Satu jam sudah terlewat. Lupakan otot di wajah yang berkedut, pikiran pusing, dan tangan yang lelah. Sesekali melirik tinta putih yang sangat menggoda, kecuali Rien yang tidak mau memalingkan pandangannya dari kertas.
'Kenapa aku merasa ada yang tidak beres? Tinta itu diselimuti aura buruk,' pikir Rien.
Hatinya tidak tenang tetap berusaha fokus. Kharisma dari tinta putih cukup berbeda dengan yang dia dapat sebelumnya. Waktu dua jam telah usai, barulah Rien mendongak menatap tinta putih. Seketika dia terbelalak dan berdiri.
"Ada pencuri!" serunya sambil menunjuk tinta putih.
Semua orang heran melihat Rien karena tidak ada seorang pun yang mendekati tinta ajaib itu.
"Kenapa kau berteriak? Tidak ada siapapun di sana," kata pembawa acara dengan kerutan di dahinya.
"Sungguh, Tuan. Tadi ada bayangan yang ingin mengambil tintanya!" Rien bersikeras.
Gelak tawa meragukan Rien.
"Bayangan? Tentu saja ad bayangan, ini siang hari, Nona!" ucap salah satu warga.
Rien menggeleng kuat, "Aku serius!" berlari mendekati tinta putih, beberapa orang menghadangnya.
"Biarkan aku memeriksanya! Bayangannya hilang tapi auranya masih terasa," Rien mencari celah jalan.
Hunara ikut berdiri. Melirik Nisawa sebentar lalu mendekati Rien, "Aku percaya walau tidak melihatnya. Ini pasti ulah Nisawa," berbisik pada Rien.
Rien menaikkan kedua alisnya, "kau tidak melihatnya? Kenapa hanya aku yang melihatnya?" ikut berbisik.
Hunara mengendikkan bahu mengajak Rien kembali. "Tenang, dia akan bergerak lagi. Saat itu kau beritahu aku. Akan kutangkap basah dia didepan semua orang," bisik Hunara.
Rien mengangguk, "Maaf, sepertinya aku pusing berat jadi salah lihat, hehe. Maaf, ya, maaf." Nyengir tanpa dosa.
Mendapat sorakan dipermalukan, Rien tetap tersenyum.
"Tidak tau malu," ejek Hunara bercanda.
Rien justru melebarkan senyumnya. Melihat Darmuroi yang bertanya lewat tatapan, Rien mengangguk sebagai syarat jika yang dia katakan benar. Darmuroi menyuruh Rien bersabar dan mengikuti instruksi Hunara.
'Rien memang bukan gadis sembarangan. Dia melihat bayanganku? Akan lebih sulit mendekati tinta itu sekarang,' batin Nisawa seraya menatap Rien kesal.
Mezira Rien. Satu-satunya nama yang tertera di lembaran kertas besar di sebelah tempat juri. Rien tersentak segera berdiri memberi hormat. Dia kebingungan mengira telah melakukan kesalahan. Gong dipukul beberapa kali lebih keras dari sebelumnya sampai mendebarkan d**a. Semua bergumam menanyakan hal yang sama.
'Rien, apa yang kau lakukan?' batin Rien.
Menunduk menunggu perintah. Semua juri berdiri memandang Rien. Semakin serba salah Rien tidak berani mendongak.
"Mezira Rien," panggil Darmuroi.
Rien tersentak, "Iya, Tuan!" mengangguk pasti.
Semua orang berbisik karena Darmuroi berbicara.
"Lukisanmu menggambarkan pusat kerajaan Rurua. Bagaimana bisa?" sambung Darmuroi. Dahinya berkerut pertanda heran. Rien bisa menangkap sirat tidak suka dari para juri.
'Bukannya itu bagus? Aku hanya melukis seperti waktu itu sebelum masuk ke zaman ini. Bukankah memang kerajaan Rurua?' pikir Rien.
Bola matanya berputar bingung mencari jawaban yang pas. "Para Tuan sekalian. Apa kesalahan yang kubuat dengan melukis pusat kerajaan?" tanyanya penuh hati-hati.
Darmuroi menggeleng, "Tidak salah, Rien, tetapi meragukan."
Deg!!
'Apa maksud Tuan Darmuroi?' pikir Rien.
Gugup dan keringat dingin melanda. Rasanya seperti ada di ruang rapat dan presentasimu kacau semua.
"Identitas yang tidak dikenal bisa mengetahui seluk beluk, tiap sudut, bahkan perkiraan jarak pandang pun jelas. Katakan siapa dan dari mana kau sebenarnya?!" Darmuroi menuntut.
Rien terbelenggu. 'Sial! Tuan Darmuroi menjebakku. Dia melakukannya pasti untuk para juri. Aku harus jawab apa? Memangnya begitu jelas? Pusat kerajaan itu dimana saja aku tidak tau. Aku hanya melukis saja,' batin Rien.
Grusak-grusuk kembali terdengar memaksa Rien untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun, itu tidak mungkin dilakukan. Jauh mata memandang, tinta putih kembali memberi petunjuk.
"Ada bayangan lagi! Kali ini dua!" seru Rien menunjuk tinta putih.
Seketika hunara berdiri sambil menarik pedangnya. Semua warga berteriak. Hunara langsung menusuk dimana bayangan itu berada dan memunggungi tinta putih.
"Katakan, Rien. Dimana bayangan itu?" ujar Hunara penuh waspada.
Rien menunjuk Hunara, "Tepat di depanmu!"
Hunara membelah udara di depannya tanpa ragu. Padahal pedang itu bisa saja memotong hidungnya. Kejadian lainnya terjadi. Satu-satunya peserta asing yaitu Nisawa menumpahkan darah dan memegang d**a kirinya. Hunara berbalik menghunus tajam Nisawa.
"BERHENTI! APA-APAAN INI?!" seru sang penjaga keamanan.
"Biang kerok tidak tau malu! Tidak bisa menyentuh dengan tangan kau menggunakan ilmu bayangan? Meskipun tetap tidak bisa, aku sendiri yang akan melindunginya!" desis Hunara sembari memukul d**a kiri Nisawa sampai Nisawa mental ke belakang.
Jeritan takut, khawatir, dan penasaran bercampur jadi satu. Rien menggaruk tengkuknya merasa tidak enak. Sungguh ada dua bayangan yang dilukai Hunara, tetapi Nisawa hanya terluka satu. Rien heran kenapa bayangan bisa terluka. Kerajaan Rurua punya banyak kekuatan yang tidak dia mengerti.
"Siapa pemilik bayangan yang satunya? Bukan Nisawa?" gumam Rien celingukan.
Di samping Nisawa membela diri dan Hunara mencoba dihentikan para penjaga, Nisawa juga ditetapkan sebagai tersangka oleh para juri dan ahli strategi. Rien terus mengamati tiap orang yang dikiranya sakit akibat serangan Hunara.
Sayangnya, dalam sekali putar Hunara mampu menghentikan orang-orang yang ingin menahannya. Mereka terkurung dalam jeratan tali tak terlihat. Hanya bisa meronta menyaksikan Hunara dan Nisawa bertengkar hebat.
"Kali ini kupastikan kematianmu!" seru Hunara memasang pedang dihadapan.
Nisawa menangkis pedangnya dan terdorong mundur, "Meskipun mati tidak menyesal asalkan tinta putih ditanganku!" balasnya tak kalah geram.
Panggung dikuasai mereka berdua. Rien semakin pusing tidak menemukan orang yang terluka. Dia melihat para juri sangat tenang tidak bertindak. Namun, dari raut wajahnya menunjukkan pertanyaan yang sama seperti Rien.
"Biarkan saja mereka berkelahi. Aku harus mencari informasi," gumam Rien.
Menangkap sinyal dari Darmuroi agar Rien menyentuh kotak tinta putih itu. Rien tidak berani meskipun ingin, berpikir bisa kembali lebih cepat. Perasaan gundah menyelimuti. Tangannya bergetar saat terangkat. Langsung diurungkan saat melihat bayangan yang tadi datang kembali. Rien terkejut ingin menangkapnya, tetapi kakinya terjebak tidak bisa bergerak.
'Apa ini? Aku terjerat!' batin Rien.
Bayangan itu bergerak tak karuan seperti kesakitan. Ternyata Darmuroi dari jauh mengurung bayangan itu. Rien menatap Darmuroi meminta agar membantu melepaskan ikatannya. Seketika Rien terbebas dan mendekati bayangan itu.
"Bayangan siapa kau?!" tunjuk Rien.
Hunara dan Nisawa menghentikan aksi mereka.
"Mustahil! Pangeran tidak mudah tertangkap begitu saja," gumam Nisawa yang merasa kelelahan.
"Pangeran Rezain? Jadi dia bayangan yang satunya? Haha, akan kubuat dia tidak punya bayangan!" Hunara sangat senang. Menjatuhkan pedangnya dan mengambil seruling.
"Jangan!" Teriak Rien menghentikan Hunara yang akan meniup serulingnya. Dia tahu Hunara akan menggunakan kekuatan dari nadanya.
"Bayangannya... Hilang," Rien sangat lemas. Darmuroi, Hunara, dan Nisawa terkejut. "Tuan Darmuroi, ambil lagi kekuatanmu. Dia sudah tidak ada. Kedatangannya hanya agar Nisawa berhenti berkelahi dan melanjutkan lomba. Tujuan mereka hanya tinta putih, bukan?" sambung Rien melirik Nisawa.
"Apa? Hah, pengecut! Kalian berdua sama-sama pengecut!" maki Hunara pada Nisawa.
"Kau!" Nisawa mulai terpancing. Lukanya mulai terasa kembali dan tenaganya berkurang.
Rien merasa pusing. Melihat banyak kunang-kunang, Rien menggeleng mencoba menghalau semuanya. "Kenapa aku terkena imbasnya?" gumam Rien.
Hampir terhuyung, masih berhasil menjaga keseimbangan. Darmuroi ingin menolong Rien, tetapi tidak bisa.
'Sepertinya apa yang terjadi dengan tinta putih, Rien juga merasakannya. Entah sebab atau akibatnya. Rien, aku tidak bisa menghampirimu, kalau tidak semua orang akan tau kau yang terhubung dengan tinta putih,' batin Darmuroi serius. Sudah begitu yakin Rien adalah yang dia cari.
"Nisawa, kalau kau mau mendapatkan tinta putih, maka lakukan dengan benar. Aku menantangmu!" Rien menunjuk Nisawa tanpa rasa takut.
Nisawa tersentak, "Setelah aku dan kau sakit, masih punya nyali untuk bertaruh? Baik, aku terima, orang misterius." desis Nisawa di akhir ucapannya. Berjalan santai ke arah Rien seakan tidak merasakan apapun. "Pangeran tidak akan melepaskanmu," sambung Nisawa.
"Pangeran siapa? Rezain Losiar? Ck, Hunara saja bisa melukainya." Rien tersenyum miring. Nisawa semakin tidak suka, "Kau... Tidak bisa diremehkan. Kutungggu di babak duel maut." ucap Nisawa.
Hal yang ditunggu-tunggu sekaligus dicemaskan oleh Rien.
"NISAWA TALVAKA!"
Semuanya tersentak. Hunara sudah melepaskan para orang-orang yang ingin menahannya. Mereka mengepung Nisawa dengan senjata. Hunara segera memeriksa keadaan Rien. Seruan Darmuroi tadi menambah rasa takut. Banyak yang bertanya kenapa nama pangeran dibawa-bawa. Sebagian mengerti siapa pangeran Rezain Losiar. Hal ini tidak bisa dibiarkan oleh Darmuroi.
'Jika semua orang tau, maka keadaan kerajaan yang sedang sulit akan diketahui dan membuat mereka takut,' pikir Darmuroi. Tidak masalah jika para juri, seniman, dan ahli strategi mengetahuinya, asalkan bisa diajak kerja sama.
"Utusan dari kerajaan Aru atau atas keinginanmu sendiri? Beraninya mendekati tinta putih dengan bayangan? Mau pamer kebolehan?!" Darmuroi benar-benar menegur Nisawa.
"Jangan tahan aku!" Nisawa tidak mau didekati. "Tuan, kedatanganku murni dari diriku sendiri. Benar, dua bayangan itu aku pelakunya. Tidak disangka ada yang menghalangi," sambungnya. Melirik Rien kemudian Hunara yang acuh tak acuh. Dia terpaksa berbohong agar Rezain tidak dicurigai banyak orang. Meskipun begitu Darmuroi dan juri lainnya bisa mengerti maksud Nisawa yang sebenarnya.
"Kau mengakui perbuatan picikmu?" tanya Darmuroi sedikit tenang. Nisawa mengangguk, "Akui juga hukumannya." Darmuroi pergi dengan raut masam.
Tanpa bertanya lagi orang-orang itu membawa Nisawa di tengah-tengah panggung dan mengikatnya dalam tali tak kasat mata. Hanya mengarahkan tangan seakan ada tamparan dan pukulan keras yang menghantamnya.
"Kekuatanmu dibalas dengan tenaga dalam. Aku tidak bisa mengeluarkanmu karena semua berhak ikut berkompetisi. Aku mau lihat sampai berapa lama kau mampu mengikutinya," ujar Darmuroi walau orangnya tidak terlihat.
"Kemana pak tua itu? Dia hilang?" tanya Rien celingukan mencari Darmuroi.
"Siapa yang bilang hilang? Dia ada di sana sedang memanipulasi tinta putih. Sekarang yang ada di depan kita hanyalah bayangan tinta putih saja. Yang asli sudah disembunyikan tuan Darmuroi." Hunara berbisik sedikit terkikik.
Rien mengangguk mengerti, "Ternyata kalian punya kekuatan tersembunyi. Apa namanya? Tenaga dalam? Hebat! Andai saja aku bisa bela diri."
"Tidak bisa bela diri? Lalu, gimana caramu melawan Nisawa di tantangan kalian tadi?" Hunara heran.
"Itu dia. Aku harus bagaimana? Seperti menggali lubang kesengsaraanku sendiri." Rien menunduk lemas.
"Bagaimana dengan pangeran Rezain yang terluka?" bisik Rien.
"Pangeran Zaro pasti sedang mengurusnya," jawab Hunara ikut berbisik.
Rien mendesah kecewa, "Pangeran kalian itu lambat sekali! Kalau mau menyelamatkan kerajaan harusnya bertindak cepat dan cerdas. Dia membuang-buang waktu dan menghantui banyak orang dengan rasa takut."
"Ck, kau tidak tau, Rien. Selalu ada konspirasi di setiap peperangan kecil ataupun besar. Aku dan dia kualahan." Hunara menggeleng lelah.
Rien sudah sedikit membaik. Heran karena semua orang tidak lagi membahas tentang pangeran Rezain. Mereka mempertanyakan kenapa Nisawa kesakitan dan takjub melihat tinta putih. Ternyata Darmuroi meminta bantuan para ahli strategi untuk menghilangkan ingatan mereka tentang beberapa menit yang lalu. Darmuroi tidak bisa melakukannya. Setelah dia kembali bergabung di panggung baru Nisawa dilepaskan.
Seluruh badan rasanya pegal. Tidak ada bekas luka, tapi sangat terasa sakit.
Rien seperti orang bodoh yang selalu berpikir di dunianya sendiri. Nisawa memandangnya sinis, dia justru bersikap polos seakan tak melakukan apapun.
'Bayangan yang cukup mengesankan. Kalau Nisawa masih tidak terima, dia pasti akan melakukan segala cara untuk menggangguku habis ini. Dia sangat hebat sedangkan aku tidak bisa apa-apa. Ini tidak adil!' batin Rien.
Mengerjap beberapa kali pada Hunara, "Kenapa Nisawa masih bisa ikut lomba?"
Hunara mengendikkan bahu, "Hanya Tuan Darmuroi yang tau. Mereka para juri juga bertanya padanya." menunjuk Darmuroi yang dikerumuni para juri.
Babak ini telah usai. Juri pemalsu datang dengan kabar buruk. Dia membuang banyak lukisan yang menurutnya tidak mencerminkan pelukis sejati, dengan kata lain tidak cocok bagi tinta putih. Ternyata lukisan Nisawa tidak dibuang. Tingkah buruknya bisa tertolong karena lukisannya.
Musuh utama Rien adalah Nisawa sekarang. Hunara sendiri dikeluarkan karena lukisannya yang paling jelek. Dia hanya berdedikasi pada musik, begitu kata Hunara. Namun, dia tetap menjaga Rien di balik kerumunan penonton.
Surat merpati sudah dikirim. Setelah menerimanya dari Hunara, Zaro sedikit senang karena musuhnya terluka meskipun hanya bayangan. Setelah ini masa sulit akan berlangsung dalam sehari. Di perbatasan timur kerajaan Rurua yang tidak ada pemukiman sama sekali akan diserang. Detik itu juga Zaro mengirim surat balasan pada Hunara agar menemaninya dalam perang.
'Bahaya! Aku harus meninggalkan Rien besok,' batin Hunara.
Segera mencari Darmuroi untuk memberitahu informasi. Posisi besok adalah babak yang sangat menegangkan. Rien tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Bagaimanapun ini lomba. Biarkan masalah Nisawa berlalu dan pertanyaan yang menuntut Rien kembali diungkit. Rien hanya menjawab dia berimajinasi. Tidak ada alasan lain selain imajinasi. Berbagai pertanyaan yang bahkan menjebak Rien hampir mengatakan dari mana asalnya, Rien tetap mempertahankan jawabannya. Lantaran pasrah bahkan juri pelukis nomor satu dan pemalsu tidak bisa menyusuri tuntas, Rien dijuluki sebagai pelukis aneh.
Gelar didapat Rien justru sangat bangga. Menjadi aneh adalah ciri khas-nya. Menebar senyum setelah hasil diumumkan dan dia tetap menonjol diantara peserta. Rien mengejek orang yang beradu mulut dengannya sebelum lomba. Membuat orang itu kesal dan mengancam Rien di pertandingan besok. Seketika Rien ingat, dia dalam masalah besar.
Diperjalanan pulang hanya menunduk sambil mengerucutkan bibirnya. Berpikir bagaimana caranya bisa belajar bela diri dalam waktu singkat. Keseharian memegang kuas akan sulit memegang senjata.