Serasa masuk ke tempat pariwisata. Rien mengelilingi semua ruangan walaupun orang itu memandangnya tidak suka. Rien berlari menghampiri orang itu.
"Apa ada tempat tinggi di sini?" tanya Rien mendesak.
"Pohon!" jawab orang itu cuek.
Rien segera keluar mencari pohon tinggi. Ada pohon mangga yang sangat besar, tanpa berpikir Rien memanjatnya.
"Hei, jangan naik! Itu banyak serangga! Aduh, dia ini siapa?!" orang itu panik di teras rumah.
Dalam sekejap Rien berada di dahan yang lumayan tinggi. Dia terkejut karena dugaannya benar.
"Tempat ini... Mirip lukisanku. Apa aku masuk ke lukisan?!" pekiknya setelah bergumam.
Berpegangan erat takut jatuh. Masih melotot lebar melihat jalanan dan gambaran yang sama. Rien tidak bisa berpikir jernih. Tiba-tiba kakinya digigit banyak serangga.
"Aaaa, sakit! Apa ini?!" kesalnya menendang semua serangga itu dan memukulnya, justru kakinya semakin sakit.
Rien turun begitu cepat dan lari ke orang itu. "Pak, tolong, kakiku digigit serangga!" Rien menghentak-hentakkan kakinya dan banyak serangga berjatuhan.
"Tidak mau! Dasar anak nakal! Diajak bicara baik-baik tidak bisa malah bertindak seenaknya! Tidak sopan!" orang itu marah.
"Huft, sekarang aku mengerti. Tidak peduli kau pak panitia atau bukan, tapi aku benar-benar terjebak di sini. Tinta putih itu sialan!" kesal Rien.
Duduk memeluk tiang teras rumah. Menutup matanya dan berpikir tenang. Orang ikut duduk di samping Rien setelah menghela napas panjang.
"Masuk dulu. Kau bukan orang jahat, 'kan? Kalau orang-orang melihatmu, bisa berpikir yang bukan-bukan," kata orang itu berubah sabar.
Rien menoleh. "Benarkah? Kupikir kau marah," sudah lebih tenang.
Orang itu menggeleng. "Siapapun kau, aku merasa sesuatu yang sangat dahsyat ada pada dirimu. Kau juga menyebut tinta putih. Apa kau tau betapa berharganya itu?"
Rien menaikkan alisnya. "Berharga? Sesuatu yang dahsyat dalam diriku? Kau peramal?" Rien penasaran.
"Mari kita bicara di dalam." menunjuk pintu dengan dagunya.
Secangkir teh kecil menjadi sajian tidak disentuh Rien sekali pun. Rien lebih semangat mendengarkan cerita orang itu. Matanya melebar dengan bibir tertutup rapat. Serius Rien bahkan lebih serius dari melukis. Karena Rien tidak bisa berpikir secara logis untuk apa yang terjadi.
"Ini kerajaan Rurua. Dipimpin oleh Raja Karfa yang hebat nan bijaksana. Kerajaan ini sangat ramai seniman!" seru orang itu.
Deg!!
Napas Rien tercekat.
'Ke-kerajaan Ru-Rurua? Rurua? Bagaimana mungkin?! Itu nama kotaku!' pekik Rien dalam hati.
"Apa maksudmu?! Ini mustahil! Kotaku tidak mungkin jadi kerajaan dalam sekejap! Apa mungkin... Keadaannya terbalik? Aku... Datang ke zaman dimana kotaku masih menjadi kerajaan?! Tidak masuk akal!" pekik Rien.
Orang itu mendesah. "Kau ini selalu tidak percaya dari tadi. Kau lihat sendiri keajaiban tinta putih. Mungkin sesuatu ada dalam dirimu hingga membawamu ke sini. Aku juga tidak mengerti kenapa kau berasal dari masa depan. Itu artinya dua zaman yang berbeda?"
Rien menepuk dahinya. "Sudahlah! Biar kupikirkan nanti. Sekarang tolong perkenalkan dirimu. Kau benar-benar mirip dengan pak panitia yang suka mengaturku," Rien penasaran.
"Namaku Darmuroi. Aku seorang pembuat tinta. Sesuai ucapanku, kerajaan Rurua memiliki banyak potensi seni. Sepanjang jalan pasar banyak pertunjukan yang menghibur. Orang-orang dari kerajaan lain sering berkunjung untuk mendapatkan hiburan." menjelaskan dengan senyuman.
Rien ternganga. "Sungguh! Wah, kau hebat! Bagaimana caranya membuat tinta? Selama ini aku hanya bisa menggunakannya saja tanpa tahu cara membuatnya! Bisa ajari aku?" Rien semangat.
"Hahaha, kau lucu! Tapi apa maksudmu dengan menggunakan tinta? Siapa kau sebenarnya?" heran orang yang bernama Darmuroi.
"Tuan Darmuroi, perkenalkan aku Mezira Rien dari kota Rurua. Jika benar aku kembali ke masa lampau, berarti kerajaan ini akan jadi kota yang indah seoerti di zamanku yang modern. Aku seorang mahasiswa dibidang seni. Keseharianku melukis dengan tinta. Seharusnya sekarang sedang mempersiapkan karyaku untuk pasar lukis, tetapi justru terjebak di sini. Entah berapa lama aku akan terjebak. Bagaimana dengan kehidupan asliku?" menjadi mengeluh.
"Mahasiswa? Apa itu?" Darmuroi bingung.
Rien meringis. "Semacam pelajar. Di sini tidak ada pelajar?"
"Ah, ada! Ternyata kau pelajar! Pasti lukisanku sangat bagus! Aku punya tinta kualitas tinggi. Mungkin kau akan suka! Kebetulan sekali kita bertemu." Darmuroi sedikit tertawa.
"Benar-benar pembuat tinta. Kupikir kau orang jahat, Tuan Darmuroi! Boleh aku melihat koleksi tintamu?" pinta Rien.
"Setelah kau mengganti pakaian anehmu. Besok jika semua orang bertanya, aku akan jawab kau anak dari temanku di kerajaan lain. Aku punya beberapa pakaian perempuan milik mendiang istriku. Sepertinya ada yang cocok!" Darmuroi pergi mencari pakaian di kamarnya.
Rien hanya memandang dengan pikiranmu yang berkelut. 'Sungguh ini membuatku pusing. Alie, jika kau di sini pasti sudah pingsan!' batin Rien.
Tidak lama kemudian Darmuroi datang dan membawa pakaian panjang berwarna kelabu. Rien mencobanya dan ukurannya pas. Cermin buram milik Darmuroi memperlihatkan dirinya dengan sangat baik. Rien terlihat seperti pemeran drama.
"Andai di kampus aku memakai ini, semua orang akan mengataiku gila, haha!" seru Rien senang sambil memutar badannya.
"Kau cantik! Seperti bidadari dalam lukisan. Tapi pakaian itu sedikit usang. Besok kubelikan yang baru," ujar Darmuroi di samping Rien.
Rien menoleh. "Tuan, kau sangat baik. Apa kau benar-benar percaya denganku dan kondisi ini?"
"Jika dipikir-pikir pasti ada alasannya kenapa kau dikirim tinta putih kemari." Darmuroi menunjuk Rien.
Rien mengangguk serius. "Tinta putih itu telah membuatku gila sesaat. Sinar yang silau, melukis pun tanpa sadar, hingga bermimpi yang bukan-bukan," gerutunya.
"Jangan begitu! Tinta putih di sini amat berharga," kata Darmuroi.
Rien heran. "Seberapa berharganya? Apa bedanya dengan tinta biasa? Memangnya punya sihir?" tanya Rien sedikit meremehkan.
"Lebih dari itu, Rien!" Darmuroi sangat membuat Rien penasaran.
"Kalau begitu biarkan aku melihatnya! Mungkin dengan menyentuh tinta putih lagi aku bisa kembali ke zamanku." Rien sangat yakin.
"Dia tidak bersamaku. Ada di tempat penyimpanan barang pusaka di istana kerajaan. Semua orang tidak ada yang bisa menyentuhnya. Aku sendiri yang memindahkan tintanya ke sana. Atas perintah raja Karfa demi keadilan dan keselamatan bersama," terang Darmuroi.
"Aku tidak mengerti sama sekali!" Rien menggeleng.
"Hanya pelukis yang sebenarnya yang bisa menggunakan tinta putih. Tinta itu kubuat dengan penuh pengetahuan dan berkat dari Sang Kuasa. Aku tidak akan mengatakan ini selain padamu, Rien. Karena kau telah ditakdirkan datang untuk keperluan penting. Tinta itu bisa mengabulkan apapun imajinasimu. Saat kau menggunakannya, lukisan itu akan hidup da melakukan apa yang kau rasakan saat melukis. Hanya imajinasi yang nyata serta ketulusan hati dan kemampuan dahsyat seorang pelukis hebat yang bisa menyentuhnya!" Darmuroi bersemangat.
Rien melongo. "Benarkah? Ajaib sungguhan. Tidak mengelak lagi kalau semuanya karena tinta putih. Itu satu-satunya jalan untukku keluar dari sini. Tuan Darmuroi, bisakah kau bantu aku untuk menyentuh tinta itu? Istana kerajaan pasti dalam penjagaan ketat, 'kan?"
"Rien, aku mengerti situasimu. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Tinta putih bukan sembarangan tinta. Mengertilah! Jika suatu hari nanti ada petunjuk, kau pasti akan menerimanya," jelas Darmuroi.
Rien mendesah. "Sepertinya aku memang harus menunggu sampai situasi benar-benar jelas," pasrahnya.
"Mari kutunjukkan beberapa tintaku!" Darmuroi mempersilahkan.
Rien mengangguk dan terhibur saat melihat banyak tinta berwarna hitam berjajar di rak kayu. Beberapa lukisan yang gagal dibuat juga terpajang di ruangan itu. Rien terkekeh saat menyentuhnya.
"Jangan mengejekku, Rien. Aku hanya pandai membuat tinta, bukan melukis." Darmuroi merasa malu.
"Haha, tidak masalah, Tuan. Aku bahkan sering dihina dengan lukisanku yang baik. Saat ada kekurangan sedikit saja bahkan hinaannya lebih parah. Mereka sering tidak menghargai karya orang." jujur Rien sambil terus mengamati beberapa lukisan yang tidak jadi.
"Kau mau melukis di depanku?" Darmuroi membuat Rien meletakkan kertasnya. "Kau meragukanku?" tanya Rien dengan terkekeh.
"Aku hanya ingin menilaimu. Melihat seberapa kemampuanmu. Banyak pelukis di sini yang suda kulihat. Mereka sangat handal dan fokus. Bagaimana denganmu?" Darmuroi sengaja membuat Rien tertantang.
"Hahaha, boleh saja! Dimana aku akan melukis?" Rien tersenyum manis.
Ruang tamu yang tertutup menjadi lokasi paling luas untuk melukis. Angin malam banyak yang masuk lewat celah membuat ruangan tidak pengap. Apa yang Rien lukis di kertas hanyalah isi pikirannya. Tidak ada bahan acuan dan paksaan. Dalam sekejap Rien merasa akrab dengan sekitar.
'Aku merasa berada di mana seharusnya aku berada. Semoga petunjuk cepat datang,' batin Rien tanpa berhenti melukis.
Setengah jam kemudian lukisan Rien selesai. Jangankan hasil karya Rien, Darmuroi sudah takjub melihat cara Rien melukis.
"Tidak ada yang menandingi fokusnya Rien dala melukis. Imajinasinya mengalir begitu saja. Perasaannya tersalur dalam lukisan. Goresan tinta ini menyirat halus dan tajam di sisi yang berbeda. Rien, bagaimana kau melakukannya. Kau menyampaikan perasaanmu yang gelisah di sini." Darmuroi menunjuk lukisan Rien.
Rien terkekeh dengan sorot mata meredup, "Apa lagi yang bisa kubuat, Tuan? Aku memang gelisah memikirkan nasibku. Kau tau? Tidak mudah menerima kenyataannya. Dua zaman yang jauh berbeda." Rien menggeleng di akhir ucapannya.
"Besok kau ikut aku ke pasar! Kita lihat apa yang bisa kau lihat di sana!" seru Darmuroi.
"Kenapa kau begitu antusias?" Rien heran.
"Kau benar-benar berbakat! Semua seniman pasti akan memuji kehebatanmu jika kau menunjukkan keahlianmu! Besok aku ingin kau mengamati semua yang ada di pasar. Dengan begitu kemampuanmu berpikir akan terasah. Dampaknya akan lebih baik dalam lukisan!" jawab Darmuroi dengan segudang lebar.
Rien mengernyit, "Boleh saja, asalkan izinkan aku tinggal bersamamu selama aku di sini."
"Ahaha, jangan lugu! Tentu saja kau akan tinggal di sini!" tawa Darmuroi.
Rien ikut tertawa renyah. 'Dia sama persis dengan pak panitia. Caranya mengaturku dan rasa percayanya juga sama,' pikir Rien.
Tidur di kamar yang dibersihkan secara mendadak. Rien hanya tidur sebentar. Selebihnya dia gunakan untuk berpikir hingga pagi.
'Bagaimana caraku agar pulang? Tinta putih ada di istana dan sulit disentuh. Pikiranku rasanya buntu,' sedikit frustasi.
~~~
Pasar yang sangat tradisional dan ramai. Rien tidak pernah menduga akan mengunjungi tempat ini. Dia rasa semua orang datang ke pasar dan membagi suka-cita. Darmuroi tersenyum melihat Rien berjalan mendahuluinya sambil melihat-lihat. Dia senang Rien bisa beradaptasi dengan mudah.
Seperti keluar dari kurungan penjara, Rien bebas dan terlepas. Dia tidak segan-segan tertawa saat melihat sesuatu yang menarik. Ada banyak seniman dengan keahlian berbeda dan luar biasa. Rien tidak pernah melihat yang seramai dan semeriah ini sebelumnya.
"Wahh, dia keren sekali! Bagaimana melakukannya?!" pekik Rien sambil tepuk tangan melihat penari yang terus berputar atas lempengan tanah kering.
Tiba-tiba Rien mendengar suara seruling yang sangat merdu meskipun baru dimainkan. Dia celingukan mencari sumber suara. Bersama orang-orang mendekati sumber suara itu. Darmuroi sampai kelelahan mengikuti Rien. Rien berada di barisan paling depan mendengarkan seruling yang menggambarkan ketenangan di tengah keramaian. Banyak orang berseru memuji, lalu menaruh koin di kain yang sudah disediakan.
Rien meraba pakaiannya. "Aku tidak punya uang. Apa boleh tidak membayar?" guma Rien.
"Itu namanya tidak menghargai." ujar Darmuroi sambil memberikan sejumlah koin.
Rien tersentak. "Astaga, Tuan, kau membuatku kaget! Ini benar untukku?" tanya Rien menunjuk koin itu.
"Tentu saja. Berikan semuanya pada pemain seruling," kata Darmuroi.
Rien mengambilnya senang hati dan menaruh koin-koin itu di kain yang sudah banyak koin. Pemain seruling itu berhenti bermain membuat semua orang mendesah dan pergi kecuali Rien. Dia masih berdiri terkesima walaupun orang itu sedang menghitung uangnya.
"Apa kau mau memberiku sumbangan sampai tidak mau pergi?" sindir pemain seruling.
"Permainanmu sangat bagus, tapi bercandamu tidak lucu. Aku datang ingin berkenalan. Siapa namamu?" tanya Rien ramah.
Pemain seruling menatap Rien heran, "Belum pernah ada yang menanyakan identitasku. Mereka hanya ingin terhibur dengan serulingku tanpa peduli padaku." mendekati Rien.
Rien tersenyum ramah. "Terkadang kesalahan para penikmat adalah mengabaikan sang pelaku. Identitasmu sangat penting agar kau dikenal semua orang. Jika kau gadis yang hebat bisa memikat dengan nada seruling yang kau buat! Tentu hatimu akan bangga dan merasa dihargai, bukan?"
"Kau memikirkan itu? Tak kusangka ada yang peduli. Perkenalkan, namaku Hunara. Hanya seniman jalanan dan kau orang ke dua yang peduli dengan identitasku." pemain seruling yang bernama Hunara itu menundukkan kepalanya.
Rien ikut menundukkan kepalanya. "Aku Mezira Rien, panggil saja Rien. Jika au yang ke dua, siapa yang pertama?" tanya Rien tanpa ragu.
Hunara tersenyum. "Dia temanku yang sangat hebat. Satu-satunya orang yang memandangku sebagai teman di pasar ini. Dia adalah putra mahkota kerajaan Rurua yaitu pangeran Zaliar Ifaro!" dengan bangga Hunara mengatakannya.
"Pangeran? Ternyata ada pangeran juga," gumam Rien.
Sedari tadi Darmuroi mengamati perbincangan Rien dengan Hunara. Dia merasa semuanya tidak akan berjalan dengan baik dan saling berkaitan. Kecakapan Rien dalam bercengkrama membuat Darmuroi berpikir.
'Dia bukan gadis biasa! Jika dugaanku benar, maka sekarang saatnya untuk mengeluarkan tinta putih dari istana,' pikir Darmuroi.
"Rien, bisakah kau di sini sebentar? Aku harus melakukan sesuatu sebentar," Darmuroi memotong perbincangan Rien dan Hunara.
Rien sedikit ragu, "Baiklah, cepat kembali, ya. Aku takut tersesat." cengirnya. Darmuroi mengangguk kemudian pergi.
"Tersesat? Kau bukan dari sini?" heran Hunara.
Rien menggeleng. "Aku dari jauh. Hunara, bisa kita berteman?"
"Sungguh mau berteman denganku?" tanya Hunara.
"Kenapa tidak? Menambah relasi itu baik. Apalagi kau seniman yang hebat dalam musik. Aku yakin kau tidak hanya pandai dalam seruling. Benar, 'kan?" tebak Rien.
Hunara menggeleng pelan. "Tak kusangka kau begitu pintar membaca orang. Aku memang seniman musik, tetapi cenderung di seruling. Ini membuatku tenang. Kau sendiri siapa?"
Rien tertawa pelan, "Aku pelukis amatiran. Maksudku, baru belajar melukis."
"Kau bercanda? Pelukis itu pekerjaan yang luar biasa! Mari kuajak jalan-jalan di pasar!" ajak Hunara ramah.
"Tapi, Tuan Darmuroi bagaimana?" Rien bingung.
"Dia tidak akan masalah. Kau masih di sekitar pasar, sangat mudah menemukanmu." Hunara segera menarik tangan Rien.
"Eh-eh, sabar, Hunara!" seru Rian kesulitan megimbangi langkah Hunara.
'Apa bisa dipercaya? Mungkin dari Hunara aku bisa menguak beberapa hal agar bisa bebas dari zaman ini,' batin Rien.
Darmuroi pergi ke istana. Para pengawal langsung memberi jalan mempermudah Darmuroi menemui Raja. Namun, kabar buruk menimpa.