11. Pertama Kali Bertemu

2399 Words
 Takdir tidak bisa dihindari. Terus mengatakan kalimat itu sampai bosan mengelilingi pasar. Berkeliaran di pasar sampai malam bahkan tidak ada yang menegurnya. Darmuroi sibuk berdiskusi dengan para juri dan seniman. Hunara juga menghilang tiba-tiba. Rien kesepian untuk kesekian kalinya.  "Takdir yang rumit. Apa besok hukumanku di dunia? Wajah babak-belur, tangan dan kaki patah tulang, sudut bibir sobek lalu muntah darah. Ah, masih ada lagi. Pasti penampilanku acak-acakan. Rambutku seperti orang gila. Aaaaaa, tidak mau! Harus bagaimana?" racaunya tanpa berhenti berjalan.  Mendongak malas. Langit tidak begitu cerah. Bintang tidak terlihat banyak. Orang-orang disekelilingnya membuat keramaian. Rien menghentakkan kaki merasa tidak berguna.  "Tamatlah sudah, Rien. Haha, kembali ke zamanmu." gumam Rien menghina diri sendiri. Seketika matanya menjuling dan pura-pura pingsan.  "Hei, kenapa dia? Cepat tolong!"   "Hahh, ada-ada saja. Pingsan di tengah jalan."   "Bukannya dia Mezira Rien yang belakangan ini terkenal? Baru saja dijuluki pelukis aneh. Kenapa bisa ada di sini?"   Banyak orang mulai mengerubungi Rien. Wajah yang manis itu begitu damai. Bukan pingsan, melainkan tidur dengan cepat.  ~~~  Aroma teh melati yang sangat menenangkan. Asapnya mengepul dari teko dan cangkir di atas meja. Seseorang yang muda, tampan, dan gagah duduk menunggu di tepi ranjang kayu. Penginapan sekaligus tempat makan itu sudah di sewa khusus untuk seorang gadis yang masih tertidur pulas. Sebentar lagi tengah malam. Darmuroi panik mencari Rien padahal Rien tidak terganggu sekarang.  Tangan besar itu terulur memeriksa dahi Rien. Tiba-tiba mengepal dan menariknya kembali. Menyeduh teh dan meminumnya tanpa menunggu dingin. Pakaian serba hitam dan memakai penutup wajah. Zaro dalam penyamaran.  'Detak jantung yang terdengar lucu. Gadis aneh ini licik. Aku gelisah duduk disebelahnya. Apa dia punya niat buruk?' batin Zaro.  Terkadang melirik Rien, tetapi gelisahnya melanda semakin tak karuan. Jika dia memalingkan wajahnya, baru bisa merasa tenang. Bukannya tidak sengaja bertemu di pasar, Zaro berniat menemui Darmuroi untuk mengetahui apa yang terjadi saat lomba. Bertemu dengan Rien yang sedang berjalan lunglai seperti putus asa membuatnya tertarik lalu mengikutinya. Zaro tidak paham dengan Rien yang bicara sendiri. Sampai akhirnya menolong Rien yang dikira pingsan di antara banyak orang. Sayangnya deru napas yang teratur menjelaskan semuanya. Merasa ditipu, Zaro ingin memberi sedikit pelajaran, tapi tidak jadi karena hatinya gundah setiap kali melihat Rien.  Berprasangka buruk pada Rien, tetapi tidak mau meninggalkan Rien. Berharap lomba cepat berlalu dan dengan aman tinta putih berada di tangan Rien. Hanya butuh satu rintangan selanjutnya yang membuktikan Rien layak dan kuat mendapatkan tinta putih.  "Mau kemana? Kupukul kau!" tiba-tiba Rien meracau membuat Zaro melotot.  "Apa?" Zaro bingung.  Rien memiringkan badan memunggungi Zaro. Dibuat semakin kesal, Zaro ingin membangunkan Rien paksa. Lagi dan lagi perasaan aneh datang. Zaro membuang tangannya yang mengepal ke belakang.  "Kekuatan apa yang dia punya? Aku sulit menghadapinya," Zaro menggerutu, dahinya berkerut. Perlahan melirik Rien dan memukul pelan pundak Rien dengan sarung pedangnya, "Bangun!"  Rien tidak bergerak sama sekali. Zaro mendesah, menjauh dari Rien memilih melihat ke luar jendela. Ramai orang di bawah sana yang sedang makan. Sudah hampir pukul dua belas malam, penginapan ini masih ramai. Zaro tersenyum dalam diam. Di tengah prahara kerajaan Rurua yang tidak diketahui masyarakat, kehidupan rakyatnya masih sejahtera dan aman.  'Apa karena perang kecil besok aku sedikit gelisah? Dia hanya gadis biasa yang punya bakat. Tidak mungkin mempengaruhiku,' batin Zaro berpikir positif.  Terdengar suara seseorang yang baru saja masuk ke penginapan mengundang perhatian semua orang termasuk Zaro. Dia adalah Hunara yang berpakaian seperti rakyat miskin yang mengembara. Serulingnya diputar-putar sembari berteriak.  "Cinta singgah di mana-mana tanpa peduli apapun. Akan selalu menyatu seperti nada dan serulingku. Semua yang merasakannya akan terlena dan emosi jiwa membuncah. Merana dalam kesendirian di tengah keramaian. Gelisah tak menentu, selalu ingin bersamanya. Indahnya dunia memiliki cinta. Hahh, Tuan, beri aku sup cinta!"  Tanpa malu setelah bersyair merebut tempat duduk seseorang yang sedang membaca buku sambil menikmati teh. Senyumnya mengembang menghibur hati.  "Nona, kali ini tidak menerima hutang. Kau ini bicara omong kosong terus!" seorang pelayan menggebrak meja Hunara.  "Heh, ini kenyataan! Tenang saja, aku punya banyak uang. Ambil semuanya!" Hunara mengeluarkan kantung uang yang sangat berat. Pelayan itu terkejut, "Woah! Kau dapat dari mana? Mencuri, ya?" tuduhnya sambil menghitung jumlahnya dengan kagum.  "Ck, banyak yang menghargai musikku hari ini. Aku hanya mau sup cinta. Tau kenapa? Aku sedang patah hati." Hunara mengerucutkan bibirnya sambil mengangguk-angguk.  Pelayan itu mengernyit, "Hahahaha, memangnya siapa yang mau denganmu? Setiap hari hanya fokus bermain seruling. Ada-ada saja. Tunggu sebentar kubuatkan sup." menggeleng sebelum melenggang pergi.  Hunara berdecih mengejek, "Tidak percaya, ya, sudah. Buat apa menjual sup cinta kalau tidak tau apa itu cinta?! Dasar membosankan!" sedikit berteriak mengejek.  Melihat semua orang menatapnya, Hunara meringis melambaikan tangan. "Mau kuhibur? Gratis!" mengayunkan seruling di atas kepala. Mereka bersorak menyambut Hunara bermain. Hunara mulai memainkan serulingnya dengan senang hati.  Zaro menggeleng maklum melihat temannya bermuka dua. Kebiasaan Hunara yang berbaur dengan masyarakat sudah diketahui banyak orang. Seniman musik jalanan seperti Hunara banyak mendapatkan hinaan serta penghargaan. Zaro mengerti semuanya yang Hunara jalani, kecuali setiap syairnya yang selalu sama membicarakan perihal cinta. Namun, malam ini begitu menyindir Zaro.  'Dari mana dia tau aku gelisah? Banyak gelisah yang sudah terucap,' batin Zaro.  Berbalik sembari menghela napas panjang. Hampir saja terlonjak kaget karena Rien sudah duduk dan menatapnya tajam. Matanya melebar penuh curiga. Zaro diam di tempat. Melipat tangannya di belakang. Sungguh tidak terduga reaksi Rien membuat Zaro kalang kabut.  "PENCURI! ADA PENCURI DI KAMARKU! AAAA, SELAMATKAN GADIS CANTIK SEPERTIKU!" Rien teriak bodoh menutup mata.  "Payah! Diam!" Zaro meremas udara. Menghampiri Rien, tetapi Rien segera menghindar dan berputar-putar mengitari meja.  "Aaaa, jangan mendekat! Pencurian, tolong ada pencuri!" Rien masih asik berteriak.  Penampilan Zaro terlihat mengerikan di mata Rien. Pikirnya hanya penjahat yang berpakaian seperti itu. Zaro terus melotot tajam tanpa berhenti mengejar. Sampai akhirnya banyak orang datang.  "Ada apa? Mana pencurinya?" tanya salah satu dari mereka.  Seketika Rien berhenti begitu juga Zaro. Rien menunjuk Zaro layaknya tersangka. "Dia! Tangkap dia! Hitam-hitam pasti pencuri, iya, 'kan?!" tuduh Rien.  "Omong kosong!" Zaro marah.  Semua orang saling pandang. "Nona, dia bukan pencuri. Justru menolongmu dan menyewa kamar untukmu. Kalau pencuri kenapa diam saja menunggumu?" kata orang tadi.  "Ha? Tapi... Tapi dia jelek!" Rien masih menunjuk Zaro.  'Jelek? Yang benar saja!' geram Zaro dalam hati.  Orang tadi mendesah, "Sudah, istirahat saja, Nona. Jangan buat keributan malam-malam." melenggang pergi bersama yang lain.  Pintu kembali ditutup dan Rien menjerit lagi. "Hei, kalian tidak mengerti! Dia orang jahat! Tunggu aku!" mengejar mereka, tetapi Zaro menarik kerah baju Rien sehingga Rien hanya berjalan di tempat.  "Lepaskan aku!" Rien meronta.  Suara seruling Hunara kembali terdengar. Lain dari sebelumnya yang begitu ceria, kini mengalun damai ingin menidurkan semua orang. Rien langsung berhenti meronta dan Zaro melepaskan Rien. Mereka berdeham lalu saling pandang.  "Ba-bagaimana bisa ada suara seruling? Sepertinya aku mengenalnya," gumam Rien seraya memandang ke segala arah.   Zaro mendesah kesal. Mendekati Rien perlahan membuat Rien lumayan takut sampai mundur. "Tidak tau sopan santun! Berteriak tanpa alasan dan menuduh orang. Apa ini yang rasa terima kasihmu?"  Rien mengerjap-ngerjap tersenyum kaku. 'Gawat-gawat! Dia mulai marah,' batin Rien.  "Kau siapa? Memangnya aku kenapa sampai kau tolong?" Rien membalas melotot memberanikan diri.  Zaro mengangguk, "Pikir sendiri!"  "Ck, kau yang tidak tau malu! Berada di kamar yang sama dengan perempuan? Mau mengganggu, ya?" kembali menuduh.  "Jaga bicaramu!" Zaro menggertak.  Rien mendelik menabrak tembok. "Suaramu berat sekali. Matamu juga menakutkan. Bisakah jangan marah terus? Aku lelah, Tuan. Semuanya membuatku pusing," Rien mencurahkan isi hatinya.  Zaro sedikit menjauh setelah memperhatikan Rien dari atas sampai bawah. Memang penampilan Rien cukup berantakan. "Maksudmu?"  Rien mendesah, duduk di tepi ranjang menganggap orang di depannya teman, "Siapapun kau aku mengucapkan terima kasih sudah membawaku kemari. Ini dimana? Tuan Darmuroi pasti mencariku. Emm, kau tau siapa aku? Semua orang sudah mengenalku sekarang!" mendadak gembira setelah terlihat pasrah.  "Pelukis aneh," jawab Zaro.  "Benar! Kejadian hari ini membuatku sakit. Besok pasti lebih parah," bibirnya mencebik.  'Dia sangat tidak waspada. Dengan begini kan menceritakan semuanya dengan mudah. Bagus, aku tidak perlu banyak bertanya,' batin Zaro.  "Apa yang sakit?" tanya Zaro mulai memancing Rien untuk mengatakan identitasnya.  Rien menatap Zaro menelisik. "Tuan, apa kau seperti reporter rahasia? Apa pahlawan rahasia? Atau mungkin penjahat yang menyamar? Aku tidak takut denganmu. Besok adalah hati besar jadi aku lebih takut menghadapinya, huaaaaa!" Rian mendadak pura-pura menangis.  Zaro kembali kebingungan menenangkan Rien, "Kalau tidak berhenti kupukul kau!" ancam Zaro dan Rien berhenti seketika. "Ternyata kau kejam! Mau memukul perempuan tanpa sebab?" Rien membalas marah.  'Kenapa jadi dia yang marah? Tak heran dijuluki pelukis aneh. Bagaimana bisa Darmuroi mengira dia pelukis legendaris?' batin Zaro.  Karena Zaro hanya diam, Rien kembali berbicara. Wajahnya terlihat lesu. "Sebenarnya, aku menantang seseorang yang sangat kuat. Sedangkan aku lemah. Memegang pisau saja terkadang gemetar. Kalau aku tidak memenangkan lomba, tujuanku tidak akan tercapai," dengan suka rela Rien berbagi pemikiran. Zaro masih tetap diam. Rien memandangnya cukup dalam membuat Zaro salah tingkah. Memegang dadanya dan memukulnya pelan.  "Kenapa? Kau sakit?" tanya Rien mulai khawatir.  "Tidak. Masalahmu kurasa cukup sulit. Memangnya apa tujuanmu?" jawab Zaro sekaligus bertanya.  Rien mendesah panjang, "Masalah takdir." jawaban yang tidak ingin didengar Zaro. Rien melihat pedang yang tergeletak di atas meja. "Itu milikmu?" menunjuk pedang Zaro. "Ternyata kau pandai bermain pedang. Boleh aku minta sesuatu?" Rien mulai semangat.  "Apa?" Zaro mengernyit.  "Tuan galak, tolong ajari aku bela diri pedang!" Rien berdiri sambil menangkupkan tangan. Tak lupa senyum manis yang menunjukkan deretan giginya.  "Apa?!" Zaro ikut berdiri seakan kaget.  Rien bingung, "Tuan, kenapa kau seperti tidak suka? Kalau tidak mau mengajariku tidak apa-apa. Aku akan bertahan semampuku. Jangan mengerutkan dahi terus. Terlihat tambah jelek dan galak!"  "Apa?!" Zaro semakin dibuat marah.   "Ck, lihat-lihat! Amarahmu terlalu tinggi. Aku hanya bercanda. Dasar tidak asik! Tuan, aku tidak punya uang membayar penginapan ini. Aku mau pulang saja. Percuma aku bicara denganmu. Oh, ya, nada seruling itu indah. Tidak pantas kalau kau marah-marah disela-selanya. Aku permisi dulu." Rien menangkupkan tangan memberikan senyum sedikit lalu berbalik.  "Tunggu!" seruan Zaro menghentikan Rien. "Aku akan mengajarimu," satu kalimat yang membuat Rien terbelalak dan kembali menatap Zaro. "Benarkah?! Kau baik sekali, Tuan! Ayo cepat ajari aku! Eee, mau dimana?" Rien hampir menyentuh lengan Zaro jika Zaro tidak mundur.  "Kumaafkan hinaanmu asal malam ini menurut dan terapkan besok di arena," sangat dingin seolah Zaro menjadi guru kejam.  Rien berdiri tegap dan memasang hormat, "Baik, guru misterius yang mendadak!"  'Selalu tersenyum menjijikkan,' hati dan bibir Zaro bicara lain. Dia tersenyum di balik cadarnya.  Halaman belakang penginapan sangat mengerikan dengan satu lentera yang temaram. Rien memandang sekeliling sedikit ngeri. Zaro hanya terlihat matanya saja yang tak berkedip memandangnya.  "Tuan, kenapa harus di sini? Sangat gelap," Rien berbisik.  Zaro tidak menjawab melainkan menarik pedangnya. Bunyi seruling Hunara tidak terdengar lagi tergantikan suara nyaring pedang Zaro yang memperagakan beberapa gerakan. Rien melongo takjub meskipun hanya gerakan dasar yang Zaro perlihatkan. Dia bertepuk tangan memuji Zaro.  "Wahh, hebat!" Seru Rien.  Zaro kembali memasukkan pedangnya. "Kemari!"  Rien berdecak, "Tidak bisa bicara panjang sedikit?" meskipun begitu tetap menurut.  Tanpa bicara lagi Zaro langsung mengajarkan gerakan bela diri untuk pemula. Rien mengikutinya sedikit kaku dan tidak beraturan. Zaro dengan sabar menuntun Rien bahkan demi membenarkan posisi Rien, Zaro berada di belakang Rien dan memegang kendali tangan dan kaki Rien.  'Parah-parah, posisi sedekat ini? Dia sangat serius,' batin Rien.  Diam saja mengikuti permainan Zaro. Sesekali Rien menatap mata Zaro yang bicara secara tersirat menggantikan mulutnya. Rien juga ikut serius saat malam semakin dingin. Tidak bisa membiarkan ilmunya sia-sia. Memang tidak sanggup menguasai dalam satu malam, tetapi berusaha dan bekerja keras tidak ada salahnya.  'Gadis ini juga baik. Benar-benar menurut,' batin Zaro memuji.  Setelahnya sadar ada sisi baik dan buruk di dalam diri Rien. Sayangnya informasi tentang identitas Rien gagal dia dapat. Mulai dari memukul, menendang, sampai menghindar dan serangan balas sudah diajarkan dan Rien mengerti walau belum menguasainya dengan benar.  "Tuan, aku juga harus belajar senjata. Apapun itu tolong ajarkan. Biar Sampai di sini saja ilmu menendang dan menangkisnya. Aku akan bertahan besok," Rien meminta walau napasnya tersenggal-senggal.  "Kau yakin? Kau sudah terlalu capek. Pada dasarnya kau perempuan dan lemah. Tidak akan bisa mempelajari dalam waktu singkat. Jangan memaksakan diri," tutur zaro.  Rien menggeleng, "Aku tidak peduli. Kumohon ajari aku sedikit!" Rien memasang wajah memohon.  "Tidak bisa. Senjata bukan alat mainan," bantah Zaro masih tenang.  "Tuan, bantu aku. Percayalah padaku kalau tinta itu hanya milikku. Untuk itu aku harus menang besok," Rien masih memohon.  Zaro menghela napas panjang, "Banyak yang bicara seperti itu, nyatanya tidak berguna. Kau... Memukul saja kurang tenaga. Bagaiman bisa menjamin mendapatkan tinta putih?" sengaja melihat seberapa keseriusan Rien.  "Aku sungguh-sungguh, Tuan. Tanpa itu aku akan hancur. Aku juga tau tinta putih kebanggaan kerajaan Rurua. Pelukis legendaris yang kalian cari itu adalah aku. Percayalah!" Rien takut jika Zaro pergi dan tidak mengabulkan permintaannya.  "Huhh! Legendaris bukan hanya omongan belaka. Kalau kau memang yang kami cari, maka buktikan dengan benar! Aku tidak akan melatih senjata, akan kubuat ketahananmu lebih kuat. Kita tidak punya banyak waktu lagi." Zaro melihat langit timur.  Rien ikut melihat langit timur, mengerti maksud Zaro. Berpikir jika Zaro benar, maka dia menurut lagi. Setidaknya mempunyai bekal walau tenaganya terkuras dan sangat lemas. Badannya sakit semua. Seluruh tulang rasanya ingin lepas. Kepala Rien pusing di tambah kedinginan.  Mengangguk saat Zaro memberi instruksi agar Rien mengikutinya. Jika Rien salah, Zaro terus membenarkan posisinya. Membuat jarak diantara mereka terkikis dan sering bersentuhan. Tangan Zaro sangat hangat, Rien merasa sedikit nyaman dan dingin menghilang. Ingin sekali membuka penutup wajah Zaro. Namun, lebih baik tidak daripada menimbulkan pertikaian.  Sudah lama, tinggal satu jam lagi menuju pagi. Zaro menyudahi ajarannya pada Rien. Mengantar Rien pulang ke rumah Darmuroi dan menyuruhnya istirahat. Lupa jika dirinya juga ada urusan yang lebih menegangkan.  Rien sudah tidak kuat berdiri. Dia lirih bersandar pilar teras rumah Darmuroi. "Tuan, kau sangat baik. Terima kasih sekali lagi. Apa masih bisa bertemu?" tanya Rien mirip berbisik. Bibirnya pucat dan matanya menyipit.  Zaro diam sebentar, "Akan ada banyak waktu untuk bertemu. Permisi." segera berlari dengan cepat. Dalam sekali kedipan mata, Rien sudah tidak bisa melihat keberadaan Zaro.  "Cepatnya! Aku juga ingin seperti itu. Sshh, sakit sekali! Pasti besok kaki dan tanganku akan berat dan besar seperti ditimpa batu," gumam Rien.  Hampir saja matanya tertutup, Rien kembali terjaga. "Apa maksudnya tadi? Kami akan sering bertemu begitu?" Rien senang. Lalu, matanya tertutup. Tidurnya sangat pulas sampai Darmuroi datang dan membangunkannya Rien tidak kunjung bangun.  Darmuroi kaget karena seluruh tubuh Rien membengkak. Dia tahu telah terjadi sesuatu, tetapi tidak tahu jika itu ulah Zaro. Darmuroi memindahkan Rien ke kamar. Sampai pagi dan sinar matahari masuk ke celah rumah pun Rien belum bangun. Masih ada waktu untuk lomba dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD