11. Terbongkar

832 Words
Hari sudah siang, semua orang pasti sibuk dengan kegiatan masing-masing. Begitu juga dengan Edo, ada sebuah meeting dadakan yang harus dia hadiri. Walau berat dia harus pergi dan meninggal Lita sendiri di rumah, bukan lebay Edo memang takut terjadi sesuatu pada Lita. Apalagi semua orang yang tinggal di rumah, tidak ada yang menyukai keberadaan Lita. Edo tidak mau suudzon, tapi dia hanya khawatir pada Lita. "Maaf, apa pak Edo mendengarkan apa yang dari tadi kami jelaskan?" tanya seorang manager pemasaran, yang dari tadi sedang persentasi bersama teamnya. Tapi Edo malah melamun, bukan malah memperhatikannya. "Ah iya saya memperhatikannya kok," elak Edo. Dari tadi Edo sama sekali tidak fokus, fikirannya bukan di kantor tapi di rumah. "Saya lanjutkan ya pak," izin seorang karyawan yang hendak persentasi. "Iya, silahkan." Edo mencoba fokus, dia memperhatikan orang yang sedang persentasi di depan. *** Di kediaman keluarga Rahmadani, atau keluarga besar Almeera. Terlihat Eline turun dari tangga membawa banyak majalah, karena saking banyaknya majalah itu terjatuh di bawah. Lita yang melihat Eline kerepotan, langsung menaiki tangga hendak membantu Eline. "Biar Lita bantu bawanya Mom," tawar Lita lembut. "Nggak usah, saya bisa sendiri. Kamu nggak perlu sok baik deh sama saya, karena saya nggak akan perduli sama kamu dan kamu juga nggak perlu sok peduli pada saya," tolak Eline kasar. "Saya sama sekali tidak sok baik, saya hanya menjalankan tugas sebagai menantu yang hendak membantu mertuanya," jawab Lita tegas. Apa salah Lita? Kenapa dia selalu salah di mata Eline? "Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah menerima kamu jadi menantu saya. Walau sekarang kamu sudah menjadi istri Edo putra saya, saya tidak akan pernah menganggap kamu," ujar Eline tegas "Apa yang Tante Eline bilang, dia istri Mas Edo," tanya Diska yang baru datang. Diska masih belum mengambil cuti kerja, dia datang ke rumah keluarga Almeera karena ada urusan pekerjaan dengan Arkaan. Arkaan tidak masuk kerja, sedangkan sangat banyak proyek yang harus Arkaan kerjaan. Mengharuskan Diska datang menghampirinya, takut jika bosnya itu sakit atau kenapa-napa. Dia sudah datang ke rumahnya, mereka bilang Arkaan dan keluarga menginap di rumah keluarga Almeera sejak beberapa hari yang lalu. Mau tidak mau Diska datang ke sini, dan saat dia datang dia kaget mendengar apa yang Eline ucapkan. Wanita di depan Eline itu istrinya Edo, terus nasib Diska bagaimana? Tapi Diska berdo'a, semoga yang tadi dia dengar bukanlah kenyataan. "Biar Tante jelaskan semua Diska, agar kamu tidak salah faham," ujar Eline hendak menjelaskan semuanya pada Diska, tapi Diska menolaknya. "Nggak perlu Tante, biar Mas Edo sendiri yang menjelaskan semua pada Diska. Diska ingin mendengar penjelasan itu dari mulut Mas Edo sendiri, tak mau mendengar penjelasan dari orang lain yang belum tentu sepenuhnya benar. "Diska benar, lebih baik Edo yang menjelaskan semua," ujar Almeera yang baru datang, dia sedang di kamarnya mengurus anak dan suaminya. Almeera kaget mendengar suara keributan, dan memutuskan untuk segera turun. "Yasudah, biar Tante telfon Edo dulu. Tante suruh pulang anak itu, agar bisa menjelaskan semuanya sama Diska," ujar Eline langsung mengambil ponsel yang ada di saku gamisnya. "Tidak perlu Tante, Edo akan segera pulang Almeera sudah meWa Edo dan menyuruhnya segera pulang. Dan Edo sedang dalam perjalan, mungkin sebentar lagi akan pulang," jelas Almeera. Almeera yang melihat kedatangan Diska, langsung gerak cepat menyuruh Edo pulang. Karena menurutnya lebih baik Edo sendiri yang menjelaskan pada Diksa, agar Diska bisa mengerti kondisinya. "Assalamualaikum," salam Edo yang baru saja datang. "Wa'alaikum salam," jawab mereka bertiga, Almeera, Lita dan Eline. "Mas Edo tolong jelaskan semua sama Diska, jangan ada yang Mas Edo tutupi," todong Diska pada Edo. "Mas bakalan jelasin semua, tapi kita duduk dulu. Biar nggak terlalu tegang," ajak Edo. Diska menurut, semuanya duduk di ruang tamu sebelum Edo menjelaskan semua. "Cepat jelaskan Mas, Diska sudah tidak sabar ingin tau semuanya," todong Diska lagi. Edo menghela nafas cepat, sebelum dia menjelaskan semua. Edo langsung menjelaskan semuanya pada Diska, Diska yang mendengar cerita itu hanya bisa menangis. Diska tidak kuat menanggung semua, Edo calon suaminya sekarang sudah menjadi suami orang. Diska tentu sangat hancur, pernikahan impiannya dengan Edo tidak akan pernah terjadi. Diska tidak akan menikahi Edo, karena Edo sekarang suami Lita dan tentu Diska tidak mau di madu. "Maaf, semua harus terjadi. Mas tidak pernah berniat menyakiti kamu, Mas saat itu memang tidak ada pilihan lain selain menikahi Lita. Andai bisa mengulang semua  Mas tak akan menikahi Lita dan membuat semua orang sakit hati dan kecewa," ujar Edo menyesal, dia tidak ingin menyakiti wanita sebaik Diksa tapi nyatanya dia sudah sangat menyakiti Diska. "Bukan salah Mas Edo, yang salah di sini adalah aku. Andai Mas Edo tidak pernah menolongku saat hendak di p*rkosa oleh lima orang pria sekaligus. Hingga tidak akan ada penggrebekkan, yang memaksa kita berdua menikah," ujar Lita. Lita bisa merasakan sakitnya Diska, tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Semuanya sudah terjadi, dan tidak akan bisa di ulang kembali. "Mas Edo dan Mbak Lita tidak salah, mungkin Allah sudah menakdirkan kalian berdua berjodoh. Kita manusia hanya bisa berharap, tapi jika Allah sudah menentukan kita bisa apa selain menerima semuanya," jawab Diska bijak    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD