Secret

1536 Words
Lelaki itu menatap nanar sebuah liontin berbandul separuh hati yang sudah lama ia simpan dalam sebuah kotak persegi panjang yang terbuat dari kayu jati. Bukan hanya sebuah liontin saja yang ada didalamnya melainkan semua benda kenangan yang masih ia simpan rapi meski hatinya telah hancur bertahun-tahun lalu. Bandul separuh hati lainya yang benar-benar pergi bersama pemiliknya entah dimana. Jika saja egonya tidak mengambil peran terlalu besar mungkin saja pemilik hatinya masih bersemayam pada tempatnya. Kenangan pahit yang merubah semuanya. Merubah hidupnya, merubah mimpinya, merubah cara pandangnya hingga ia bertemu dengan gadis itu. Gadis bermata teduh, rambut panjangnya yang hanya diikat seadanya, senyum yang menebar kehangatan merasuk dalam dinginya rasa sepi yang mendera. Gadis itu mengingatkanya pada seseorang, wajar saja jika laki-laki itu tampak ingin dan selalu saja memiliki kesempatan berdekatan denganya. Mungkin inilah cara tuhan mengantarkanya pada kesalahan yang pernah ia lakukan. Kesalahan yang teramat fatal hingga kemungkinan akan dimaafkan begitu tipis, setipis nyalinya yang baru berani menyadari dosa nya disaat seseorang yang hanya mirip dengan masa lalunya hadir tepat dihadapanya dengan wajah malaikat. Diletakkanya kembali liontin tersebut didalam kotak. Diambilnya sebuah sapu tangan berwarna biru dengan bercak darah yang masih menempel. Merah yang kusam, saksi bisu dosa masa lalunya. Mata lelaki itu basah, merembes melewati kedua pipinya. Dibiarkanya turun seakan ini hanyalah sebagian kecil penyesalan tak berujungnya. Lelaki itu menangis tanpa suara, menangkap bayang samar air mata yang turun menbanjiri kedua pipi perempuanya yang disebabkan oleh keegoisan, keserakahan dan kelemahan. Keegoisan akan perasaan yang menggebu akan kepemilikan perempuanya, keserakahan pada nafsu rimbanya yang melesak begitu saja serta kelemahan pada akal sehatnya hingga membuatnya baru menyadari setelah semua terjadi, setelah waktu tak pernah kembali untuk mengulang agar masa itu tidak pernah terjadi. Ia lelah kali ini. Lelah pada dirinya yang selalu bersikap acuh seakan tidak pernah terjadi apa-apa hanya dengan menutupinya dnegan sikap baik yang selalu ia tunjukan pada yang orang lain. Sebuah surat yang dilipat rapi membentuk hati ia buka perlahan. Surat pertama yang ia terima dari perempuanya saat bunga cinta itu tengah merekah bak buah yang kala itu begitu ranum. Membuat hati diliputi perasaan gembira pun usia mereka yang masih begitu labil. Dibacanya perlahan kalimat demi kalimat yang ditulis penuh rasa sayang untuk dirinya. Rasa yang tulus diberikan oleh perempuanya sebelum sumpah serapah diakhir pertemuan itu terlontar langsung dari mulut pujaan hatinya. ********************** Ani tengah menikmati teh s**u buatan adiknya di dalam kamar Ana. Malam belum begitu larut dan terlalu dini jika memutuskan untuk tidur. Setelah menerima telepon dari Faby setelah magrib tadi, ia langsung menuju kamar adiknya karena malam ini ia ingin tidur berdua dengan Ana seperti saat mereka kecil. "Sudah berapa kali Mas Faby telepon hari ini Mbak?" Tanya Ana yang sedikit menyindir dan terganggu dengan kemesraan kakaknya dengan penelpon tidak tahu waktunya. Wajar jika Ana merasa kesal karena ia belum pernah merasakan perasaan jauh dengan orang tersayang seakan menelpon saling nemberi kabar ataupun bercerita kegiatan masing-masing adalah hal yang lumrah terjadi pada setiap pasangan. Dan Ana memang belum mengalaminya jadi belum bisa merasakan betapa tersiksanya memendam rindu berbatas jarak. "Lebih kayak minum obat" Gurau Ani sambil terkekeh. " Apa aku juga akan seperti itu denganya nanti?" Pikiran Ana menerawang pada keputusanya kemaren untuk mencoba berkenalan terlebih dahulu dengan calon yang dipilihkan orang tuanya. Betapa senang dan leganya perasaan Hendra dan Rima mengetahui anaknya sudah mulai menunjukan sikap setuju meski masih dalam tahap perkenalan. Dan seketika itu juga Ana diberikan sebuah nomor yang bisa menghubungkan pada calon suaminya. Hanya nomor karena calonya tersebut tengah melanjutkan pendidikan Magister di kota lain sehingga dalam masa perkenalan awal ini keduanya belum bisa bertemu. "Kenapa gak coba hubungi dia lalu kenalan?" Ana mencebik mendengar usul kakaknya. Dia kan perempuan apa wajar jika menghubungi dan mengajak laki-laki berkenalan terlebih dulu. "Daripada penasaran gak bisa tidur kayak kemaren, hayo pilih mana?" Ana merasa kesal saat kakaknya mengungkit insomnia nya yang kambuh gara-gara memikirkan bagaimana dia akan memulai berkenalan dengan laki-laki itu. Hingga pukul tiga pagi ia baru bisa memejamkan mata. "Gak usah gengsi gitu, sini biar Mbak saja yang telepon langsung" diraihnya ponsel milik Ana dengan cepat membuat sang pemilik menarik kembali. Terjadilah aksi rebut merebut ponsel yang kemudian dimenangkan oleh kegesitan Ani. Dengan muka memelas ia memohon pada kakaknya agar jangan menghubunginya dulu takut nanti laki-laki disana berpikir aneh padanya. Namun Ani tidak begitu saja luluh. Dengan mudah ia mencari nama laki-laki tersebut dalam daftar kontak di ponsel Ana karena dirinya mendengar nama itu disebutkan Rima saat memberikan nomor ponsel pada adiknya. Tut...... Tut..... "Halo" Jantung Ana seakan dipukul dengan palu karena detaknya begitu membabi buta saat suara itu terdengar dari ponsel yang dipegang Ani. Dengan gugup Ana menjawab sapaan singkat dari orang di seberang. "Ini benar Wira?" Tanya Ana mengikuti isyarat dari kakaknya dengan geralan bibir tanpa suara. "Iya, dan ini pasti Ariana. Maaf belum bisa menghubungimu karena beberapa hari ini ada sedikit kesibukan" Ana bingung apa yang harus diucapkanya lagi. Tidak mungkin mengikuti gerakan bibir kakaknya yang sekarang bergerak seperti sedang mencium. Ah dia bisa dianggap gila jika mengikuti kekonyolan kakaknya. "Oh sedang sibuk ya. Maaf juga kalau aku mengganggu. Bye.." Dengan gerakan cepat ia merampas dan memutus sambungan telepon dari ponsel miliknya yang digenggam Ani. Kakaknya tersebut tak hentinya terkikik geli melihat kegugupan adiknya barusan. "Udah gak usah gugup begitu nanti juga terbiasa. Malah ketagihan dengar suaranya yang seksi" goda Ani yang dihadiahi bantal melayang kearahnya. "Ih Mbak tega bikin aku malu diawal kenalan sama Wira" Ana merengut marah dan kesal. "Cie cie udah berani sebut nama. Kemaren cuma bilang 'orang itu' sekarang udah nama trus besok panggil yank, beb, honey, abang atau aw.... sakit Dek" ringis Ani begitu adiknya sudah menimpuk kepalanya bertubi-tubi. "Mbak godain terus sih ah...." Ani tertawa terbahak-bahak melihat adiknya yang kesal. Ia berharap semoga adiknya benar-benar bahagia dengan keputusan orang tua mereka. "Maaf deh maaf. Mbak cuma becanda biar gak tegang. Udah ah geser Mbak mau tidur" Ana menggeser sedikit memberi ruang pada kakanya tidur di ranjang miliknya. "Semoga dia yang terbaik untukmu Dek" ucap Ani tulus saat keduanya sudah bernaung dibawah selimut yang ditarik sebatas d**a. "Amin, Mbak juga semoga selalu bahagia dengan Mas Faby" balas Ana tak kalah tulus. "Jika suatu hari kamu mengetahui masa lalunya, cobalah berpikir bijak dan mendengarkan alasan kenapa dia melakukan semua itu" lanjut Ani yang ditanggapi Ana penuh kebingungan. "Mbak" "Hem" "Bagaimana soal masa lalu yang Mbak bilang kemaren?" Ani menoleh kearah adiknya kemudian tersenyum samar. "Kamu yakin ingin mendengar sebuah rahasia yang Mbak sembunyikan selama ini?" Ani merasa sudah saatnya adiknya tahu. Mengingat usianya sudah dewasa dan siapa tahu ia dapat belajar banyak hal terlebih saat ini adiknya akan mengenal lebih jauh calon pendampingnya. " Yakin" Jawab Ana sembari mengangguk mantap. Dan berceritalah Ani saat ia mulai mengenal seorang laki-laki si usia remajanya. Seorang laki-laki cerdas dengan wajah rupawan tengah menempuh pendidikan di salah satu Universitas terbaik di kota Surabaya. Dirinya dan laki-laki itu berkenalan tanpa sengaja saat Ani yang tengah mewakili sekolahnya mengikuti olimpiade yang diadakan di kampus laki -laki itu. Ani menjadi peserta sedangkan laki-laki itu sebagai salah satu panitia. Perkenalan pun berlanjut dengan bertukar nomor dan saling mengirim pesan singkat atau mendengarkan kabar melalui suara. Rasa itu hadir membuat keduanya tak bisa mengelak. Ani remaja yang tinggal bersama adik ibunya merasa tidak diberi pengawasan dan aturan ketat sehingga ia sering pulang terlambat hingga hampir gelap karena pergi berdua menikmati indahnya kota pahlawan bersama laki-laki itu. Hidup keduanya terasa penuh bunga yang ditebar sepanjang jengkal waktu tanpa mereka sadari harum semerbaknya telah menggoda naluri untuk mencicipi lebih rasa madu yang hadir disela harum bebungaan. Hingga malam saat acara ulang tahun teman laki-laki itu di sebuah tempat karaoke, Ani merasa ada yang aneh dengan minuman yang dituangkan untuknya oleh salah seorang perempuan yang turut hadir. Pesta ulang tahun yang hanya dihadiri empat orang teman dekat laki-laki itu bersama pasangan masing-masing seperti dirinya yang ikut datang sebagai pasangan. Minuman itu terasa panas membakar lidahnya hingga tenggorokan dan kerongkonganya merasa seperti itu. Dia merasa aneh karena sekalipun ia belum pernah merasakan rasa yang begitu menyiksa indra pengecapnya. Padahal laki-laki itu sudah melarang Ani meminumnya namun tetap saja Ani nekat menghabiskan dua gelas kecil minuman tersebut hingga kesadaranya terenguut. Rasa panas yang menjalar ditambah kesadaranya yang mulai hilang membuat laki-laki itu sedikit serakah menerobos akal sehatnya untuk mencicip ranumnya buah dengan paksa, menghisap manisnya madu dengan rakus hingga hanya ada gejolak penyesalan yang timbul bersamaan dengan jerit pilu kala kesadaran menghampirinya kembali. Ani meraung-raung tanpa henti. Sumpah serapah acapkali ia lontarkan begitu saja. Hatinya hancur bersama dengan harta paling berharganya. Trauma yang mendalam membuatnya harus didampingi psikiater selama beberapa bulan hingga kondisinya membaik. Dan sejak saat itulah ia menjalani kehiduapan pedesaan di kampung halaman bersama sang Nenek yang merawatnya dan tinggal terpisah dengan kedua orang tua dan adiknya karena pekerjaan Papa yang memaksa harus pindah. Meski berat untuk semuanya namun itulah pilihan terbaik yang dapat diambil saat itu. Ani mengakhiri kisah kelamnya sambil menghapus beberapa bulir air mata yang menetes melewati telinga karena posisinya yang sedang terbaring menerawang menatap langit-langit kamar. Ana tak menyangka kakaknya memiliki kisah mengerikan dalam hidupnya. Diusapnya pula matanya yang basah mendengar kisah barusan. " Mbak membencinya?" "Dulu iya tapi sekarang tidak" "Adakah kenangan denganya yang masih Mbak simpan?" "Selembar foto agar Mbak bisa mengingat wajahnya dan jika suatu hari kami bertemu, Mbak akan bilang padanya bahwa Mbak masih kuat meskipun sudah dihancurkan olehnya" Setelah mengatakan itu Ani mulai dilanda rasa kantuk namun tidak bagi Ana yang begitu penasaran siapa laki-laki tak tahu diri yang tega melakukan semua itu. ------------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD