Orang itu terlihat begitu bersinar nan anggun. Hunara memandang langit cerah kemudian kembali pada orang itu.
'Eh? Pelukis termahal juga datang,' batin Hunara.
Bunyi gong ditabuh mengalihkan perhatian termasuk Hunara. Darmuroi celingukan tidak bisa duduk dengan tenang di tengah-tengah seniman dan panitia lainnya.
"Kenapa sangat cemas? Sedang mencari sesuatu?" tanya salah satu seniman.
Darmuroi menoleh, "Ah, aku hanya gugup melihat semua ini. Tidak menyangka sungguh akan terjadi." sedikit terkekeh. Mereka paham kembali melihat panggung.
Semua peserta sudah berkumpul. Seseorang menyuruh mereka berdiri di atas panggung. Semua orang masih bersorak memberi semangat. Darmuroi dan Hunara masih mencari dengan mata.
"Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi dunia lukisan. Seperti yang kita tau, Tuan Darmuroi selaku pembuat tinta ajaib memberi kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkannya. Tidak hanya warga lokal, tetapi dari kerajaan lain juga diperbolehkan. Syarat dan ketentuan sangat mudah. Tidak pandang bulu, memiliki tekad yang kuat, keberanian tanpa batas, kemampuan imajinasi yang mengagumkan, serta hati yang murni. Hahaha, aku bingung kenapa hati yang murni ikut tercampur. Hanya Tuan Darmuroi dan para seniman terhormat yang tau. Ah, di sini sudah ada banyak peserta yang dihadiri dari berbagai kalangan. Mereka memakai cadar karena salah satu keinginan panitia. Ini... Membuat identitas mereka sulit dikenali, haha! Baiklah, apa kalian siap?!" pembawa acara yang membawa selembar kertas berisi daftar nama berbicara.
"Siap!" seluruh peserta kompak berseru.
Riuh tepuk tangan termasuk Pangeran Zaro di bawah sana.
'Kalau anak itu tidak muncul, tinta putih tidak akan kukeluarkan!' batin Darmuroi yang masih gelisah.
"Hebat! Kalau begitu kita masuk ke babak pertama. Babak ini sangat khusus disiapkan langsung oleh guru besar kerajaan Rurua. Guru... Silahkan!" pembawa acara mempersilahkan.
Semua peserta menunduk memberi salam saat guru besar menghampiri. Guru besar tertawa pelan,
"Tidak perlu sungkan. Aku senang minat juang kalian tinggi pada lomba ini. Melukis bukan hanya perkara estetika, tetapi makna yang terkandung didalamnya. Seperti kalian yang memakai cadar terlihat misterius membuat penasaran. Ada hal istimewa dari kalian yang harus diketahui, ada juga sesuatu yang istimewa dalam lukisan dan harus diketahui. Maka dari itu, babak pertama lomba ini adalah pengetahuan!" seru guru besar di akhir ucapannya.
Peserta kebingungan terlihat jelas dari dahi mereka.
"Wow! Pengetahuan! Apa semacam teka-teki?" tanya pembawa acara.
"Sekian banyak pertandingan kenapa pengetahuan yang diuji? Apa hubungannya dengan melukis?" tanya salah satu peserta laki-laki.
Guru besar tertawa, "Lewat pengetahuan seseorang bisa mengetahui banyak hal. Tanpa ilmu, orang akan tersesat dan sembarangan. Melukis pun bisa jadi kacau-balau. Imajinasi kalian tidak akan bisa sempurna tanpa disertai ilmu." dengan tenang dan senyum ramah guru besar menjelaskan.
Semua orang termasuk peserta dan panitia mengangguk mengerti. Kemudian, seseorang menarik tali gulungan kertas yang sangat besar terpajang di ujung panggung. Kertas itu terbuka menunjukkan isinya.
"Api. Kalian harus menafsirkan kata api seolah-olah sedang memberi makna pada lukisan. Saat pasir di jam itu habis, berarti menunjukkan bahwa waktu pengerjaan selesai. Setelah itu para juri yang terdiri dari seniman dan ahli strategi sendiri yang memilih keputusannya." ujar guru besar di saat seseorang membagikan meja kecil dan kertas dihadapan peserta.
"Maaf, guru. Kenapa ahli strategi kerajaan ikut berpartisipasi?" tanya salah satu peserta.
"Hanya Tuan Darmuroi yang tau. Hahaha, ini tentang tinta putih. Sebuah keajaiban yang tidak boleh sembarangan dimiliki. Semoga berhasil!" guru besar meninggalkan panggung dan kembali ke tempatnya.
Semua peserta menatap Darmuroi yang masih berekspresi sama.
"Tinta putih sangat berkuasa. Dia memilih penggunanya sendiri. Jika dalam lomba ini aku menang, aku bisa mengendalikan tinta itu dan kerajaan ini. Hahaha!"
"Dipikir-pikir apa hubungannya api dengan tinta? Aneh sekali!"
"Tinta putih... Sekian lama aku hanya mendengar rumormu. Sekarang berkesempatan mendapatkanmu!"
Bisik-bisik peserta sambil duduk di belakang mejanya masing-masing. Kertas dan tinta hitam sudah tersedia. Mereka berpikir sangat keras.
"Pak tua itu benar-benar membuatku sakit kepala." desis Hunara.
"Gunakan imajinasimu jika mampu. Pemain seruling rendahan tidak akan mampu berpikir sekalipun!" kata Nisawa membuat Hunara menoleh tajam, "Sombong!" balas Hunara.
'Orang ini cukup familiar. Seperti... Tidak mungkin! Apa dugaanku benar?' pikir Hunara.
Tinta mulai dipoleskan. Tenang ujian berlangsung. Satu suara saja tidak ada. Zaro nampak mengerutkan dahinya mengamati Darmuroi yang masih menatap sekeliling.
'Apa yang dilakukan Darmuroi? Dia yang membuat perlombaan ini, dia sendiri yang cemas. Sepertinya Rien yang dia bicarakan tidak datang,' batin Zaro.
Tidak diragukan lagi. Seorang gadis yang bersinar itu menjadi pusat perhatian. Keahliannya terkenal di seluruh penjuru kerajaan Rurua. Pasir itu sudah hampir habis. Sedikit waktu untuk menyiapkan jawaban yang sempurna, justru Hunara untuk bermain seruling.
"Gadis bodoh! Dia mau membuat semua orang tidur?" gumam Darmuroi.
"Tuan, kau mengenalnya? Aku rasa dia ingin mengatakan sesuatu," tanya salah satu seniman pada Darmuroi.
"Dilihat dari serulingnya, dia seorang pemain seruling di pasar. Aku sering melihatnya," Darmuroi berkilah.
"Nona, kenapa kau bermain seruling?" tanya pembawa acara.
Hunara menghentikan permainannya, "Tuan, aku hanya ingin mencairkan suasana. Semuanya terlihat tegang tanpa suara. Bukankah melodiku sangat indah?" dengan percaya diri Hunara berdiri.
Ting!
Waktu selesai. Seseorang mengambil kertas dan membawanya pada para juri. Desahan lega dan sikap tenang selalu digambarkan peserta, kecuali Hunara.
"Jawaban akan diberikan sebentar lagi. Tapi, Nona yang satu ini sepertinya salah arah. Ini perlombaan melukis, bukan untuk seruling," kata pembawa acara.
Semua orang tertawa. Hunara meringis memutar serulingnya, "Ahaha, mohon maklum. Aku hanya seniman rendahan di pasar. Pekerjaanku menghibur dengan nada serulingku."
"Wow, sepertinya aku pernah mendengarkan nadamu itu. Siapa kau?" tanya pembawa acara.
Saat Hunara ingin menjawab, guru besar sudah datang membawa hasil keputusan. "Semuanya, atas rundingan para juri, kalian diminta menjelaskan jawaban kalian secara lisan. Ada beberapa yang unik, kami ingin tau alasannya yang lebih luas," katanya ramah.
Para peserta berdiri memberi salam hormat. Satu per-satu nama mereka dipanggil dan menjelaskan jawabannya. Tepuk tangan penonton kerap menyelinap. Apalagi saat pelukis termahal itu berbicara, semua terperangah kagum. Lalu, ketika Hunara bicara, banyak yang tertawa. Lain lagi dengan Nisawa Talvaka yang belum dipanggil. Namun, seseorang yang akan dipanggil namanya justru diurungkan karena guru besar membuang kertas jawabannya. Menimbulkan pertanyaan yang mendesak. Orang itu maju selangkah dan memberi hormat.
"Apa yang kau tulis?! Penghinaan!" seru guru besar. Darmuroi dan para juri berdiri.
'Siapa itu?Tidak memberi nama, jawabannya juga aneh,' pikir Darmuroi.
"Aku melukis api," jawab orang itu.
"Di saat yang lain menulis, kau justru melukisnya? Katakan tujuanmu!" guru besar mencoba sabar terkesan tegas.
Orang itu meminta izin, "Api adalah elemen yang sangat dahsyat. Bila kecil menjadi kawan. Bila besar menjadi lawan. Dia tidak pandang musuh atau teman. Terkadang membantu, terkadang menyiksa. Kita bisa memasak karena api. Besi ditempa dari api. Dingin bisa kalah dengan hangatnya api. Menurutku tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan api. Aku hanya menyalurkan pikiranku untuk melukis api. Hanya api itu sendiri yang bisa menjelaskan makna api."
Guru besar tersenyum, "Kejujuran yang murni. Kau tidak bisa mengungkapnya dalam tulisan, tapi bisa menggambarnya dengan jelas. Menyalurkan pikiran itu sangat dibutuhkan dalam melukis."
Orang itu kembali mundur selangkah. Menjadi sorotan para peserta termasuk Hunara dan Nisawa.
'Dia... Apa bisa masuk ke babak selanjutnya?' pikir Hunara.
"Api adalah senjata yang mematikan?" guru besar membaca kertas selanjutnya.
Dalam sekejap Nisawa menjelaskan maksudnya. Hunara terbelalak mengetahui nama Nisawa. Dia mengepalkan tangan erat. Ingin mengambil belati yang tersembunyi di bajunya.
"Sudah kuduga. Enyahlah kau, Nisawa!" desis Hunara. Tepat belati itu dicabut, Nisawa memperingati Hunara jika dalam lingkungan umum. Bisa saja masalah besar terjadi apalagi rakyat tidak mengetahui Nisawa adalah musuh.
"Sialan! Jika kau mengacau, kau akan kehilangan kepalamu!" desis Hunara.
"Kita lihat saja. Siapa yang mengendalikan permainan." menoleh tajam ke Hunara.
Hunara sudah ingin menyerang. Pandangannya tidak sengaja menangkap isyarat Darmuroi yang menyuruhnya untuk menahan diri.
'Jadi aku harus jaga Rien dari Nisawa? Konyol! Apa istimewanya Rien? Meskipun dia ikut bukan berarti dia pelukis legendaris. Nyatanya tidak hadir perlombaan,' batin Hunara.
Guru besar kembali berdiskusi dengan juri. Kemudian, hasil diumumkan cukup lantang. Menyisakan seperempat peserta yang bersorak senang lolos ke babak selanjutnya.
"Bagus! Pintar! Kalah dan menang sudah biasa dalam lomba. Dari ujian tadi, semoga menjadikan kalian semakin bersemangat!" seru pembawa acara.
Senyum para peserta tersembunyi di balik cadar. Jawaban yang paling cerdas adalah milik pelukis termahal, tetapi yang paling mengesankan adalah milik orang yang menggambar api. Sampai sekarang semua orang masih bertanya-tanya tentang orang itu karena tidak menjawab dengan benar tetapi bisa lolos.
Babak selanjutnya adalah babak yang paling menguras tenaga. Keterampilan terbesar akan diuji dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah melukis sebuah objek bergerak. Tahap ke dua melukis di atas air. Tahap ke tiga adalah melukis sesuai imajinasi masing-masing. Gong ditabuh kembali.
Sebuah sangkar yang sangat besar. Seekor burung kecil berwarna putih terbang di sana. Para peserta bahkan kesulitan melihat.
"Apa itu? Musang?" tanya salah satu peserta menunjuk sangkar.
"Musang tidak terbang. Itu burung!" jawab sampingnya.
"Burung apa kecil seperti itu? Kalau didekatkan bisa lebih mudah."
"Iya, dia terbang kesana-kemari. Bagaimana melukisnya? Itu burung jenis apa?"
Pertanyaan para peserta yang sama dengan penonton. Beberapa orang telah menyiapkan kertas besar dan meja lagi.
"Di satu sisi burung yang terbang bebas dalam sangkar. Di sisi lain wajah bingung para peserta. Hahaha, ini seperti permainan. Menurut salah satu juri, fokus adalah kunci dari tahap pertama dari babak ke dua ini. Jadi, semoga berhasil! Keterampilan kalian dipertanyakan!" seru pembawa acara.
Banyak peserta sudah mulai beraksi, tetapi Hunara tidak. Dia melamun malas menatap sangkar. Dia mencoretkan tinta asal-asalan tanpa membentuk apapun.
'Mau lukis apa? Kalau burung itu diam akan kugoreng!' batin Hunara.
Satu jam telah berlalu. Semua mata memandang jeli pada setiap lukisan yang dipertontonkan dan dinilai secara langsung.
"Lukisan siapa itu? Buruk sekali!"
"Itu apa? Tidak jelas!"
Banyak lagi celaan yang diberikan untuk lukisan paling ujung. Hunara menggaruk kepala, "Mereka tidak membicarakan punyaku? Lukisanku ada di tengah."
Bukannya ikut mengkritik, para juri justru tersenyum memandang lukisan itu. Mereka menyuruh pelukisnya untuk maju dan menjelaskan kembali maksud lukisannya. Semua orang kembali terkejut.
"Gadis itu lagi? Kenapa dia diloloskan?"
"Keluarkan saja! Tidak mentaati peraturan. Semua tidak mengerti dengannya!"
Orang itu dengan tenang memberi salam, "Burung terbang bebas dari kejauhan. Tidak bisakah juri melihat apa yang ada di sana?"
Pertanyaan itu menimbulkan pertanyaan baru. Salah satu juri menghampiri lukisan itu dan memandangnya teliti. Tidak ada ekspresi marah, senyumnya selalu tersungging meski yang melukisnya sedikit menyindir.
"Berani! Bagaimana bisa kau melukis lukisan indah ini dalam satu jam?" tanya juri itu.
Kertas itu berlukiskan sangkar dan banyak burung di dalamnya, tetapi itu hanya bayangan. Satu burung yang asli akan terlihat jika dilihat lebih teliti. Setiap goresan, ketajaman, mengandung nilai seni. Itu yang dikatakan pelukis tadi.
Lalu, sang juri menunjukkan dimana letak burung yang asli kemudian diangguki oleh sang pelukis. Mereka segera mengerti dan memuji lukisannya.
'Satu jam sebagus itu. Hampir menyaingi pelukis termahal jika saja dia tidak menggambar sangkar. Siapa dia?' batin Darmuroi yang mengerutkan dahi.
Sorakan lagi bergemuruh bersamaan dengan pujian apresiasi. Namun, sang Pangeran justru menilik serius ke panggung. Hunara hampir mengacaukan perlombaan. Zaro yakin tangan Hunara pasti gatal ingin menghabisi Nisawa.
'Kenapa tangan kanan Pangeran Rezain ikut lomba? Apa tujuannya?' batin Zaro.
Seorang penari datang dengan begitu menawan. Memberi salam pada setiap orang. Dia mulai menari tanpa menunggu perintah. Awalnya semua orang mengira ada hiburan di tengah-tengah acara.
"Dia adalah penari hebat dari istana. Cantik, lembut, penuh pesona bagaikan burung merak. Dia akan terus menari sampai kalian menyelesaikan lukisannya tepat waktu. Emm, mengerti, 'kan?" pembawa acara sedikit bermain-main.
"Apa?! Melukis orang yang menari?!"
"Melihat matanya saja aku tidak bisa! Hanya pakaiannya yang melambai-lambai!"
"Astaga, ini pasti ulah pak tua! Aku masih bingung kenapa lukisanku lolos begitu saja. Mereka pasti tidak melihatnya dengan benar. Semoga kali ini aku langsung dikeluarkan!" desis Hunara setelah keluhan para rekan lombanya.
"Pendekar pengecut! Ah, seniman pengecut!" balas Nisawa yang masih memandang penari.
Hunara mengepalkan tangan, "Rencana licik apa lagi yang kau buat? Aku tidak pengecut, tapi Pangeran dan Rajamu yang pengecut!"
Nisawa menoleh marah, "Mulutmu terlalu manis seperti seruling bambu. Aku tidak suka. Akan kubuat kau kehilangan lidah setelah ini!"
"Ck, kau akan bisa jika masih hidup," Hunara tersenyum miring.
"Siapa yang bicara?" seruan pembawa acara membuat Hunara dan Nisawa kembali ke sikap semula.
"Ehm, maaf, Tuan. Ada serangga pengganggu." Hunara melirik Nisawa yang ingin membalasnya.
Pembawa acara mendesah, "Semuanya siap di tempat. Perhatikan baik-baik dan mulai!"
Para peserta duduk dan memulai mencelupkan kuas ke tinta. Penari itu menjadi pusat perhatian. Tidak menduga jika ada dua jenis sesuatu bergerak yang diperlombakan. Satu jam terlewat begitu cepat. Desahan pasrah dan binar kepuasan ada pada wajah para peserta. Salah satu ahli strategi berdiri membuat penilaian tertunda.