akan berhasil kita kalahkan,” jelas Amel terdengar lebih bersemangat daripada aku. Matanya menatap Rayhan kali ini. Membuat laki-laki itu bingung, ekspresi di wajahnya terlihat seperti orang bodoh. Rayhan terlihat antara tak percaya dengan tugas besar yang diembannya dan juga kagum dengan tugasnya itu dalam waktu yang sama. Ahli strategi, kenapa Minami memilih Rayhan untuk itu? Aku tidak iri, aku hanya meragukannya sedikit. Bagaimana bisa orang yang mudah meledak seperti Rayhan terpilih menjadi ahli strategi?             Ku lihat senyuman aneh terekah di wajah tampannya itu. Aku hanya mendengus.             “Apa benar begitu?” tanya Toni yang akhirnya buka suara.             “Positif!” seruku dan Amel di waktu yang bersamaan. Membuat suasana sedikit canggung dan aneh tiba-tiba terjadi. Di antara jutaan kata, kenapa harus kata yang sama dan di waktu yang sama terucap dari mulutku dan gadis menyebalkan itu.             “Lalu, kalau memang begitu. Kita tinggal baca saja bukan? Kenapa sampai repot-repot dikirim ke hutan seperti ini?” Toni merasaa ide Minami kali ini sedikit berlebihan.             “Kita sudah dibuat dalam tim, kalau cuma membaca buku, aku rasa mandiri pun bisa. Sepertinya ada alasan lain kenapa kita dibuat dalam tim untuk latihan ini,” gumam Amel tampak berpikir keras. Aku membenci otaknya yang selalu bisa menangkap segala sesuatu dengan cepat.             Zinggg…             Zinggg…             Zinggg…             Suara alarm. Suara alarm yang sangat ku kenal itu bergemaa di dalam hutan. Entah dimana alarm itu di tempatkan. Aku bisa mendengar suara itu semakin keras, ku perhatikan gerak-gerik mereka berempat dan sepertinya suara itu juga terdengar oleh mereka.             “Suara apa itu?” Tata bertanya lebih dulu. Aku hanya menggeleng tak tahu.             “Sepertinya bukan hal yang bagus,” timpal Rayhan sok tahu.             Beep…             Sebuah layar berukuran lima belas inchi yang tembus pandang tiba-tiba muncul dari udara kosong di atas api yang sedang berkobar. Meski tembus pandang, ada sebuah pemandangan di dalam layar itu yang membuatku ingin muntah. Minami. Wanita itu tersenyum lebar dengan wajahnya yang aneh. Ia tampak menatapku dan yang lainnya secara bergantian seakan-akan saat ini dirinya memang sedang berada di hadapan kami berlima.             “Sepertinya kalian sudah menemukan petunjuk pertama, kalian adalah tim pertama yang menyadarinya,” gumam Minami. Bayangan wajahnya terlihat semakin aneh karena bergerak akibat uap panas dari api yang tak bisa menyentuhnya itu.             “Salah satu alasan kenapa kalian adalah tim favoritku, meski George tidak senang.”             Aku mulai bosan mendengar kalimat tak berguna yang terucap dari bibir tipis wanita itu. Meski begitu, entah kenapa tidak ada yang berinisiatif untuk menyanggahnya, semua hanya membiarkannya berpidato begitu saja. Bahkan Rayhan yang selalu menjadi juara dalam menyela sesuatu pun tampak mengunci rapat-rapat bibirnya. Aku mendengus.             “Karena kalian sudah tahu fungsi dari buku-buku itu. Aku akan membocorkan misi utama kalian di sana,” jelas Minami, ia sedikit mengangkat dagunya ke atas. Kali ini topik pidatonya berhasil menarik perhatianku.             Tetap sama, hanya suara kayu yang hangus terbakar oleh api dan angin dari dalam hutan yang mulai gelap. Beruntung api itu nyala tepat waktu.             “Masing-masing dari ketua tim akan diberikan sebuah kunci.”             Beep…             Aku bisa merasakan sesuatu tiba-tiba muncul begitu saja di dadaku. Sebuah kalung dengan gantungan berbentuk kunci dengan panjang lima sentimeter sudah berada di atas dadaku, menggantung tanpa izin dariku. Ku biarkan anak-anak lain memperhatikan kunci yang tiba-tiba muncul itu sebelum akhirnya kembali menatap layar dengan wajah Minami.             “Kalian bisa menggunakan kunci itu untuk membuka sebuah pintu keluar yang akan mengeluarkan kalian dari sana. Ingat, hanya ada satu pintu. Pintu itu dijaga ketat, kalian butuh bekerja sama dan menguasai apa yang ada dalam buku itu untuk bisa menemukannya, mendatanginya, dan membukanya,” Minami kembali tersenyum miring setelah menyelesaikan penjelasannya yang cukup tidak jelas itu.             Ada kunci dan kita bisa menggunakan kunci itu untuk membuka sebuah pintu yang entah berada dimana saat ini. Sebuah pintu di dalam hutan aja sudah terdengar mustahil, kecuali kalau ada sebuah rumah di sana. Lalu, nada bicara Minami yang menekankan kalimat terakhirnya juga terdengar sangat mencurigakan. Aku yakin ia masih merahasiakan sesuatu.             “Selamat berlatih! Ingat kalimatku, dan ingat satu hal lagi. Kalian tidak sendirian!”             Beep…             Layar itu melebur dengan udara kosong. Menghilang begitu saja seakan-akan tidak pernah muncul sebelumnya. Sungguh sebuah petunjuk yang sangat tidak banyak membantu. Tapi setidaknya, dengan begitu, pertanyaan Toni tadi bisa terjawab oleh kalimat Minami. Ia menginginkan lebih, bukan hanya sekedar membaca buku yang bisa dilakukan hanya dengan duduk diam di dalam bunker masing-masing.             “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Rayhan yang sudah menekuk lututnya untuk duduk di dekat api. Aku pun mengikutinya, kakiku terasa pegal karena harus berdiri terlalu lama. Ku biarkan Transformer untuk kembali menyembunyikan dirinya dan beristirahat.             “Bukannya sudah jelas? Kita harus menemukan pintu itu sekarang,” timpalku memberikan jawaban. Rayhan sepertinya tidak memiliki kualitas otak yang cukup baik. Aku semakin meragukannya sebagai ahli strategi sekarang.             “Tidak, bukan itu. Kita harus membaca isi buku masing-masing sebelum menemukannya. Minami tidak mungkin membuat misi yang sangat mudah seperti pencarian pintu keluar tanpa tantangan. Kita harus menyelesaikan tugas pertama kita terlebih dahulu sebelum beralih ke misi utama. Dan sebaiknya, kita mulai membaca dari sekarang.” Amel turut ikut menekuk lututnya dan duduk di sebelahku. Ia sudah membuka kembali bukunya dan matanya pun segera terhanyut di balik sampul buku itu. Aku tahu, buku Amel memiliki halaman paling banyak dari yang lainnya, mungkin hampir dua kali lipat. Aku sedikit merasa kasihan padanya karena satu hal itu.             “Membaca?” ulang Toni tak percaya, jelas sekali dari nada bicaranya kalau ia merasa keberatan. Namun Amel tampak enggan menanggapinya. Ia sudah asyik dengan bukunya itu. Meskipun terdengar membosankan, sepertinya aku harus menuruti ide gadis itu. Segera ku buka dan baca buku yang ada di tanganku mulai dari halaman belakang. Sepertinya malam ini akan berlalu dengan begitu lambat.             “Sepertinya memang tidak ada pilihan lain,” gumam Tata yang akhirnya membuka bukunya untuk yanag pertama kalinya sejak buku itu berada di dalam ranselnya.             Selanjutnya, ku lirik mereka satu per satu. Keempatnya sudah mulai tenggelam ke dalam bukunya masing-masing. Semuanya sudah ditentukan keahliannya masing-masing. Sementara bacaanku hanyalah jenis-jenis senjata, fungsi senjata, kapan harus dipakai, dan detail-detail lain beserta gambar dari senjata itu dengan warna yang menarik. Sejujurnya, hanya karena ada gambar dan warna di masing-masing senjata itu yang membuatku tertarik untuk membuka halaman-halaman berikutnya. Tapi meski begitu, aku harus serius mempelajarinya. Dengan begitu, aku tidak akan merepotkan Transformer untuk mencari tahu senjata apa yang paling ku butuhkan saat aku terjebak dalam sebuah pertempuran yang tak terhindarkan. Siapa tahu, pertempuran itu akan datang dalam waktu dekat.             Aku bisa merasakan udara dingin di sekitar semakin pekat. Semakin ku geser posisi dudukku dekat dengan api unggun itu. Aku kembali teringat dengan kalimat penutup Minami yang mengatakan kalau kami berlima tidak sendirian di sana. Kalau benar begitu, apa yang sebenarnya ada bersama kami? Apakah cukup berbahaya? Apakah bisa menghalangi kami untuk menuju pintu itu?             Setiap kalimat yang terucap dari bibir wanita aneh itu terus berputar ulang di dalam kepalaku. Memenuhinya dan semakin mengganggu fokusku dalam membaca. Aku ingin segera menyelesaikan bacaanku dan tertidur. Tapi, aku tidak sadar kalau aku pun sudah tertidur begitu saja sebelum aku mengusir suara Minami dari dalam kepalaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD