9. Usil

856 Words
"Mau ke mana Do?" tanya Almeera saat Edo dan Lita mau pergi ke kamarnya. "Ke kamar gue lah Al," jawab Edo santai. "Dih apaan, duduk dulu gue mau ngomong bentar," titah Almeera pada Edo dan Lita. Edo dan Lita menuruti perkataan Almeera, Lita sangat kesal kenapa Edo selalu nurut pada Almeera. Ya dia tau Almeera sepupu kesayanganya, tapi nggak juga gitu keles. "Loe mau ngomong apa cepat?" paksa Edo, dia sangat lelah ingin segera pergi ke kamar kesayangannya untuk tidur. "Loe nikah sama Lita, terus sekarang Diska gimana? Loe nggak mikirin perasaan Diska sama sekali, loe kan tau gue yang jodohin kalian.Terus sekarang apa yang harus gue bilang, sama Diska dan Om Andre? Ingat pernikahan kalian itu tinggal menghitung hari, terus kamu bilang sudah menikah dengan wanita lain hancur hati Diska kalau sampai tau," omel Almeera. Sebenarnya Almeera tidak mempermasalahkan jika Edo menikah dengan Lita, tapi yang jadi masalah kenapa pernikahan itu terjadi. Saat Edo sudah melamar Diska, apalagi pernikahannya hanya tinggal menghitung hari. Sebagai seorang perempuan Almeera bisa merasakan rasa sakit Diska, apalagi sakitnya gara-gara Edo sepupunya. "Tenang, gue bakal nyelesain semua," jawab Edo santai. "Jangan sok santai Do, masalahnya rumit. Gue takut Om Andre pasti bakalan marah besar kalau tau loe batalin pernikahan karena sudah menikah dengan wanita lain." "Ya mungkin Edo memang punya cara kali yang," ujar Arkaan berusaha meredam amarah Almeera. "Cara apa?" "Tetap menikahi Diska, dan menjadikannya istri kedua Edo," jawab Arkaan sangat santai. Cubitan dan pukulan pelan Arkaan dapatkan, bagaiman tidak jawaban Arkaan sangatlah ngawur. Nyuruh Edo poligami, di kira dengan poligami terus masalah akan selesai. Nambah masalah iya, gimana nggak Edo belum tentu bisa adil. Terus emang Diska mau menjadi istri kedua? "Jangan ngasih ide macam-macam kali Mas, di kira enak apa di poligami. Apalagi jadi yang kedua, cukup Almeera yang merasakan jangan sampai Diska merasakannya," ujar Almeera tegas. "Iya, dan sorry ya gue bukan loe Ar. Yang suka berpoligami, cukup satu istri aja gue mah," jawab Edo. Arkaan merasa bersalah, dia seharusnya tidak berbicara seperti itu. Berpoligami memang tidak gampang, bahkan dia sendiri saja gagal kenapa malah mrnturuh Edo poligami. "Kalau Mas Edo mau poligami aku nggak papa kok, bahkan kalau mau ceraikan aku juga aku siap banget," ujar Lita tulus. Lita benar siap apapun keputusan Edo, dia akan menerima semuanya dengan lapang dada. "Pernikahan bukan permainan Lit, yang asal nikah terus minta cerai. Mungkin Allah sudah menjodohkan kalian berdua, dan membuat kalian menikah lewat penggrebekan itu. Cuma kalian salahnya hanya, kenapa pernikahan terjadi sebelum beberapa hari sebelum Edo dan Diska menikah. Sebagai seorang perempuan, kamu pasti bisa mengerti bagaimana perasaan Diska dong," ujar Almeera bijak. "Maaf, aku benar-benar tidak tau kalau beberapa hari lagi Edo akan menikah. Jika aku tau, aku pasti akan menolaknya lebih keras," balas Lita. "Edo nih ya, keterlaluan masa nggak bilang sama Lita kalau udah mau menikah sama Diska," ujar Arkaan. Arkaan sama sekali tidak mrmbeci Lita, hanya karena Lita sepupu Difa. Dia tau, Lita dan Difa mempunyai sifat berbeda. "Gue lupa, demi deh gue lupa banget kalau gue mau nikah sama Diska. Gue baru inget itu, waktu Mommy ngomong," jelas Edo. "Terus loe mau gimana Do?" tanya Almeera penasaran. "Yang jelas gue nggak pernah berfikiran buat poligami atau nyerain Lita, masalah Diska gue akan coba bicara baik-baik. Semoga dia bisa mengerti, Diska gadis baik dia pasti akan mendapatkan suami yang lebih baik dari gue." Arkaan dan Almeera tidak bisa memaksa Edo lagi, biarlah Edo menjalankan semua. Dia tau, keputusan yang Edo ambil pasti keputusan yang terbaik. Edo dan Lita masuk ke kamarnya, begitu juga Arkaan dan Almeera. "Kamar ini mulai sekarang kamar kamu juga, kamu juga bisa masukin baju kamu di lemari itu," titah Edo sambil menunjukan sebuah lemari. "Kita satu kamar?" tanya Lita tak percaya. Setelah hari pernikahannya mereka se kamar, Edo dan Lita tidak se kamar lagi Edo tidur di kamar tamu rumah Lita. "Jelas kita suami istri, mau melakukannya jugab boleh kita udah sah," jawab Edo santai. "Apaan lagi, siapa yang mau ngelakuin itu sama kamu?" Lita belum siap, dia belum siap memberikan hak sebagai seorang istri pada Edo. Apalagi dia dan Edo tidak saling mencintai, pasti melakukanya juga hanya dengan nafsu. Dan Lita tidak mau itu, dia ingin melakukannya dengan orang yang dia cintai. "Nggak usah panik, kita cuma berbagi kamar dan tempat tidur tapi nggak bakal ngelakuin aneh-aneh kok. Nanti kita pakai guling, buat pemisah kita." Kalian fikir Edo sudah jatuh cinta pada Lita? Jawabannya nggak, dia sama sekali belum mencintai Lita. Begitu pun dengan Diska, dia hanya nyaman belum jatuh cinta pada Diska. Edo masuk kamar mandi untuk Mandi, sedangkan Lita membereskan baju-bajunya yang akan di masukan di dalam lemari. Edo keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya. Lita kaget melihat pemandangan itu, dia langsung menutup matanya. "Masuk lagi ke dalam kamar mandi Mas Edo," titah Lita masih dengan menutup matanya. "Kenapa?" tanya Edo bingung. "Pakai baju dulu ih, baru keluar kamar mandi. Sekarang kan ini kamarku juga, aku tidak mau melihatmu seperti itu." "Haha cuma karena itu, kamu nggak usah malu. Kamu bahkan bisa melihat seluruh tubuhku." "Masuk." Puas mengerjai Lita, Edo langsung masuk ke kamar mandi dengan membawa baju ganti
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD