Perjanjian Masa Lalu

1565 Words
"Ini dimana?" Tanya Ana bingung begitu dirinya sampai di halaman sebuah rumah berdinding kayu ulin. Memang lebih kecil dibandingkan rumahnya namun terlihat lebih asri dengan tanaman bunga didalam pot yang berjejer rapi di teras. Dari halaman tempatnya sekarang berdiri karena motor Radit memang berhenti didalam pekarangan rumah, ia melihat banyak sandal berserakan seakan didalam sedang kedatangan banyak tamu. Jika dilihat sekilas memang sandal tersebut terlihat banyak dan semuanya berukuran .... anak kecil. Ana mengernyit bingung dengan jumlah sandal dan semuanya ukuran kecil. Suara riuh serta tawa juga terdengar dari dalam dan semuanya memang serba anak-anak. "Rumahku, ayo masuk" Ana melepas helm kemudian berjalan mengikuti langkah Radit masuk kedalam rumah. Begitu masuk, keduanya disambut teriakan manja menyebut nama Radit dengan panggilan Om. Di ruang tamu tanpa meja maupun kursi, tengah berkumpul anak-anak berusia sekitar delapan atau sembilan tahun yang jumlahnya sekitar sepuluh orang. Mereka semua duduk melingkari sebuah kue ulang tahun berhias lilin berangka sembilan. Kue tart dengan warna putih, dengan desain sederhana namun tetap cantik dengan hiasan bunga yang terbuat dari kocokan putih telur dan mentega, berwarna merah muda layaknya sebuah mawar yang siap dipetik. "Lama deh Om Adit, Lili sama Iko nungguin dari tadi" ucap seorang gadis kecil yang tengah kesal sambil bersedekap. Radit menghampirinya kemudian menyerahkan sebuah bungkusan kado dari dalam tasnya. "Maaf Lili sayang, Om tadi masih beli kado dulu dan jemput teman kakak, tuh orangnya" Tunjuk Radit mengarah pada Ana yang duduk bersila disamping pintu. Ana yang kaget dengan arah mata semua anak menatap padanya langsung tersenyum. Radit mengisyaratkan padanya agar membantu memberi alasan pada gadis kecil tersebut. "Iya, maaf ya adik-adik tadi Om Radit masih menjemput kakak terlebih dulu" alasan Ana seolah mengerti dengan isyarat Radit. Memang benar bukan jika Radit menjemputnya di pinggir jalan? "Ya sudah ayo kita mulai acaranya" Seorang perempuan cantik memakai hijab ungu mendampingi gadis kecil tersebut bersebelahan dengan Radit yang kini ikut bertepuk tangan menyanyikan lagu selamat ulang tahun disusul tiup lilin seperti acara ulang tahun pada umumnya. " Kue pertama Lili berikan buat Mama" ucap gadis kecil yang menyebut namanya Lili seraya menyerahkan potongan kue di tanganya untuk disuapkan kepada perempuan berhijab tadi. Potongan kedua untuk dua laki-laki berbeda generasi yang tengah saling suap menyuapi. Radit terlihat penuh sayang pada gadis bernama Lili tersebut dan laki-laki yang menerima suapan kedua dari Lili. Entah kenapa Ana merasa melihat potret keluarga bahagia yang terpampang jelas dihadapanya. Bahkan saat Radit yang mengecup kening perempuan tersebut begitu kentara rasa sayang yang memancar membuat d**a Ana tiba-tiba sesak. Siapa perempuan cantik nan anggun tersebut? Jika Lili memanggil perempuan itu 'Mama'dan Radit dipanggil 'Om' apakah itu calon Radit yang notabene sudah memiliki anak? Atau memang itu keluarga Radit seperti yang diceritakan padanya dulu, tapi kenapa tidak didampingi suaminya disaat acara bahagia anaknya? Bernbagai pertanyaan menyelimuti benaknya,seperti biasa. Ana selalu bergelayut dengan kemungkinan, dugaan dan prasangka dalam benaknya yang pada akhirnya hanya menimbulkan hasil tidak memuaskan. "Heh, bengong!" Tegur Radit yang ternyata sudah duduk disebelahnya. "Ayo kesana aku kenalin sama dua keponakanku dan itu Mira, kakak perempuanku" tunjuk Radit sambil menggiring Ana mendekat kearah tiga orang yang sedang membagikan potongan kue ulang tahun. "Yang besar ini namanya Lili dan adiknya Iko" mendengar namanya disebut, kedua bocah itu meletakan kue yang hendak dibagikan secara estafet, untuk menyambut tangan Ana yang tengah disodorkan dan dibiarkan menggantung. Mencium tangan Ana secara bergantian diikuti dengan memperkenalkan nama masing-masing. "Ini Kak Mira" lirih Radit seraya menepuk pundak kakaknya agar menghentikan kegiatan memotong kue, menyambut uluran tangan Ana dan memeluk hangat saling menempelkan pipi kanan dan kiri bergantian. "Silahkan dinikmati acaranya ya, Maaf Kakak tinggal dulu" pamit Mira yang kemudian berjalan masuk. Beberapa sat kemudian kembali keluar membawa beberapa bungkus sovenir ulang tahun yang dikemas dengan sangat lucu. Melihat kesibukan tuan rumah, Ana berniat membantu namun dicegah oleh Radit. "Nikmatin aja wadai nya, biar aku yang bantu" Radit bangkit berdiri membantu kakaknya sedangkan dirinya sekarang hanya diam sambil memperhatikan anak-anak yang bersenda gurau di sekelilingnya. "Tante teman apa pacarnya Om Radit?" Tanya anak laki-laki kecil yang tadi memperkenalkan diri bernama Iko. "Eh masih kecil sudah tahu pacar ya kamu ini" Ana menoel ujung hidung Iko gemas. Terang saja anak sekecil mereka sudah paham soal pacar, kekasih, bukankah setiap hari mereka disodori tontonan yang selalu menunjukan hubungan remaja masa kini yang seakan mewajibkan adanya status hubungan 'kekasih' dalam pergaulanya? "Soalnya Om Radit tidak pernah membawa teman perempuan datang ke rumah selain kakak" terangnya sambil menatap kearah langit seoalah sedang berpikir atau mengingat sesuatu. "Ya karena Kakak sendiri yang meminta datang" bohong Ana sedikit menghibur anak itu. "Kenapa?" Sahut Lili yang ikut bergabung dalam percakapan adiknya. "Karena Kakak ingin mengucapkan selamat ulang tahun buat Lili. Kakak datang khusus biar bisa mengucapkan dan memberikan ini" Ana mengulurkan tanganya yang mengepal. Begitu kedua anak tersebut memperhatikan kepalan tangan Ana, dengan perlahan jari jemari Ana membuka kepalan dan ... kosong! Ana tersenyum melihat ekspresi bingung sekaligus kecewa pada wajah Lili dan Iko. Mereka pikir akan ada hadiah namun kenyataanya ketika tangkupan tersebut dibuka tidak ada isinya sama sekali. "Kok kosong Kak?" Celetuk Iko penasaran. "Kosong karena hadiahnya masih didalam sini" tunjuk Ana pada tas selempang yang tengah dipangkunya. Dikeluarkan dua batang coklat dan menyerahkan pada Lili dan Iko. Keduanya sangat girang mendapat hadiah dari Ana. Ucapan terima kasih oa terima dari Lili yang dibalas dengan rengkuhan sayang dan ucapan selamat ulang tahun untuknya. Ana merasa ingin berterima kasih pada Radit yang membawanya mampir ke sebuah minimarket untuk membeli tissue dan air minum begitu melihat penampilan Ana yang mengenasakan. Dan disana pula ia membeli coklat lima batang. Memang Ana sering memakan coklat-coklat tersebut jika dirasa hatinya sedang kacau, seperti saat ini. Dan ternyata pilihanya membeli coklat adalah tepat. Memberikan sebagai kado? Hanya itu yang cepat ditangkap oleh pikiranya seakan merasa tak enak hati datang tanpa memberi sesuatu. "Maaf ya Kakak tidak tahu apa yang kalian suka. Tapi sebagai hadiah spesial, Kakak akan mengabulkan satu permintaan dari Lili" Mendengar hal itu Lili tampak berpikir serius. "Kenapa hanya Lili? "Cibir Iko tak terima. "Aku kan yang ulang tahun Dek, jadi hadiah spesialnya buat kakak" Iko merengut kesal sedangkan Lili masih tampak berpikir. " Bingung Kak, nanti saja kalau sudah ketemu permintaanya pasti langsung Lili kasih tahu Kakak" putus Lili akhirnya. Ana hanya mengangguk sambil mengangkat ibu jarinya keatas. Dari tempatnya berdiri, Radit mengulum senyum melihat Ana dan dua keponakanya begitu akrab. Pikiranya seakan melayang pada masa dimana ia pernah mengenal sosok serupa dengan gadis itu. Masa dimana ia mencoba menguatkan hati agar tidak jatuh terlalu dalam pada harapan untuk memilikinya. Masa dimana jarak dan waktu harus tetap ada untuk memberi jeda agar semua rencana masa depanya sesuai dengan keinginan beberapa pihak. Meski ada luka yang kemudian hadir mengiringi, meski ada ragu yang terselip karena titah tak terbantahkan untuknya. ************** Sepulang dari rumah Radit, Ana langsung diantar pulang ke rumah sambil membawa bungkusan sovenir yang diberikan langsung oleh Mira dengan sedikit memaksa. Duduk bersandar pada tumpukan bantal sambil menikmati makanan ringan yang dibawakan Mira sebagai sovenir ulang tahun Lili. Kesedihan hari ini sedikit terobati dengan bercengkrama bersama keluarga Radit. Lili dan Iko hanya berjarak satu tahun. Setelah kedua orang tua Radit meninggal, dia ikut tinggal bersama Mira. Suami Mira sendiri bekerja di tambang batu bara, terang saja tadi dia tidak mendapati kehadiranya. Toktok... Suara ketukan pintu membuat Ana segera beranjak membukakanya. "Ada apa Ma, Pa kok tumben main serbu begini" Rima hanya tersenyum simpul. Kedua orang tua tersebut masuk kedalam kamar anaknya. Hendra mengambil kursi didepan meja rias sedangkan Rima duduk di tepi ranjang. Ana sendiri kembali pada posisinya tadi. "Nak, Mama sama Papa ingin membicarakan sesuatu" ucap Rima hati-hati. "Iya Ma, ada apa sih kok sepertinya serius?" Balas Ana seakan bingung dengan sikap kedua orang tuanya yang teramat serius membicarakan sesuatu. "Kami, ehm sebenarnya kamu dan..." ucap Rima ragu-ragu bahkan kalimatnya terbata-bata. "Ada sebuah wasiat saat Mama dan Papa dulu masih muda. Perjanjian sebagai tanda persahabatan dengan sepasang suami istri untuk menjodohkan anak kami masing-masing" Bagaikan petir yang menyambar pikiranya seketika itu saat mendengar kabar amat mengejutkan. Apa karena inilah alasan orang tuanya melarang berhubungan serius dengan laki-laki manapun sebelun menyelesaikan strata satu? Apakah karena sejak dulu ia telah dipersiapkan untuk jodoh seseorang berdasar perjanjian yang Ana sendiri bingung kenapa perjanjian yang bahkan tidak bertanda tangan dan materai itu teramat dipercayai? "Nak, maaf kami selalu melarangmu menjalin hubungan serius dengan lelaki lain, salah satu alasanya karena hal ini" lanjut Rima melihat anaknya tak bergeming bahkan aura kemarahan dan kekecawaan sudah terlihat di raut wajah Ana. "Aku tidak mau" jawabnya tegas kemudian memalingkan wajah. "Kenapa harus aku? Dan semudah itu Mama menyerahkan masa depanku pada orang asing hanya berlandaskan perjanjian masa lalu yang keabsahanya saja mungkin sangat diragukan. Apa karena keluarga itu sangat kaya sampai Mama rela mengekangku selama ini, menyerahkanku suka rela pada mereka?" Ucap Ana emosi. Hendra tampak murka dengan tuduhan keluarga kaya dan keabsahan perjanjian tersebut. Ingin rasanya ia berdiri dan menutup mulut anak gadisnya yang terlihat berlebihan dengan asumsinya namun Rima menahan laju badan suaminya yang hendak bergerak. "Ini yang terbaik untukmu Nak, tolong mengertilah" mohon Rima pada anaknya. Nafas Ana masih tersenggal karena emosinya saat ini. Orang kaya, pasti keluarga mereka amat kaya sampai-sampai kedua orang tuanya tunduk dengan perjanjian sialan itu. Ana membenci kosa kata 'kaya' . Hari ini karena kata itu ia dihina, dan karena kata itu pula ia akan diserahkan tanpa memikirkan perasaanya. "Tahu apa Mama soal baik buruk kehidupanku" Rima menunduk mengerti anaknya sedang dilanda syok dan emosi. Tanpa berpamitan ia dan suaminya keluar dari kamar anaknya untuk memberi waktu agar Ana lebih tenang. Dadanya sesak lagi. Kenapa harus dirinya? Kenapa bukan kakaknya yang lebih tua usianya dari dirinya? Dengan segera ia meraih handphone yang tergeletak disamping bantal. Ia harus menghubungi seseorang ---------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD