Who Is Prawira?

1573 Words
Piring berisi sanggar pisang didalamnya sudah hampir habis. Dari lima buah sanggar pisang kini tinggal dua saja. Dan Ana menghabiskanya dalam kurun waktu dua jam selama kegiatan penelusuran data atas nama Wira melalui berbagai macam bentuk sosial media. Dan hasilnya nama tersebut terlalu banyak, ribuan nama Wira memenuhi mesin pencarian data. Banyak Wira yang akhirnya muncul, dari sekedar nama orang, nama toko, nama calon artis yang sedang mengikuti ajang pencarian bakat dan nama tempat usaha yang amat bervariasi. Akun dengan nama Wira juga tak kalah banyak dan tidak mungkin Ana akan menilik satu persatu hanya untuk mengikuti rasa penasaranya. "Kenapa gak telepon langsung aja kalau penasaran orangnya?" Celetuk Ani yang sudah datang kemudian langsung duduk disamping adiknya. "Takut ganggu" Jawab Ana tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptop nya. "Kalau kamu yang gangguin juga dia gak bakalan marah. Mana ada ditelepon calon istri dibilang ganggu?" Mendengar kata 'calon istri' entah kenapa pipinya memanas. Apakah akan sejauh itu hubunganya nanti? "Atau Mbak aja nih yang telponin" baru saja Ani akan meraih ponsel adiknya yang tergeletak diatas meja, tangan Ana dengan sigap mendahului. Kejadian memalukan malam itu saja masih membekas malah sekarang dia hampir mengulangi gara-gara keisengan kakaknya. "Enak aja main telpon dia. Yang ada Mbak bikin aku kehilangan muka sebelum ketemu dia" "Eh ciye punya malu juga ternyata" goda Ani seakan tak pernah habis membuat adiknya kesal. Kapan lagi ia bisa sedekat ini dengan adiknya. Bertahun-tahun mereka terpisah sejak dirinya masuk sekolah menengah atas di kota Surabaya. Memilih tinggal bersama tantenya adalah keinginanya sendiri meskipun ada sangkut pautnya dengan permintaan adik ibunya tersebut yang menginginkan Ani menemaninya tinggal karena beliau seorang janda. Dengan berpikir berkali-kali Ani akhirnya setuju tinggal bersama tantenya dan terpisah dengan adiknya yang tengah mulai memasuki bangku sekolah menengah pertamanya. Masih dalam genggaman Ana, ponselnya tiba-tiba berbunyi membuatnya langsung memicingkan mata. Menatap layar ponselnya yang tengah menyala menampilkan sebuah nama yang sedari tadi dicarinya. Wira Tengah melambai dengan alunan nada Over the Horizon didepan matanya. Dan Ana, masih terpaku memandangnya hingga suara deheman keras dari kakaknya langsung tersadar dari keterpakuan dan menggeser warna hijau kemudian menempelkan pada daun telinganya. Sengaja dia berdiri dan menjauh dari kakaknya menuju kamar agar pembicaraan dengan Wira bebas dari gangguan Ani. Entah apa saja yang dibicarakan mereka kali ini. Teramat canggung pada mulanya namun seiring berjalanya detak jam pada dinding kamar serta diatas nakas yang berkali-kali, peecakapan terasa menyenangkan kemudian. Bahkan Ana tidak sadar jika waktu yang mereka lalui sudah hampir dari satu jam. Jika saja bukan karena ketukan pintu kamar oleh Ani untuk mengingatkan adiknya jika hari sudah mulai sore dan rutinitasnya menyirami tanaman, mungkin dia tidak akan melepas ponselnya sampai esok hari. Rumah ini memang tidak memiliki asisten rumah tangga karena Rima dan Ana terbiasa melakukan pekerjaan rumah dengan tangan mereka sendiri. Meskipun mampu jika memiliki seorang asisten dan seorang sopir pribadi yang mengantar Hendra berangkat kerja. Namun semua kembali pada nilai kemandirian yang ditanamkan Rima. Selama masih dapat dikerjakan sendiri, jangan sampai bergantung pada orang lain. Dan sejauh ini Ana terbiasa melakukan pekerjaan menyapu, mengepel, menyirami bunga dalam pot yang berjejer di teras. Sedangkan untuk urusan memasak memang dipegang oleh Rima dan tetap saja dengan bantuan Ana. Bagaimanapun juga Ana adalah perempuan dan sudah sewajarnya ia harus mengerti cara memasak. Ana menutup teleponya setelah berpamitan pada seseorang di seberang sana kemudian turun kebawah menuju teras untuk mencari kran air. Mengisi timba yang sudah diletakan dibawah kucuran air kran hingga setengah dan mulailah ia mengambil sedikit demi sedikit air dalam tampungan timba menggunakan gayung kecil lalu menyiramkanya pada deretan pot bunga satu persatu. ************************* Seorang laki-laki mengulum senyum sambil menatap layar ponselnya yang masih terasa panas. Terang saja karena selama lima puluh sembilan menit ia menggunakan ponselnya untuk bertukar informasi diri dengan seorang perempuan. Awal yang bagus menurutnya karena si gadis sudah mulai menerima keadaan ini. Sambil merapikan tumpukan buku diatas meja yang sebagian terbuka dan sebagian berserakan, ia melihat pesan singkat yang baru saja masuk. Dari seorang perempuan tapi bukan dia yang baru saja menghabiskan hampir satu jamnya di telepon. Senyumnya terukir setelah mendapat pesan tersebut. Prawira. Laki-laki itu memperkenalkan dirinya dengan nama Prawira pada gadis pilihan orang tuanya. Meskipun cukup dengan memanggil Wira, nama kecil yang hanya sebagian orang mengetahui. Sedang menempuh pendidikan S2 hasil beasiswa yang diperolehnya atas paksaan dari kakaknya. Awalnya ia tidak tertarik mengikuti seleksi mendapatkan beasiswa namun tanpa sepengetahuanya, sang kakak telah mendaftarkan nilainya untuk bersaing dan tak lama kemudian saat tes tulis dan lisan akan dilaksanakan ia baru mengetahui rencana kakaknya. Entah keberuntungan darimana sehingga ia dinyatakan lolos padahal saat tes berlangsung ia tidak menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Meskipun kampus yang dituju harus menempuh jarak lumayan jauh ke pulau seberang namun tidak mengapa toh perjalanan jalur udara yang ia lalui sudah ditanggung sepenuhnya sebagi ganti biaya tinggal, lagipula ia hanya akan mengikuti kelas dua kali dalam seminggu tepatnya hari jumat dan sabtu saja. Selain hari itu ia tetap bisa menjalankan pekerjaanya yang lain di bengkel. Tempat usaha yang ia dirikan tiga tahun terakhir karena kecintaanya dalam bidang otomotif. Usianya sudah dua puluh enam tahun sehingga perjanjian masa lalu itu harus segera dilaksanakan meski sampai detik ini keduanya masih menginjak saling mengenal via suara saja. Tapi biarlah waktu berjalan sesuai rencana agar keduanya mulai terbiasa. ******************** "Mbak, hape nya bunyi terus" teriak Ana yang sedang mengetik di laptop. Besok pagi dia akan bimbingan hasil penelitian bab empatnya. "Mbak....." teriak Ana sekali lagi pada kakaknya yang entah kemana. Dering ponsel kakaknya terus menerus berbunyi membuat Ana terpaksa menjawabnya. Nama Fabby tertera jelas dari layar sehingga ia tahu bahwa calon kakak iparnya lah yang sedang menelpon. Menggeser warna hijau untuk menjawab. "Maaf Mas, Mbak Ani masih keluar tadi" ucap Ana begitu suara diseberang mengucapkan salam dan kata 'sayang' , mungkin dikiranya yang menjawab telponya adalah kekasihnya. Ana terkikik geli mendengar suara Faby yang salah tingkah saat ia mengaku bukan Ani. Sedikit malu mungkin hingga Faby buru-buru menutup telepon dan akan menelponya nanti saat Ani sudah tiba. "Kenapa senyum-senyum?" Ani yang baru masuk dan melihat adiknya terkikik geli merasa heran. "Mas ipar lucu ya" Ani melebarkan matanya. Mas ipar itu apakah yang dimaksud adalah Faby? Melihat ponselnya tergeletak disamping ponsel adiknya segera disahut. Melihat daftar panggilan masuk dan segera menghubunginya kembali. "Kamu bilang apa sama Faby?" Tanya Ani begitu ia selesai menelpon kekasihnya. "Gak bilang apa-apa kok Mbak. Cuma ngasih tahu yang angkat ini bukan Mbak tapi aku, adeknya. Lah dia langsung panggil 'sayang' gitu pas baru salam. Geli tahu" "Itu wajar, kalau pengen dipanggil gitu minta aja sama Wira. Seribu kali dalam seharipun dia sanggup panggil kamu yank, beb, atau bun-bun kayak tren anak alay sekarang tuh" Ana merengut kesal dengan tingkah absurd kakaknya yang selalu berhubungan dengan Wira. "Ish yang manis yang seger, yang bebek yang ayam, yang di ubun-ubun yang di ketiak" ledek Ana membalas beberapa panggilan gaya anak muda yang baru saja disebutkan kakaknya membuat keduanya mau tak mau terpingkal-pingkal. "Mbak darimana sih daritadi lama amat keluarnya" tanya Ana begitu tawa mereka sudah reda dan Ani ikut duduk selonjoran bersama adiknya. "Tadi cari tiket buat pulang besok" "Loh kok udah pulang sih baru berapa hari disini" keluh Ana yang masih merindukan sosok kakaknya untuk tinggal lebih lama. "Mbak mau siapin acara lamaran minggu ini. Nanti kamu kan juga kesana" "Bukanya bulan depan acaranya tu?" Seingat Ana memang kakaknya bilang lamaran diadakan bulan depan. "Dua hari lagi udah masuk tanggal 1 Dek, dan itu udah dinamakan bulan depan. Gimana sih masih sekolah gak inget tanggal sama bulan" Ana menepuk jidatnya merasa t***l. Bulan depan kan memang tinggal dua hari lagi. Salahnya sendiri yang tidak memantau perkembangan tanggal. Ngomong-ngomong tentang bulan depan, Ana langsung membuka ponselnya mencari kalender. Ya, dia menemukan tanda pada kalender ponselnya bahwa akhir bulan depan adalah jadwal ujian skripsi gelombang pertama. Jadi tanpa sadar target menyelesaikan tugas dan mengikuti ujian pada gelombang pertama sudah semakin dekat. "Jangan bilang lihatin kalender karena kamu telat datang bulan" tebak Ani sedikit menggoda adiknya yang tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah tidak jelas dari bingung, terkejut, panik, serius dan terakhir adalah penuh tekad. "Gak usah mulai deh Mbak, aku ini baru inget kalau akhir bulan depan ada ujian skripsi gelombang pertama" mendengar hal itu Ani hanya ber oh tanpa ingin menyela ekspresi serius adiknya. "Radit!" Pekik Ana seketika membuat Ani bingung dengan tingkah adiknya yang semakin membuat dirinya panik. Dalam hati ia berpikir apa dulu saat menghadapi ujian juga seheboh adiknya? Begitu menyebut nama yang diingatnya barusan, ia mengetik pesan singkat agar besok pagi menjemputnya di rumah karena ia ingin menemui dosen pembimbingnya, segera agar tugasnya cepat selesai. "Siapa Radit?" Tanya Ani yang penasaran. "Oh dia tukang ojek langgananku" "Kamu bukanya bisa naik motor sendiri kenapa diantar ojek?" "Gara-gara aku kecelakaan, Papa melarangku naik motor untuk sementara waktu". Mendengar kata kecelakaan membuat Ani kaget. Dalam bayanganya kata 'kecelakaan' adalah hal negatif mengingat ia pernah mengalami konotasi dari kata 'kecelakaan' . "Kecelakaan? Kamu gak luka parah kan Dek?" Panik Ani. "Gak kok cuma luka di siku sama kaki. Untung saja yang nabrak mau tanggung jawab. Dan kebetulan dia juga Dok....." kalimat Ana menggantung. Dokter, ya Dokter yang membuatnya berada dalam situasi mencekam selama berada di dekatnya. Dan menyebut nama orang itu saja rasanya lidahnya kelu mati rasa. "Dok apa sih ih gak dilanjutin " "Dok .....ehm dia penjual soto dok" "Soto dok? Emang ada ya yang jualan soto dok keliling?" Heran Ani. Soto dok hanya sebutan untuk penjual soto ayam atau daging yang saat menuangkan kecap, penjual akan mengetukan dasar botol kecap dengan meja sehingga berbunyi dok!. Dan penjual semacam itu hanya bisa ditemui di beberapa daerah di pulau jawa namun tidak banyak juga. "Adalah, disini banyak orang merantau. Soto dok juga ikut merantau" alasan Ana asal agar kakaknya tidak bertanya lagi. -------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD