5. Syair Tempo Hari

2066 Words
 Bukan Raja yang menerima salam Darmuroi, tetapi sang pangeran mahkota Zaliar Ifaro. Menggunakan baju zirah bersiap untuk berperang diam-diam diikuti bersama Jenderal dan prajurit. Suasana istana menjadi gelap seakan berduka.   "Pangeran, mohon jangan gegabah. Ini bisa berdampak buruk bagi masyarakat." ujar Darmuroi penuh hormat.   Zaro memukul udara. "Tuan Darmuroi, perebutan wilayah akan terjadi segera jika aku tidak bertindak. Yang Mulia menjadi tahanan. Bodohnya aku tidak tau kapan para pengecut itu diam-diam menculik Yang Mulia Raja. Jika itu terjadi, apa rakyat tidak aka menerima dampaknya?!" Zaro penuh emosi.   Darmuroi menangkupkan tangan. "Mohon, bersabarlah, Pangeran! Menurutku, berperang langsung bukanlah keputusan yang benar, apalagi secara terang-terangan. Pangeran bisa menyelamatkan Yang Mulia dengan diam-diam. Kerajaan Aru mempunyai pasukan dan senjata lebih besar dari kita. Mereka ahli strategi dan penuh kelicikan. Bahkan menahan Yang Mulia dengan cara menculik. Tidak benar jika kita tidak membalasnya dengan pemikiran yang matang. Mohon dengarkan nasehatku, Pangeran!"   Zaro merasa dilema. Dia berdecak frustasi. "Lalu, aku harus apa, Tuan Darmuroi?"   "Aku menemukan orangnya, Pangeran! Kemungkinan dugaanku benar. Sudah saatnya tinta putih bertemu dan memilih pemiliknya," Darmuroi sangat serius.   Zaro terkejut. "Pelukis legendaris?"   Darmuroi mengangguk, "Benar, Pangeran! Dengan bantuan pelukis legendaris, Pangeran bisa menjalankan sesuatu dengan mudah bahkan di luar pemikiran musuh. Jika menyelamatkan kerajaan dan Yang Mulia secara sembunyi, perang besar bisa dilakukan dengan bantuannya."  "Apa kau yakin?" Zaro merasa ragu.   "Pangeran, aku tau kau cemas akan Yang Mulia, tapi ini sangat penting bagi kerajaan. Musuh akan senang jika kita sengsara dan lemah. Hingga mempermudah mereka merebut wilayah. Jika kita kuat, mereka akan pergi dengan sendirinya. Percayalah padaku, Pangeran. Ini akan jadi peristiwa bersejarah!" Darmuroi mengatakannya tanpa keraguan.   Zaro mendesah. "Apa rencanamu?"   "Perlombaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aku bersama beberapa seniman ternama dan ahli strategi akan memikirkan lomba itu. Hanya pelukis legendaris yang bisa memenangkan lomba. Waktunya tidak akan lama lagi, Pangeran."  Zaro nampak berpikir panjang. "Jika itu bisa membuat kita semakin kuat, maka lakukanlah. Selanjutnya aku akan mengikuti nasehatmu. Menyelamatkan Raja Karfa secara diam-diam dan menghabisi musuh dengan kelicikan yang sama!" desis Zaro di akhir ucapannya.   Darmuroi kembali menangkupkan tangan. "Kalau begitu, aku permisi dulu!"   Zaro mengangguk dan Darmuroi pergi. Zaliar Ifaro yang dikenal sebagai Pangeran Zaro, dia kebanggaan kerajaan Rurua. Laki-laki yang sangat berbakat di usianya yang genap dua puluh satu tahun. Parasnya sangat mempesona penuh wibawa dan punya senyuman manis. Pandai bela diri, taktik perang, ilmu sosial, perdagangan, hingga salah satu seni dia kuasai yaitu melukis.   Banyak gadis menggandrungi Zaro, tetapi Zaro tidak menunjukkan niat sedikitpun pada perempuan. Berkali-kali Raja Karfa menjodohkannya, tetapi Zaro menolak tanpa alasan yang jelas. Ambisinya hanya melayani kerajaan dan kesejahteraan rakyat. Calon raja yang digadang-gadang akan teramat hebat nan bijaksana.   "Akankah pemilik tinta putih berhasil ditemukan? Semoga secepatnya ditemukan!" gumam Zaro penuh harap.   Saat Darmuroi kembali ke pasar, dia terkejut Rien hilang bersama Hunara. Dia tidak tahu jika Hunara berani membawa Rien bermain dengan liar. Hunara adalah satu-satunya mata-mata kepercayaan sekaligus teman Zaro. Hanya untuk mengecoh identitasnya, Hunara menjadi seniman jalanan. Tugasnya mengawasi setiap gerak-gerik mencurigakan di lingkungan masyarakat. Hunara telah dilatih secara khusus di istana dan dibekali berbagai macam seni bela diri. Darmuroi sangat mengenalinya. Saling menjaga rahasia dan kepercayaan yang tinggi.   Meskipun begitu, kali ini Darmuroi dibuat kelelahan oleh Rien dan Hunara. Dua gadis itu selalu berlari saat Darmuroi berhasil mengejarnya. Akhirnya Darmuroi memilih pulang dan mempersiapkan rencananya. Dia tahu jika Hunara akan menjaga Rien.   "Hunara, dimana rumahmu?" tanya Rien setelah lelah berlari dan tertawa.   "Rumahku tidak jauh dari pasar. Mau mampir?" tawar Hunara.  "Ah, tidak-tidak. Kalau Tuan Darmuroi tau pasti akan lebih khawatir lagi. Tadi saja napasnya sampai tersenggal," tolak Rien.   Mereka tertawa. Rien tidak sengaja melihat sebuah kios yang menjual cermin. Dia mengajak Hunara ke kios itu.   "Mau beli cermin?" heran Hunara.   "Tidak, hanya ingin tau kegunaannya," jawab Rien bergumam seakan tidak sadar.   'Apa sinar yang terpancar dari cermin ini bisa membuatku kembali?' sambung Rien dalam hati.   Hunara mengernyit. "Kau tidak tau fungsi cermin? Aneh!"   Rien mengerjap, "Haha, aku sembarangan bicara." tersenyum bodoh.   Rien mengarahkan salah satu cermin ke matahari, berharap sinarnya akan terpantul. Dalam hati berdoa dan memikirkan rumahnya. Namun, itu tidak berhasil. Justru pantulan sinar itu tidak sengaja mengenai lengannya hingga terasa panas dan Rien terjingkat.   "Ada apa?" tanya Hunara kaget.   Rien memegangi lengannya. "Tidak apa-apa. Sepertinya aku digigit nyamuk," elaknya.   Raut wajah Rien membuat Hunara tersinggung. "Kau tidak suka padaku?" tanya Hunara.   Rien memudarkan kerutan di dahinya. "Ha? Haha, kenapa berpikir begitu? Aku hanya sedikit bingung dengan pasar ini. Terlalu meriah!" candanya.   Hunara tertawa meskipun hatinya berkata lain, 'Tuan Darmuroi membawa siapa? Mezira Rien, nama yang asing!' batin Hunara.   Rien tetap menaruh pandangan ke cermin. Dia sangat bingung memikirkan caranya kembali ke zamannya.   'Hunara bahkan curiga karena ekspresiku. Apa aku minta tolong padanya saja? Cerita yang sebenarnya?' batin Rien.   "Rien, Hunara!"   Seru Darmuroi membuat Rien dan Hunara terkejut dan menoleh bersamaan. Terlihat Darmuroi sangat kesal mencari mereka.   Rien meringis, "Hai, Tuan!" melambaikan tangannya.   Darmuroi berdecak lalu mendesah. "Kalian anak nakal mengerjai orang tua! Aduh, pengganggu!" memegangi pinggangnya yang sedikit sakit.   "Hehe, Tuan Darmuroi, sekali-kali kau olahraga biar tubuhmu semakin sehat! Tadi itu lumayan, 'kan?" Hunara mengangkat alisnya jahil.   Rien mengernyit, 'Hunara mengenal Tuan Darmuroi. Bahkan mengenal Pangeran. Berarti mungkin Tuan Darmuroi juga kenal Pangeran. Siapa sebenarnya mereka? Aku tidak akan terluka bersama mereka, 'kan?' pikir Rien.   Darmuroi menatap Hunara sambil menunjuknya, "Pergilah temui temanmu! Aku mau mengajak Rien pulang!" menarik tangan Rien untuk pergi.   "Eh-eh, Tuan, kau tidak jadi mengujiku? Aku tidak perlu menunjukkan keahlianku?" tanya Rien disela berjalan.   "Tidak, Rien. Aku ada sesuatu yang harus kukerjakan dan kau jangan keluyuran! Kalau kau hilang kemana aku mencarimu?" jawab Darmuroi.   Rien mendesah, "Aku ini mahasiswa, pandai jaga diri. Aku tau jalanku!"   "Pelajar pun kalau asing sepertimu tidak bisa kubiarkan begitu saja," kilah Darmuroi.   Rien sedikit menghentakkan kakinya, "Ayolah, Tuan! Aku ingin cari jalan pulang!"   Darmuroi tidak menjawab lagi. Membawa Rien ke rumah lebih cepat membuat Rien sampai berlari kecil. Sedangkan, Hunara segera menemui Pangeran Zaro. Di celah antara pasar dengan cepat dia berganti pakaian. Seruling tidak pernah lepas dari tangannya. Menjadi gadis cantik dan rapi lebih dari sebelumnya.   "Salam, Pangeran! Kau memanggilku?" tanya Hunara seraya memberi salam.   Zaro justru terkejut karena kedatangan Hunara, "Kenapa kau menemuiku? Setelah sekian lama? Apa ada kabar buruk?"   Herannya Nara mendongak, "Tuan Darmuroi yang menyuruhku kemari. Katanya kau memanggilku."   Keduanya heran, tapi Zaro mengerti dengan cepat. Dia menghela napas panjang dan mengajak Hunara ke tempat penyimpanan barang pusaka.   "Kenapa kita ke sini?" Hunara sedikit takut.   "Jangan takut! Tugas besar menanti hanya tinggal menghitung hari," Zaro membuat ekspresi cemas.   Hunara menatap sekeliling, kemudian kakinya berhenti di ujung sudut berjarak sepuluh langkah. Hunara melotot memandang Zaro.   "Darmuroi menyuruhmu menemuiku, pasti ada alasan yang cukup besar. Dia ingin kau ikut serta dalam lomba dan menghalau semua peserta dengan segala cara. Kau juga bisa membuktikan diri untuk layak bagi tinta putih." terang Zaro tanpa berpaling dari tinta putih di depannya.   Hunara tersentak, "Apa? Lomba untuk tinta putih? Kenapa?"   Zaro mengatakan apa yang direncanakan Darmuroi. Hunara segera mengerti. "Apa ini terkait dengan Rien?" gumam Hunara.   Zaro mengernyit, "Rien?"   Hunara kelagapan, "Ah, Tuan Darmuroi membawa Rien ke pasar. Seharian aku bermain dengannya. Dia bilang seorang pelukis yang baru belajar."   Zaro mengangguk-angguk, "Awasi gadis itu. Jika dia ikut lomba, sebisa mungkin kau halau dia."   Hunara menangkupkan tangannya, "Laksanakan, Pangeran!"   "Sekarang ikut aku mengawasi kerajaan. Ada beberapa mata-mata kerajaan Aru yang dikirim Raja Tala diam-diam." Zaro berbalik dan diikuti Hunara.   "Kau ingat Pangeran Rezain Losiar? Kurasa dia memimpin sebagian besar pasukan perang," kata Hunara serius.  "Darimana kau dapat infonya?" tanya Zaro sambil mengerutkan dahi.   "Beberapa hari ini aku memantau kerajaan Aru. Aku hampir bertemu dengan Pangeran Rezain, untunglah aku segera sembunyi. Selain itu, dia diikuti pelayan setianya yaitu Nisawa Talvaka. Sialnya kemarin aku bertarung dengannya karena dia mengejarku. Aku tidak bisa menunjukkan keahlianku agar dia tidak curiga, jadi aku memilih mengalah dan takut. Maafkan aku baru mengabarimu sekarang. Aku siap menerima hukuman!"   Perkataan Hunara membuat Zaro berhenti. "Jika Pangeran Rezain tidak bergerak maka selebihnya masih aman termasuk Raja Karfa. Pasti Nisawa menjadi kaki tangannya. Kau harus waspada, bisa saja dia juga mengawasimu," tutur Zaro.   "Siap, Pangeran!" seru Hunara.   Mereka pergi menjalankan misi membasmi mata-mata kerajaan Aru di kerajaannya. Sedangkan Rien sedang bingung di rumah Darmuroi karena Darmuroi tak kunjung pulang. Sejak kembali dari pasar, Darmuroi meninggalkannya tanpa memberi petunjuk.   "Astaga, ini sudah siang! Aku tidak bisa diam terus!" geram Rien.   Mondar-mandir di depan pintu yang tertutup. Mendesah panjang kemudian mencari pintu lain. Dari depan sampai belakang semua pintu terkunci. Benar-benar Rien seperti tahanan.   "Apanya yang akan hilang? Meskipun aku hilang aku akan temukan jalanku sendiri! Maaf, Tuan Darmuroi, tapi aku harus merusak jendelamu!"   Dukk!!!   Rien menendang jendela kayu itu, justru dia yang jatuh.   "Aduh, pantatku!" meringis mengelus p****t.   Berdiri lagi memandang marah ke jendela. Menunjuk jendela seakan mengutuk, "Awas kau! Kubuka pakai apa, ya?"   Kembali mencari sesuatu yang bisa membuka jendela. Rien menemukan kayu panjang untuk mendorong jendela dan akhirnya terbuka. Rien segera keluar menyusuri jalan yang pasti tidak menuju pasar.   "Pak tua itu kenapa mengurungku? Apa niatnya? Kalau aku tahu cara kembali hari ini aku akan mendoakannya dapat jodoh biar tidak kesepian lagi sampai mengurung orang asing!" gerutu Rien selagi berjalan.   Tiba-tiba beberapa orang menghadang jalannya. Rien mendelik, mereka memandang Rien penasaran.   "Heh? Kau siapa? Aku tidak pernah melihatmu." salah satu orang yang berpenampilan sedikit kotor bertanya.   "Ck, pasti pendatang dari kerjaan lain. Kalian dengar kalau akhir-akhir ini penjagaan diperketat. Pangeran sendiri yang melakukannya!" seseorang lagi menjawab sungguh-sungguh.   "Benarkah? Aku baru tau!" orang tadi memandang langit berpikir.   Sudut bibir Rien berkerut, "Hehe, permisi." tersenyum kaku melenggang begitu saja.   "Eh, tunggu!" mereka mencegah Rien.   Rien mengerjap polos, "Iya?"   "Nona, katakan dulu siapa namamu? Datang dari mana?" tanya yang wanita.   Rien menangkupkan tangan dengan lentik, "Perkenalkan saya Mezira Rien mahasiswa semester tiga fakultas seni rupa sekaligus calon pelukis hebat! Setidaknya kata pak panitia." gumam Rien di akhir ucapannya setelah berbangga diri.  Mereka terkejut, "Apa?! Apa itu mahasiswa? Apa semacam mata-mata?"   "Gadis ini aneh sekali! Mengaku calon pelukis hebat? Yang benar saja!"  "Kau utusan orang jahat, ya?!"   Rien melongo bingung. 'Astaga, bodohnya aku! Ini zaman kerajaan, Rien. Sekarang kau membuat mereka curiga yang bukan-bukan,' batin Rien.   "Eee, Tuan dan Nyonya sekalian. Aku ini tinggal di sana bersama Tuan Darmuroi, bukan orang jahat apalagi mata-mata." menggeleng seraya menunjuk jalan yang telah dilewatinya.   "Tuan Darmuroi? Benarkah? Kami tidak percaya!"   'Wah, mereka juga mengenal pak tua itu,' batin Rien.  Rien mendesah, "Kalau begitu tanya saja pada dia. Aku mau pergi!" mencari celah di antara mereka lalu berjalan cepat.   "Gadis itu tidak sopan sekali! Sejak kapan Tuan Darmuroi punya tamu seperti dia?" mereka berpikir keras.   Rien masuk ke sebuah gang kecil yang membawanya tiba di pemukiman yang unik. Setiap halaman rumah ada tembikar dan tikar bambu. Orang-orang sibuk bekerja diantara dua benda itu.   "Benar-benar tempat penuh pengrajin," gumam Rien.   Mengukir senyum di wajahnya bertepatan dengan awan yang menghalangi matahari menghilang. Panasnya begitu terik membuat wajah semua orang berseri. Mereka senang karena tembikar yang baru dibuat bisa kering dengan cepat. Terlintas sesuatu di ingatan Rien membuatnya berhenti.   "Ini... Sepertinya aku pernah mengatakan masa ini. Lewat... Iya, aku bergumam seperti terhipnotis saat melukis rumah-rumah ini!" seru Rien. "Hangat berasal dari sinar mentari. Itu artinya kerajaan ini sangat bergantung pada cahaya surya untuk beberapa pekerjaannya seperti manusia pada umumnya. Lalu, satu pertanyaan sekaligus jawaban yaitu ketenangan batin. Ketenangan batin?" ingat Rien.   Tidak sengaja Rien memandang seorang wanita yang sedang menjemur tembikar. Wajahnya sangat murung tidak seperti yang lainnya. Rien tergerak mendekat begitu saja.   "Permisi, Nyonya." sapa Rien hati-hati.   Wanita itu menatap Rien heran, "Siapa kau?"   Rien tersenyum, "Aku Rien dari desa sebelah. Kenapa wajahmu murung? Hari sudah panas seharusnya kau senang, 'kan?"   Wanita itu menunduk pasrah, "Bagaimana bisa tenang, Nona. Uang banyak tapi jauh dari keluarga apa gunanya?"   Seketika Rien mengingat syairnya lagi. 'Rindu terpancar dari seri wajah seseorang. Itu dia! Dia merasa tidak tenang karena jauh dari orang yang dia sayang,' pikir Rien.   "Jadi, kau sedang rindu?" tanya Rien.   Wanita itu mengangguk, "Suami dan anakku seorang prajurit yang mengawal Raja. Entah kenapa mereka tak kunjung kembali. Aku risau, hatiku tidak bisa tenang."   Dahi Rien berkerut, 'Mungkin ini yang dinamakan kehilangan ketenangan batin? Atau ada maksud lain?' pikir Rien bingung.   "Emm, maafkan aku yang tidak bisa membantu. Maaf sudah mengganggumu." Rien menunduk ikut sedih kemudian pergi.   Ekspresinya berubah ikut murung. Jemarinya saling bertaut dan pandangan melamun. Mengingat keseluruhan syair yang dia ucapkan tanpa sadar tempo hari. Sampai Rien berhenti di salah satu rumah yang terdapat batu besar. Menuliskan kata-kata yang dia ingat dan digabungkan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD