8. Awan di Atas Air

2048 Words
 Rasa takut mulanya menghinggapi. Ahli strategi itu membawa cermin besar yang diletakkan tepat di depan peserta dan cawan berisi tinta di tangannya. Wajahnya sangat penuh amarah. Matanya tidak berkedip memandang peserta.   "Semua misteri akan terkuak dalam cermin ini!"   Ahli strategi itu berseru kemudian menyiramkan tinta pada cermin besar membuat para peserta takut mengira tinta akan disiramkan pada mereka. Seketika tinta di cermin itu menyebar seperti asap yang menempel. Semua terkejut dan ahli strategi tersenyum miring.   Melipat tangannya ke belakang seraya berkata, "Buka cadar kalian dan bercerminlah."   Nada suara yang sudah agak tenang justru membuat para peserta bertanya-tanya. Perlahan mereka melangkah lebih dekat ke cermin dan melepas cadarnya. Sontak binar takjub penonton kagum pada kecantikan dan ketampanan para peserta. Tak jarang dari keluarga mereka bersorak. Namun, para peserta dibuat kaget. Awan tinta itu perlahan berkumpul dan membentuk tulisan tentang identitas mereka.  "Wah! Keren! Bagaimana bisa?! Pasti ini trik sihir!" ujar salah satu peserta laki-laki.   "Hahaha, itu benar namaku! Rumahku juga, nama orang tuaku juga, pekerjaanku juga, haha! Tuan, bagaimana kau melakukannya?" seru salah satu peserta perempuan sambil bertepuk tangan.   "Mau menunjukkan keahlian saja harus membuat kami takut. Tapi kenapa cadar harus dilepas jika sebelumnya digunakan?" heran Hunara.   "Pertanyaan yang bagus!" ahli strategi menarik perhatian mereka. Senyum mengembang tersalur di wajah mereka, "Misteri itu unik. Identitas kalian nyata. Tidak ada satu yang terlewatkan kecuali gadis itu." menunjuk peserta yang ada di pojok sendiri.   "Hehh? Kenapa kosong? Hanya nama sesuai di daftar yang tertera?" heran pembawa acara sambil melipat cermin dan selembar kertas berisi daftar nama peserta.   Lain dengan Darmuroi dan Hunara yang berbinar tidak percaya.   "Rien?!" pekik Hunara setelah menoleh. Anehnya Rien menggaruk kepalanya dan terus memandang cermin.   "Anak itu! Haha, kurang ajar!" kata Darmuroi sambil memukul tangannya sendiri meskipun tersenyum lebar.   Rien menatap Darmuroi kemudian tersenyum miring. Darmuroi semakin ingin memukul kepala Rien gemas.   'Hai-hai-hai! Jangan kira aku akan melewatkan kesempatan ini, haha! Kalau aku tidak berani unjuk diri, bagaimana bisa pulang? Kalian terkejut, 'kan?!' batin Rien seraya menaik-turunkan alisnya pada Darmuroi dan Hunara.   Hunara syok menutup mulutnya, "Kau?! Kau benar-benar Rien?! Sungguh Rien yang waktu itu?! Kau membuatku sakit kepala tau, nggak?! Setelah ini kau harus tanggung jawab!" menunjuk Rien sewot.   Rien melambaikan tangan pada Hunara, "Nona, kau ini lucu sekali! Dari tadi aku melihat gelagatmu yang seperti ular ingin lepas dari sayang, haha!" balas Rien mulai menampakkan dirinya.   Hunara tidak terima, "Benar-benar pembuat onar!" Hunara ingin menghampiri Rien kesal, tetapi mengingat kembali jika Rien yang sejak tadi menjawab tantangan lomba dengan aneh dan dia berhenti. "Tunggu sebentar, jadi kau yang melukis api dan seribu bayangan penari itu?!" Hunara bertanya seperti orang bodoh.   Rien mengangguk disusul pembawa acara dan para juri. Semua peserta menatap Rien penuh tanda tanya.   Hunara menutup mulutnya lagi. "Ha! Luar biasa! Tidak heran Tuan Darmuroi bersikeras agar kau ikut," bergumam di akhir ucapannya.   "Siapa gadis itu? Aneh sekali! Tinta di cermin tidak menunjukkan identitasnya. Apa jangan-jangan dia penjahat?"   "Aku tau! Dia datang ke desa sebelah dan bermain batu di salah satu rumah. Sepertinya dia sebatang kara."  "Indah sekali! Tidak hanya lukisannya yang cantik, tapi orangnya juga manis! Nona, apa kau sudah menikah?!"   Rien mengulum senyum geli mendengar beberapa lontaran pertanyaan. Seseorang di sampingnya menyenggolnya. "Kau tidak bermaksud buruk, 'kan? Penyihir?"   Rien mendelik, "Penyihir? Memangnya ada penyihir yang imut sepertiku?" tersenyum sok manis.  Orang itu ikut mendelik, "Tuan pembawa acara, dia tidak punya identitas. Kesalahan apa ini?" tuntutnya menunjuk Rien seolah-olah Rien bersalah.   Mereka bingung, lalu ahli strategi tadi menjelaskan. "Cermin dan tinta ini selalu membuka kedok apapun bahkan ilusi tidak berpengaruh. Kenapa kau tidak punya yang lain selain namamu? Siapa kau?" meneleng membuat semua orang ikut meneleng.   Rien mengerjap beberapa kali ikut meneleng, "Eee, aku dari sana dan dari sini. Tidak tau dimana yang jelas aku ingin pulang. Hehe, ini satu-satunya jalan pulangku, Tuan. Kumohon biarkan aku ikut dan menenangkan lomba." mengangguk kuat.   "Tidak bisa! Tinta putih harus jadi milikku!" seru salah satu rekan lombanya.   Rien mengerjap, "Hei, menang-kalah sudah biasa. Kau akan kalah dan aku menang!" berseru senang menunjukkan deretan giginya.   Rekannya menunjuk Rien tidak terima, "Seenaknya saja bicara. Kau siapa memangnya?"   Rien meneleng menatap langit, "Aku... Aku adalah Dewi yang turun dari langit khusus untuk mengendalikan tinta putih!" bicara mendayu seraya mengepalkan tangan.   Jelas semakin konyol dihadapan semua orang. Sedetik kemudian mereka tertawa mengejek Rien.   "Aku sungguh-sungguh! Kalian tidak percaya, ya?" Rien menggeleng.   "Dewi dari langit? Kau sudah gila, ya?" kata orang tadi sambil tergelak.  Rien menganga, "Tidak sopan! Awas saja kau yang akan kukalahkan duluan!" sedikit marah menunjuk orang itu yang menjulurkan lidahnya.   "Sudah-sudah! Nona, namamu Mezira Rien?" tanya pembawa acara.   "Benar!" Rien berseru semangat.   "Eee, hehehe, sangat ceria! Sudah mendaftar dan ikut sejak awal, jadi kau tidak bisa dikeluarkan. Tapi identitasmu mencurigakan. Apa kau yang dimaksud misteri sejak tadi?" pembawa acara heran.   Rien menggeleng, "Tidak, Tuan. Misteri yang dimaksud adalah makna lukisan, tetapi aku sudah membuat kalian penasaran. Jujur saja, aku juga tidak tau siapa diriku. Mungkin itu sebabnya cermin tidak menunjukkan identitasku."   Tutur kata Rien yang berubah menjadi lembut bisa memberi waktu para juri untuk berpikir. Darmuroi tidak takut jika Rien dikeluarkan, justru khawatir pada pandangan Nisawa untuk Rien.   "Baiklah, Nona Rien, kau boleh melanjutkan lomba," ujar ahli strategi setelah berdiskusi dengan para juri.   Rien senang sampai bertepuk tangan, "Kalian semua akan kusingkirkan!" menunjuk para peserta bercanda. Hanya dibalas dengan decihan seraya memalingkan wajahnya.   "Rien, semangat!" Hunara berbisik.   Rien menoleh dan mengangguk. 'Apa yang dia lakukan? Lukisannya cukup aneh!' batin Rien.   Tinta di cermin kembali bergerak membentuk tulisan yang lain setelah beberapa saat. Menampilkan nilai terbaru yang sangat mengejutkan. Bahkan keberadaan Nisawa dibiarkan begitu saja meskipun semua ahli strategi mengetahuinya.   Di tengah-tengah warga, Zaro selalu mengawasi Rien setelah kejadian cermin. Dahinya sampai berkerut. Senyum yang sangat berbeda dari Rien mempengaruhinya.   'Jadi dia yang namanya Rien. Lumayan,' batin Zaro.   Nilai akan dikumpulkan sampai babak ke dua berakhir. Selanjutnya adalah tahap ke dua dari babak ke dua yaitu melukis di atas air.   "APA?!"   Kehebohan terjadi, pembawa acara mendapat banyak keluhan dan cercaan, justru para juri tertawa. Darmuroi paling antusias. Dia geli melihat wajah Rien yang cemberut kearahnya.   "Kenapa tidak melukis di awan sekalian?" sindir Hunara yang memutar-mutar serulingnya.   "Jangan banyak bicara. Cepat kerjakan!" balas salah satu rekannya.   Masing-masing diberi cawan perak berisi air. Duduk bersila berjajar rapi di atas panggung. Memegang kuas memandang air. Hanya melihat bayangan diri sendiri. Sekali air disentuh, gelombangnya memudarkan tinta. Rien pun mendesah. Saat airnya tenang, terlihat bayangan awan yang berubah-ubah di air. Rien mengetuk dagunya, menatap langit, kembali menunduk, akhirnya menemukan sebuah ide. Dia melukis dengan tenang tanpa khawatir gagal.   'Rien sungguh punya pemikiran di luar dugaan. Saingan terberatnya hanyalah Nona pelukis termahal. Namun, Nisawa menjadi ancaman jika berhasil masuk ke babak selanjutnya bersama Rien. Dia akan melakukan segala cara untuk menghentikan Rien mendapatkan tinta putih,' batin Darmuroi serius.   Bukan Rien jika tidak bisa melukis dengan tinta. Dia mengatakan tinta di air selalu berubah bentuk seperti awan. Tantangan selesai dimenangkan olehnya.   "Yeyy! Aku lolos, haha!" Rien bersorak ria.   Banyak orang ternganga, "Seperti itu pun boleh?" pertanyaan yang sama di benak orang-orang.   "Tinta ini ada yang bisa terapung dan tenggelam di air. Nona Rien meminta satu cawan lagi untuk membuat dua lukisan sekaligus. Satu untuk yang terapung sehingga tinta selalu berubah layaknya awan tertipu angin. Satu lagi untuk tinta yang diam di dasar cawan. Itupun Nona Rien melukisnya dengan sangat tepat, awan yang diam," pembawa acara menjelaskan maksud Rien dan diangguki Rien.   Rien menoleh ke pelukis termahal yang tampak tenang. Rien tahu jika pelukis itu menggerutu dalam hati.  'Orang itu pasti memendam rasa tidak suka padaku. Sejauh ini dia lebih bagus dariku, tapi melukis di air akulah pemenangnya. Selanjutnya pasti lebih sulit menghadapi dia,' batin Rien.   Ting! Ting! Ting!   Matahari sudah berada di barat. Waktu hampir senja, lomba dibubarkan dan berlanjut di esok hari. Rien memakai cadarnya lagi kemudian pergi. Diam-diam Darmuroi mengikuti Rien karena tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Rien.   Lain dengan Nisawa yang mulai mengangkat pedang setelah semua orang pergi. Hunara bersiap sudah ingin menyerang.   "Melihatmu saja membuatku muak. Tamatlah riwayatmu kali ini, Nisawa!"   Sebuah pedang tersembunyi di celana Hunara tarik dan mulai menyerang. Suara pedang beradu terdengar sangat nyaring. Panggung mereka kuasai tanpa merusak apapun. Kicauan burung yang kembali ke sarangnya sampai kalah. Gesitnya pedang ingin membelah tanpa lelah.   "Seniman rendahan! Enyahlah dari hadapanku!"   Nisawa tidak ingin kalah. Menyerang dua kali lebih kuat dari sebelumnya. Luka Hunara yang belum benar-benar sembuh kembali terbuka. Rasa sakitnya membuat Hunara semakin kuat sampai berhasil menggaruk lengan Nisawa sangat dalam. Pertarungan itu tidak berhenti sampai malam tiba.   Rien duduk berdiam diri di tepi sungai yang baru saja dia temukan. Membasuh wajahnya dan bercermin di air. Darmuroi mengintip d balik pohon.   "Wajah lemas dengan binar keputusasaan. Sungguh Rien yang payah," gumam Rien.  Kaki ditekuk, dagu bertumpu lutut. Rerumputan yang masih muda dicabut da dibuang ke sungai. Teka-teki yang rumit selaku menghantuinya walaupun sedang berlomba. Seharian ini tidak begitu menyulitkan dirinya. Ucapan Darmuroi yang membocorkan lomba kerap meracuni pikiran Rien dan membuatnya takut. Namun, Rien tidak bisa berhenti di tengah jalan. Rien harus menemukan alasan kenapa dia bisa kembali ke masa lalu dan memecahkan teka-teki itu, baru Rien bisa pulang.   Rien mengernyit melihat bayangan melintas di air. Segera berdiri mengamati lingkungan sekitar.  "Siapa?" tanya Rien agak keras.  Tidak ada balasan. Bayangan itu melintas lagi seperti orang berlari sangat cepat. Rien mengikutinya begitu saja.   "Anak itu tidak takut atau terlalu polos?" keluh Darmuroi setelah menepuk dahinya, lalu mengikuti Rien.   Rien berhasil mendapati dua orang aneh berpakaian hitam sedang berlari dan tahu jika Rien mengejarnya.  "Berhenti! Jangan lari! Kalian perampok, ya?!" seru Rien.   Semak-semak menghalangi jalan. Kaki Rien mulai lemas dan kecepatan larinya berkurang. Rien kehilangan jejak. Berhenti untuk mengatur napas. Lalu, sadar jika dia berada jauh dari panggung ataupun sungai. Celingukan takut jika ada binatang buas. Tidak ada satu pun rumah ataupun orang.   "Sial! Sepertinya aku dijebak. Siapa mereka?" gumam Rien di tengah kecemasannya.   "Rien! Rien, kau tidak apa-apa?" seru Darmuroi dan berhenti di samping Rien.   "Astaga! Pak tua, kau?" Rien menunjuk Darmuroi bingung.   "Ck, jangan panggil aku pak tua seperti Hunara. Usiaku baru empat puluh tahun," kesal Darmuroi sambil mengatur napas.   Rien mendesah panjang, "Kenapa mengejarku sampai kemari? Sekarang ikut tersesat, 'kan?!" menghentakkan kaki.   Darmuroi menatap Rien lekat, "Nyalimu besar sekali! Kau tau mereka siapa?"   Rien menggeleng, "Tidak, siapa memangnya?"   "Mereka adalah mata-mata dari kerajaan Aru! Bisa-bisanya kau mengejar mereka! Sudah bosan hidup? Mau mati di sini? Tidak mau pulang?" Darmuroi memukuli lengan Rien ringan.   "Aaa, aku mana tau kalau mata-mata. Kukira perampok." Rien menghentikan tangan Darmuroi, "Tuan, sepertinya kau tau segalanya. Peranmu di kerajaan ini pasti lebih penting dari para ahli strategi itu. Katakan padaku, jika mereka mata-mata, kenapa memancingku kemari? Mereka tidak mengenalku dan aku tidak penting bagi mereka. Katakan!" tuntut Rien.  Darmuroi tersenyum, "Kau pintar! Ini pasti ulah Nisawa. Dia ikut lomba dan terus mengawasimu."   "Apa? Mengawasiku? Kupikir sengaja ikut lomba. Kenapa aku diawasi? Aku tidak berbuat jahat!" Rien menggeleng.   Darmuroi mendesah, "Kau ancaman baginya."   "Maksudnya?" Rien heran.  "Sejak tadi kau jadi pusat perhatian, bahkan pelukis terbaik dan termahal sampai dilewatkan. Tentu saja Nisawa tidak suka. Dia tidak akan membiarkanmu menang. Untuk itu mencoba melukaimu dan menjebakmu kemari." jelas Darmuroi.   Rien melotot, "Apa?! Lalu, sekarang bagaimana?" Rien sedikit panik.  "Tenang saja, ada Hunara yang akan melindungimu."  "Ma-maksudmu Hunara ikut karena perintahmu?" tanya Rien da Darmuroi mengangguk. Rien berdecak lagi, "Tuan, kau ini... Ish, aku bingung!" melipat tangan dan berpaling.   "Sekarang ayo pulang," ajak Darmuroi.   "Tapi mata-mata tadi?" Rien Rien menunjuk arah perginya dua orang itu.  "Biarkan saja. Hanya perintah Nisawa. Lain kali harus hati-hati!" Darmuroi menarik tangan Rien takut jika Rien tidak pulang bersamanya.   Rumah Darmuroi begitu dingin di dalam dan hangat di luar. Darmuroi merasa bertolak belakang dengan Rien.   "Gadis itu duduk di teras lagi. Setidaknya tidak naik di pohon." Darmuroi menggeleng.   Tiang selalu menjadi sandaran Rien. Lamunannya buyar karena Darmuroi duduk di sampingnya.   "Di sini dingin nanti bisa masuk angin," kata Darmuroi dengan tatapan menuju pohon.   Rien menoleh sebentar, "Tidak, ini cukup hangat."   "Hahh, apa yang mengganggumu?"   Rien tidak mau menjawab. Helaan napas yang sama Rien keluarkan, "Tuan, jika terjadi sesuatu kau harus selalu membantuku."   "Tentu saja!" jawab Darmuroi tanpa ragu.   "Semudah itu?" Rien ragu.   Tanpa diduga Hunara datang mengejutkan mereka. Luka yang terbuka mengeluarkan banyak darah. Hunara masih berlagak sombong seakan tidak merasakan sakit.   "Kau?... Kenapa main darah?!" Rien berdiri menunjuk Hunara.   Kondisi lebih parah. Rien terbelalak melihat pedang di tangan Hunara. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD