Reksa's Home

1522 Words
Ana merutuki kebodohanya karena menyemburkan minuman di kemeja serta jas putih milik Reksa. Meskipun ucapan maafnya sudah diterimanya dari Reksa dan menawarkan untuk mencucikan kemeja dan jas nya namun Dokter tersebut menolak. Rasanya masih saja ia merasa tidak enak hati. Bagaimana tidak kaget jika kalimat 'Mama' keluar dari bibir Reksa. Ana berpikir mungkin orang tuanya sudah menerima kabar tentang anaknya yang membawa perempuan macam upik abu menghadiri acara seminar pentingnya. Membayangkan cemoohan dari penggemar Reksa di Rumah Sakit ini saja sudah amat ngeri apalagi menghadapi orang tua Reksa yang mungkin tidak terima jika reputasi anaknya jatuh karena bergaul dengan dirinya, membuat bulu kuduknya semakin meremang. Bayangan wajah penyihir menggelayuti imajinasinya, namun segera digeleng-gelengkan kepalanya. Bukankah tidak baik berprasangka buruk pada orang lain terlebih dulu sebelum diketahui dengan jelas. Berpikir lagi, Reksa selalu ramah dan baik padanya, semoga orang tuanya pun begitu. ***** "Aku takut" lirih Ana saat mobil milik Reksa sudah berhenti didepan gerbang menunggu satpam rumahnya membuka pintu gerbang agar mobilnya segera masuk. Reksa menoleh kearah Ana yang terlihat pucat pasi. Bagaimanapun keadaan ini disebabkan oleh ulahnya yang melupakan reaksi berlebihan Monica sebagai penyeleksi semua hal yang pantas berada di sekitar anaknya. "Tenang saja, Mama hanya ingin berkenalan" Reksa menenangkan gadis disebelahnya. Sebenarnya ia juga merasa was-was dengan ajakan membawa Ana menemui Monica. Bukan sekedar masalah foto seperti yang ia jadikan alasan kedatangan Ana ke rumahnya, namun karena keberanianya mengatakan keinginan hati seorang anak pada orang tuanya perihal pilihan hidupnya malam itu. Reksa masih ingat malam dimana ia murka dengan kalimat remehan Monica sedangkan Papanya hanya diam tak berkomentar sama sekali. Padahal yang diharapkanya adalah pembelaan sang Papa yang harusnya lebih berani memimpin keluarganya, memberinya kebebasan dalam berpendapat sebagai anak, bukan hanya patuh dan mengangguk-angguk dengan segala keputusan Monica. "Mama lihat kamu sedang dekat dengan perempuan? Sepertinya dia bukan dari kalangan kita. Mungkin memang kamu ingin mengulangi kesalahan masa lalu sampai-sampai mencari pengganti yang sama bututnya" "Aku mencintainya Ma, sekali saja beri kebebasan padaku menentukan pilihan sendiri" "Tahu apa kamu soal mencintai. Kamu hanya mendekatinya karena dia mirip dengan ..." "Cukup Ma, itu masa laluku dan jangan banding-bandingkan dengan saat ini" "Baiklah, bawa dia kesini untuk berkenalan denganku" Meski tahu hal ini tidak mudah namun Reksa yakin jika hal ini satu langkah lebih maju dari rencananya untuk menentukan pilihan adalah membawa Ana kehadapan Monica. Mobil memasuki pelataran rumah. Membuka perlahan pintu disampingnya, Reksa keluar dan berjalan memutar menuju sisi lain mobilnya membukakan pintu untuk Ana. Gadis itu masih saja pucat, tanganya terasa dingin saat Reksa membantunya berdiri keluar dari mobil. Keduanya berjalan beriringan memasuki rumah. Ketika pintu terbuka, jantung Ana terasa ingin keluar dari peraduanya begitu menatap ngeri pada rumah megah nan mewah dengan pilihan perabot berkelas wahid. Langkah demi langkah terasa amat berat baginya. Begitu sampai di ruang tamu, disana disalah satu sofa tengah duduk Monica dengan majalah ditanganya. "Ma" Reksa memecah keheningan dengan memanggil Monica seakan menunjukan bahwa dirinya sudah datang sesuai keinginanya membawa serta Ana. Monica menoleh menatap Ana dari ujung rambut hingga ujung kaki layaknya sedang menilai apa yang tengah dikenakan gadis itu. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis kemudiam menghela nafas berat. "Duduklah" Dibantu Reksa, Ana duduk di sofa yang berseberangan dengan Monica sedangkan Reksa disamping Ana. "Papa menunggumu di ruang kerjanya. Ada kerja sama yang harus kalian bicarakan" ucap Monica sambil memandang Reksa mengisyaratkan agar dirinya menjauh dari obrolan empat mata yang akan dilakukan sebentar lagi denganya dan gadis yang tengah menunduk cemas disampingnya. Meski berat, namun tatap tajam Monica semacam ancaman yang mau tidak mau harus dituruti. "Aku pergi dulu keatas Na" pamit Reksa dengan suara lirih yang diangguki Ana dengan amat berat. Bahkan untuk menjawab saja ia tidak sanggup. Ia butuh Reksa disampingnya saat Monica mengajaknya mengobrol. Namun melihat ancaman dari tatapan wanita lima puluh tahunan tersebut mau tak mau ia harus bertahan. Reksa berjalan menaiki undakan anak tangga menuju lantai dua rumahnya menemui Papanya di ruang kerja yang berdekatan dengan kamar tidurnya. Sementara itu, Ana menelan ludahnya susah payah melihat Monica yang tengah menutup majalahnya kemudian mengangkat kaki kanan untuk ditumpangkan pada kaki kirinya. "Ariana, bukankah itu namamu?" Monica memulai percakapanya. Ana mengangguk perlahan. "Reksa bilang dia menyukaimu" Mendengar penuturan itu membuat Ana terkejut. Suka dalam artian mereka berteman atau suka yang ditujukan sebagai lelaki pada lawan jenisnya ia masih bingung. "Tidak seperti itu Tan, kami hanya berteman" Senyum mengejek ditampilkan Monica mendengar jawaban menyangkal Ana. Jelas-jelas Reksa begitu memuja perempuan itu hanya dengan sekali Monica melihat perubahan sikap anaknya yang kelewat lembut. "Akan lebih baik jika tidak berkenalan sejak awal. Kamu tahu, Reksa hanya menjadikanmu pelampiasan karena hatinya pernah dihancurkan oleh perempuan gembel sepertimu. Mendekati Reksa untuk mengeruk hartanya bahkan hampir mengubur impianya menjadi Dokter gara -gara perempuan sialan itu." Ana meremas ujung kemejanya amarahnya yabg siap meledak saat itu juga namun dengan kuat ia tetap menahan. Dia sedikit bingung sebenarnya apa yang hendak dikatakan Monica menyangkut pautkan dengan masa lalu. Bukankah dia dan Reksa hanya berteman?. "Maksud Tante?" "Mungkin Reksa belum bercerita padamu. Jika selama ini dia mendekatimu karena ingin balas dendam pada perempuan masa lalunya yang ternyata memang mirip sekali denganmu" lanjut Monica sambil menyeduh teh yang baru saja disuguhkan padanya dan tamunya. "Tapi Tante salah mengira. Saya dan Reksa benar-benar tidak ada hubungan khusus seperti yang Tante pikirkan" sanggah Ana tidak terima dengan kesalah pahaman tersebut. "Awalnya hanya berteman, karena kata cinta tidak dibutuhkan saat kamu mengahancurkan segalanya kemudian" sungguh Ana semakin tidak mengerti. "Mungkin kamu tidak sadar jika Reksa menyukaimu saat ini. Tapi kebaikan yang dia tunjukan padamu semata hanya kedok sebelum saatnya tiba dia akan menghancurkanmu" "Harusnya sadar dengan posisimu, tidak lebih dari kotoran yang tanpa sengaja menempel pada Reksa. Jauhi dia sebelum kuhancurkan seluruh keluargamu Nona Ariana" Ana sudah tidak sanggup menahan bendungan air mata yang menggenang di pelupuk matanya ingin segera meledak. Matanya panas, telinga pun dengan hatinya. Serendah itukah dirinya dimata Mama Reksa yang amat angkuh tersebut? Berteman dengan Reksa bukan keinginanya. Lagipula entah kenapa Reksa memilihnya menjadi teman dan apa tadi Monica bilang bahwa Reksa menyukainya? Omong kosong dengan pernyataan itu, baginya mengharapkan Reksa menyukainya seperti pungguk merindukan bulan. Tidak akan sampai walau berjalan dengan keyakinanya. Dan selama ini dia hanya menganggap Reksa tak lebih dari sosok kakak sekaligus teman baginya. Dan apa pula maksudnya pelampiasan, masa lalu, mengahncurkan. Ana semakin bingung. Bahunya bergetar menahan tangis yang ternyata tidak sanggup ia pertahankan. Pikiranya bingung, hatinya sakit. Tanpa pikir panjang dia berdiri kemudian berpamitan dan berlari secepat mungkin keluar dari rumah Reksa. Berlari sampai diluar pintu gerbang yang langsung dibuka oleh satpam. Ia menangis sejadi-jadinya. Mengapa ia harus direndahkan seperti itu hanya karena berteman dengan seorang Reksa Hadi? Badanya luruh masih dengan isaka tangis. Kedua tanganya menangkup wajahnya yang basah. Tak dihiraukan usapan lembut pada bahunya yang mencoba menenangkan. "Maaf Na" ucap lembut Reksa yang berjongkok disampingnya. Ana menoleh masih dengan uraian air matanya. Menatap tajam pada Reksa penuh kebencian. " Apa kamu menyukaiku? Jawab!" Sentak Ana membuat Reksa kaget. Laki-laki itu mengangguk. " Kamu mendekatiku dengan semua perlakuan manis selama ini, menyukaiku kemudian berharap akupun akan membalas perasaanmu. Dan ketika aku bergantung padamu,dengan mudah kau hempaskan sejauh mungkin. Apakah seperti itu skenario balas dendam yang kau inginkan? Menghancurkan perasaan orang yang mungkin sudah menyerahkan hatinya untukmu hanya untuk menawar rasa sakit seperti yang kamu alami dulu?" Celoteh Ana berteriak mengeluarkan emosinya. Reksa hanya diam, dia tidak ingin menyela apapun yang Ana ucapkan. Bukan karena ia mengakui perbuatanya namun menyela orang yang sedang didera emosi hanya akan menyulut amarahnya saja. Jadi lebih baik ia diam dan mendengarkan Ana. "Keluargaku memang tidak sekaya dirimu, tapi kami punya harga diri yang tidak bisa diinjak sesuka hati. Untung saja aku tidak menyukaimu Reksa Hadi, dan kemungkinan kamu membuangku juga kecil. Namun sayang, kamu berhasil membuatku hancur. Hancur karena merasa bodoh sudah percaya padamu, pada pertemanan yang kau tawarkan, pada kebaikan palsu karena semua itu hanya sandiwara" Tangisanya mulai reda namun rasa bencinya menggebu menatap Reksa yang menundukan wajah. Dengan sisa tenaga Ana bangkit, berjalan sedikit terhuyung menuju tepi jalan raya berharap ada kendaraan yang dapat ia tumpangi untuk sampai di rumah. Tak dihiraukan permintaan Reksa untuk mengantarnya. Menepis kasar tangan laki-laki itu sambil terus berjalan. Reksa akhirnya membiarkan Ana pergi. Bagaimanapun juga dia akan menjelaskan semuanya, tidak untuk saat ini. Penolakan terang-terangan dari Ana membuatnya mengerti bahwa gadis itu butuh waktu sendiri. Ana yang berjalan tanpa arah tiba-tiba teringat dengan Radit. Segera ia mengirimkan pesan singkat agar Radit menjemputnya segera. Menunggu Radit sambil termenung di pinggir jalan. Mengingat kembali penghinaan yang masih membekas dihatinya. Seumur hidupnya dia tidak pernah dihina serendah itu. Jika memang mendekati Reksa adalah larangan keras. Baginya tidak masalah, teman tidak hanya Reksa. Dan beruntung dia tidak melibatkan hati untuk jatuh pada pesona seorang Dokter incaran kaum perempuan tersebut. Benar apa yang diucapkan Mamanya, ketika bertemu dengan laki-laki yang penuh jerat dan tipu muslihat seperti Reksa. Belum tentu hatinya seindah wajah tampanya, semanis tutur katanya. Dan mapan? Bahkan kekayaan tidak sebanding dengan rasa syukurnya. "Ayo naik" suara Radit sedikit berteriak sekaligus menyadarkan Ana yang terlihat melamun. Sadar dengan kedatangan Radit, Ana segera menerima helm dari tangan Radit. Mengenakanya kenudian duduk dibelakang Radit. "Jangan pulang ke rumah Dit" lirih Ana sebelum Radit menyalakan motornya. "Lalu kemana?" Bingung Radit juga dengan permintaan Ana. "Kemana saja yang penting jangan bawa aku pulang dalam keadaan berantakan begini" Radit nampak berpikir sejenak. Dan dia tersenyum penuh arti. Sepertinya ia tahu kemana harus membawa Ana saat ini. ---------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD