Lightbringer berhasil ku hunuskan ke arah pundak kiri gadis itu. Suaranya terdengar seakan-akan berhasil mengenai seonggok daging dan membakarnya sekaligus. Mataku terpejam saat melakukannya. Aku masih belum terbiasa membunuh sesuatu, apalagi yang berniat ku habisi kali ini adalah seorang gadis yang seharusnya tidak mendapat nasib seperti itu. Ku buka mataku secara perlahan untuk mengintip, aku yakin aku berhasil mengenainya kali ini. Namun, saat kedua mataku kembali terbuka, pemandangan di depanku berhasil membuatku membuka mulutku lebar-lebar.
Amel mengatupkan kedua telapak tangannya seperti sedang bertepuk tangan. Namun kedua tangannya itu kini berada di antara bilah pedang Lightbringer yang ujungnya nyaris menyentuh pangkal hidung gadis itu. Kedua matanya menatapku penuh amarah. Ia berhasil menahan seranganku dan kini ku lihat telapak tangan gadis itu mulai perlahan terbakar. Pantas saja aku bisa mencium aroma hangus seperti daging yang terpanggang.
“Amel?” lirihku tak tahu harus berbuat apa melihat tangannya yang terbakar seperti itu.
Aku melepaskan genggaman kedua tanganku pada Lightbringer dan perlahan pedang itu mulai mengalami glitch lalu hilang begitu saja. Ku lirik keberadaan Transformer di kedua tanganku, masih di sana, ia terdiam seakan-akan ia pun tidak tahu harus berkata apa saat ini.
Tangan Amel terkulai lemas, namun api yang membakarnya sudah hilang bersamaan dengan lenyapnya Lightbringer.
“Waktumu habis, Verlez!” cibirnya dengan bibir tipisnya itu. Ia tampak meringis menahan perih di tangannya yang hangus.
“Apa? Jangan menatapku seperti itu, kau kira luka seperti ini bisa membunuhku?” Amel mengangkat kedua tangannya, memutarnya dan mengamati warna hangus yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Aku bisa melihat kulitnya terbakar menyisakan daging yang telah masak. Aku mengernyit ngeri melihatnya.
“Waktu habis, kau tidak bisa menangkapnya, Verlez! Kau masih butuh banyak belajar,” jelas Toni yang sudah berjalan menghampiriku. Ia terlihat tenang-tenang saja meskipun aku yakin kalau aroma daging bakar Amel juga tercium di hidungnya yang besar.
“Aku tidak akan mengganti jenis latihanmu selama kau belum berhasil, Verlez,” jelas Toni sambil menepuk punggungku seakan-akan aku baru saja mengalami sebuah kekalahan yang cukup besar. Ku lirik papan digital yang menunjukkan waktu itu. Tertulis di sana kata ‘Time’s up!’, dan aku pun terpaksa menerima kekalahan hari itu.
“Kita akan kembali sekarang,”
Glitch…
Aku benar-benar harus terbiasa dengan kilat cahaya yang sangat menyakitkan mata dan munculnya suka tiba-tiba itu. Seharusnya Toni memberikan aba-aba terlebih dahulu sebelum kembali mengaktifkan jam tangannya yang aneh itu.
Aku mengerjapkan kedua mataku berkali-kali untuk terbiasa dengan cahaya yang ada di ruangan berbau alkohol itu. Ruang kamar dalam bunkerku. Kami bertiga sudah kembali ke tempat itu hanya dalam satu detik. Aku menatap Toni geram, bagaimanapun juga cahaya teleportasi yang sering ia lakukan itu benar-benar membuatku kesal. Toni mengangkat kedua bahunya dengan bersamaan, itu adalah tanggapan terbaik yang ia pilih untuk lakukan.
“Kita harus pergi sekarang,” gumam Amel. Gadis itu tampak memandangi kedua telapak tangannya yang kembali normal. Aku sudah tidak mencium aroma daging bakar yang membuatku ingin muntah karena tahu daging bakar itu adalah daging manusia, dan yang lebih buruk lagi, aku mengenalnya.
Amel mengedikan kepalanya, memberi isyarat padaku dan Toni yang artinya mungkin adalah ‘ikuti aku’. Aku pun bangkit berjalan di belakang mereka. Aku menutup tubuhku dengan baju asal yang tergantung di atas sebuah kursi, entah kapan terakhir kali aku memakai baju itu.
Aku berjalan dalam diam mengikuti Amel dan Toni yang berjalan ke arah pintu keluar. Saat aku keluar, aku bisa melihat anak-anak yang lain tampak melakukan hal yang sama. Berhambur keluar meninggalkan bunker mereka masing-masing dengan teratur. Entah apalagi yang akan kami hadapi setelah ini.
“Apa yang terjadi?” tanyaku penasaran, ku balas tatapan mata aneh anak-anak itu satu per satu dan membuat mereka berakhir dengan memalingkan muka.
“Waktu bersenang-senang sudah habis,” gumam Amel dalam bisikan. Ia membiarkanku dan Toni berdiri lebih dekat dengannya. Sepertinya gadis itu mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui. Tentu saja, dia adalah kesayangan baru Minami, bukan?
Amel menatapku selama beberapa detik seakan-akan sedang memberiku peringatan. Namun aku tak mengerti peringatan apa yang ia berikan melalui tatapan matanya itu.
“Hai, apa kalian sudah membentuk geng tertentu?” Tata muncul dengan pakaian serba hitam dan kali ini sengaja memamerkan bagian dadanya yang dibiarkan terbuka. Mataku hampir salah fokus dibuatnya.
“Sepertinya kau sudah dewasa sekarang, Kapten,” cibir Tata yang menangkap pergerakan mataku. Aku mengabaikannya. Gadis bertubuh mungil itu menempelkan tubuhnya rapat denganku. Aku tidak mengerti apa maksudnya, kulitnya yang pucat itu terasa dingin saat bersentuhan dengan kulitku.
“Aku hanya memilih kelompok terkuat,” bisik Tata seakan-akan menjelaskan maksudnya.
Amel kali ini menatapnya dengan sinis. Gadis itu mendekatkan wajahnya yang terlihat tidak senang ke wajah Tata lalu mereka saling tatap aneh. Aku hanya diam menahan nafas karena posisiku yang berada di antara mereka berdua membuatku tak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya tidak mau terlibat dalam permasalahan para gadis.
“Kita tidak akan bertarung, kembali ke tempatmu!” desis Amel, ia berhasil menyita perhatianku tentu saja. Dengan pengetahuannya yang kelewat batas itu, apa gadis itu adalah klon dari Minami atau para pencipta? Kenapa ia bisa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?
“Apa maksudmu?” tanyaku padanya, namun di waktu yang bersamaan, ada suara gerbang utama terbuka. Suara seperti angin yang dikeluarkan dari ruangan besar berisi bunker-bunker para humanbot. Aku tidak ingat kalau keluar ruangan besar ini harus melewati suatu perbatasan yang kedap udara.
Aku bisa melihat belasan orang berpakaian rapi yang ku tahu siapa mereka. Aku sangat hafal dengan wajah-wajah yang terbaca di kedua mataku. Para Pencipta.
Aku bisa melihat ekspresi di wajah mereka yang menyebalkan. Ada yang tersenyum karena psikopat, ada yang datar karena terlihat bosan dengan pekerjaannya yang seperti seorang babysitter merawat anak-anak setengah robot selama belasan tahun hingga besar, ada yang terlihat marah karena entah alasan apa untuk yang satu ini. Dan, di barisan paling depan, aku sudah bisa menduga siapa yang ada di sana.
George dan anjing penjaganya, Minami.
Segera ku tundukkan wajahku saat menyadari kalau aku sempat saling tatap dengan mata runcing Minami yang menyebalkan itu.
“Apa yang akan mereka lakukan?” tanyaku dalam bisikan pada Amel. Ku tarik tangannya karena tak kunjung memberikan jawaban. Beruntung Toni yang bertubuh besar itu berdiri di depanku, menutupi atau justru menyembunyikan perbuatanku di balik punggungnya. Amel melirikku dari sudut matanya, namun wajahnya tetap lurus ke arah depan. Entah siapa yang memberinya perintah untuk terkunci dalam posisi itu. Aku benar-benar tidak bisa membaca keadaan yang sedang terjadi.
“Bukan sesuatu yang buruk,” jawab Amel dalam bisikan yang lebih rendah dari suaraku. Aku yakin hanya aku yang bisa menjawab suaranya kali ini. Para humanbot dengan pendengaran super mungkin tidak bisa mendengarnya. Tapi itu tidak penting, yang lebih penting adalah bahwa Para Pencipta terlihat seperti tidak mendengarkan suatu apapun.
Aku menelan ludah saat ku dengar kaki-kaki itu mulai berjalan mendekat. Ku lirik mereka dari sudut mataku, melakukan hal yang sama dengan Amel tentu saja. Mereka berjalan dengan pelan, menatap para humanbot yang dilewati satu per satu seakan-akan sedang mengabsen keberadaan anak-anak ciptaan mereka yang selalu mereka banggakan itu.
Suara langkah kaki itu semakin terdengar mendekat. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan saat ini. Tapi perasaanku semakin tidak enak saat suara langkah kaki itu semakin dekat dengan posisiku berdiri. Dan benar saja. Langkah kaki mereka terhenti ketika ilmuwan dengan kepala botak dan anjing galaknya itu berhenti tepat di depan Toni.
Ku angkat kepalaku untuk menatap wajah mereka berdua yang kini menghadap ke arahku.
“Sebuah perkembangan yang bagus, Subjek 888, ah Verlez,” gumam George dengan bibirnya yang gemetar karena termakan usia. Sepertinya kematian enggan merenggutnya karena terlalu banyak dosa yang telah ia lakukan dengan berbuat seperti Tuhan yang menciptakan manusia. Tunggu, Tuhan— apa itu?
“Ahh…”
Kepalaku terasa seperti mendapat sengatan listrik peringatan saat aku bertanya-tanya pada diriku sendiri akan kata yang tak sengaja terucap begitu saja di dalamnya.
Ku lirik mata George yang tampak berubah iba menatapku.
“Minami,” gumamnya dengan suara pelan tapi aku yakin orang-orang bisa mendengarnya dengan cukup baik.
“Apa kau bisa menguranginya? Dia terlihat kewalahan dengan hal itu,” tambahnya dengan kalimat yang tidak ku mengerti. Mengurangi apa lagi? Apa yang ia rencanakan untuk direbut dariku sekali lagi? Ku lihat senyuman tipis di bibir Minami sebelum ia mengeluarkan sebuah jawaban yang membuat bulu romaku berdiri, “Tentu saja, Professor.”
“Apa ada di antara kalian yang tahu apa yang akan kalian dapatkan setelah ini?” tanya George dengan suara lantang. Ia mengenakan sebuah pengeras suara yang ditempelkannya di kerah bajunya yang kebesaran. Ia berbalik memunggungiku, menghadap ke sisi yang lain. Aku bisa melihat sebuah kilatan cahaya dari bagian belakang kepalanya yang botak saat orang tua itu memutar tubuhnya.
“Tidak ada?” tambahnya sambil terus berputar dan akhirnya kembali menghadap ke arahku. Tidak, bukan aku. Tapi orang yang berdiri di sebelahku. Gadis itu sudah mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi di atas udara. Amel.
“Ya, Subjek 8?” George memberikan kesempatan pada Amel untuk bersuara. Dan Amel meskipun terlihat sedikit gugup dan tangannya sedikit berkeringat, gadis itu tetap menggerakkan bibir tipisnya perlahan.
“Mass Upgrade, upgrade besar-besaran pada sistem para humanbot,” jelas Amel lancar. Aku bisa melihat bibirnya bergetar saat aku meliriknya melalui sudut mataku, namun meski begitu, kalimat yang keluar dari bibir gadis itu terdengar lancar seakan-akan ia sangat tenang saat ini.
“Tepat sekali, Subjek 8. Kau benar-benar favoritku yang kedua, setelah Subjek 888 tentu saja,” George kembali membalikkan badannya setelah melirikku dari atas kacamatanya yang dibiarkan turun di batang hidungnya yang bengkok. Aku tidak memperdulikannya. Kata favorit bukan sesuatu yang berarti bagus di sini. Kata favorit itu justru membuatku mengalami penderitaan yang jauh lebih banyak daripada humanbot lainnya, termasuk Amel. Aku harap gadis itu tidak bernasib sama denganku, karna aku yakin ia tidak akan sanggup.
“Kalian tidak perlu meninggalkan ruangan ini untuk sementara waktu. Kecuali Subjek 888 tentu saja, sayangnya...kami harus membawamu seperti biasa. Kemarilah!” jelas George membuatku sekali lagi berusaha untuk melawan permintaannya. Aku mengernyit. Aku tidak mau dipisahkan lagi dengan humanbot lainnya, aku tidak mau mereka membenciku lagi karena mendapat perlakuan yang berbeda dari para pencipta.
“Professor Minami akan menunjukkan sesuatu padamu,” jelas George yang sudah mengangkat tangan kirinya seakan-akan menungguku menghambur dalam rangkulannya. Namun, aku tentu saja tidak bergerak dari tempatku berdiri. Sengaja ku patenkan kakiku supaya tidak berjalan menghampiri orang tua itu.
“Verlez?”
Suara Minami seakan-akan membuatku tersentak terkejut. Ku perhatikan bibir tipisnya, tetap terkatup rapat. Tapi, aku yakin aku telah mendengar suara itu. Darimana asal suara itu kalau bibir wanita itu tertutup rapat seperti itu? Apa ia berbicara melalui kepalaku? Yang benar saja, apa ia bisa melakukan hal yang seperti itu?
“Turuti kata Penciptamu,” sekali lagi suara Minami terdengar sangat jelas di telingaku. Namun, bibir wanita itu masih tertutup rapat. Ku lirik Amel untuk mencari tahu apakah gadis itu juga mendengar suara aneh Minami yang terdengar cukup jelas dan keras. Namun Amel enggan membalas tatapan mataku. Entah apa yang menarik perhatiannya, gadis itu terus menatap bagian belakang kepala Toni seperti ada sesuatu yang indah di tempat itu.
“Ahhh…”
Aku bisa merasakan kakiku tiba-tiba bergerak dengan sendirinya. Sebuah gerakan yang sangat kaku seperti mesin yang rusak. Aku takut kalau sistem otomatis yang baru saja bekerja ini bisa membuatku kehilangan keseimbangan dan terjatuh konyol di hadapan rekanku. Karena sudah tidak punya pilihan lain, aku pun memutuskan untuk berjalan menghampiri George dengan sukarela. Pria botak itu tersenyum puas menyambut kehadiranku.
“Kita harus pergi,” gumamnya dengan suara pelan. Ku biarkan tangan lemah itu merangkul pundakku. Aku sengaja tidak menekuk sedikit lututku meski aku jauh lebih tinggi dari pria tua itu. Aku tidak peduli meski ia harus kesulitan saat merangkulku. Aku sangat tidak butuh sebuah rangkulan tangan darinya.
Aku berjalan mengikuti irama langkah kaki para pencipta. Aku berjalan di barisan paling depan bersama George. Aku bisa merasakan kehadiran Minami yang berjalan tepat di belakangku, membuntutiku dan kapan saja bisa membisikkan sesuatu melalui kepalaku apabila aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Aku terus berjalan hingga pintu gerbang besar yang terbuat dari baja itu berhasil ku lewati. Dan saat para pencipta keluar, kami berbalik, memperhatikan gerbang baja itu perlahan turun untuk mengunci mereka yang ditinggalkan di dalam ruangan besar itu. Aku menalan ludah, aku harap mereka tidak mengalami hal yang buruk selama aku tidak berada di sana. Entah pada siapa ku ucapkan harapanku itu.