Pagi ini semua perempuan di keluarga besar Edo sedang masak untuk sarapan dan makan siang, mereka sengaja masak untuk makan siang sekalian. Agar nanti waktu makan siang mereka tinggal mengagatkan makananya, Lita juga ikut bergabung di sana. Tapi mereka tidak ada yang menghiraukan keberadaan Lita, padahal Lita juga ingin berbaur dengan yang lain.
"Ada yang bisa Lita bantu?" tanya Lita lembut
Mereka tidak ada yang menjawab pertanyaan Lita, pura-pura tidak mendengar pertanyaan Lita. Lita berusaha sabar, dia langsung mengambil bahan makanan di kulkas dia memutuskan masak. Lita memang bisa masak, tapi dia tidak terlalu jago. Sejak Rina memaksanya belajar masak, mau tidak mau Lita belajar masak dan membuatnya bisa masak.
Semua masakan sudah masak termasuk masakan Lita, mereka dan Lita merapikan masakannya di meja makan. Sekarang waktunya sarapan, semua keluarga sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Lita mrngambilkan nasi dan lauk masakannya untuk Edo, Edo menerima dengan senang hati. Dia harus menghargai apa yang sudah Lita lalukan, jadi dia makan masakan Lita.
"Makan ya Mas, itu tadi masakan Lita loh," ujar Lita bersemangat.
"Kamu bisa masak Lita?" Mendengar ucapan menantunya, Exel jadi penasaran apa Lita bisa masak.
"Bisa Om sedikit-sedikit sih," jawab Lita.
"Panggil Daddy aja, terus istri Daddy yang cantik juga harus kamu panggil Mommy.Kamu istrinya Edo, berarti kita mertua kamu, dan kamu juga bisa menganggap kita seperti orang tua kamu sendiri," titah Exel. Lita mengangguk, mengiyakan perintah Exel. Walau rasanya lidahnya agak kelu, saatakan memanggil Exel dengan sebuatan Daddy.
"Iya, Dad."
"Apa Daddy boleh mencoba masakan kamu?" tanya Exel, dia penasaran ingin mencicipi masakan dari menantu barunya.
"Boleh kok Dad," jawab Lita sambil tersenyum, dan menyendokkan masakannya ke piring baru dan dia berikan pada mertuanya. Exel langsung mencoba masakan Lita, Lita takut masakannya tidak enak tidak sesuai dengan selera mertuanya.
"Masakan kamu enak loh Lit, iyakan Do? Ternyata istri kamu pinter masak, gemuk pasti nanti kamu karena bakal tiap hari di masakin yang enak-enak sama istri kamu."
"Alah paling masakannya biasanya aja, Daddy aja terlalu muji-muji dia. Besar kepala nanti dia Dad, padahal masih enak masakan Diska ke mana-mana kali," ucap Eline tak suka. Lita berusaha meredam kemarahannya, dia harus sabar menghadapi mertuanya yang sangat tidak menyukainya. Lebih sabar lagi ketika mendengar dia di bandingan dengan perempuan yang bernama Diska, sebenarnya Lita sudah sangat muak dengan semuanya. Sejak dulu Lita tak suka di bandingkan, sekarang malah di banding-bandingkan oleh Eline. Ingin dia berteriak, agar semuanya berakhir dan tidak ada lagi yang membandingkannya.
"Mom!" tegur Exel dan Edo barengan, mereka tidak enak pada Lita karena perkataan Eline yang pasti sangat menyakiti Lita.
"Bela aja terus, dari awal kan Mommy memang nggak suka dia jadi menantu Mommy. Mommy cuma mau Diska jadi menantu Mommy, dia wanita yang hampir sempurna nggak kayak dia suka ke diskotik dan nggak pake hijab padahal memakai hijab kan kewajiban seorang wanita muslim. Betulkan Almeera?" ujar Eline meminta pendapat Almeera. Hijab? Lita memang belum memakai hijab, tapi bukan berarti dia perempuan yang nggak benar. Dia juga perempuan baik kok, hanya belum mendapatkan hidayah untuk berhijab.
"Tante Eline benar, perempuan memang di wajibkan berhijab sebagaimana di jelaskan di surat Al Ahzab yang berbunyi, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59), dan yang Tante Eline lakukan juga tidaklah benar. Kita tidak boleh membandingkan satu orang dengan orang lain, karena semua orang juga tidak akan mau di bandingkan. Allah SWT saja tidak pernah membandingkan hambanya, apa kita manusia punya hak untuk membandingkan hal itu. Salah satunya firman Allah di dalam Surat Al-Kahfi ayat 24 “..semoga Tuhanku memberi petunjuk sehingga kita bisa lebih dekat kepada-Nya.“
Ini artinya, Allah tidak menuntut kita agar memiliki pencapaian yang sama dengan orang lain. Namun kesalahan yang sering kita lakukan. Kita seringkali membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Si A setiap hari pergi ke masjid, si B selalu solat malam, si C selalu menghafal sekian juz. Sedangkan aku subuh tepat waktu saja tidak bisa. “Hal-hal seperti itu semakin membuat diri kita merasa minder dan menjadi tidak semangat.”
Padahal bukan seperti itu yang Allah maksudkan. Yang Allah inginkan agar kita lebih dekat kepada-Nya. Bagaimana diri ini agar selalu berproses menjadi lebih baik. Tidak apa-apa menghafal juz ke-30, meski adik kita sudah hafal lima juz. Tidak apa-apa mendengarkan lima menit tausiyah di radio mobil, sementara teman-teman kita sudah menjadi pembicara teraweh.
Allah itu lembut pada kita. Ia tidak menuntut kita untuk membandingkan diri kita dengan capaian orang lain. Allah hanya menuntut kita menjadi pribadi yang lebih baik tanpa pernah merasa sudah menjadi terbaik. Allah juga tidak pernah menghakimi kita sebagai orang yang terlalu terlambat dalam berposes menuju kebaikan," ujar Almeera panjang lebar, Almeera tidak mau membenarkan tindakan Tantenya. Kita sebagai manusia memang harus saling mengingatkan, tapi kita juga harus mengingatkan dengan cara yang baik. Eline merasa sangat malu, setelah dia mendengar penjelasan dari Almeera.
Lita? Dia sangat senang, Almeera membuat Eline terdiam. Dia memang tidak sebaik dan sepintar Almeera, tapi dia akan berusaha menjadi yang terbaik di mata Allah dan semuanya.
"Tuh Mom dengar apa yang Almeera jelaskan, sekarang Lita sudah menjadi menantu kita jadi Daddy minta Mommy terima Lita jadi menantu," titah Exel.
Mendengar perintah dari suaminya bukan malah setuju, Eline malah meninggalkan meja makan dia sangat kesal semua orang membela Lita.