3. Cahaya Tinta Putih

2207 Words
 Sekali lagi kamar menjadi tempat favorit untuk melukis. Jendela tanpa tirai itu terbuka. Pintu juga terbuka. Pemandangan pohon di halaman rumah sangat menyejukkan mata. Rien sudah sehat setelah istirahat di malam hari. Pagi ini niatnya melukis apa yang sebelumnya dia lukis untuk pameran yang justru tertumpahan tinta.   "Ceroboh? Cih, bukan Rien jika melakukan kesalahan yang sama! Saatnya menyatu dengan imajinasi!" seru Rien di depan jendela yang sudah disiapkan kanvas.   Kaos longgar dan rambut digelung rapi, sangat santai khas Rien. Hari ini lebih sejuk dari biasanya. Rien mulai memulas tinta di kanvas. Khayalan kota yang aneh dalam mimpinya tiba-tiba hadir menyuruh tangan Rien bergerak sesuai imajinasi. Tanpa berkedip, tanpa bersuara, hanya terpaan angin kecil yang menemaninya. Rien melukis kota itu. Rumah, orang-orang yang bersorak, kemudian seorang gadis menyerupai dirinya yang berdiri di tempat tertinggi. Rien terlarut sampai mulutnya terbuka.   "Rindu terpancar dari seri wajah seseorang. Hangat berasal dari sinar mentari. Api bisa membakar jiwa yang tidak murni. Satu pertanyaan sekaligus jawaban dari satu kota di kanvas... Ketenangan batin."  Tanpa sadar Rien bergumam tepat saat mengoleskan tinta terakhirnya, bersamaan lukisan itu selesai dibuat. Arti ucapannya saja Rien tidak tahu. Rien mengerjap untuk pertama kalinya sejak tadi. Dia menganga melihat lukisannya sendiri.   "Ha! Luar biasa! Satu kanvas penuh! Apa ini aku yang buat?!" pekiknya sampai menutup mulut.   Memegang lukisannya sedikit gemetar. "Apa iya aku melukis sebagus ini? Bahkan dibanding dengan cat, ini jauh lebih baik! Rumah-rumah seperti di zaman kuno dan kondisi alam yang asri. Wah, menakjubkan! Ini serasa hidup!" teriak Rien di kamar yang tidak bergema.   Sampai berjingkat terus tersenyum. Rien menatap jam dinding. Sudah dua jam dia melukis tidak sadar, seolah-olah dikendalikan. Rien mengambil tinta yang baru. Melukis lagi seperti rencana sebelumnya. Beberapa jam terlewat, Rien berhasil melukis sama persis seperti sebelumnya. Hanya lukisan pertama yang menurut Rien di luar kendali.   Rien terus mengamati lukisan pertamanya. Begitu nampak jelas seolah-olah Rien pernah berada di sana. Bibirnya terus berdecak seiring membawa lukisan itu keliling kamar dan kembali berhenti di depan jendela. Matanya tidak berkedip sama sekali. Seketika kabut memenuhi pandangan, menghasutnya untuk masuk ke dalam lukisan. Rien sadar dan menggeleng cepat sambil memukul kepalanya ringan.   "Astaga, apa itu tadi? Aku pusing!" gumam Rien.   Meletakkan lukisan itu bersama lukisan lainnya. Mendesis pusing dan duduk di tepi ranjang. Matanya terus mengarahkan ke lukisan tersebut. Rien merasa aneh. "Ini... Pasti cuma kelelahan. Aku harus istirahat sebentar," gumamnya.  Rien berbaring, dalam sekejap langsung tidur meninggalkan lukisan dan tinta yang masih berserakan. Waktu berjalan begitu cepat. Pukul tiga sore sudah terlewat dan Rien tak kunjung bangun. Suara handphone yang berdering di dekatnya baru bisa membuat Rien terjaga. Rien malas mengambil handphone-nya, tetapi melihat nama pak panitia yang tertera membuat Rien segera duduk dan menerima panggilan.   "Halo? Ada apa, Pak?" tanya Rien segera.  "Selamat sore, Rien. Aku punya kabar baik untukmu!" seru pak panitia terdengar bahagia di seberang sana.   Rien mengernyit? "Kabar bahagia lagi? Apa itu?"   Pak panitia berdecak membuat Rien mengerjap polos. "Kau tidak suka kabar bahagia? Aneh sekali! Kalau begitu tidak jadi!"   "Eh, jangan marah, Pak! Aku hanya asal bicara, haha. Kabar apa memangnya?" tanya Rien tertawa kaku.  "Di pasar lukis nanti ada orang yang melukis menggunakan tinta sepertimu! Baru saja dia memesan tempat terakhir! Sekarang kau punya teman satu aliran! Tidak perlu ragu atau khawatir jika lukisanmu tidak diterima," ujar pak panitia senang.  Rien mengerutkan dahi. "Apa? Ada orang yang sama denganku? Siapa dia? Laki-laki atau perempuan?" tanya Rien penasaran.   "Rien, aku ada panggilan mendesak! Lain kali kita bicara lagi. Jangan lupa jaga kesehatanmu untuk pasar lukis nanti!"   Panggilan terputus sepihak. Rien tidak sempat membantah. Dia mengernyit memandang handphone. "Seseorang punya keahlian yang sama denganku? Iya, ini bagus! Itu berarti tinta masih diterima di dunia seni lukis! Ahaha, usahaku tidak akan sia-sia kali ini! Aku yakin itu!" pekik Rien setelah bergumam.   Dia pergi ke kamar mandi dan melanjutkan pekerjaannya hingga pukul lima sore. Tidak tahu mengapa, tinta Rien tiba-tiba cepat habis. Baru dia pakai beberapa goresan di kanvas, tinta di satu wadah suda habis, sangat berbeda dengan sebelumnya. Dua jam ini Rien bukannya fokus ke lukisan, justru memikirkan tinta. Dia membeli banyak tinta dan habis semua. Hanya ada satu wadah lagi. Rien melihatnya teliti sampai mengangkat tinta itu agar dekat dengan lampu dan dia bisa melihat sisa tinta lebih jelas. Namun, memang tintanya tinggal sedikit.   "Ini perasaanku saja atau memang wadah ini tidak penuh tinta? Apa yang membuatnya berbuat curang?" heran Rien.  Masih meneleng dan memutar-mutar wadah tinta pelan, "Hah, sudahlah! Ini yang tersisa mau apa lagi? Aku bisa beli nanti." kembali memulaskan tinta itu ke kanvas.   Menyambung lukisan yang masih belum sempurna. Rien bahkan kehabisan ide karena tintanya yang juga habis tak tersisa. Lukisannya masih butuh sentuhan banyak. Rien terpaksa harus pergi di sore menjelang malam ini. Dia melihat jendela yang ada di barat. Sinar hingga sudah terlihat dan burung-burung mulai kembali ke sarang. Rien mendesah dengan senyuman.   Menghampiri tas ranselnya yang sering dipakai daripada tas kecil miliknya. Saat menyentuh resleting tas itu, Rien teringat sinar terang di toko tempat Alie bekerja. Sinar yang datang dari ranselnya. Rien menggeleng mengusir ingatan yang dipikirnya hanya halusinasi. Membuka tas itu yang kosong tidak ada apapun kecuali sebuah wadah kaca bening yang berwarna putih di dalamnya.   Rien terkejut. "Astaga! Benda apa itu? Kenapa ada di tas-ku?"   Tidak berani menyentuh ranselnya, tetapi Rien penasaran. Dia berpikir jika ada barang orang yang tidak sengaja terbawa. Walau Rien tidak pernah melihat benda itu sebelumnya dan dekat dengan orang lain selain Alie dan pak panitia akhir-akhir ini. Sangat ragu Rien mengambil benda itu. Tangannya ditarik cepat setelah mendapatkan benda itu.   Rien melotot dan memegang wadah kaca itu dengan kedua tangan. "Wah! Ini cantik sekali! Perpaduan kaca yang bening dan... Apa isinya? Kenapa warnanya putih sekali? Ini seperti air yang agak kental!" pekik Rien heboh.   Dia memeriksa sangat jeli sampai matanya memicing. Perlahan membuka tutup wadah itu yang sangat susah. "Sulit! Kaca apa ini?!"   Akhirnya Rien bisa membukanya dengan sekuat tenaga sampai napasnya terengah. Matanya kembali melebar, "Waahhh! Ini tinta! Tinta... Putih?" meneleng di akhir ucapannya.   Rien mencium aroma isi wadah itu. Benar-benar sama seperti tinta. Rien membawanya menuju tumpukan lukisan dan wadah tinta yang sudah kosong. Dia memandang tinta itu dengan benda di tangannya bergantian. Mencium aromanya bersamaan, kemudian mengerjap bodoh.   "Ini memang tinta, tapi warnanya putih. Bagaimana bisa ada tinta yang putih? Apalagi di tas-ku?" lirih Rien.   Tinta putih itu sangat menarik. Rien ingin mencelupkan jarinya ke tinta putih, tetapi niatnya diurungkan.   'Tidak mungkin jika seseorang salah menaruh. Apa iya tinta putih ini ada sejak aku di tempat kerjanya Alie? Di sana aku merasakan hal aneh, 'kan? Kalaupun itu tidak benar, apa aku yang salah ambil dan menaruhnya di ransel? Kalau begitu aku mencuri namanya!' batin Rien.   Terpikat halusinasi kembali. Rien merasa pusing dan ingin memasukkan kepalanya ke wadah kecil itu.   "Ha! Aku gila! Rien, sepertinya sakitmu belum sembuh sepenuhnya. Wadah tinta putih ini bahkan lebih kecil dari genggamanmu dan kau mau memasukkan kepalamu di sana? Konyol!" maki Rien untuk diri sendiri.   Dia mendesah dan duduk menghadap kanvas yang tegak dengan penyangga kayu. Baru setengah bagian lukisan itu dan Rien lupa membeli tinta baru karena tinta putih.   "Tinta putih. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Bagaimana bisa ada tinta jenis ini? Memangnya bisa dibuat melukis?" dahi Rien mengernyit tanpa mengalihkan pandangan dari tinta putih.   Seketika sinar terang muncul dari tinta itu. Rien mengerjap dan memejamkan matanya rapat-rapat, sedetik kemudian membuka mata dan sinar itu hilang. Dia tersentak sampai hampir terjungkal dari kursi dan tinta itu akan dibantingnya.   "Huaaa! Apa lagi itu?! Kenapa tinta putihnya mengeluarkan sinar?! Si-sinar yang sama seperti halusinasiku!" pekiknya sambil menjauhkan tinta itu walau masih dipegang.   Beberapa detik kemudian Rien kembali mengamati tinta itu. "Jangan bodoh dan jangan panik, Rien! Itu hanya halusinasimu karena kau belum sembuh dari flu!" gumam Rien berpikir positif.   Matanya berkerling, muncul ide untuk mencoba tinta putih itu. "Hahaha! Selalu ceria, pasang senyum, dan berpikir positif! Jangan biarkan apapun merenggut semangatmu dan cobalah hal baru di setiap kesempatan! Misalnya saat ini, ada tinta putih yang aneh di depan mata, kenapa tidak kumanfaatkan? Siapa tau menghasilkan perpaduan warna antara putih dan hitam di kanvas, menjadi sedikit ada sentuhan abu-abu yang menghidupkan lukisan, haha! Aku memang pintar!" seru Rien menghibur diri sendiri.   Dia segera mengambil kuas baru dan mencelupkannya ke dalam tinta putih. Seakan waktu melambat, Rien juga ragu, tangannya sedikit gemetar. Sampai ujung kuas itu menyatu dengan tinta putih, seketika cahaya terang muncul kembali memenuhi kamar sampai Rien kesulitan melihat.   'Sudah kuduga tinta ini pasti menyimpan sesuatu. Sinar itu muncul dari tinta putih! Hatiku gelisah walau menghibur diri sejak tadi. Ini tidak benar! Ini pasti tidak benar!' seru Rien dalam hati.   Berusaha keras untuk melihat kembali ke tinta putih di tangannya. Sinar yang lebih terang memancar disertai angin menerbangkan anak rambut Rien. Jingga yang datang dari jendela terbuka kalah dengan cahaya putih dari tinta putih.   "Tidak! Aku akan tetap menggunakan tinta ini walau cahayanya menghalangi. Aku ingin tau lebih lanjut apa efek tinta putih ini. Aku tidak percaya kesakitan, tetapi aku percaya keajaiban! Mungkin ini memang ditakdirkan berada di tanganku dan aku harus memakainya! Tinta putih... Kumohon izinkan aku melukis denganmu!" seru Rien menahan cahaya yang tida berhenti memancar.   Dia berbalik menatap kanvas meskipun matanya terasa sangat silau. Perlahan kuas berisi tinta putih itu digoreskan dalam kanvas. Saat itu juga tinta putih mengeluarkan aroma yang sangat menyengat memenuhi kamar. Rien tidak bisa melanjutkan melukis dan tidak sanggup menghirup aroma tinta. Dia pingsan dan tinta putih jatuh berlumuran di lantai.   Dua hal yang Rien rasakan dalam pingsannya. Ada sesuatu yang menarik Rien untuk bangun, juga ada yang mendorong Rien untuk tetap tidur. Rien memilih bangun setelah menunggu sekian lama. Kepalanya teramat berat dan pusing. Matanya masih silau dan lingkungan seakan berwarna putih. Rien mengeryip menyesuaikan keadaan sambil duduk. Mengerjap beberapa kali, perlahan pandangannya mulai kabur dan normal. Cahaya itu hilang beserta anginnya.   Rien kebingungan. "Heh? Kenapa kamarku menjadi hijau dan berbau tanah?" gumam Rien masih belum sadar sepenuhnya.   Mengedarkan pandangan, hanya satu hal yang bisa Rien simpulkan yaitu kamarnya berubah. "Aaaa, aku ada dimana?! Mana kamarku? Rumahku? Lukisanku? Tinta... Tinta putih dan sinar aneh itu?! Kenapa aku bisa ada di sini?!" teriaknya dan terlonjak berdiri kebingungan.   Meraba badannya sendiri dan mencium aroma segar dan redup. Matahari nampak akan tenggelam di barat. Rien semakin tidak mengerti dan pusingnya seketika hilang.   "Aku tidak membawa apapun bahkan tinta dan kuasku! Uang, handphone, semuanya tidak ada! Ada apa lagi ini?! Kenapa aku bisa pindah di sini? Ini daerah mana?" bingungnya.   Rien berlarian mencari rumah da pertolongan. Tak mengelak jika dia ketakutan. Dia sadar berada jauh dari kotanya.   'Tidak masuk akal! Aku ada di kamar, sekarang ada di antara pepohonan? Ini halusinasi atau mimpi? Aku tidak bisa membedakan mana yang nyata! Sepertinya aku memang gila!' batin Rien sambil berlari.   Napasnya tersenggal. Dia berhasil menjumpai pemukiman yang sangat aneh. Rien berhenti karena takut. Rumah-rumah itu terlihat asing. Tidak ada gedung dan jalan beraspal. Tidak ada kendaraan dan tiang listrik. Tidak ada benda yang mirip dengan kotanya. Rumahnya juga hilang. Semua rumah di sana mirip seperti rumah yang Rien lihat di film kuno.   Rien menggeleng kuat. Dia hampir menangis. Tidak melihat satu orang pun dan semua rumah itu tertutup.   "Aku... Aku tidak tau harus apa. Ini desa terpencil? Atau hanya mimpi?! Ini seperti dunia yang ada di mimpiku saat aku sakit! Aku bingung! Seseorang keluarlah dan tolong aku! Aku tersesat dan ingin pulang!" teriak Rien dengan mata berkaca-kaca.   Namun, ada seseorang yang menarik tangannya dengan keras dan membawa Rien lari jauh.   "Aaaaa, siapa kau?! Lepaskan aku! Aku bukan orang jahat apalagi buronan! Jangan culik aku!" pekik Rien seiring larinya.   Kaki Rien kesulitan mengikuti orang itu. Jantung Rien berdecak lebih cepat antara takut dan gelisah. Dia ingin pulang. Orang yang membawanya terlihat aneh dengan pakaian berjubah.   'Kenapa Sang Penguasa mempermainkan nasibku? Tinta putih itu pasti punya keajaiban! Dia membuatku sampai kesini tiba-tiba! Aku mau kembali ke kamarku!' pekik Rien dalam hati.  Orang itu membawa Rien masuk ke sebuah rumah yang pintunya sangat besar. Rien dilepaskan da orang itu mengunci pintu rapat. Rien mundur agak takut sembari memegang lengannya yang bekas ditarik orang itu.  "Si-siapa kau?!" tanya Rien galak. Orang itu menoleh dan tersenyum polos membuat Rien terbelalak. "Pak panitia?! Kau... Kau di sini juga?! Kenapa penampilanmu aneh?! Kau pakai apa itu?!" pekik Rien menunjuk orang itu dari atas hingga bawah.   Orang itu mendekati Rien dengan panik dan bingung. "Aku? Siapa itu pak panitia? Aku menyelamatkanmu, Nona! Kalau warga tau kau yang berpenampilan aneh, pasti kau akan menjadi tontonan dan diarak! Aku baik!" kata orang itu.  Rien mendelik. "Ha?! Aku aneh? Kau yang aneh! Pak panitia, biasanya kau memakai jas rapi, kenapa sekarang berpakaian sangat kuno? Aku tau kau sudah tua, tapi tidak terlalu tua. Jadi jangan berpenampilan seperti nenek moyangmu!" Rien masih berseru heran.   Orang itu menggeleng semakin tidak mengerti. Dia mendekati Rien, tetapi Rien menjauh. "Jangan mendekat! Kau pasti bukan pak panitia! Kau hanya mirip dengannya! Kau aneh sekali! Huaaaa, aku mau pulang! Rumahku ada dimana?!" rengek Rien pura-pura menangis.   "Eh-eh, jangan menangis! Kau akan membuat semua orang penasaran dan datang! Diamlah, Nona! Meskipun aku tidak paham apa yang kau bicarakan." orang itu menggaruk kepalanya.   Rien terdiam dan melototi orang itu sampai orang itu mendelik. Rien menatap seluruh ruangan rumah yang sangat asli terbuat dari kayu. Satu batu pun tidak ada yang menempel. Rien takjub dalam hati. Sejenak perhatiannya teralihkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD