Sekali lagi aku harus berjalan mengikuti Minami dengan pasrah. Bukan kemauanku tapi kemauan tubuhku yang tak bisa ku kendalikan secara mandiri. Entah kemana aku harus pergi kali ini. Ku lirik tanganku dan Transformer masih ada di sana, menemaniku. Aku harap ia tidak pergi begitu saja seperti biasanya, karena aku pasti akan merasa kesepian tanpanya sekarang. Aku tidak mendengar ia mengucapkan sesuatu, tapi aku bisa merasa kalau keberadaannya cukup membuatku tenang.
Minami berjalan menelusuri koridor lapis baja berwarna silver mengkilat. Aku hanya mengikutinya dalam diam. Satu-satunya sumber suara ribut adalah langkah kaki Minami, suara gesekan sepatunya dengan lantai membuatku nyaris gila. Sementara langkah kakiku tidak menimbulkan bunyi apapun. Suaranya teredam karena aku berjalan dengan kaki tanpa alas. Telapak kakiku semakin terbiasa dengan lantai yang dingin itu.
Minami menghentikan langkah kakinya saat berdiri di sebelah pintu besar yang tak bisa ku intip ada apa di balik pintu itu. Ia menempelkan telapak tangan kirinya ke mesin sensor pengunci pintu itu. Aku menunggu sampai suara mesin bekerja dan pintu itu perlahan terangkat ke atas. Mataku terbelalak melihat bayangan yang ada di baliknya.
Aku bisa melihat mereka, ada Amel, Toni, Tata, dan Rayhan. Hanya mereka berempat yang berada di dalam ruangan yang tak begitu luas itu. Aku menatap mereka satu per satu dengan alis terangkat, berharap mereka sudah mengetahui sesuatu. Tapi, bahkan Amel pun lebih memilih untuk tak bereaksi. Kalau ia saja tidak tahu, pasti yang lainnya pun sama.
Aku melihat ada lima buah kapsul tidur yang tersebar di dalam ruangan itu. Aku bisa membaca sebuah nama tertulis di bagian atas masing-masing kapsul tidur itu. Dan itu adalah nama subjek dari aku, Amel, Toni, Tata, dan Rayhan. Aku mulai mengerti, sepertinya para pencipta berniat untuk memasukkan kami berlima ke dalam kapsul yang sudah ditandai itu.
Ku lirik ke arah Minami yang berdiri di sebelahku. Bibir tipisnya mengukir sebuah senyuman yang aku tak suka. Apa rencananya kali ini?
Ku perhatikan sekitar. Ada setidaknya lima orang berseragam yang baru saja berdiri dari kursinya yang menghadap ke sebuah layar monitor besar. Masing-masing orang menjaga satu layar monitor. Mereka membungkukkan badan saat Minami datang. Kenapa mereka memberikan wanita itu sebuah penghormatan?
“Kita akan mulai latihan lanjutan,” gumam Minami mulai membuka suara.
Tunggu— latihan lanjutan? Jadi, apa mereka berempat sudah menerima upgrade? Aku melihat mereka masih terlihat sama, tidak ada yang berbeda dari keempatnya. Begitu juga denganku. Yang artinya cukup bagus. Aku tidak perlu merasa khawatir akan teman-teman humanbotku sekarang.
“Aku sudah menentukan tim untuk seratus humanbot, aku membaginya menjadi dua puluh tim dengan anggota lima orang,” jelas Minami memberi jawaban kenapa aku berada di ruangan yang sama dengan empat orang itu.
“Kenapa mereka?” selaku tak bisa menunggu. Aku merasa aneh dengan pemilihan tim ini. Kenapa Minami memberiku tim yang anggotanya kebetulan semuanya sangat ku kenal meski salah satunya tidak bisa berdamai denganku?
Minami menoleh ke arahku lalu tersenyum. Ia tidak mengatakan sesuatu.
“Apa?” tanyaku kebingungan. Ia hanya menatapku lalu tersenyum tanpa memberiku jawaban yang ku inginkan.
“Aku ingin mempersiapkan tim terkuat hingga terlemah. Aku bisa menghitung kemungkinan bertahan hidup kalian kalau berada di tim yang sama,” jelas Minami tak bisa membuatku puas tentunya. Aku ingin menyela sekali lagi tapi jari telunjuk wanita itu memberiku isyarat untuk diam.
“Masuklah ke dalam kapsul masing-masing, aku tidak ada waktu untuk ini.”
Dan sekali lagi kakiku tergerak begitu saja menuju kapsul tidur yang memiliki tanda ‘Subjek 888’ di bagian atasnya. Seorang teknisi, sebut saja begitu, membantuku untuk masuk ke dalamnya. Sempat ku lirik ke arah teman-temanku dan mereka terlihat melakukan hal yang sama dengan sangat patuh. Kenapa dengan mereka? Bahkan Rayhan yang terus berkata ketidakadilan para pencipta saja sangat patuh seperti robot sepenuhnya. Apa ia hanya tukang banyak bicara?
Ku biarkan teknisi itu mengaktifkan penutup kaca dari kapsul tempatku terbaring saat ini. Sungguh sesak, namun aliran oksigen yang ada di dalamnya berhasil memanjakan paru-paruku dan terasa nyaman. Kedua tangan dan kakiku sudah terikat oleh cincin baja yang tak bisa ku gerakkan. Bahkan, di bagian leherku pun cincin baja itu mengunci pergerakanku. Aku berusah untuk tetap tenang sampai tiba-tiba ku lihat ada corong yang mengeluarkan kepulan asap dari bagian ujung kakiku. Asap itu membuat usahaku untuk tetap tenang langsung sia-sia.
Aku memberontak, tapi cincin baja itu terlalu kuat menahanku. Aku tidak berdaya, sementara asap itu semakin pekat memenuhi isi kapsul yang luasnya tak seberapa. Aku hanya memejamkan mataku pasrah. Dan semuanya pun seketika gelap.
***
“Verlez!”
“Bangun!”
“Verlez!”
Aku bisa mendengar suara bisikan di dekatku. Tidak hanya satu orang. Aku bisa merasakan keberadaan mereka, satu…dua…tiga… ada tiga orang sedang menatapku.
Plakkk…
“Ouch…”
Sebuah tamparan keras berhasil menarik kesadaranku. Tiba-tiba tubuh bagian atasku terangkat berdiri, dan mataku langsung menatap siapa pelakunya. Aku sudah bisa menebaknya. Amel.
Gadis itu masih belum sempat menyembunyikan tangan kanannya saat aku sudah memergokinya. Ia terlihat tidak peduli meskipun aku sudah menatapnya kesal.
“Apa kau selalu perlu menamparku?” Aku tidak menyukai caranya yang satu itu.
Amel hanya mengangkat bahunya kemudian bergerak mundur, memberiku ruang untuk bisa melihat sekitar. Toni dan Tata tentu saja berjongkok di dekatku. Sementara Rayhan, bukankah aku harus melihatnya juga sekarang?
“Ray kemarilah, kita harus berkumpul!” Amel berteriak memanggil laki-laki itu. Yang ku lakukan hanya menunggu.
Brukkk…
Sebuah benda dilempar begitu saja ke atas pangkuanku bersamaan dengan datangnya Rayhan yang wajahnya terlihat tidak senang tentu saja. Ia menatapku malas. Ia lah yang melemparkan benda itu.
Ku periksa benda apa itu. Sebuah tas ransel yang terasa cukup ringan. Apa ada sesuatu di dalamnya? Ku perhatikan satu per satu teman humanbotku di sana, mereka tampak sedang membawa ransel yang sama bentuknya dengan benda yang ada di tanganku. Apa itu artinya masing-masing dibekali dengan ransel?
Aku semakin penasaran dengan apa isi di dalam ransel itu. Aku yakin ada sesuatu. Aku bisa merasakannya membentur pahaku saat Rayhan melemparnya tanpa aba-aba.
Ku buka ransel itu dan ku intip isinya. Aku melihat sesuatu berbentuk persegi berwarna gelap. Aku tidak tahu apa itu, aku harus mengeluarkannya. Ku masukkan tangan kananku untuk merogohnya keluar dan aku harus kecewa melihat isinya.
“Sebuah buku?” Aku tak percaya dengan apa yang baru saja terlihat oleh mataku.
“Kita semua mendapatkannya, sebuah buku itu,” cibir Rayhan membuatku semakin kesal.
“Buku apa yang kau dapat?” tanya Amel yang sudah merebut buku di tanganku begitu saja. Jelas sekali kalau sebenarnya ia tidak perlu bertanya kalau bisa melihatnya sendiri.
“Buku jenis-jenis senjata?” Aku bisa mendengar sebuah kekecewaan yang jelas dari suara gadis itu. Ia menyodorkan kembali buku yang seharusnya milikku itu ke tanganku.
Aku tidak mengerti. Apa mereka mendapat buku yang berbeda? Aku harus memastikannya sebelum menebak lebih jauh.
“Bagaimana dengan punyamu?” tanyaku penasaran. Amel mengangkat bahu.
“Setidaknya jauh lebih berguna, buku tentang obat-obatan,” jawabnya terdengar sedikit bangga. Aku mengernyit. Aku tidak tahu apakah aku setuju dengan kalimat pertamanya yang mengatakan kalau bukunya itu jauh lebih berguna.
“Bukuku tentang tanaman beracun,” ucap Tata saat mataku menatap ke arahnya.
“Bukuku tentang panduan hidup di dalam hutan,” ujar Toni kecewa.
“Bagaimana denganmu?” Rayhan tampak enggan memberikan jawaban sebelum aku menanyainya terlebih dahulu.
“Buku sejarah,” jawabnya malas.
Buku sejarah? Aku tidak percaya dengan jawabannya itu. Ku tatap matanya itu dengan sungguh-sungguh, sedikit mengancam tentu saja. Dan mulutnya pun kembali bergerak,
“Sejarah perang dunia II,” tambahnya memberikan detail yang lebih spesifik.
Apa? Yang benar saja. Tidak ada buku yang terlihat berguna dan bisa dijadikan sebuah petunjuk sekarang. Buku senjata, buku obat-obatan, buku tanaman beracun, buku panduan hidup di alam liar, dan buku sejarah? Apa aku harus mengurutkannya berdasarkan buku yang paling tidak berguna?
“Dimana kita sekarang?” tanyaku berusaha mencari petunjuk yang lebih membantu.
“Hutan,” jawab Rayhan singkat, “Dan sepertinya sebentar lagi malam tiba.”
Kalimat terakhirnya membuatku refleks berdiri di atas kakiku. Aku lihat sekitar, benar hutan. Bahkan sebuah hutan yang sangat rapat. Aku bisa melihat pohon-pohon itu hampir tidak memiliki celah satu sama lain. Dan entah kenapa, ada satu lokasi tanah kosong yang saat ini sedang ku tempati. Tanah kosong yang terapit sempurna dalam hutan seakan-akan kami dilempar begitu saja di dalam tanah kosong itu. Aku masih tidak mengerti, namun saat ku lihat ke atas, warna langit membuatku tertegun, tak biasanya ku lihat warnanya seperti itu. Warna langit berubah menjadi jingga dan terlihat indah. Apa itu artinya malam akan tiba seperti apa yang dikatakan oleh Rayhan? Lalu, apa yang terjadi jika malam benar-benar tiba?
“Kita harus membuat api,” gumam Toni tiba-tiba. Aku tidak mengerti kenapa ia berbicara seperti itu.
“Untuk apa?” tanyaku masih tidak tahu apapun.
“Untuk cahaya lah, bodoh! Apa matamu itu lihat ada lampu di sekitar?” Amel terdengar tidak senang seperti biasanya. Aku menahan diri untuk tidak memaki gadis itu.
Benar juga, aku tidak melihat adanya lampu di sekitar. Hanya hutan pepohonan yang lebat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana gelapnya tempat ini saat malam benar-benar tiba. Satu-satunya sumber cahaya yang ada hanyalah langit berwarna jingga itu.
“Bagaimana caranya membuat api?” tanyaku pada akhirnya. Aku tahu caranya adalah dengan menuang gas yang bisa terbakar dan menggunakan sebuah pemantik api otomatis untuk membakarnya. Tapi, aku juga tidak melihat tangki gas dan pemantik api sekarang.
“Kumpulkan kayu kering, aku rasa aku bisa membuatnya,” gumam Toni sambil mengacungkan sebuah buku di tangannya, “Aku sempat membaca caranya dari buku ini selama kau pingsan, Kawan.”
Membaca buku? Toni? Sejak kapan laki-laki berbadan besar sepertinya itu tertarik untuk menggunakan otaknya? Tapi tidak penting sekarang. Entah sudah berapa lama aku pingsan tadi sampai-sampai Toni bisa sempat membaca isi buku yang bisa berguna untuk saat-saat seperti ini. Sesuai dengan perintahnya, kami pun berpencar untuk mencari kayu kering.
Aku hanya berjalan menelusuri hutan sekitar, tidak mau masuk terlalu dalam karena bisa saja aku tersesat atau aku bertemu dengan makhluk yang tak diinginkan.
“Transformer.”
Aku bisa merasakan tanganku terasa hangat saat Transformer muncul menampakkan dirinya. Setidaknya dengan begini, aku tidak sendirian sekali lagi. Transformer akan selalu bersamaku. Aku pun mulai memunguti ranting-ranting pohon yang telah patah dan kering sesuai permintaan Toni. Dan saat tanganku sudah tak cukup lagi membawanya, aku memutuskan untuk kembali ke posisi semula sebelum langit semakin gelap.
Transformer membuatku terbantu, aku bisa membawa kayu-kayu cukup banyak dan aku bisa membandingkannya dengan hasil kerja mereka yang sudah kembali berkumpul lebih dulu dariku. Ku amati kayu bawaan mereka satu per satu. Bahkan Toni yang bertubuh besar pun membawa kayu kering yang jumlahnya tidak lebih dari setengah kayu yang ku bawa. Ku lemparkan kayu bawaanku di tengah-tengah mereka dengan bangga. Sepertinya aku yang bekerja cukup keras saat ini.
“Jangan sombong, Verlez1!” desis Rayhan yang sepertinya menyadari raut wajahku yang berubah sedikit sombong dan ingin pamer hasil. Aku mengabaikannya.
“Apa sekarang?” tanyaku bingung.
“Tumpuk kayu-kayu itu di satu tempat,” jelas Toni memberikan perintah seakan-akan ia tahu apa yang sedang ia lakukan. Yang lain pun menurutinya. Dan saat semuanya sudah terkumpul seperti gundukan, Toni berjongkok di dekat kayu itu. Ia mengeluarkan dua buah batu yang permukaannya sedikit kasar lalu mulai saling menggeseknya.
Nafasku tertahan saat melihat percikan api kecil muncul tiap Toni menggesekkan benda itu. Sepertinya cara yang tertulis dalam buku itu sedikit berguna. Tunggu— bagaimana kalau buku-buku itu memang berguna? Apa mungkin buku-buku itu memiliki peran dan petunjuk untuk pemegangnya?
Tanpa menunggu Toni berhasil membakar kayu-kayu kering itu dengan percikan apinya yang terlihat melelahkan, aku sudah kembali mengeluarkan buku itu dari ranselku. Ku lirik Amel sudah lebih dulu tenggelam membaca isi bukunya tentang obat-obatan. Aku tidak tahu apakah bukunya itu benar-benar berguna sekarang. Aku harus fokus, aku tidak mau orang lain mendahuluiku menemukan petunjuk penting.
Ku baca sekali lagi sampul buku berwarna hitam itu dalam hati, ”Jenis-jenis senjata.”
Ku buka halaman buku itu satu per satu, k*****a sekilas isinya dengan sangat cepat. Buku itu berisikan detail jenis-jenis senjata beserta gambarnya. Namun, tanganku sampai pada halaman yang membuatku terpaku lebih lama.
Lightbringer
Pedang yang diciptakan dari api abadi. Sebuah pedang legenda yang dipilih oleh Lord of Light untuk melawan kegelapan. Pedang ini bisa mengeluarkan cahaya dan menghasilkan panas, membakar apapun yang disentuhnya.
Setelah membaca kata pengantar di bawah gambar pedang yang sangat ku kenal itu, aku bisa merasakan sesuatu yang janggal. Lightbringer, buku itu memiliki detail lengkap tentang sejarah Lightbringer beserta ciri-ciri fisik dari pedang itu dan aku bisa mengatakan bahwa ciri-ciri fisik yang tertulis sangatlah akurat.
“Transformer,” lirihku memanggilnya.
Dan tanpa banyak basa-basi, Transformer mulai membentuk senjata apa yang ada di dalam kepalaku saat ini. Tangan kananku sudah menggenggam erat gagang pedang Lightbringer yang bercahaya dan berhasil menyita perhatian humanbot di sekitarku. Ku abaikan tatapan penuh tanya mereka. Lalu k*****a profil senjata di sebelah Lightbringer,
Deathbringer
Pedang kegelapan terkuat. Membunuh apapun yang yang ditebasnya kecuali jiwa yang terlalu suci. Kejahatan membuatnya semakin kuat.
Glitch…
Aku bisa merasakan rasa panas di tanganku hilang saat pedang Lightbringer ditanganku mengalami glitch setelah aku melihat profil dari pedang di halaman sebelahnya. Ku perhatikan garis pedang yang mulai berubah di tangan kananku dan rasanya semakin berat sehingga aku harus menjatuhkan buku itu untuk bisa memegangi pedang itu dengan kedua tanganku.
Sebuah bilah pedang berwarna hitam dengan permukaan yang bergerigi di bagian tepinya kembali muncul. Tanganku mencengkram gagang pedang yang terasa berat itu kuat-kuat agar tidak terjatuh. Perlahan namun pasti, ada guratan berwarna ungu gelap mulai menjalar di bagian bilah pedang yang sedang ku pegangi itu. Dan tak butuh waktu lama, pedang itu pun sudah siap untuk digunakan.
“Deathbringer,” gumamku tak percaya. Aku merasa seperti baru saja menarik gambar pedang itu dari halaman buku. Bentuknya sangat persis dengan apa yang ada di dalam buku itu. Amel yang seketika tertarik dengan usahaku pun sudah membungkukkan badan untuk mengintip ke dalam bukuku yang terjatuh. Dan matanya terlihat sangat tidak percaya dengan apa yang ditemukannya pada halaman itu. Aku menatapnya lalu tersenyum. Sepertinya aku baru saja berhasil mendahuluinya akan satu hal.
“Minami benar, sepertinya kita akan menjadi tim terkuat setelah ini,” ucapku sambil mengangkat tinggi-tinggi Deathbringer ke atas udara.