Raditya menepikan motornya di pinggir jalan karena sedari tadi ponselnya berdering.
"Aku sudah melihatnya"
" ...."
"Baik"
Ditutupnya percakapn singkat dengan seseorang di seberang sana. Radit kembali melajukan motor menuju tempat ia biasa mangkal yang sudah dekat di depan mata.
"Sudah dapat berapa penumpang Do?" Tanya Radit begitubia memarkirkan motornya dan menyapa Edo yang duduk diatas motornya sambil melepas helm. Terlihat Edo pun baru saja sampai dari mengantarkan penumpang.
"Baru dua, anak sekarang sudah banyak yang bawa motor sendiri" keluhnya sambil melepas jaketnya. Radit turun dari motornya kemudian berjalan mengahampiri dua temanya yang lain duduk di sebuah kursi panjang berbahan kayu jati dibawah pohon mangga.
" Yang penting masih ada pelanggan kan Do?" Hibur Radit menanggapi keluhan teman seprofesinya yang tengah mengeluh.
Memang benar, perbandingan orang yang mengendarai motor setiap tahunya bertambah. Bahkan dari anak usia Sekolah Dasar saja sudah mahir dalam berkendara. Karena hal itulah profesi ojek semakin surut ditambah maraknya aplikasi ojek online yang siap mengantar dari sudut manapun menuju tempat manapun serta dalam waktu kapanpun. Sebuah aplikasi yang amat memudahkan jika sewaktu-waktu membutuhkan layanan antar jemput mendadak.
Tidak seperti dirinya yang menjadi tukang ojek manual. Setiap hari menunggu pelanggan pinggir jalan raya yang berdampingan dengan halte bus. Beruntung lokasinya dekat dengan jalur sekolah. Di depan tempat mereka mangkal adalah jalur masuk menuju deretan sekolah mulai dari jenjang Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah , Sekolah Menengah Atas dan sebuah perguruan tinggi. Begitu lengkap bukan? Harusnya ladang kesempatan mereka amat besar jika saja produksi motor dan keinginan mengendarainya ke Sekolah tidak melonjak drastis setiap hari.
Para pengguna jasa mereka memang sedikit sekali dari kalangan pelajar, lebih banyak dari kalangan pengajar malahan. Karena apa? Karena banyak pengajar yang berdomisili dari luar kota, setiap hari mereka mengendarai bus dan jarak antara sekolah atau kampus dengan halte memang lumayan jauh. Alhasil banyak dari teman-temanya yang sudah memiliki pelanggan tersendiri yang siap menunggu, menjemput dari gerbang menuju halte. Dan semua itu wajib disyukuri.
*************
Ana sudah selesai dengan survey hari pertamanya di salah satu Bank yang menjadi obyek penelitian tugas skripsinya. Dilihatnya jarum yang tengah bergerak pada jam dinding di lantai dasar tempat para nasabah melakukan transaksi.
Sedari tadi ia memang sudah turun dari ruangan lantai dua dan sekarang ia masih duduk di deretan bangku tempat nasabah mengantri untuk mengecek beberapa data yang ia peroleh hari ini.
Terdengar suara ketikan dari beberapa komputer disusul suara kertas yang keluar dari printer membuat suasana masih terlihat sibuk padahal pintu sudah tertutup, satupun nasabah juga tidak terlihat. Yah, memang seperti inilah kegiatan para pekerja saat jam pelayanan sudah berakhir namun tugas mereka tidak juga ikut berakhir.
Baru saja ia hendak melangkah keluar, ponselnya berdering dari nomor baru tanpa identitas. Ana mengernyitkan dahi mengingat siapa orang terakhir yang ia beri nomor ponselnya mengingat ia hanya sudah jarang bertemu teman-teman lainya karena kesibukan tugas akhir membuatnya jarang datang ke kampus.
"Hallo"
"...."
"Oh Hei Dokter!" Pekik Ana mengetahui siapa penelponya".
"...."
"Ehm, baiklah langsung menuju lokasi saja"
"......"
"Sip"
Ana mengakhiri panggilanya sembari tersenyum cerah. Bagaimana ia tidak senang jika barusan saja Reksa menelpon dan memintanya menemani jalan. Meski tidak dijemput seperti kebanyakan orang yang tengah membuat janji bertemu, namun Ana tetap senang karena ajakan Reksa.
Menunggu adalah hal yang membosankan, seperti itulah keadaan Ana saat ini yang menunggu bus untuk mengantarkanya ke sebuah pusat perbelanjaan. Namun yang ditunggu tak kunjung datang membuat Ana amat frustasi. Dengan menyenderkan kepala pada tembok bangunan halte, Ana berkali-kali menatap jalan raya yang tak juga didapati satu bus berhenti.
Apa sudah lewat ya? Tapi ini belum terlalu sore
Atau memang belum jadwalnya lewat?
Berbagai pertanyaan dan asumsi memenuhi pikiranya. Dilihatnya ada seorang bapak tua yang juha ikut duduk menunggu seperti dirinya. Memberanikan diri bertanya tentang bus yang ia tunggu.
"Maaf Pak, bus yang ke Pulau Irian sudah lewat belum?"
Bapk tua yang ditanya hanya mengernyit bingung. Ana merasa apakah Bapak disebelahnya ini tidak tahu tempat yang ia maksud atau bagaimana.
"Ke Pulau Irian gak bisa naik bus, bisanya naik taksi tapi masih sejam lagi lewatnya. Bapak juga naik itu nanti"
"Bukanya ini halte menunggu bus ya Pak?" Ana memastikan ia tidak salah tempat untuk menunggu. Jika ini halte bus tapi kenapa nunggu taksi juga disini?
"Iya, tapi taksi juga berhenti disini juga" jawabnya ramah.
Dasar memang awam pengetahuan Ana, mungkin karena selama ini kemanapun ia selalu mengendarai motor membuatnya sedikit buta arah mana saja jalur yang dilalui bus mana yang tidak. Memang ia sering menggunakan jasa angkot tapi dari tempat yang sudah familiar bukan dari halte di dekat Bank seperti ini.
Ditengah kerisauanya merutuki kebutaan arah, suara klakson motor yanng ditekan panjang membuat Ana menoleh kearah sumber suara. Begitu menoleh, didapatinya seseorang dengan helm hitam tengan tersenyum samar.
"Butuh ojek?" Tawar si pengendara tersebut. Melirik jam tanganya sejenak kemudian ia mengangguk. Diterimanya helm warna hijau yang diserahkan oleh pengendara pada Ana. Tanpa ragu ia sudah memposisikan duduk di belakang si pengendara.
Motor melaju membelah jalan raya yang sedikit macet karena sore hari adalah jam pulanh kantor membuat jalan semakin penuh sesak.
"Kemana?" Tanya Radit saat motornya berhenti di lampu merah.
"Pulau Irian" jawab Ana singkat. Sepanjang jalan keduanya hanya terdiam. Hingga tak lama kemudian sampailah ke tempat tujuan. Belum sempat Ana turun dari motor, ponselnya berbunyi menandalan sebuah pesan masuk. Segera ia membuka dan menemukan pesan dari Reksa bahwa dirinya akan terlambat datang karena masih terjebak macet. Ia mendesah kecewa namun bagaimana lagi, ia juga melihatnya sendiri saat mengendarai motor bersama tukang ojek di depanya. Ngomong-ngomong tentang tukang ojek, ia jadi mendapat ide sembari menunggu kedatangan Reksa yang masih terjebak macet.
"Sibuk gak?" Tanya Ana sambil menyerahkan helm.
"Tidak juga, kenapa?" Tanya Radit yang melihat sudut bibir gadis itu melengkung.
"Aku traktir minum, anggap saja ucapan terima kasih yang tadi pagi" ucap Ana penuh harap.
Radit mengeluarkan ponsel untuk melihat jam, kemudian menoleh pada Ana sambil mengangguk tanda setuju " Boleh, dimana?" Tanyanya kemudian membuat Ana bertepuk tangan sekali.
"Parkir masuk saja" pinta Ana. Motor Radit bergerak menuju halaman parkir sebuah pusat perbelanjaan sedangkan Ana menunggunya disamping pintu masuk yang tengah dijaga oleh seorang security berseragam biru gelap.
****************
"Apa aku mengganggu pekerjaanmu?" Tanya Ana mengawali percakapan sembari menunggu pesanan datang. Keduanya kini tengah berada di sebuah gerai makanan lantai tiga sebuah Mall.
"Tidak juga, pekerjaanku tidak terganggu dengan aturan apapun" Radit menjawabnya sambil tersenyum ringan berusaha menepis rasa khawatir gadis dihadapanya.
"Aku belum belum sempat mengucapkan terima kasih untuk kejadian tadi" ucap Ana menatap Radit yang duduk berhadapan denganya.
"Bukankan ini bagian dari ucapan terima kasih?" Mata Radit bergerak menyapu sekeliling. Menyadari memang inilah tawaran dari Ana tadi dirinya lantas tersenyum dan mengangguk.
"Baru sekarang aku ditraktir seorang perempuan" gumam Radit yang didengar oleh Ana.
"Sudah kubilang kan ini wujud terima kasihku padamu"
"Baiklah, untuk selanjutnya ditraktir juga aku masih bersedia" gurau Radit yang membuat keduanya tertawa.
"Oh ya, kita belum berkenalan. Radit, tukang ojek yang jomblo" Ana menjulurkan telapak tangan kananya " Ana, penumpang ojek yang menami si jomblo makan" sahut Ana tak mau kalah dengan guraun dari Radit. Ia tak menyangka orang yang telah menyelamatkan tasnya tadi pagi, yang terlihat begitu gesit mengejar pencopet itu bisa terlihat mudah bercanda.
Baik Ana maupun Radit tertawa mendengar kalimat perkenalanya yang terdengar konyol dan menggelikan. Suara pelayan yang datang untuk menyajikan makanan menghentikan derai tawa mereka.
"Kenapa cuma dilihatin sih, emangnya bisa kenyang?" Ana yang melihat Radit hanya melihat makananya.
"Ya begitulah, hanya sedikit bingung dengan pilihan menunya"
"Kamu gak suka sama makananya? Katanya tadi terserah aku. Ini kwiteuw goreng yang tidak akan kuracuni, jadi makanlah" Ana dibuat kesal sekarang seakan ia telah salah memilihkan menu untuk Radit padahal laki-laki itu sendiri yang menyerahkan pilihan menu padanya. Dan sekarang setelah tersaji, dia hanya menatap tanpa ada gairah untuk menyantapnya. Dan tatapanya terlihat sedikit kecewa.
"Itulah masalahnya, aku biasa makan dengan tangan dan sekarang, makan mi dengan tangan rasanya sangat aneh" Sektika Ana sedotan yang diambilnya dari gelas minuman kearagh wajah Radit. Sontak Radit menangkap sedotan tersebut sambil terkekeh sedangkan Ana mengernyitkan hidungnya sebal dengan gurauna Radit.
"Dasar, disaat lapar begini masih sempat bercanda" Radit mengendikan bahu masih dengan kekehanya mendengar ocehan kesal Ana.
"Tertawa membuat kita awet muda Na" tukasnya kemudian menyusul Ana untuk menyantap makanan di piringnya.
Hanya bunyi denting sendok dan garpu dan riuhnya orang bercakap-cakap disekitar yang menemani kegiatan makan keduanya hingga satu porsi masing-masing sudah tandas tinggal minuman saja yang tersisa.
"Kamu kuliah Na?" Tanya Radit. Sebenarnya ia sudah tahu jika gadis yang mengajaknya ini adalah mahasiswa.
"Iya, di deket tempat kamu mangkal. Kan waktu itu aku naik ojek dideket kampusku" Jawab Ana sambil menyeruput minumanya.
"Heran aja ada anak kuliah mau mentraktir tukang ojek"
"Memangnya ada aturan? Ya udah kapan-kapan gantian kamu yabg traktir " mendengar itu Radit langsung mengangkat ibu jarinya sambil berkata " Oke".
"Ini nomorku" Radit menyerahkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya. Ana menerimanya dan melihat deretan huruf dan nomor yang tertera pada kartu nama tersebut.
"Ceileh tukanh ojek aja punya kartu nama" Ana terkikik masih membaca kartu nama dari Radit.
"Namanya juga tukang ojek, biar dapat banyak langganan ya pakai itu. Tinggal telepon dan siap mengantar" ujar Radit menjelaskan.
"Mirip go-jek aja kalo begini"
"Beda, aku lebih suka kerja tanpa atasan. Males diatur sana-sini" Ana hanya ber oh mendengar alasan Radit. Memang benar juga apa yang dikatakan Radit barusan. Bekerja tanpa tekanan dari atasan sepertinye memang lebih menyenangkan. Mungin hal itulah salah satu alasan banyak orang beralih dari pegawai menjadi wiraswasta.
Ponsel Ana berdering membuatnya segera mengangkat panggilan yang ternyata dari Reksa. Setelah memberitahu posisi Reksa, Ana segera mengakhiri panggilan kemudian mengeluarkan dompet agak terburu.
"Aku ada janji dengan teman dan dia sudah menungguku di pintu masuk" Menyadari Ana yang tergesa-gesa membuat Radit mengerti apa yang menyerang gadis yang baru saja dikenalnya tadi siang kemudian begitu akrab menikmati makanan berdua.
"Kayaknya lagi buru-buru amat, ya udah aku pamit sekalian. Makasih traktiranya dan lain kali aku yang traktir kamu " Radit segera melenggang pergi sedang Ana hanya mengangguk sambil tersenyum hangat, masih dengan posisinya duduk menunggu kembalian uangnya yang dibawa pelayan.
----------------------