"Ya ampun beruntung banget sih kamu Na, ditolongin sama Dokter kebanggaan Rumah Sakit ini" binar Dini sambil memegang bahu Ana dengan girang. Ana yang melihat sahabatnya begitu kegirangan hanya meringis.
"Yang beruntung itu luka ku gak parah Din"
"Ah sama aja, beruntung yang nabrak tuh Dokter Reksa dan beruntung juga kamu gak sampai almarhum" gurau Dini membuat Ana mendelik sebal pada sahabatnya seakan mendoakan keburukan untuk dirinya.
"Tega amat!" Dengus Ana merengut dan dibalas kekehan Dini.
"Becanda kali Na, udah ah kamu istirahat dulu aku mau periksa pasien bentar" ucap Dini melirik jam di pergelangan tanganya. Ana mengangguk patuh, dibaringkan tubuhnya kemudian Dini berpamitan pergi.
Baru saja ia hendak memejamkan mata, Reksa datang sambil membawa bungkusan berwarna putih dengan logo sebuah mini market berwarna biru yang amat tersohor di berbagai daerah.
" Sorry, aku ganggu tidur kamu ya?" Tanya Reksa sembari meletakkan bungkusan di meja samping tempat tidur dan melirik kearah Ana yang terbaring.
"Gak juga, hanya memejamkan mata " Ana memposisikan dirinya duduk kemudian meninggikan badan untuk bersandar.
"Sama saja, ini aku bawakan buah" dikeluarkan apel merah masih terbungkus plastik kemudian mengambil pisau yang ia selipkan di saku jas putihnya. Memang ia sudah menyiapkan benda kecil tersebut sebelum datang ke ruangan ini.
" Orang tua kamu sudah dikabari?" Tanya Reksa sembari tanganya dengan ahli mengupas kemudian memotong apel menjadi bentuk lebih kecil.
"Belum tapi lebih baik gak usah, hanya luka ringan" jawab Ana dengan mulut mengunyah apel yang disodorkan Reksa.
"Selesai makan, istirahatlah" Ana hanya mengangguk melihat Reksa begitu perhatian.
" Kamu gak tugas?"
"Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum jam istirahat selesai" Ana hanya ber oh dengan jawaban Reksa dan dia pun tak begitu memikirkan karena dirinya sibuk dengan potongan apel yang lebih menarik, mengingat dirinta sangat lapar.
"Istirahatlah, aku tinggal dulu. Karena lukamu tidak begitu parah, nanti sore bisa pulang" Reksa pun pamit sambil tak lupa menyunggingkan senyum.
***************
Dengan tergopoh-gopoh Hendra dan Rima berjalan menelusuri lorong Rumah Sakit. Begitu mendengar kabar anak bungsunya mengalami kecelakaan dari Dini membuat dua orang paruh baya tersebut panik. Hendra yang tengah berada di lokasi proyek pembangunan langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah guna menjemput istrinya yang tak kalah khawatirnya.
Meski Dini sudah menjelaskan bahwa Ana hanya luka ringan, namun tetap saja tidak mengurangi rasa khawatir dari kedua orang tuanya.
Sesampai di ruangan anaknya, Rima langsung memeluk putri bungsunya yang sedang tidur sedangkan Hendra bernafas lega melihat kondisi anaknya tidak parah.
"Nak, gimana keadaan kamu?" Tanya wanita paruh baya itu lembut setelah memeluk anaknya tiba-tiba hingga Ana yang merasa ada yang memeluk membuatnya membuka mata. Dilihatnya wanita yang amat dicintai tersebut tengah memijit lengan kemudian kaki yang tidak sakit.
"Baik Ma, hanya lecet sedikit" terang Ana membuat Ibunya tidak juga menghilangkan rasa khawatirnya yang berlebihan.
"Lecet begini tetap saja namanya luka" gerutu Rima membuat Ana tersenyum. Inilah orang tua, sekecil apapun rasa sakit anaknya, ia akan merasakan sakit pula bahkan lebih besar.
"Iya Ma, tapi udah boleh pulang kok, tadi Dokternya bilang gitu" Bela Ana melihat Rima yang akan mengomel jika ia ketahuan mengaduh. Memang lukanya masih terasa perih namun bukan luka serius yang membuatnya harus dirawat inap. Dan Reksa bilang ia bisa pulang sore ini, apalagi sekarang sudah ada kedua orang tuanya yang membantunya pulang.
"Kamu beneran gak papa Na?" Tanya Hendra yang berdiri disamping istrinya sambil memperhatikan luka anaknya yang diperban.
"Gak papa, ini cuma luka kecil Pa, ayo ah Pa, urusin kepulangan Ana, bosen disini gak bisa nonton Ipin Upin" keluh Ana sedikit merajuk pada Papanya.
Medengar hal tersebut kedua orang tuanya lanngsung menghenbuskan nafas berat. Mereka heran dengan kelakukan anak bungsunya, jelas- jelas ia sedang terluka dan dirawat malah memikirkan kebiasaan sore harinya menonton film animasi dari negeri tetangga yang entah sudah diputar berulang kali pada episode yang sama, tetap saja anak bungsunya amat menyukainya.
" Kamu bikin Papa panik sampai Mama mu nangis sepanjang jalan, eh sekarang minta pulang cuma karena film Ipin Upin?" Hendra menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang sekarang memasang wajah penuh permohonan. Dengan menghela nafas berat kembali, Hendra keluar dari ruangan untuk menyelesaikan administrasinya.
"Gimana ceritanya sampai kamu kecelakaan?" Tanya Rima begitu suaminya berlalu pergi sambil memberesi barang Ana untuk segera dibawa pulang.
"Ada mobil yang menabrak dari samping pas Ana lagi nyebrang jalan. Tapi sopirnya langsung turun nolongin kok"
"Harus itu, dia yang nabrak dia juga yang harus tanggung jawab"
"Sebenarnya dia ngebut juga karena stuasi dan kondisi yang mendesak" bela Ana mengingat alasan Reksa menlajukan mobilnya sedikit kencang hingga menyerempet dirinya.
"Apapun alasanya, tetap saja harus hati-hati" Ana hanya mengangguk mendengarkan nasehat Ibunya. Dalam hati ia bersyukur Reksa lah yang menabraknya karena selain perkenalan semalam yang tanpa sengaja, juga karena Reksa berani bertanggung jawab atas perbuatanya padahal bisa saja ia lari dengan mobilnya karena alasan ingin segera menyelamatkan pasienya yang jauh lebih membutuhkan dirinya mengingat pasien yang ditangani sedang kritis.
"Udah?" Hendra masuk kedalam ruangan bertanya pada istrinya yang masih membereskan beberapa buah dan kulitnya yang berserakan di meja.
Dini yang berada dibelakang Hendra menyapa Ana dan Rima. Dibantu kedua orang tuanya, Ana tertatih menduduki kursi dorong yang dibawakan Dini. Mereka bertiga berjalan dibelakang Ana yang tengah didorong menuju halaman Rumah Sakit tempat mobil Hendra diparkir.
******************
Tiga hari berlalu semenjak kejadian Ana yang terluka dan sempat dirawat di Rumah Sakit meski kurang dari sehari. Luka di kakk dan tangan sudah mulai kering dan sudah dikenai air secara langsung. Memang semenjak dibalut perban, luka tersebut dijaga agar kering dari air dan hanya diberi obat serta mengganti perbanya saja.
"Masih perih?" Tanya Rima melihat anaknya yang baru keluar dari kamar mandi sedikit meringis.
"Lumayan, tapi lama-lama juga biasa" jawab Ana menenangkan Ibunya.
"Kamu beneran mau penelitian hari ini?" Tanya Rima lagi. Kemaren anaknya sudah memberi tahu jika hari ini dia harus mulai mengerjakan penelitian tugas akhirnya di salah satu Bank.
"Iya, lagian sudah bikin janji juga. Kan gak enak kalau membatalkan" jawab Ana sambil menyisir rambutnya didepan cermin. Diperhatikan kembali pantulan dirinya yang mengenakan balutan blouse berwarna putih tulang dengan kerah dan ujung lengan berwarna hitam serta celana jeans, tampak rapi.
"Yakin bisa sendiri?" Alih-alih kesal karena sikap khawatir ibunya yang berlebihan, Ana langsung tersenyum seraya membalikan badan membelakangi cermin kemudian menghampii wanita paruh baya yang tengah berdiri diambang pintu kamarnya. Memeluk tubuh tua yang masih terlihat bugar itu penuh sayang.
" Ana bukan anak kecil, semua pasti baik-baik saja" ucap Ana menenangkan didalam dekapan ibunya.
"Ya sudah kamu hati-hati, jangan naik motor dulu" titah sang ibunda yang diangguki penuh semangat oleh Ana.
Meski khawatir, tapi gadis bungsunya memang terlihat lebih berani dibandingkan saudaranya. Hal itulah yang membuat anak kedua mereka terlihat lebih mudah mengungkapkan apa yang dirasakanya.
Tak berapa lama kemudian Ana telah siap didepan rumah karena Hendra sudah menunggu sedari tadi. Karena Ana tidak diperbolehkan mengendarai motor sendiri, alhasil ia akan berangkat ke Bank bersama Hendra yang sudah siap dengan mobil hitamnya.
"Ana berangkat Ma" pamit Ana kemudian mencium telapak tangan kanan ibunya dan dibalas dengan kecupan lembut dikedua pipinya. Setelah berpamitan, ia langsung menghampiri Hendra yang sudah lebih dulu duduk didalam mobil. Hingga suara mobil distarter dan pedal gas yang diinjak membuat tangan Ana melambai pada ibunya dari balik kaca mobil.
"Langsung ke Bank atau ke kampus dulu?" Tanya Hendra begitu mobil tengah melaju membelah kemacetan pagi hari. Samarinda pagi hari memang begitu padat merayap, tidak berbeda jauh dengan kota lainya yang akan mendapati kegiatan macet saat pagi ketika orang-orang berangkat kerja dan anak-anak menuju sekolah masing-masing.
"Ke kampus dulu saja Pa, ada yang perlu Ana ambil" Hendra mengangguk dengan keputusan putrinya.
Meski tidak mudah menembus kemacetan, namun karena baik Hendra maupun Ana tidak diburu waktu yang harus tepat, membuat kemacetan pagi ini terasa baik-baik saja. Sesampai didepan gerbang kampus, Ana turun dan melambai pada Hendra yang sebelumnya ia sudah mencium tangan pria nomor satu dihidupnya saat masih didalan mobil.
Ana melangkah ringan menuju gedung kemahasiswaan, gedung yang dibangun khusus untuk kegiatan UKM ini memiliki tiga lantai. Lantai pertama yang digunakan sebagai tempat siaran radio dan televisi kampus, lantai kedua dipenuhi dengan banyaknya ruangan kecil yang disebut basecamp karena setiap ruangan adalah milik tiap UKM yang dikelola oleh mahasiswa dan lantai ketiga adalah ruang pertemuan yang lebih biasa digunakan untuk kegiatan seminar atau pertemuan lain yang sifatnya formal dan tidak begitu banya tamu undangan mengingat kapasitasnya jauh lebih sedikit dibanding aula milik kampus sendiri.
Ana menaiki lantai dua sambil memainkan ponselnya berharal si empu yang dicarinya sudah siap ditempat. Benar saja, saat kaki Ana berhenti di salah satu ruangan dengan slogan 'Salam Lestari' yang ditempel di pintu masuk, tengah berdiri Toni dengan tumpukan kertas di tanganya menyambut kedatangan Ana.
"Sorry kemaren gak jadi aku ambil" ucap Ana begitu keduanya saling berhadapan.
"Gak papa, tapi kamu beneran gak parah kan lukanya? " tampak Toni mengamati kaki dan tangan Ana yang tertutup pakaian.
"Kalau parah ya gak mungkin aku berdiri disini" seloroh Ana yang diikuti cengiran Toni.
"Iya yah, ni instrument nya. Kemaren aku pakai patokan ini tapi bisa tambah pertnyaan kalau mau. Lagian pas kita wawancara, tiba-tiba pertnyaan yang gak terkonsep malah keluar" jelas Toni seraya menyerahkan lembaran kertas acuan instrumen miliknya yang memang saat kecelakaan itu sebenarnya Ana hendak mengambilnya namun keburu dibawa ke Rumah Sakit dan dirawat di rumah membuatnya molor mengambilnya.
Toni memang satu kelas denganya, minggu lalu dia sudah melakukan penelitian terlebih dulu di salah satu Badan Pengkreditan. Meskipun berbeda judul dan pembahasan namun kesamaan variabel penelitian membuat Ana berinisiatif membandingkan dan memperlajari instrumen dari Toni dengan miliknya yang sudah dibuatnya jauh hari setelah mendapatkan acc bab dua nya.
"Hem, ya udah aku bawa dulu ya?" Toni mengangguk dan Ana segera melangkah pergi.
Turun menuju parkiran ia mencari tempat duduk yang memang dibangun sepanjang tempat ini. Mengeluarkan instrumen miliknya kemudian membandingkan point-point apa saja yang ia perlukan untuk tahal penelitian hari ini. Setelah dirasa cukup, ia memberesi kertas-kertas tersebut lalu memasukanya kedalam tas. Berjalan keluar menuju gerbang hendak mencari tukang ojek yang akan membawanya menuju TKP penelitian.
**************
"Bang, ke Gajah Mada" ucap Ana saat posisinya kini tengah duduk sambil memakai helm yang diserahkan pemiliknys. Kini ia sudah berada di boncengan motor salah satu tukang ojek dekat kampusnya.
Tanpa menjawab, si pengendara segera menekan tombol start untuk menyalakan motor. Kelebihan mengendarai motor adalah dapat melewati jalir tikus saat situasi mendadak dan dapat menyelip dengan mudah saat macet kembali menjadi momok.
Hari belum siang, jelas saja kemacetan masih berlangsung membuat jalanan menuju Bank sedikit terganggu dengan riuhnya para pengendara lain serta lampu merah yang dirasa terlalu banyak dilewati. Ditengah perjalanan ia lupa memfoto copy kertaanya untuk duplikat. Segera ia intruksikan sopir ojek untuk berhenti di salah satu toko peralatan sekolah untuk memperbanyak kertas miliknya dan juga Toni.
"Bang, tunggu bentar ya saya mau ambil uang dulu disitu" ucap Ana pada tukanh ojek yang masih duduk menunggunya.
Dengan tergesa Ana menyeberang jalan menuju ATM diseberang jalan. Namun suara teriakan yang memekakkan telinga membuat semua orang berlari tak luput si pengendara ojek yang sedari tadi memang memperhatikan penumpangnya. Dengan sigap ia berlari bersama para pengejar lain yang berteriak 'copet' dengan lantang.
Semakin banyak yang mengejar membuat pencopet semakin gesit. Gerakan cepat dari pengendara ojek akhirnya berhasik menarik jaket pencopet kemudian merampas tas yang dipegangnya dan segera meninggalkan pencopet itu dihakimi warga. Melihat rintihan 'ampun' dari pencopet membuatnya tak tega hingga dengan segera ia melerai pertikaian tersebut dengan menyarakan langsung dibawa ke pihak yang berwenang. Meski banyak yang protes namun kedatangan salah seorang oknum berseragam hijau dapat menghentikan penghakiman warga sekitar pada pencopet tersebut.
Ana baru saja tiba dengan menghalau beberapa orang yang berada di kerumunan mencari tahu bagaimana kabar tas dan pencopetnya.
"Tas nya aman sama aku, ayo pergi" ucap pengendara ojek yang menepuk bahu Ana daei belakang. Ana yang menyadari tasnya sudah dipegang pengendara ojek langsung keluar daei kerumunan. Menerima tasnya kembali kemudian berjalan sedikit lebih dibelakang pengendara ojek menuju tempat motornya diparkir atau lebih tepatnya kembali ke toko peralatan sekolah untuk mengambil foto copy miliknya.
-----------------------------------