Aku tidak mengerti kenapa aku harus dipisahkan dari yang lainnya kali ini. Apa aku tidak akan mendapatkan upgrade sekarang? Apa itu karena teknologi dalam sistem robot yang ku miliki sudah diupgrade lebih dulu seakan-akan aku adalah robot beta tester? Aku terus berjalan mengikuti langkah kaki George yang terus merangkulku, bahkan mencengkram bahuku kuat sekarang. Kepalaku tertunduk. Aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan besar itu sekarang. Apapun yang mereka lakukan, Para Pencipta itu, aku hanya berharap kalau teman-temanku semua akan baik-baik saja dan tidak mengalami hal buruk dari upgrade yang mereka maksud.
Aku berjalan menelusuri sebuah lorong panjang yang berbentuk persegi empat. Semua sisi terbuat dari baja berwarna mengkilat. Aku bahkan bisa melihat samar bayanganku sendiri di sisi bawah yang sedang ku pandangi daritadi. Suara langkah kaki para pencipta yang berjalan di belakangku menciptakan bising di dalam telingaku yang tajam. Aku tahu hanya aku di sana yang mengalami masalah kebisingan yang sangat mengganggu itu. Mungkin suara langkah kaki itu terdengar normal di telinga mereka, Para Pencipta.
“Masuklah,” gumam George setelah berhenti di sebuah pintu baja besar yang sudah perlahan terangkat menunjukkan apa yang ada di baliknya. Kali ini aku mengangkat kepalaku untuk bisa melihat ada apa di hadapanku.
Sebuah layar lebar yang sedang menampilkan sebuah gambar yang terlihat sangat tak asing bagiku. Entah darimana mereka meletakkan kamera itu, aku tidak tahu sudut yang ditampilkan dalam layar. Meski begitu, kakiku tertarik untuk maju lebih dekat menghampiri layar itu. Aku bisa melihat dengan jelas para humanbot, teman-temanku, masih berdiri dalam barisan seperti sebelum aku pergi meninggalkan ruangan itu. Tunggu— apakah ini sebuah video rekaman ulang?
Tidak. Ini bukan video rekaman ulang, mereka memang masih terkunci dalam barisan dan posisi yang sama. Aku bisa melihat mereka memejamkan matanya, dan gambar paling jelas yang tertangkap olehku adalah nomer salah satu bunker yang menghadap langsung ke sudut kamera itu diletakkan. Bunker nomer 888, milikku tentu saja. Aku tidak begitu kaget mendapati bunkerku lah yang menjadi pusat perhatian kamera itu. Aku semakin merasa terawasi setelah mengetahuinya.
Ku lihat Toni sedang memejamkan kedua matanya seperti sedang tertidur namun tetap berdiri mematung. Di belakangnya masih ada Amel dan Tata, mereka tidak berpindah tempat meskipun aku telah meninggalkan mereka bertiga di sana. Aneh, sejak kapan mereka mengunci rapat-rapat kelopak matanya seperti itu. Mereka tidak bergeming sedikitpun.
“Apa yang kau lakukan?!” desisku pada siapapun yang ada di dalam ruangan itu bersamaku. Dan sesuai dugaanku, Minami lah yang terlihat membuka mulutnya terlebih dahulu.
“Mematikan daya,” jawab Minami enteng seakan-akan perbuatannya itu tidak salah sama sekali.
Ku perhatikan wanita berwajah aneh itu mulai berjalan melewatiku dan George yang tampak lebih memilih fokus ke dalam layar. Minami tersenyum miring ke arahku, aku bisa merasakan sensasi aneh saat melihat senyumannya itu. Apa ia sedang meremehkanku?
Minami berbalik menghadapku dan para pencipta yang lain seakan-akan sedang siap mempresentasikan sesuatu yang besar dan hebat. Sangat ciri khas Minami yang selalu ingin pamer.
Cesssshhh…
Bagian lantai berbentuk persegi yang baru saja diinjak oleh sepatu Minami tampak bergerak turun, membuat udara yang memiliki tekanan cukup tinggi keluar dari ruangan di bawahnya. Udara itu membentuk suatu gas berwarna putih, namun, dari ekspresi semua orang yang ada di ruangan itu, aku yakin gas itu tidak berbahaya. Mereka semua terlihat bersemangat, tak sabar akan sesuatu yang besar. Ekspresi di wajah mereka berhasil membuatku takut.
Setelah lantai berbentuk persegi itu semakin masuk ke bawah, sesuatu tiba-tiba muncul. Sesuatu berbentuk panjang menyerupai gagang yang semakin tinggi keluar ke atas. Aku bisa melihat ada sebuah pembatas gagang besi berwarna emas di ujungnya yang terus naik.
Ckiiit…
Sepertinya itu adalah batas kemampuan besi itu untuk mencuat dari lantai bawah. Ku perhatikan tangan Minami mulai bergerak untuk menggenggam besi itu. Tapi tidak ada yang terjadi. Wanita itu sengaja mengulur waktu.
“Verlez, bukankah kau ingin mencobanya?” Minami tiba-tiba melemparkan sebuah pertanyaan yang tidak ku mengerti. Apa yang ia maksud dengan mencobanya? Apa yang harus ku coba kali ini?
“Kemarilah, Verlez!” perintah Minami dengan suara lembut yang dibuat-buat. Aku sangat yakin ia merencanakan sesuatu yang buruk, jadi aku menolaknya. Namun, tentu saja, tubuhku menolak diriku sendiri.
Kakiku bergerak menghampiri Minami dan berhenti tepat ketika aku berada di sisi wanita itu. Lalu, tidak cukup sampai di situ saja, tanganku kali ini bergerak dengan sendirinya seakan-akan otakku bukan lagi yang bertugas memberikan perintah pada otot-otot penggerak di tanganku. Aku bisa merasakan dingin saat tanganku sudah mencengkram gagang besi berwarna emas itu. Aku merasa bentuknya cukup familiar, seperti sebuah tuas. Tapi, aku tidak tahu fungsi dari tuas itu untuk apa.
Minami tersenyum miring. Aku bisa melihat garis-garis di wajahnya yang telah ia tutupi dengan segala cara, tapi tetap saja nampak dengan sangat jelas di mataku. Aku bahkan bisa melihat bekas bedak atau krim tertentu yang terlihat tidak menyatu dengan kulitnya itu. Perasaanku tidak enak saat ku lihat wanita itu sekali lagi membuka bibirnya.
“Kau bisa menggesernya sekarang, Verlez,” bisik Minami dengan suara pelan namun penuh keyakinan. Aku menelan ludah saat perlahan tapi pasti, tanganku mulai bergerak mendorong tuas itu ke arah depan seakan-akan sudah tahu ke arah mana sebaiknya tuas itu bergerak. Aku hanya bisa berharap supaya hal buruk tidak terjadi karenaku.
Kriiiikkk…
Tang…
Aku terkejut mendengar bunyi benturan yang menggema di ruangan di bawah sana. Aku tidak bisa mengintip ada apa di bawah celah sempit tempat tuas itu muncul. Yang jelas, aku yakin sepenuhnya, kalau aku telah melakukan sesuatu yang buruk.
“Berbaliklah,” bisik Minami membuatku merinding. Aku pun menuruti perintahnya tanpa menunggu tubuhku bergerak dengan sendirinya. Kembali ku tatap isi layar besar itu dan mataku terbelalak saat melihat apa yang baru saja terjadi. Karena perbuatanku.
Asap putih mengepul keluar dari segala sudut ruangan besar itu. Asap yang begitu tebal dan kini sudah berhasil menyebar menutupi bagian kaki para humanbot yang tak bergeming sedikitpun. Ku perhatikan baik-baik, mata mereka tetap terpejam dan aku yakin kalau mereka juga sedang bernafas karena d**a Toni terlihat naik turun teratur. Asap putih itu semakin tebal dan sepertinya aku baru sadar, tuas itu lah yang mengaktifkannya.
Dengan segera ku putar kembali tubuhku untuk menarik tuas itu ke tempatnya semula. Namun sepertinya Minami sudah memperkirakan pergerakanku sebelumnya. Aku tidak bisa menarik tuas itu ke tempat sebelumnya. Minami menatapku tak percaya, tapi aku tetap saja berusaha mengerahkan seluruh tenagaku untuk menarik tuas itu.
“Transformer!” panggilku dalam suara tertahan. Aku tidak mau terlihat aneh dengan berbicara seorang diri. Dan, aku harus berterima kasih pada Toni atau Amel saat ini juga karena telah mengajariku bagaimana cara mengeluarkan Special weapon milikku.
Aku bisa melihat glitch di kedua tanganku dan tak butuh waktu yang lama, Transformer sudah muncul dalam wujud aslinya. Dengan Transformer menemaniku, aku yakin aku bisa menarik tuas itu kembali. Ku lihat warna hitam itu berkilat dan ruas-ruas jariku berubah warna menjadi merah. Tidak cukup di situ, Transformer tidak berhenti tumbuh besar hingga tanganku sepenuhnya tertutup olehnya, Transformer telah tumbuh hingga bahuku. Aku tidak mengerti apa yang ia lakukan. Aku tidak memiliki waktu untuk berpikir.
Ku tarik tuas itu kuat-kuat sampai bisa ku rasakan otot-ototku menegang seluruhnya. Transformer memiliki cahaya pijar berwarna merah membentuk garis, tidak hanya pada bagian ruas-ruas jariku. Tunggu— apa itu adalah otot Transformer yang berusaha untuk memberiku kekuatan tambahan? Saat aku menarik tuas itu semakin kuat, bisa ku rasakan warna garis merah pada Transformer berpijar seakan-akan ia juga sedang berusaha sangat kuat membantuku.
“Sepertinya ada yang sudah belajar,” gumam Minami dari belakang punggungku.
Aku mengabaikannya. Sudah tinggal sedikit lagi, aku bisa menarik tuas itu ke arah yang sebelumnya.
Takk…
Berhasil! Tuas itu sedikit tergerak dengan kekuatanku dan Transformer.
PLANGGGG…
Brukk…
Sial— kepalaku terasa sangat pusing saat sesuatu yang sangat berat itu menimpaku. Seseorang baru saja melemparkan sebuah baja berbentuk lingkaran dari belakang kepalaku. Baja itu jatuh tepat di sebelah kakiku. Ku perhatikan baja itu sebelum mataku tiba-tiba kabur. Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi.
Brukkk…
Dan, aku memiliki akhir yang sama dengan kepingan baja itu.
***
Seberkas cahaya putih terasa menggelitik celah di mataku yang sedang tertutup. Aku bisa merasakan cahaya itu terlalu silau meski mataku masih memiliki kelopaknya untuk melindungi diri. Sial—, aku bisa mencium aroma alkohol yang sangat khas di dalam ruangan itu. Aku bisa memperkirakan berapa kelembaban udara yang ada di ruangan yang sangat tidak asing bagiku itu.
Aku yang perlahan berhasil mengumpulkan kembali kesadaranku pun kini memutuskan untuk memberi tugas baru pada tubuhku. Aku harus membuka mataku atau cahaya itu akan membakar mataku meski tak sempat terbuka. Aku ingat bagaimana aku bisa berakhir di atas sesuatu yang dingin dan keras seperti ini. Aku sangat ingat bagaimana kepingan baja berbentuk lingkaran itu jatuh di sebelah kakiku sebelum aku menyusulnya begitu saja.
Perlahan aku bisa mengendalikan otot-ototku. Terutama otot di area mataku. Aku mulai mengerjap, cahaya itu benar-benar mengganggu. Aku tahu ada sebuah lampu yang sengaja mereka pasang di atas wajahku seakan-akan berharap aku segera bangun karena wajahku bisa saja terbakar oleh cahayanya yang terasa panas. Aku mengubah sistem penglihatanku. Aku menggunakan mata robotku supaya cahaya itu tidak benar-benar membakar bola mataku.
Sebuah lampu biasa, namun jaraknya benar-benar sangat dekat di wajahku.
“Sudah bangun?” suara Minami. Aku mengernyit mendengar suaranya. Kenapa harus dia yang menyapaku paling awal? Kenapa tidak Amel saja? Atau mungkin Rayhan juga akan terdengar jauh lebih baik daripada wanita itu.
Aku berusaha untuk berdiri tapi sesuatu menahanku dengan kuat. Aku baru sadar kalau aku terikat seperti biasa. Tidak dengan rantai yang hanya menahan tanganku. Kini aku bisa merasakan sesuatu sedang mereka gunakan di bagian dadaku. Menahan tubuhku supaya tetap menyatu dengan meja besi itu.
“Maaf membuatmu kecewa, tapi kau juga perlu mendapat upgrade dariku, Verlez.”
Aku mengerang, masih berusaha untuk membebaskan diriku dari kekangan benda itu.
“Berita baiknya, aku sudah menyelesaikan tugasku. Berita buruknya, kau harus tetap di situ untuk sementara waktu,” jelas Minami yang kini wajahnya sudah menyembul di atas kepalaku dengan posisi terbalik. Aku muak melihat wajahnya itu. Sampai kapan ia akan membuatku terikat dengan meja besi ini? Aku harus memeriksa keadaan teman-temanku. Apa mereka baik-baik saja?
“Mereka baik-baik saja tentunya, kau tidak benar-benar berpikir kalau aku berencana membunuh mereka, bukan? Verlez, aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuat para pencipta rugi, apa kau tahu berapa waktu yang diperlukan untuk menciptakanmu dan anak-anak itu? Jangan meremehkanku, Verlez! Aku tahu kau membenciku, aku tidak peduli itu.”
Minami mengoceh mencurahkan isi hatinya yang tak perlu. Aku sedikit geli mendengar ocehannya itu. Apa tujuannya memberitahuku seperti itu? Apa itu untuk mendapatkan kepercayaan dariku? Kalau begitu, aku harus mengingatkannya bahwa usahanya itu tak akan berhasil padaku.
Tingggg…
“Ahhh!” aku mengerang saat mendengar suara keras yang seperti memantul dalam ruangan itu. Seperti suara besi yang diadu. Aku ingin membungkam kedua telingaku kalau saja tanganku bisa ku gerakkan saat ini.
“Sepertinya berhasil lebih cepat dari yang ku perkirakan, bagus, aku bisa melepasmu sekarang.”
Krikkk…
Tanggg…
Aku bisa merasakan benda yang daritadi menahan dadaku mulai bergerak menarik dirinya sendiri. Tidak hanya itu, benda yang menahan kedua kaki dan tanganku pun ikut bergerak dengan sendirinya. Sepertinya aku tahu apa yang ingin ku lakukan sekarang.
Bukkk…
Aku melompat berdiri, kakiku sangat seimbang saat mendarat di atas lantai yang terasa dingin. Minami terkejut melihat gerakanku yang tiba-tiba, namun aku sudah berjalan ke arahnya. Menghampirinya, dan ia terus mundur hingga punggungnya membentur dinding ruangan itu. Ia tidak bisa kemana-mana saat aku mulai menggerakkan otot leherku untuk pemanasan. Aku akan memukulnya dengan tinjuku, sepertinya membuat wajahnya semakin terlihat aneh adalah ide bagus.
“Apa yang kau lakukan, Verlez?” Minami terdengar sedikit gemetar, tubuhnya semakin rapat dengan dinding itu. Aku senang melihatnya ketakutan seperti itu.
Ku kepalkan kedua tanganku, menyiapkan tinju yang kuat untuk menghantam wajahnya yang aneh itu.
“Kau tidak akan bisa melakukannya,” gumam Minami berusaha membela dirinya. Ia tidak tahu posisinya yang sedang terancam.
“Transformer, apa kau mau bersenang-senang denganku?”
Aku lega saat Transformer kembali menampakkan dirinya. Kali ini ia tidak memilih untuk tumbuh hingga menyentuh bahuku. Bentuk normal Transformer, sepertinya ia juga kesal dengan orang yang telah menciptakannya. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dan…
Brukkk…
Kretakkkk…
“Apa yang terjadi?”
Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja ku lakukan. Bagaimana bisa tinjuku meleset ke dinding dan membuat permukaannya hancur? Aku sangat yakin kalau Minami tidak bergerak sedikitpun, tapi, kenapa dengan tanganku ini? Apa ia bergeser sendiri, sedetik sebelum menghantam wajah menyebalkan itu?
“Apa perlu ku ulangi ucapanku? Kau tidak akan bisa melakukannya, Verlez!” desis Minami yang berubah menjadi marah. Ku tarik tinjuku untuk memastikan bahwa Transformer baik-baik saja meski dinding itu hancur karena kekuatanku.
“Tidak ada waktu untuk bermain-main, bersiaplah, kau akan menghadapi era baru!”