“Apa kalian mendengarnya?” tanyaku penasaran, tidak bisa ku sembunyikan perasaanku yang menggebu-gebu. Toni dan Amel saling pandang selama beberapa detik kemudian kompak mengangkat bahu, sebuah isyarat kalau mereka tidak mendengar apa-apa
“Suara itu, mirip suara wanita tapi aku menyukainya. Aku yakin itu adalah suara milik Transformer, apa kalian mendengarnya?” sekali lagi aku bertanya setelah menjelaskan apa yang ku maksud dari pertanyaan pertamaku. Meskipun begitu, Amel tetap menjawab dengan cara yang sama. Sementara Toni bergerak menghampiriku kemudian menepuk pundakku sebanyak tiga kali.
“Hanya kau yang bisa berkomunikasi dengannya, Verlez. Aku dan Amel tidak akan pernah bisa mendengar suaranya, satu kata pun tidak akan pernah.”
Penjelasan Toni membuatku mengerti alasan kenapa kedua orang di hadapanku itu tidak bisa mendengarkan suara Transformer. Sepertinya suaranya hanya berputar dalam saluran telingaku hingga aku sendiri yang bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Aku yakin suaranya menyerupai suara seorang wanita dan suaranya membuatku nyaman. Maksudku, suara itu terdengar seperti suara dari orang yang sangat dekat denganku. Meskipun aku tidak tahu suara siapa yang digunakan oleh Transformer. Aku masih terlampau senang.
“Jadi, apa yang dia katakan? Tentang special ability miliknya itu?” tanya Amel, gadis itu mengangkat tinggi-tinggi dagunya yang lancip, aku tahu kalau ia pasti sedang mengujiku saat ini. Aku yakin Amel sudah tahu jawabannya.
“Dia bilang, dia bisa melakukan transformasi bentuk senjata sesuai dengan yang aku butuhkan!” aku berseru penuh semangat. Sekali ku lirik kedua tanganku dan Transformer masih di sana, tidak memudar sedikitpun.
Amel tersenyum tipis, “Aku sudah menduganya, Professor Minami benar-benar sangat hebat.”
Aku mendengus. Meskipun ucapan Amel benar, aku enggan mengakuinya. Bagaimanapun juga, aku merasa ada yang aneh dengan wanita berwajah aneh itu. Selain wajahnya yang aneh, kepribadiannya pun cukup aneh. Tidak lupa dengan misteri yang sepertinya banyak ia sembunyikan dariku dan dari humanbot yang lainnya. Tapi, terlepas dari aku sangat tidak menyukainya, aku harus berterima kasih padanya karena telah menciptakan Transformer untukku.
Tanpa ku sadari, aku sudah menggosok kedua tanganku. Seakan-akan sedang membelai penuh kasih sebuah senjata yang akan berjuang bersamaku.
“Apa yang kau lakukan?” Amel melontarkan kalimat tanya yang terdengar seperti sebuah tuduhan karena membuatnya risih melihat apa yang barusaja ku lakukan. Aku nyengir menatapnya.
Toni tertawa, “Aku pun melakukannya saat pertama kali mendapatkan Dark Repulser, bukan sesuatu yang aneh, Kawan.”
Setidaknya respon Toni lebih berguna daripada pendapat Amel kali ini. Aku tersenyum sekali lagi padanya.
Kita pasti menjadi rekan yang paling hebat dan tak terkalahkan-
Aku bicara pada Transformer dan aku yakin ia mendengar dengan jelas apa yang baru saja ku ucapkan melalui batinku.
“Tentu, Tuan.”
Sekali lagi suara yang hanya bisa ku dengar ini membuatku melompat girang. Aku tidak peduli tatapan mata nanar Amel ke arahku. Gadis itu hanya tidak mengerti apa yang sedang ku rasakan.
“Jadi, bagaimana kalau kalian latihan sekarang? Aku tidak punya waktu terlalu lama untuk berada di sini,” Amel mengganggu komunikasi yang sedang ku lakukan dengan Transformer.
Meskipun begitu, aku rasa keberadaannya di sini juga tidak terlalu penting. Kenapa ia tidak pergi saja kalau memang waktu yang ia miliki untuk ikut latihan tidaklah banyak. Apalagi orang yang akan melatihku menggunakan senjata adalah Toni, bukan dirinya. Lalu, untuk apa ia tetap tinggal di sini dan hanya membuat moodku buruk?
Aku tidak menyadari perannya di sini sampai Amel menarik sesuatu dari udara kosong yang berakhir membentuk dua buah senjata api muncul di tangannya. Senjata yang sama dengan apa yang terakhir kali ku lihat saat melawan Nagini. Untuk apa gadis itu mengeluarkan senjatanya? Apa ia akan ikut bertempur?
“Karena aku yang jadi pelatih di sini, aku meminta Amel untuk menjadi lawan pertamamu. Aku ingin melihat apa yang masih kurang dari kemampuanmu menggunakan senjata milikmu itu,” akhirnya, aku bisa mengetahui fungsi keberadaan Amel di sini, setelah Toni menjelaskannya dengan cukup baik.
“Aku akan menjadi lawanmu, aku tidak sebodoh Rayhan, jadi bersiaplah.”
Amel mengangkat kedua senjata apinya ke udara kemudian keduanya lenyap begitu saja. Apa maksudnya? Apa ia hanya pamer dan akan melawanku dengan tangan kosong?
“Pertama, bagaimana kalau kau coba menangkap Amel menggunakan senjatamu? Kau bebas melakukan apapun.” Jelas Toni. Pantas saja Amel menghilangkan keberadaan senjatanya. Gadis itu tampak sedang melakukan stretching dengan menarik kaki jenjangnya seperti atlet yang sedang bersiap-siap untuk turun ke lapangan.
Menangkapnya saja? Bukan mengalahkannya? Sepertinya akan sangat mudah. Kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat, Transformer.
“Cepat ambil posisi kalian berdua.”
Aku pun berjalan ke tempat yang telah ditunjuk oleh jari tangan Toni. Begitu juga Amel, gadis itu berjalan dengan langkah santai seakan-akan tidak mengetahui bahaya apa yang sedang mengancamnya. Sepertinya, kalau aku ingin memberinya pelajaran karena telah bertingkah menyebalkan sejauh ini, ini adalah sebuah kesempatan emas. Aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Dengan penuh percaya diri, aku pun bergerak seperti petinju dengan Transformer yang masih dalam bentuk original-nya.
“Kau harus bisa menangkap atau menjatuhkan Amel dalam waktu sepuluh menit!” teriak Toni yang sudah berdiri di tepi arena. Ia tidak ingin mengganggu jalannya latihan hari itu.
Sekali lagi, papan digital yang tembus pandang itu menampakkan bentuknya. Tidak ada papan skor, hanya hitungan waktu yang tertera di atasnya. Sepertinya tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang di dalam pertandingan kali ini. Tentu saja, itu karena sudah pasti aku yang akan memenangkannya.
“START!”
Teriakan Toni berhasil menggerakkan papan digital yang sudah mulai menghitung mundur dari total 10 menit itu.
Untuk mempersempit jarak di antara aku dan Amel, aku harus memikirkan sebuah senjata yang bisa meraihnya dari jarak sejauh itu. Lalu, terbersit di dalam otakku untuk mendapatkan senjata api yang sama persis dengan senjata api milik Amel.
Seakan-akan Transformer juga memiliki pendapat yang sama, tiba-tiba cahaya berwarna merah keluar dari bagian bulatan sensor di bagian ruas-ruas jariku. Sebuah bayangan senjata api yang memiliki bentuk yang sama dengan senjata milik Amel pun perlahan semakin terlihat jelas dan tegas. Dan plop.
Saat dua senjata api kembar itu muncul di udara, aku segera menangkapnya menggunakan kedua tanganku. Amel di ujung sana tampak tercengang melihat apa yang baru saja ku lakukan. Entah bagaimana mungkin, Transformer mengeluarkan senjata api yang sama persis dengan detail yang dimiliki oleh Amel seakan-akan Transformer telah mencuri senjata api itu dari tangan tuannya secara langsung. Tidak ada perbedaan selain tangan yang sedang menggenggamnya.
“Apa yang kau lakukan? Menyalin senjataku?” Amel terdengar kesal di ujung sana. Namun, cukup satu detik berseling dan mood gadis itu sudah berubah seketika, “Dasar bodoh, mana mungkin kau bisa menangkapku dengan senjataku sendiri.”
Segera ku angkat senjata api yang sedang ku genggam di tangan kananku ke arah Amel. Gadis itu tidak bergeming sedikitpun, justru ia membeku dengan senyum miring di bibirnya yang tipis.
“Kalau kau tidak bergerak, jangan salahkan aku kalau kau juga kehilangan tubuh virtualmu itu.” aku masih sedikit enggan menarik pelatuk. Meskipun Amel menyebalkan, ia tidak layak mendapatkan perlakuan yang sama seperti Rayhan.
Gadis itu, tidak tahu takut. Ia tidak mengambil ancang-ancang untuk menghindar sedikitpun. Senyum miringnya seakan-akan meremehkanku.
Tanpa ragu lagi, ku tembakkan peluru pertamaku menggunakan senjata api yang tidak ku ketahui namanya itu. Baru satu kali tembakan, ternyata tiga peluru melesat begitu cepat dari ujung bagian larasnya. Meskipun ukuran senjata itu tidak cukup besar, aku bisa merasakan hentakan yang lumayan keras saat melesatkan tembakanku.
Amel tidak bergeming dari tempatnya. Dan, meskipun aku sangat yakin kalau tembakanku sudah mengenainya. Tidak ada yang terjadi. Gadis itu bahkan tidak merubah senyuman menyebalkan di wajahnya itu. Peluru itu meledak secara bersamaan saat membentur dinding pembatas arena yang tak kasat mata.
“Apa kau yakin akan menggunakannya? Kalau kau menggunakannya, aku yakin aku hanya berdiri di sini dan kau tidak akan pernah bisa menyentuhku sampai waktu habis.”
Sial-
Ia sengaja memprovokasiku. Kali ini ku angkat kedua tanganku dan mengarahkan senjata api kembar itu ke arah Amel, keduanya sekaligus. Aku menutup sebelah mataku untuk meningkatkan akurasi bidikanku.
Beep..
Layar mini itu muncul tiba-tiba. Sepertinya ia tahu kalau aku sedang membutuhkan assist darinya. Dapat ku lihat layout arah bidikan dari layar itu beserta perhitungan jarak tempuh peluru sekaligus estimasi kecepatannya. Kali ini aku yakin tidak akan meleset lagi.
Shuuuu…
Shuuuuu...
Dari kedua senjata api di tanganku yang baru saja ku gunakan, enam peluru dengan cahaya pendek berwarna biru keluar bebas, melesat ke arah yang ku tuju sesuai dengan bidikanku. Aku menargetkan paha gadis itu dan aku yakin akan mengenainya.
Namun, alih-alih menghindar dengan kekuatan penuh, gadis itu hanya menggeser sedikit kakinya yang jenjang, memperlebar area di antara dua kakinya dan peluru itu bisa melewati area kosong itu begitu saja, seakan-akan tidak ada apa-apa di depannya.
Duarr...
Keenam peluru itu sudah meledak secara bersamaan saat menabrak dinding.
Sial-
Sepertinya senjata jarak jauh tidak bisa ku gunakan dengan efektif saat ini. Aku berpaling melihat papan digital itu dan tak terasa waktu sudah berkurang sebanyak tiga menit. Harusnya aku tidak terlalu meremehkannya. Aku tidak tahu bagaimana gadis itu bisa menghindari peluru yang melesat dengan kecepatan cahaya itu. Bodoh-
Ini bukan saatnya memikirkan apa yang dia lakukan di ujung sana. Aku harus fokus untuk menangkapnya.
Sekilas aku teringat dengan rantai yang mengikatku di setiap aku mendapatkan operasi dalam ruangan khusus. Rantai itu kokoh dan bisa mengikat tubuhku tanpa memberikan kesempatan padaku untuk membebaskan diri. Aku pun segera berkonsentrasi untuk menyeiramakan pikiranku dengan Transformer.
Dan, sudah tidak butuh lagi jeda waktu untuk membuat senjata api di tanganku itu berubah menjadi sebuah rantai yang panjang, kokoh, dan terasa berat di tanganku. Aku tidak tahu berapa ukuran panjangnya, yang aku tahu, aku harus berjalan ke depan untuk mempersempit jarak dengan Amel untuk menggunakannya.
Aku menekan kakiku dan dengan sekali tarikan nafas, ku hentakkan kakiku untuk selanjutnya melompat sejauh mungkin ke depan sembari menarik rantai yang berat itu. Tidak segera ku ayunkan rantai itu ke arah Amel karena aku tahu kalau waktunya belum pas.
Beepp..
Sekali lagi layar mini itu masih di sana, namun merubah layout yang ditampilkan dengan perkiraan jarak antara aku dan Amel dan sekaligus persentase kemungkinan rantaiku bisa meraih gadis itu.
Satu lompatan lagi dan jarak yang tercipta pun sudah lebih dari cukup. Dengan mengerahkan seluruh tenagaku yang masih membara, ku ayunkan rantai itu ke arah kaki Amel dan bermaksud untuk menjeratnya seperti ikan.
ZESSSSSSS...
PRANGGGG...
Hampir saja.
Saat ujung rantai itu hendak mendarat tepat di punggung kaki kirinya, gadis itu sudah melompat ke udara dengan kecepatan yang membuatku takjub. Aku bahkan melihat kejadian itu seperti sebuah kilatan cahaya yang muncul tiba-tiba.
Detik berikutnya, aku melihat Amel sudah berdiri dengan seimbang di tempat yang berjarak lebih dari lima meter dari tempatnya terakhir. Ia sengaja mendekatkan dirinya dengan posisiku kali ini untuk sekali lagi mencemoohku karena keunggulannya.
“Aku hampir mengenaimu,” aku tertawa.
“Hampir? Apa kau sudah gila? Kena ya kena, tidak ya tidak. Tidak ada kata hampir di antara keduanya,” gadis itu membuat tawaku berubah menjadi dengusan kesal. Bagaimanapun juga, ia benar. Aku tidak berhasil mengenainya.
Tanpa memberinya waktu untuk bersiap, ku tarik dan hempas rantai panjang itu ke arahnya. Aku melakukannya tanpa arah yang pasti. Aku tidak lagi mengincar kakinya ataupun pahanya. Aku hanya mengarahkannya ke arah Amel. Berkali-kali ku tarik dan hempas rantai itu di setiap tempat Amel berhasil melompat dan mendaratkan kedua kakinya dengan elegan. Aku tetap melakukan cara yang sama, aku yakin kalau aku pasti berhasil mengenainya. Hingga yang terakhir, gadis itu kembali melompat dan melesat ke depan. Menghindari setiap liku dari serangan rantai itu dengan cara yang indah dengan tangan kosong. Dari caranya melompat, sepertinya gadis itu sudah terbiasa melakukannya sehari-hari.
Ia pun mendarat tepat di hadapanku.
Sementara aku masih mengatur kembali nafasku yang tersengal karena energi yang ku gunakan untuk mengayunkan rantai itu tidak sedikit. Rantai itu terlalu berat untuk tanganku.
“Bagaimana kalau sekarang?” masih memprovokasiku seperti biasa. Aku harus mengagumi caranya mengatur pernafasan. Ia tidak terlihat kesulitan sedikitpun meskipun sudah melompat kesana kemari sedari tadi untuk menghindari seranganku yang tanpa jeda.
Jarakku dan Amel hanya tersisa tidak lebih dari dua meter. Membuatku tidak bisa menggunakan rantai lagi kali ini. Aku harus mengubah strategiku. Saat kembali ku lihat waktu yang tersisa, betapa terkejutnya aku karena sisa waktu yang terpampang di sana tidak lebih dari dua menit dan aku belum sekalipun berhasil mengenai gadis itu, bahkan ujung rambutnya pun tidak tersentuh.
Sial- aku tidak memiliki ide akan menggunakan senjata apa. Apa aku perlu menggunakan Lightbringer?
Ya- Lightbringer.
Seketika rantai itu hilang bersamaan dengan keputusan yang ku buat. Sebuah bilah pedang yang amat ku kagumi muncul di udara, aku menangkapnya dan menggenggamnya dengan kuat-kuat. Aku yakin kali ini pasti berhasil. Ini adalah senjata andalanku. Amel, gadis itu tidak tahu betapa mengerikannya aku di pertempuran jarak pendek.
Aku melompat langsung ke depan sembari mengayunkan Lightbringer ke tubuh gadis itu. Bermaksud membelahnya menjadi dua kali ini karena aku tahu kalau itu tidak akan membunuhnya dan mungkin akan membuatnya sangat kesal sebagai balas dendam atas perlakuan buruknya padaku selama ini. Namun sekali lagi, meskipun aku sudah sangat memperhitungkan arah seranganku. Gadis itu melompat ke belakang dengan cara memutar tubuhnya. Ia mendarat dengan tangan terlebih dahulu namun terus berputar mundur ke arah belakang hingga sebanyak dua kali putaran ia tempuh. Back-flip yang sangat cantik. Membuat jarak antara aku dan dia kembali menjadi dua meter seperti sebelum aku melompat untuk menyerangnya.
Sial-
Terbuat dari apa tubuhnya sebenarnya?
Amel mengibaskan rambut pendeknya yang sempat berantakan karena perbuatannya.
Aku pun melihat sebuah peluang di sana. Segera ku lakukan hal yang sama. Melompat dengan terang-terangan ke arah depan. Kali ini aku tidak mengayunkan pedang di tanganku, ku ubah gaya menyerangku dengan maksud menghunuskan ujung pedang itu menembus tubuh gadis di depanku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan tugas menangkap semata, aku tidak peduli meskipun aku melukainya sekarang.
ZESHHHH….