6. Perlombaan Spektakuler

2110 Words
 Rangkaian kalimat yang selalu tidak tepat. Rien menggaruk kepalanya pusing. Syair itu seperti petunjuk yang harus dia pecahkan. Menurut Rien itu adalah jalan lain selain tinta putih untuk pulang. Rien menggunakan batu kecil untuk menulis di batu besar itu sampai penuh coretan.  "Sshh, yang benar mana? Rasanya terbalik terus dari tadi," gumam Rien.   Mengetuk dagunya dengan batu kecil yang berbentuk bundar, "Satu pertanyaan sekaligus jawaban dari lukisanku? Memangnya aku punya pertanyaan?"   Mencoba mundur ke waktu hari sebelum melukis sebuah kerajaan yang menurutnya kota. Rien menganga, "Waktu hujan itu aku sendirian, 'kan? Aku juga... Bicara soal cinta." sedikit memekik.   Rien menunduk, "Dalam hati aku ingin merasakan cinta. Mungkin itu pertanyaan yang di maksud."   Menjadi bergumam lirih dan menulis kata kuncinya yaitu cinta. Setelah sekian lama sampai matahari ada di barat Rien masih duduk setia berpikir. Sudah banyak kata kunci yang dia dapat. Akhirnya mulai merangkai lagi.   "Rindu terpancar dari seri wajah seseorang. Hangat berasal dari sinar mentari. Api bisa membakar jiwa yang tidak murni. Satu pertanyaan sekaligus jawaban dari satu kota di kanvas... Ketenangan batin." Rien mengeja sambil menulis.   Menepuk tangannya sekali, "Yeah, berhasil! Ini baru benar! Aku harus mengingatnya terus! Kalau aku bisa menemukan maknanya, mungkin jalan pulang akan muncul sendiri, hahaha! Aku pintar!" bertepuk tangan yang keras.   "Hei, ini sudah hampir gelap, jangan membuat rusuh di sini. Pergi sana!" usir sang pemilik rumah yang tiba-tiba ada di samping Rien.   Rien sedikit terjingkat, "Iya, maaf!"   Segera meninggalkan rumah dan batu itu, tetapi terus mencari makna sambil berjalan ke barat. Matahari yang akan terbenam sangat indah saat ini.   'Setiap orang yang merindu pasti tersirat dari wajahnya. Lalu, cahaya matahari membawa kehidupan bagi mereka yang bekerja keras. Kemudian, kenapa api harus membakar jiwa yang tidak murni? Harusnya membakar kayu bukan jiwa, 'kan? Setelah itu pertanyaan dan jawabannya adalah ketenangan batin. Aku mengartikan itu sebagai cinta, entah benar atau salah. Selebihnya aku mengerti kecuali api yang membakar jiwa tidak murni,' pikir Rien.   Tanpa lelah dan tanpa sadar Rien sudah keluar dari desa itu dan tiba di desa yang lebih aneh. Tanpa satu pun pelita. Udara dingin mulai menyerang. Merinding di sertai takut, Rien tidak berani melangkah lebih jauh.   "Ih, serem! Ini desa apa? Desa hantu, ya?"   Menoleh ke kanan-kiri tidak ada pintu yang terbuka. Suara langkah seseorang terdengar menakutkan. Telinga Rien seakan digelitik membuatnya menutup mata rapat-rapat.   "Si-siapa di sana?" memberanikan diri bertanya dan tidak ada jawaban.  Perlahan Rien berjalan mundur tidak sadar menabrak sesuatu. Rien terbelalak tidak berani menoleh.   "Huaaaa, ada hantu beneran! Jangan makan saya, daging saya pahit! Saya orang jauh bukan dari sini!" teriak Rien.   Sringg!   "Aaaaa, tajamnya! Benda apa itu?! Menjauh, huss-huss!" Rien mengibaskan tangannya pada sebuah pedang yang menahan lehernya dari belakang.   "Kenapa kau berkeliaran di daerah ini?" tanya seorang perempuan yang bersuara berat di belakang Rien  'Ha! Dia perempuan! Apa aku harus berbalik?' pikir Rien.   Dalam satu lompatan dia memutar badan dan menatap perempuan berwajah bengis itu polos, "Hehe, iya, Nona! Tu-turunkan pedangmu dulu." menurunkan pedang itu dengan telunjuknya.   "Huft, sangat mengejutkan!" gumam Rien sambil mengelus d**a.  "Cepat katakan!" perempuan itu menodongkan pedangnya lagi membuat Rien meringis. "Ka-kau keterlaluan jadi perempuan! Bisa bermain pedang bukan berarti bisa seenaknya! Aku ini gadis biasa. Mau jalan-jalan malam sesuka hati apa tidak boleh?" balas Rien.   Perempuan itu mengerutkan dahi dan menurunkan pedangnya, "Cepat pulang!"   Rien menghela napas lega, "Tidak mau. Sepertinya aku tersesat." cemberut seraya merapikan pakaiannya.  "Keras kepala sekali! Siapa namamu? Akan kuhadiahkan pada Raja!"  "Eh-eh, sembarangan! Aku manusia bukan barang! Kau sendiri siapa? Prajurit perempuan? Kok sendirian? Jangan-jangan kabur dari rombongan, ya?" tuntut Rien sok berani.   Rombongan prajurit yang sebenarnya datang menyerukan perempuan itu untuk diam. Seketika perempuan itu lari secepat bayangan yang melesat dari atap rumah ke rumah. Rien melongo takjub. Para prajurit itu melewatinya begitu saja.   "Apa dia buronan?" kata Rien setelah mereka menghilang. Suasana kembali sepi. Bibir Rien bergetar ingin menangis. "Aku merasa terdampar," cicitnya.   Daripada melangkah ke depan lebih baik Rien kembali ke rumah Darmuroi. Dia juga yakin jika Darmuroi mencarinya. Pukul sepuluh malam Rien sampai di halaman rumah Darmuroi. Langsung duduk memeluk riang teras dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.   "Air ... Aku haus mau air," lirih Rien.   Rien tersentak sampai napasnya tercekat karena Darmuroi datang sambil berseru lantang.   "Rien! Astaga, kau ini hilang kemana?! Aku pikir sudah kembali ke zamanmu! Kepalaku sampai pusing mencari! Semuanya sudah kuatur, tapi kau malah hilang, akan hancur jadinya! Ck, anak ini benar-benar liar! Jendelaku kuncinya sampai patah gara-gara kau!" Darmuroi ingin meremas wajah Rien, justru meremas wajahnya sendiri.   Rien nyengir, "Hehe, kau yang kelewatan, Tuan! Mengunciku begitu saja, aku juga mau cari jalan keluar!" balas Rien berseru.   Darmuroi mendesah lelah, duduk di samping Rien. Menepuk pahanya sabar menghadapi Rien,  "Dengarkan aku cukup sekali ini saja. Jalanmu hanya ada pada tinta putih. Aku dan teman-temanku sudah mengatur acara besar untukmu pulang. Tapi tentunya tidak mudah. Kau harus sangat berjuang keras!" mengepalkan tangan serius.   Rien berdecih dan berpaling, "Itu hanya akal-akalanmu saja, 'kan? Eh, ngomong-ngomong aku bertemu perempuan berpedang yang wajahnya sangat bengis! Sepertinya dia pemarah, leherku mau ditebas olehnya! Gila saja aku bisa mati secepatnya di sini! Lalu, ada banyak prajurit datang dan perempuan itu lari. Kupikir dia buronan." mengelus tiang bagai kesayangan.   Darmuroi terkejut, "Bertemu dia dimana?" tanyanya antusias.   "Di desa aneh yang gelap. Satu pelita saja tidak ada. Lama-lama kubantu pasang listrik juga di sini!" Rien mengerucutkan bibirnya.   Darmuroi menganga, "Pasti itu rencana Pangeran Zaro untuk menangkap mata-mata dan penjahat kerajaan Aru, jadi desa itu dibuat gelap. Semoga Pangeran berhasil menangkap perempuan itu. Tapi... Ciri-ciri yang kau katakan sangat familiar. Ciri-ciri yang lain seperti apa?"   "Tuan, aku ini hampir ditebas dan kau malah penasaran sama perempuan bengis itu?! Kakiku juga capek seharian berjalan. Tidak ada rasa kasihan sama sekali kau, Tuan!" Rien merajuk memeluk tiang lebih erat.   "Rien, kau bagai harapan terbesar sekarang. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkanmu? Ayo, kita bicara di dalam dan istirahat." Darmuroi masuk terlebih dahulu membuat Rien semakin kesal.   "Pak panitia saja tidak setega dirimu. Hehh? Tapi kalian perhatian padaku. Ini aneh!" gumam Rien lalu masuk rumah.   Serasa menemukan hidupnya kembali, Rien mandi hingga satu jam sampai stok air habis. Terpaksa Darmuroi mengambil air dari sumur. Rien makan sangat banyak bahkan Darmuroi hanya dibagi satu porsi. Rien tidak pernah memakan makanan itu sebelumnya.   "Huft, aku kenyang! Tuan, kalau aku sukses dan punya banyak uang, kau akan kutraktir setiap hari, haha. Terima kasih, ya!" menepuk meja dan perutnya.   Darmuroi ternganga tanpa henti. Makanannya masih utuh, sudah kenyang hanya melihat Rien makan. Setelah itu Rien menceritakan caranya pergi dari rumah dan bertemu banyak orang, kecuali syair yang dia ingat.   "Perempuan itu pasti Nisawa Talvaka. Pelayan setia Pangeran Rezain yang selalu iri dengan Pangeran kita," kata Darmuroi.   'Kita? Pangeranmu saja kali, aku tidak!' batin Rien.   "Pelayan bisa bermain pedang? Dia bahkan lompat dari rumah ke rumah. Lihai sekali!" puji Rien semangat.   Darmuroi frustasi, "Dia musuh kita, Rien. Kenapa kau memujinya?"   Rien menatap Darmuroi polos, "Musuh?"   Darmuroi ingin sekali memakan piring lantaran kesal. Sekali lagi menjelaskan dengan sabar. "Nisawa Talvaka bukan pelayan sembarangan. Kekuatannya hampir sama dengan laki-laki. Dia tangan kanan Pangeran Rezain dari kerajaan Aru yaitu musuh kerajaan Rurua. Terpaksa aku memberitahumu, saat ini kerajaan dilanda masalah. Raja Karfa ditahan karena Raja Tala dari kerajaan Aru ingin menguasai wilayah. Singkat cerita akan kau ketahui dengan sendirinya jika...," Darmuroi menggantung ucapannya.   Rien sudah serius mendengarkan, "Jika?"   "Jika kau menetap lebih lama dan mengikuti lomba spektakuler yang kubuat, khusus untuk pelukis!" Darmuroi tersenyum miring.   "Sshhh, senyummu mengerikan! Seperti ada yang tidak beres nanti." Rien menggaruk dagunya.   "Hahaha, yang luar biasa pasti berbeda dari yang lain. Aku ingin kau menang seratus persen dari usaha dan tekadmu sendiri."   "Ck, tekadku sendiri? Kau menghasutku sekarang!" sindir Rien.   Darmuroi tertawa, "Percaya pada potensimu. Itu akan membuat keajaiban!"   Rien tertegun lagi dan lagi mendengar perkataan Darmuroi yang sama dengan pak panitia. Setelah itu Darmuroi memberitahu syarat, hingga hadiah yang akan diberikan. Rien menutup mulutnya tidak percaya.   "Apa?! Penentuan pelukis legendaris?!"   Suara Rien menggelegar di ruang makan. Darmuroi membiarkan Rien memikirkan perlombaan itu. Karena bosan, Rien membuka pintu belakang. Angin malam tidak mempengaruhinya lagi. Bulan terlihat sangat bersinar di antara bintang-bintang. Senyum Rien terukir manis.   "Aku mau melukis," lirih Rien masih menatap langit.   Tengah malam tidak akan ada yang mengganggunya. Duduk di ambang pintu, pikirannya melayang kemana-mana.   'Lomba itu besok. Tapi apa aku bisa?' suara hati Rien.   Irama merdu seruling terdengar menghanyutkan. Datang tidak diundang dan tanpa wujud, Rien menikmati alunan merdu itu. Rien pikir seseorang tengah berpikir keras di kesunyian malam. Nyatanya, Hunara yang melakukannya tepat di atap rumah Darmuroi.   ~~~  Sejuk yang berbeda dari sebelumnya. Kepanikan yang sama seperti sebelumnya. Rien kembali hilang dan Darmuroi kelagapan. Selendang kelabu menjadi cadar. Rien terlihat sangat redup di terangnya siang. Kaki jenjangnya melangkah ke kerumunan orang-orang pasar yang menatapnya heran. Sorot matanya serius mendatangi sebuah papan informasi.   Kuas dan tinta sudah tersedia. Rien masih membaca daftar nama yang ikut lomba. Tinggal beberapa goresan saja namanya akan terdaftar, tetapi Rien belum melakukannya lantaran seseorang yang memakai cadar juga berdiri di sampingnya. Rien menatap orang itu yang tengah menuliskan namanya. Sontak terkejut dalam hati.   'Nisawa Talvaka? Di-dia...,' batin Rien.   Semuanya serba merah muda, tidak seperti semalam yang lebih mirip penjahat. Pandangan mereka bertemu sesaat, kemudian orang itu pergi. Rien tidak melihatnya membawa pedang. Rien hanya tau kalau niat orang itu menyamar adalah jahat.   'Gawat! Dia ikut lomba. Sudah pasti aku akan kalah. Bagaimana ini?' pikir Rien.   Tangannya mulai ragu memegang kuas. Mungkin, namanya tidak akan ada di daftar itu. Sesuatu yang pasti akan terjadi. Darmuroi mengitari lapangan yang sedang dipersiapkan untuk lomba. Banyak seniman yang menyapa dan bertanya, Darmuroi tidak bisa menanggapi mereka dengan baik. Sampai akhirnya Hunara datang.  "Apa yang terjadi? Dimana Rien?" tanya Hunara.   "Dia hilang sejak kuberitahu hal ini. Kau cepat cari dia!" Darmuroi menepuk lengan Hunara pelan, tetapi  Hunara meringis sakit, "Kau kenapa?" tanya Darmuroi cemas.   "Semalam sempat berkelahi dengan Nisawa. Pangeran Zaro berhasil menangkap anak buahnya. Sial, tapi dia terlepas!" desis Hunara di akhir ucapannya.   "Jadi yang dikatakan Rien benar. Lalu, lukamu bagaimana?"   "Ini hanya luka gores. Kalau aku bertemu dengannya lagi, akan kupastikan kehancurannya!" Hunara kesal.   Darmuroi berdecak, "Syukurlah kau tidak apa-apa. Sekarang yang terpenting Rien harus ikut!"   Hunara mengerutkan dahi, "Sebenarnya siapa Rien? Kenapa kau yakin sekali jika dia yang bisa menggunakan tinta putih?"   "Tidak ada waktu untuk bertanya. Temukan Rien sekarang juga dan kau harus ikut lomba. Akan kuceritakan jika Rien yang menang," titah Darmuroi.   "Apa?! Aku lomba melukis?! Tidak! Serulingku bisa cemburu nanti! Lagipula aku tidak bisa melukis!" Hunara melengos acuh.   ~~~  Ting! Ting! Ting! Ting!  Tanda permulaan sudah berbunyi. Semua orang berkumpul di lapangan menyaksikan acara spektakuler yang belum pernah diadakan. Semua ahli strategi dan seniman ternama berjajar di panggung megah. Seruan kagum dan sorakan bersemarak. Seluruh jalan menuju lapangan diberi tanda merah membuat suasana semakin meriah.   "Perhatian! Perlombaan yang ditunggu-tunggu sudah dibuka!" seru orang yang membunyikan tanda tadi.   Mereka bersorak semangat. Pasar sampai kalah ramai dengan lapangan. Setiap sudut dijaga ketat. Beberapa peserta sudah datang. Di ruang lain Hunara merasa risih karena pakaian yang diberikan Darmuroi. Terpaksa Hunara mengikuti lomba setelah Darmuroi mengatakan alasannya.   Di antara seniman, Darmuroi masih berharap Rien datang. Pangeran Zaro diam-diam menghadiri acara itu dan memberi isyarat pada Darmuroi.  "Pangeran, kenapa kau datang seperti ini? Terlalu berbahaya!" kata Darmuroi setelah melihat Zaro tanpa pengawalan bahkan memakai pakaian rakyat biasa.   Zaro tersenyum, "Mau bagaimana lagi? Aku mau menarik pelayanku itu!" menunjuk Hunara yang cemberut dan berjalan malas bergabung dengan peserta lainnya.   Darmuroi menoleh sebentar ke arah para peserta, "Eee, hehe. Pangeran, dia bukan hanya jadi peserta, tapi juga akan melindungi orang yang kumaksud." bisik Darmuroi.   "Maksudmu Rien? Hunara mengatakannya semalam." Zaro menatap lekat Darmuroi.   "Iya, Pangeran. Terlebih lagi, Nisawa ada di sini," Darmuroi semakin lirih.   Seketika Zaro melotot, "Bagaimana bisa?" "  "Aku sudah melihat namanya ada dalam daftar. Gadis itu sangat berani sampai tidak menyembunyikan identitasnya."   "Jika Hunara mengetahui Nisawa, dia pasti akan menangkapnya dan membuat kekacauan," ujar Zaro tenang.   Darmuroi mengangguk, "Benar. Ini kesempatan yang tepat. Nisawa tertangkap maka pangeran Rezain akan muncul. Selanjutnya terserah Pangeran."   "Rencana tidak selalu berhasil walau sudah dipikirkan matang-matang. Aku akan berada di antara semua orang. Tapi, dimana gadis yang bernama Rien?"   Darmuroi tercekat, "Dia... Belum datang. Sebentar lagi akan hadir." sedikit menunduk.   Zaro mengangguk-angguk percaya. Meninggalkan senyum penuh kepercayaan kemudian bergabung dengan rakyatnya. Darmuroi menghela napas panjang. "Mata Pangeran Zaro menyiratkan kegelisahan yang dalam," gumamnya.   Nisawa duduk tepat di samping Hunara yang sedang memakai cadar. Semua peserta memakai cadar tidak peduli laki-laki atau perempuan, itu salah satu aturan. Setelah memakai cadar Hunara dengan santai memutar-mutarkan serulingnya tanpa melirik ke samping. Nisawa sudah mengepalkan tangan ingin mencekik luka Hunara.  'Rien, kau dalam penjagaanku sekarang. Dari siapa aku harus menjagamu?' pikir Hunara.   Aura tidak menyenangkan bisa Hunara rasakan. Namun, saat hendak melirik Nisawa, seseorang menyita perhatiannya sampai melotot.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD