Bab 8

1019 Words
Eshana yang mendengar perkataan Gatra syok, antara takut dan tak percaya jika Gatra akan sebrutal itu kepadanya. "Tu-tuan, apa Tuan tak salah bicara?" Gatra terus mendekati Eshana dengan tatapan liarnya. Gatra bukan laki-laki yang sembarangan menyentuh wanita yang tak di kenalnya. Eshana juga menutup tubuhnya dengan kedua tangannya. Namun, miliknya yang sudah terbuka malah terus meneteskan cairan putih itu tanpa henti. "Eshana, aku tetap akan mengulangi apa yang aku katakan tadi pas di kantor. Kamu bisa memikirkannya sekarang, tapi biarkan aku membantu mu saat ini." Eshana menggigit bibir bawahnya menahan pikirannya yang tak karuan. Gatra semakin mendekat, napasnya memburu. Tangannya terulur menyentuh bibir Eshana. "Jangan di gigit, aku nggak suka lihatnya. " Gatra mengusap bibir itu dengan ibu jarinya yang membuat napas Eshana tercekat. Lalu tatapan mereka bertemu, tak ada yang mengatakan apapun tapi mata Eshana terpejam ketika Gatra malah menciumnya kembali. Ia tak bisa berpikir jernih saat ini. Tangah Gatra juga mulai merambah ke milik Eshana yang sejak tadi sudah menggodanya. "Eungh ....." Eshana melenguh karena semua yang dilakukan Gatra. Tangan Gatra mengusap pelan puncak mungil itu lalu dia melepaskan ciumannya pada bibir Eshana. Gatra menatap intens Eshana, wajah gadis itu tak seperti wanita lain. Tak pernah memakai make up yang mencolok, terkesan sederhana tapi sejak awal Eshana menjadi sekretaris nya, Gatra sudah tertarik pada Eshana. Namun Gatra sempat menampiknya. "Eshana, aku akan memulainya. Aku nggak akan kasar, aku akan pelan-pelan." Belum sempat Eshana menjawab Gatra sudah menunduk dan melahap miliknya. Kali ini Gatra melakukannya dengan lembut. "Tuan..... uhhh....." Apa yang dilakukan Gatra malah menimbulkan hal lainnya di tubuh Eshana. Rasanya tubuhnya meremang. Kedua tangan Eshana meremas sprei di sisi kiri dan kanan Eshana. Gatra melirik sekilas untuk melihat wajah Eshana, mata Eshana terpejam bibirnya sedikit terbuka yang membuat Gatra ingin melakukan hal gila padanya. Jari Gatra terulur ke arah mulut Eshana dan spontan jari yang terulur itu menyentuh bagian mulut Eshana. Eshana menyambut itu mengikuti instingnya. Mata Gatra membola, berbarengan dengan itu Gatra mempercepat apa yang dia lakukan pada milik Eshana. Hampir setengah jam berlalu, akhirnya milik Eshana kembali seperti semulanya. Gatra melepaskan milik Eshana dari mulut nya. Begitu juga dengan jarinya, tapi Gatra masih sempat mengusap bibir Eshana lembut. Napas Eshana tersengal, perlahan mata itu terbuka ketika Gatra menyentuh bibirnya lembut. "Tuan...." panggil Eshana. Gatra tersenyum, dia membantu Eshana bangun lalu merapikan pakaian Eshana. "Jangan panggil Tuan, panggil namaku saja ketika sedang berdua." Eshana menunduk, dia malu karena tadi dia sempat menikmati dan memikirkan hal yang lainnya saat Gatra melakukannya tadi. Tangan Gatra terulur ke arah kepala Eshana. Eshana tertegun merasakan usapan Gatra pada kepalanya. "Nggak usah mikir aneh-aneh, aku melakukan ini bukan karena menganggap mu sebagai wanita nakal dan yang lainnya." Eshana masih diam, tak lama ponsel Eshana berdering.. Nama ibunya yang ternyata adalah ibu angkat tertera di sana. Eshana hanya melihat nya, dia tak ingin mengangkatnya. Setelah itu ada pesan beruntung yang masuk ke dalam ponsel Eshana. Gatra yang gemas dengan Eshana segera mengambil ponsel itu untuk melihat isinya. "Tuan, jangan. Biarkan saja." Gatra tak peduli dengan apa yang dikatakan Eshana. Ia dengan cepat membuka pesan itu. ("Eshana, jangan pura-pura kamu, jangan sok menjadi orang lain. Kamu nggak lupa kan siapa yang selama ini menghidupi mu? Sekarang kamu ingin kabur hah? Padahal, Jimmy hanya ingin menagih uangnya yang selama ini kamu bawa. Dan karena ulahmu ini, pernikahan Yuki dan Jimmy tak bisa terlaksana. Kamu membuat keluarga ku malu, dasar anak nggak tahu di untung. Tahu begitu, aku nggak akan mau angkat kamu jadi anak!") Eshana semakin menunduk, Eshana juga menahan tangisnya sejak tadi. Namun, air matanya tak lagi bisa di tahan. Satu tetes air matanya mengenai tangan Gatra. Gatra menarik bahu Eshana lembut dan membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya. "Menangislah jika itu membuatmu lega. Jangan di tahan lagi." Detik berikutnya, terdengar isakan tangis Eshana. Gatra menepuk pelan punggung Eshana, Gatra tidak pernah tahu bagaimana caranya dia menenangkan seorang wanita yang menangis. Akhirnya Gatra hanya diam sambil memeluk tubuh Eshana. Namun lama kelamaan tak terdengar lagi suara tangisan Eshana. Gatra sempat panik karena tiba-tiba Eshana tak bersuara lagi. Dan saat Gatra melihatnya, ternyata Eshana tengah tertidur. "Astaga, tidur ternyata. Aku kira pingsan. Dia pasti capek banget selama ini, aku nggak tahu kalau keluarganya bisa sekejam itu." gumam Gatra. Gatra menghembuskan napas lega. Lalu perlahan dia menggendong Eshana dan membaringkannya di ranjang, menyelimuti nya. Sejenak Gatra menatap wajah polos Eshana. Mengusap pipi nya lembut. Setelah itu, Gatra pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya, bukan sekedar membersihkan diri tapi dia juga menenangkan junior miliknya yang masih tegang sejak tadi. "Kalau begini terus aku yang sudah, tapi kesannya aku jadi cowok berengsek banget." "Sial!" Gatra menggenggam miliknya sendiri dengan membayangkan wajah Eshana yang tengah menikmati apa yang Gatra lakukan kepadanya. Tak lama sesuatu yang kuat meledak di bawah dan membuat napas Gatra tersengal. "Ahhh.....Eshana ....." pekik Gatra tertahan. Gatra benar-benar merasa gila karena Eshana. Eshana yang tidak pernah menggodanya sama sekali malah membuatnya gila seperti ini. "Kalau aku bilang Papa, apa bakal di ketawain ya?" Gatra sampai menarik rambutnya sendiri saking kesalnya dengan dirinya sendiri. Ia lalu segera membersihkan diri dan berganti pakaian karena Gatra harus melakukan sesuatu untuk membantu Eshana. # "Hatchi ....Hatchi ...." Di dalam rumah Narendra bersin-bersin sejak tadi. Rengganis yang ada di sisinya khawatir. "Pa, papa sakit? Kok nggak bilang?" Rengganis menyentuh kening suaminya, tapi anehnya kening Narendra tidak panas. "Lah nggak demam, tapi kok bersin-bersin terus?" Rengganis menatap bingung pada Narendra, sementara suaminya mengangkat kedua bahunya tak tahu. Rengganis masih bingung, lalu dia ingat sesuatu. Dia tertawa kecil yang membuat Narendra malah penasaran. "Pa, kalau kata orang tua dulu tuh, bersin begini bukan karena sakit." "Terus apa? Nggak mungkin dong tiba-tiba ada bulu atau apa masuk ke dalam hidung. Ini dari tadi di sini loh, cuma sama Mama malahan." Rengganis tersenyum, dia menepuk tangan suaminya. "Ada yang ngomongin Papa tuh di belakang." Rengganis terkikik, jika dia benar kemungkinan itu ada. Tanpa mereka berdua tahu jika sejak tadi Gatra sudah ingin menghubungi papanya. "Halah, paling juga anak Mama yang bandel itu. Gatra kalau jauh kan suka nyari Papa. Apalagi dia lagi perjalanan bisnis gini." "Anak Papa juga loh, itu." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD