Air hangat berwarna merah. Bau anyir harus Rien tahan ketika berdiri di dekat ranjang. Darmuroi berjalan kesana-kemari mengobati Hunara. Wajah pemain seruling itu tidak menunjukkan ekspresi. Sesekali Rien melirik Hunara dan pedang yang tergeletak di lantai.
'Apa terjadi perang kecil? Hunara bisa bermain pedang?' Rien terkejut dalam hati. Dia tersentak saat Darmuroi menegurnya tanpa berhenti membalut luka Hunara.
"Jangan berasumsi buruk, Rien. Hunara adalah teman Pangeran Zaro sekaligus orang kepercayaannya. Dia baru saja bertarung dengan Nisawa."
Rien menganga, "Apalagi yang kulihat sekarang? Eee, baiklah sepertinya aku mengerti. Kalian dan Pangeran itu bekerja sama demi kerajaan ini secara diam-diam karena masyarakat tidak tau yang sebenarnya. Lalu, apa ada hubungannya denganku? Nisawa mengerikan itu juga mengawasiku dan kalian gagal menangkapnya. Sekarang... Dia jadi musuh dalam lomba. Permainan apa ini?!" bentak Rien frustasi.
Hunara dan Darmuroi hanya menatap Rien.
"Huft, sudahlah. Aku mengerti semuanya. Aku pastikan akan menang lomba. Kalian puas?" nada bicara Rien menjadi lemah.
Darmuroi berbalik badan, "Kau sungguh paham?"
"Apa aku terlihat bercanda? Aku ini seorang yang terpelajar walau belum lulus sarjana. Otakku juga cerdas bukan hanya pandai berimajinasi. Kau pikir aku tidak mengerti rencana kalian? Sejak kemarin aku berpikir dan menyimpulkan kalian ingin menggunakan jasaku jika aku benar-benar pelukis legendaris." Rien melipat tangan di d**a.
Hunara melongo, "Kau pintar!"
"Tentu saja!" Rien berbangga diri.
"Tapi kau tadi bilang apa? Belum lulus sarjana?" heran Hunara.
Rien mendadak datar. Terpaksa menjelaskan jati dirinya. Hunara sangat syok sampai terantuk kepala ranjang. Rien hanya meringis merasa sungkan. Sudah ada dua orang yang mengenalnya. Selanjutnya pasti akan lebih banyak lagi jika Rien terus mengatakan tentang kehidupannya.
'Rien, ini di zaman yang berbeda. Anggap saja kau sedang bersandiwara. Ini seperti bermain seni drama. Tenang... Semua akan baik-baik saja,' batin Rien menghibur diri sendiri.
Darmuroi membisikkan sesuatu pada Hunara membuat Rien memutar bola mata jengah, "Jangan berbisik didepanku. Kalian membicarakanku, 'kan?"
Darmuroi tersentak. Kembali berbalik meringis pada Rien, "Hehe, aku tidak meragukan kepintaranmu lagi. Sekarang bagaimana?"
Rien menatap atap sambil berpikir, "Tidak ada. Ikuti saja skenario Tuhan. Hoaamm, aku mengantuk. Tuan, aku mau tidur di ruang tamu. Selamat malam semuanya!" melambaikan tangan dan menuju ruang tamu.
Darmuroi mendesah mengeluh pada Hunara, "Apa dia Dewi dari langit sungguhan?"
Hunara masih melongo memandang Rien yang sudah menghilang, "Masa depan?"
Kursi panjang yang terbuat dari kayu terukir indah menjadi ranjang nyaman bagi Rien. Terlelap begitu merebahkan diri sangat nyaman. Suara seruling pembawa tidur dari Hunara yang ada di atas rumah Darmuroi semakin menghanyutkan. Dia yang terjaga hanya untuk menghibur diri. Tiba-tiba seekor merpati hinggap dipangkuannya. Seruling Hunara berhenti membuat Rien terbangun. Rien celingukan mencari sumber suara seruling itu. Bersamaan dengan Hunara yang melepas kembali merpati setelah mengambil sepucuk surat kecil di kakinya.
Hunara segera pergi, loncat dari satu atap ke atap yang lain. Sangat bersih tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Rien sampai membuka pintu, yang dia lihat hanya kesunyian malam. Lalu, dia sadar akan Hunara. Mencari di kamar Darmuroi, tetapi hanya ada Darmuroi.
"Aku yakin itu seruling Hunara. Dimana dia?" gumam Rien.
Menuju halaman belakang yang hanya ada tanah berpasir dan pohon.
"Hunara punya fisik yang kuat. Dia punya rahasia apa sampai keluar sebelum sembuh? Jejak kaki juga tidak terlihat. Apa dia terbang?" gumam Rien lagi menatap tanah mencari jejak kaki.
Rien kembali berbaring di kursi ruang tamu. Mencoba tidur lagi dan berpikir positif. Hunara pergi diam-diam pasti ada alasan tersendiri.
~~~
Kunang-kunang menjadi lentera di perbatasan kerajaan. Lengan dan kaki yang terluka cukup dalam dipaksa bertahan demi menemui pemimpinnya. Nampak seorang lelaki gagah memakai jubah hitam berdiri membelaki Nisawa. Tepat Nisawa berhenti dan luruh saat memberi salam.
"Aku pantas mati!" tanpa takut dengan lantang gadis pemberani itu menyerahkan nyawanya.
"Apa yang terjadi?" tanya laki-laki itu tanpa menoleh.
"Pangeran, seorang gadis bernama Mezira Rien yang tidak diketahui asal-usulnya menggemparkan lokasi lomba. Kemungkinan besar dialah pemenangnya." Nisawa menunduk. Bibirnya bergetar menahan sakit.
"Lalu?" Pangeran Rezain masih tetap pada cirinya yang berkuasa.
"Mohon ampun, Pangeran. Aku sudah menyuruh mata-mata untuk mengikuti kemanapun Rien pergi, tetapi Darmuroi melindungi Rien. Sekarang Hunara juga melindungi Rien. Orang-orang kita masih mengawasi gadis itu di rumah Darmuroi sekarang." jawab Nisawa mulai tertatih.
Rezain Losiar, seorang pangeran dari kerajaan Aru yang memiliki iri terlampau dalam seperti ayahnya kepada kerajaan Rurua. Kini berbalik badan memandang pelayannya yang sangat setia. Perlahan memegang luka Nisawa dan menyuruh Nisawa berdiri. Nisawa menahan desisan dengan menautkan giginya.
"Sakit saat kalah seperti kemenangan yang tertunda. Tinta putih harus jatuh ditanganku bagaimanapun caranya. Dengan begitu kita bisa mempermainkan kerajaan Rurua seperti boneka."
Tatapan tajam itu membekukan Nisawa. Dia tidak berani berkutik, hanya menunduk menahan rasa perih karena Rezain belum melepaskan lengannya.
"Gadis seperti apa itu Rien?" tanya Rezain berubah ekspresi.
Nisawa mendongak, "Pangeran, dia seperti cahaya di tengah kegelapan. Terkadang juga seperti kelabu diantara putih. Dia seakan mahir mengecoh sudut pandang orang padanya. Dia aneh!"
Rezain tersenyum, "Menarik! Sepertinya gadis itu punya trik tersendiri. Apa dia bisa bela diri?"
Nisawa menggeleng, "Tidak, Pangeran. Fisiknya cukup lemah. Sebelum lomba aku pernah bertemu dengannya dan dia ketakutan melihatku."
"Kalau begitu kau masih ada kesempatan menang." Rezain tersenyum justru Nisawa takut. "Ayo, obati lukamu," sambung Rezain.
Rezain mengajak Nisawa ke suatu tempat untuk memulihkan kondisi Nisawa. Bagi Nisawa tidak ada Tuan yang layak baginya kecuali Rezain karena memperlakukannya dengan baik. Nisawa akan melakukan apapun untuk Rezain.
Tepat dua musuh itu meninggalkan perbatasan, Hunara datang mendapati para penjaga pingsan di gerbang perbatasan.
"Sial! Aku terlambat. Pasti Nisawa berhasil keluar dan sembunyi," gumam Hunara.
Mencari tahu penyebab para penjaga itu pingsan, ternyata akibat dari serbuk penghilang kesadaran. Hunara membangunkan mereka lalu bergegas ke rumah Darmuroi. Dia juga butuh energi untuk lomba besok.
Ketenangan di kehidupan masyarakat berbeda dengan kehidupan sang Pangeran. Setiap hari memakai baju zirah bersiap mempertahankan wilayah dari pemberontak kecil yang sudah dihasut oleh kerajaan Aru. Tangannya sudah gatal, pedangnya haus darah, tidak sabar ingin menyerang dengan membabi buta.
~~~
Tinta putih belum juga dikeluarkan. Tidak ada yang bisa membawanya bahkan menyentuh kotak kaca yang membungkus tinta itu kecuali Darmuroi. Sekarang Darmuroi tak kunjung keluar dari ruang penyimpanan. Para peserta tidak sabar lagi menunggu. Mereka justru menyaksikan pembawa acara yang asik makan buah di tepi panggung.
Cadar sudah tidak dikenakan. Sejak tadi Rien bergaduh dengan saingannya yang kemarin menghinanya. Hunara sabar menahan amarah karena lagi dan lagi duduk di samping Nisawa. Matanya sangat awas dan penuh curiga melirik Nisawa.
"Kau yang payah! Melukis orang menari saja tidak bisa. Apalagi mau melukis di air?!" Rien tidak mau kalah.
"Hei, jelek! Otakku kemarin sedang macet kurang nutrisi! Itu hanya kebetulan saja kau menang sementara! Hari ini aka kubungkam mulut sombongmu itu!" balas orang itu.
Rien menganga, "Apa kau bilang?! Aku jelek?! Kau yang jelek! Sini biar kubantu kau agar lebih tampan!" Rien tidak segan-segan menarik rambut orang itu dan mengacaknya.
"Dasar gila! Lepaskan aku!" orang itu berteriak dan menjewer telinga Rien.
"Aaaa, kekerasan! Panitia... Panitia tolong aku!" teriak Rien semakin menarik rambut orang itu.
Hunara menutup telinganya, "Rien, hentikan! Kasihan dia rambutnya sampai patah!" serunya.
Rien melirik Hunara, "Dia mau melepas telingaku! Dasar beraninya sama perempuan!" maki Rien.
"Aaaa, sakit! Gadis macam apa kau ini?!" orang itu terpaksa melepaskan Rien agar Rien juga berhenti.
"Aku gadis cantik! Weekkk!" Rien menjulurkan lidah kesal.
"Ck, mana Tuan Darmuroi? Aku ingin sekali mengalahkanmu!" desis orang itu sebelum berbalik menjauh dari Rien.
"Heh? Aku yang akan mengalahkanmu!" seru Rien.
Duduk bersebelahan dengan Hunara yang tidak terlalu fokus padanya meskipun risih.
"Rien, Nisawa selalu membawa pedangnya. Dia tidak kenal teman selain pangerannya. Kau jangan jauh-jauh dariku. Mengerti, 'kan?" bisik Hunara.
Rien menoleh kemudian melirik Nisawa dan ikut berbisik, "Dia terlihat baik saat diam. Ternyata suka kekerasan."
"Aku tidak yakin kau mampu kali ini. Aku berharap keajaiban akan terjadi lagi padamu. Semoga kau menang!" Hunara berdesis yakin di akhir ucapannya.
Rien mengangguk pasti. Panggung masih kosong, pembawa acara belum menyudahi acara makannya. Semua orang juga menantikan tinta putih. Tahap ke tiga dari babak ke dua akan dimulai. Tidak ada yang tahu itu jenis lomba apa kecuali Rien dan Hunara. Rien mengepalkan tangannya cemas. Gong ditabuh mengagetkan setiap orang. Seluruh pandang menuju ke papan di panggung. Selembaran kertas membentang besar menunjukkan sesuatu.
Deg!
Senyum mengembang sempurna di bibir para peserta. Rien menelan lidahnya susah payah. Kertas itu berlukiskan perintah untuk tahap selanjutnya yaitu melukis sesuai imajinasi masing-masing.
Desas-desus terus terdengar menganggap itu hal mudah. Tidak akan ada yang gagal kali ini, akan tetapi untuk lolos sangatlah sulit. Juri berasal dari pemalsu ternama dan pelukis nomor satu di kerajaan Rurua. Semuanya memberi hormat saat dua juri berada di panggung.
Perawakan bagai dibalut emas, pelukis nomor satu itu sangat tenang nan bijaksana. Suaranya mampu menggetarkan hati. Seakan terhipnotis, Rien selalu mendengarkan dengan baik.
"Setiap garis, setiap titik, setiap ketajaman memiliki unsur kandungan yang dalam. Ketajaman panca indera mungkin bisa dialihkan, tetapi ilmu dan pengetahuan tidak bisa ditipu. Di tahap ini, keseriusan kalian akan diuji. Sebebas apa kalian berimajinasi. Terlepas dari semua huru-hara di sekitar, kalian ini seperti apa nanti akan terlihat. Sikap tenang atau menyelam dalam di imajinasi dan terbang bebas sesuka hati. Bisa saja kalian tertekan dan hanya menganggap lomba ini lelucon untuk dimenangkan. Semuanya akan terlihat. Intinya adalah kalian harus mengikuti diri sendiri dan menyatu dengan seni"
Begitulah kata pelukis nomor satu di kerajaan Rurua. Rien merasa sedang berada di kampus. Saat seorang dosen melakukan demo lukis dan dia hanya diam memperhatikan. Dia baru mengerjap saat juri sang pemalsu berbicara.
"Aku bisa melihat apakah kalian bermain jujur ataupun perasaan kalian saat lomba hanya dengan melihat lukisan kalian. Jangan melihat hasil teman kalian. Semoga sukses!"
Senyum dan tepuk tangan mengantar kembalinya dua juri hebat ke tempat duduknya. Sekilas mengalihkan perhatian mereka yang terus mengharapkan tinta putih sampai tidak sadar Darmuroi sudah ada di samping panggung bersama pembawa acara.
Karena orang-orang masih tidak sadar akan kedatangannya, Darmuroi mengarahkan kotak kaca berisi tinta putih itu agar terkena sinar matahari dan memantul di kain yang bergelantungan di atas panggung. Seketika api menjalar begitu cepat. Mereka panik, Darmuroi tersenyum.
"Lihat, itu tinta putih!"
"Wah, tinta putih! Kotak kacanya saja bisa membakar!"
"Bodoh! Itu karena kekuatan Tuan Darmuroi. Dia mengarahkan kotak kaca agar terpantul sinar matahari, jadinya kain terbakar. Tapi... Itu sungguh tinta putih? Be-bersinar air!"
Rien juga tidak kalah heboh, "Tuan Darmuroi sudah datang!"
Di sela panitia yang memadamkan api, para peserta langsung menyerbu Darmuroi dengan mata melotot melihat isi kotak itu.
"Benar-benar putih," gumam Rien.
"Kau percaya? Aku baru kali ini melihatnya sedekat ini," kata Hunara yang terus memandang tinta putih.
Senyum Darmuroi hanya ditunjukkan oleh Rien. Banyak yang berebut ingin melihatnya juga, tetapi para pengawal menahannya. Darmuroi membiarkan siapa saja untuk menyentuh kotak itu. Satu pun dari mereka tidak ada yang berhasil. Baru berjarak sejengkal sudah terpental seakan ada perisai tak kasat mata.
"Tuan, kenapa kau bisa memegangnya? Kami saja tidak bisa menyentuhnya," tanya salah satu peserta.
"Hmm, aku juga bertanya kenapa aku bisa membuatnya, haha," canda Darmuroi membuat mereka semakin penasaran.
Rien terpaku pada tinta putih. Botol kaca berukir indah. Rien dapat melihat sinar yang sama saat pertama kali memegang tinta putih di kamarnya. Dalam hati terus berkata jika di tengah-tengah tinta itu terdapat sinar. Tangan Rien bergetar ingin menyentuhnya. Pikirnya sinar itu bisa membuatnya pulang. Namun, belum sempat Rien memajukan tangan, pembawa acara sudah berseru meminta perhatian.
Seperti pencuri yang ketahuan, Rien kelagapan dan menelan ludahnya susah payah. Berdeham demi mengatasi pikirannya yang berkecamuk.
'Itu warna dan tinta yang sama seperti waktu itu. Aku yakin!' batin Rien.
"Rien, kenapa matamu? Kau menangis?" tanya Hunara berbisik.
Rien mengerjap pelan, "Ah, tidak. Ini hanya... Efek dari tinta itu. Aku jadi terpesona." nyengir lebar.
Hunara memandang Rien dari atas sampai bawah, "Oh, aku tau. Kau berencana mencuri tintanya, 'kan? Dengan begitu tidak perlu melanjutkan lomba."
Rien terbelalak, "Diam kau! Aku tidak punya pikiran buruk. Justru... Aku akan memenangkan tinta itu dengan jerih payahku sendiri!" mengepalkan tangan semangat.
"Bagus! Ayo kesana!" Hunara terlihat sangat gembira menarik Rien ikut berkumpul dengan para peserta. Rien sampai heran.
'Aku yang harus menang kenapa dia yang semangat?' batin Rien menahan senyum.
Pembawa acara mengatur waktu perlombaan. Semua sudah disediakan dan tepat dimulai setelah tinta putih diletakkan di pertengahan panggung. Siapapun sulit menolak pesonanya.
"Hei, itu kebanggaan kita. Sangat bersinar dimataku!"
Orang-orang mulai berbisik mengganggu konsentrasi peserta.
"Berarti mataku tidak rabun. Aku juga melihatnya bersinar."
"Bayangkan saja kita bisa membuat lukisan hidup!"
"Tuan Darmuroi memang bukan sembarang orang. Ilmunya sangat tinggi, 'kan? Jika aku sekolah pasti bisa seperti Tuan Darmuroi."
"Dalam mimpimu! Menghitung saja tidak bisa, haha!"
Gurauan dan rasa kagum bercampur jadi satu. Tidak ada penjaga yang melindungi tinta putih. Nisawa jadi memiliki akal buruk. Dia akan mencurinya.