Segala perizinan untuk mengesahkan pernikahan mereka, sudah di lakukan dan surat nikah mereka juga sudah keluar. Sekarang waktunya Edo membawa Lita pulang ke rumahnya, Edo dan Lita sedang berpamitan dengan kedua orang tua Lita. Mereka sangat sedih Lita harus pergi, tapi bagaimana lagi tanggung jawab Lita sudah berpindah pada Edo yang sudah menjadi suaminya.
"Baik-baik ya sayang, Mami pasti kangen banget sama kamu," ujar Rina langsung memeluk Lita yang akan pergi meninggalkanya, karena harus berpisah dengan putri tunggalnya.
"Lita juga pasti kangen Mami dan Papi, Lita janji deh akan sering datang ke rumah Papi buat nengokin kalian." Lita sangat berat mrninggalkan rumah kedua orang tuanya, selama ini Lita tidak pernah berpisah dengan orang tuanya.
"Rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian, kalian boleh datang kapan saja." Setelah berpamitan dan acara pelukan, Edo dan Lita langsung pergi dari rumah Rina ke rumah keluarga besar Almeera yang juga di tempati keluarga Edo.
Tak perlu waktu lama mereka sudah sampai di rumah keluarga besar Edo, mereka mengetuk pintu dan yang membuka pintu adalah Almeera.
"Edo loe dari mana aja sih? Kita semua itu udah panik banget, takut loe kenapa-napa. Loe beberapa hari nggak pulang, sekarang loe malah pulang ke rumah sama Lita. Gue jadi semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi sama loe sampai loe menghilang. Dihubungi juga susah banget," omel Almeera pada Edo.
Semua keluarga panik mendengar Edo tidak pulang, pernikahan Edo dan Diska tinggal menghitung hari. Tapi Edo malah hilang berhari-hari, mereka sudah melapor polisi tapi ya polisi tidak dapat menemukannya. Edo juga menonaktifan nomor ponselnya, karena dia tidak ingin di ganggu siapapun. Dia ingin menyelesaikan masalahanya, dan mendapatkan dalang yang sudah mengirim warga untuk mengrebeknya dan Lita. Dan dalangnya sudah di temukan oleh anak buah Edo, bahkan sudah masuk ke dalam penjara. Walau begitu nasi sudah menjadi bubur, dia sudah menikah dengan Lita.
"Maaf," ujar Edo menyesal. Edo menggandeng Lita masuk ke rumahnya, Almeera mencegah Lita masuk. Almeera kaget, melihat Edo mengandeng Lita secara mereka bukan mahram.
"Eh mau ngapain ikut masuk? Kita mau bahas urusan keluarga, dan ngapain loe Do pegangan tangan sama Lita bukan mahram tau," ujar Almeera tegas.
"Kata siapa kami bukan mahram? Kita berdua sudah halal ya," jelas Edo. Ya dari tadi Edo terus yang berbicara, karena Lita takut salah ngomongnya makanya lebih baik diam biar suaminya yang menjelaskan semua.
Almeera semakin bingung di buatnya, bagaimana tidak memang siapa Lita kok mahram sama Edo. Dirinya yang sepupu saja, bukan mahramnya Edo.
"Mahram? Maksud loe Do?"
"Kita masuk, nanti gue jelasin semua di dalam." Mereka bertiga masuk rumah, Fatimah melihat Edo sudah pulang langsung memberitahu semuanya. Dan sekaramg Edo dan Lita serasa disidang, semua menunggu penjelasan Edo kenapa baru pulang? Ke mana saja beberapa hari? Kenapa tidak mengabari mereka?
"Sekarang jelasin semuanya Do," titah Almerra yang pasti harus di turuti oleh Edo.
"Edo dan Lita sudah menikah beberapa hari lalu, dan kami sudah resmi menjadi suami istri, " jelas Edo membuat semua keluarganya kaget tak percaya, mana mungkin Edo menikah tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu. Dan mereka tau Edo akan menikah, tapi dengan Diksa bukannya dengan wanita yang di samping Edo yang bernama Lita itu.
"Kamu jangan bercanda Do," ujar Eline tak percaya.
"Edo sama sekali nggak bercanda, kami memang sudah menikah." Edo langsung mengeluarkan sebuah bukti dari dalam tasnya, ya tadi Edo memang membawa sebuah tas kerja untuk membawa berkas-berkas pentingnya. Bukti yang Edo keluarkan, adalah buku nikahnya dan Lita. Keluarga yang melihat itu, mengga tak percaya.
Satu tamparan mengenai pipi mulus Edo, dia diam karena yang menamparnya Eline Mommy sendiri.
"Mommy kenapa nampar Edo?" Edo merasa tak punya salah, tapi malah di tampar Mommynya.
"Kamu masih nanya salah apa? Salah kamu banyak tau Do. Pertama kamu beberapa hari nggak pulang, bikin semua orang khawatir. Kedua kamu pulang-pulang, malah kasih kabar kalau kamu sudah nikah sama gadis lain. Kamu lupa? Kamu sudah melamar Diska, dan pernikahan kalian tinggal menghitung hari. Terus kamu bilang sudah menikah, kamu nggak mikirin perasaan Diska? Kalau niat kamu cuma buat nyakitin dan mempermainkan Diksa, Mommy nggak akan mau melamar Diska untuk kamu. Diska wanita yang hampir sempurna, dia cantik, baik dan sholeha. Apa kurangnya Diska? Sampai kamu menikahi wanita lain? Di saat pernikahan kamu dan Diks tinggal menghitung hari, yang nggak mungkin untuk kita membatalkannya karena akan membuat malu kedua pihak. Keluarga Diska dan Keluarga kita sendiri," jelas Eline panjang lebar.
Eline benar-benar kecewa pada putra tunggalnya, dia sudah mempermainkan wanita sebaik Diska. Apa Edo tidak berfikir, ibunya seorang wanita tapi kenapa malah menyakiti seorang wanita. Eline juga sudah sangat menyayangi Diska, sudah mengagap Diska seperti anak kandungnya sendiri. Makanya dia sangat berharap, Diska bisa menjadi menantunya. Tapi sepertinya harapannya sudah pupus, karena Edo sudah menikah dengan wanita lain. Bahkan wanitanya jauh dari apa yang dia harapkan, dia mengharapkan menantu yang sholeha dan berhijab pastinya seperti Diska. Sedangkan Lita, dia tidak berhijab walau bukan hijab yang menjamin ke sholehaan seorang wanita. Tapi kan berhijab itu kewajiban seorang perempuan, perempuan wajib menutup auratnya. Aurat perempuan hanya suami yang boleh melihat, bukan orang lain.