6. Nikah Paksa

856 Words
"Saya nikahkan engkau  Renaldo Fendo Edwich bin Exel dengan putri saya Arlita Melina Safara dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai." "Saya terima nikahnnya Arlita Melina Sarafa binti Sultan Hamadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai." "Sah!!" Akad Nikah selesai Lita dan Edo sudah resmi menjadi suami istri, Sultan dan Rina sangat bahagia melihat putri akhirnya menikah. Walau ada insiden, yang membuat mereka menikah. Mungkin insiden yang terjadi itu adalah cara Allah menunjukkan jika Lita dan Edo berjodoh, makanya mereka menikah. Jika mereka tidak berjodoh, mungkin ada sesuatu yang menghalangi pernikahan mereka. Edo tidak bisa melapor polisi, bukan malah melaporkan bisa saja Edo yang akan di laporkan karena para warga punya bukti kalau pakaian Lita sobek. Itu sudah bukti yang cukup, dan di tambah lagi Edo dan Lita di grebek di rumah kosong. Semua bukti cukup membuat Edo masuk penjara, dan Edo nggak mau itu. Dan jika masuk penjara, keluarganya pasti akan membayar denda agar dirinya terbebas. Walau begitu, mereka pasti tetap berfikiran Edo bersalah. Belum lagi, nama baik keluarganya bakalan tercemar bahkan hancur. Bagaimana tidak, Edo tersandung kasus asulila dengan tuduhan melakukan perbuatan mesum itu sama saja Zina. Keluarganya pasti akan malu dan hancur, dan Edo lebih mementingkan keluarga dari pada kehidupannya sendiri. Setelah akad nikah Edo dan Lita, para warga dan Pak RT yang menggrebek mereka pulang ke rumah masing-masing. Edo dan Lita juga masuk ke kamar Lita yang di jadikan kamar pengantin, karena memang sudah sangat malam mereka sangat lelah. Belum lagi besok mereka harus mendaftarkan pernikahan mereka, agar sah secara agama dan hukum. Di dalam kamar, Edo dan Lita sangalah canggung. Ini malam pertama mereka, apakah malam ini akan jadi sesuatu? "Tidurlah," titah Edo. "Iya, Mas Edo juga tidur." Lita bingung, apa mereka akan tidur di ranjang yang sama. Tapi Lita belum siap, dia masih shock sekarang statusnya bukan lagi gadis biasa tapi sudah menjadi istri orang dan orang itu Edo. "Aku akan tidur di soffa saja," putus Edo. "Jangan Mas, kalau tidur di soffa badan Mas akan sakit semua," cegah Lita. Satu sisi Lita tidak mau badan Edo sakit karena tidurdi soffa, di satu sisi lain dia juga tidak mau tidur satu ranjang dengan Edo yang notabenenya udah sah menjadi suaminya. "Terus kamu mau kita tidur satu ranjang gitu, nggak akan pernah," tolak Edo mentah-mentah. "Bukan begitu maksud saya Tuan Edo yang terhormat, Anda silahkan tidur di ranjang saya. Biar saya yang tidur di soffa," ujar Lita tegas. Dikira cuma Edo doang yang nggak mau tidur seranjang, Lita juga nggak mau. "Biar saya saja yang tidur di soffa, saya tidak masalah. Kamu tidur saja di ranjangmu, kamu kan pemilik ranjangnya kenapa harus tidur di soffa?" Mau nggak mau, Edo tidur di soffa sedangkan Lita tidur di ranjangnya hingga pagi. *** Pagi yang indah, Rina masuk kamar Lita dan kaget melihat Edo tidur di soffa. Rina langsung membangunkan Edo dan Lita, Rina memang terbiasa membangunkan Lita dengan masuk ke kamarnya. Takutnya Lita telat bangun, malah telat masuk kerja.Tadi Rina masuk ke kamar Lita, seolah dia lupa kalau putrinya sudah menikah. Untuk saja pakain Edo dan Lita lengkap, tidak seperti habis melakukan malam pertama. Tidak perlu waktu lama untuk di bangunkan mereka, karena Lita dan Edo langsung bisa bangun. "Aduhh, Mami Lita masih ngantuk tau. Kan Lita tidur hampir mau subuh," rengek Lita saat Rina membangunkannya. "Kamu itu ya Lit, suami kamu kok di suruh tidur di soffa. Kalian udah menikah, udah mahram kenapa nggak tidur barengan aja di ranjang? Jangankan tidur bareng, melakukan aneh-aneh juga boleh kali," omel Rina. Rina merasa tidak enak dengan Edo, jika mereka tidak mau seranjang kan bisa menyuruh Edo tidur di kamar tamu. "Ya kan Lita masih kaget Mi, masa harus tidur seranjang sama Mas Edo. Lita nggak mau, Mas Edo juga sama," bela Lita. "Lita sayang, kalau kamu dan Nak Edo nggak mau  tidur seranjang Mami bisa ngerti. Tapi kenapa nggak kamu suruh tidur di kamar tamu di sebelah kan bisa, nggak harus tidur di soffa pasti badannya sakit semua." Rina benar, kenapa Lita sama sekali tidak kepikiran menyuruh Edo tidur di kamar tamu. "Iya, Maaf Lita salah Mi. Lagian kan semalam udah malam banget dan Lita juga lagi capek, jadi Lita nggak kepikiran sama sekali." "Iya, walau pernikahan kalian karena terpaksa Mami berharap kalian bisa bahagia. Dan Lita lakukan tugasmu sebagai seorng istri sebaik mungkin." "Iya Mi, Mami kenapa pagi-pagi masuk ke kamarku?" "Mami kan kayak biasanya mau bangunin kamu, tumben aja jam segini belum bangun biasanya udah bangun." "Mami Lita itu lelah banget atas semua yang terjadi semalem, jadi wajar kalau sampai telat bangun. Mami juga asal masuk nggak ngetok pintu dulu, sekarang kan kamar ini bukan cuma ada Lita tapi ada Mas Edo juga." "Iya maafin Mami yang asal masuk, lagian kamar tuh di kunci Lita sayang. Untuk kalian tadi cuma tidur biasa, nggak ngelaikuin apapun, jadi Mami nggak ngeliat apapun." Ah Lita merasa sangat ceroboh, dia memang jarang untuk mengunci pintu. "Iya, Mi." "Kalian siap-siap gih, hari ini kan kalian harus mengesahkan pernikahan kalian. Agar Nak Edo segera bisa membawa kamu pulang, dan memperkenalkanmu sama keluarganya," titah Rina. Edo dan Lita hanya bisa mengangguk, menuruti permintaan Rina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD