Bab 9

1016 Words
Saat Gatra keluar dari dalam kamar mandi, ia melihat Eshana yang masih tertidur pulas di ranjang miliknya. Ia lalu mengambil pakaian tidurnya dan mengambil ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu di ponselnya yang ia kirim pada Mahesa, asisten nya. "Berikan semua data orang tua angkat Eshana pada ku malam ini, jangan sampai ada yang terlewat atau gajimu ku potong tiga bulan!" "Dan juga selidiki dari mana Eshana di adopsi, harus lengkap. Informasi yang kamu berikan sebelumnya masih kurang!" Byur ... Uhuk..... Mahesa yang saat ini sedang berada di dalam kamarnya menikmati secangkir kopi langsung menyemburkan kopi yang baru saja ia minum. Ia berkedip melihat pesan singkat yang di kirim Gatra kepadanya. "Tuan Gatra kenapa? Tiba-tiba sekali ingin tahu masalah orang lain?" gumam Mahesa. Namun mengingat ancaman Gatra yang akan memotong gajinya selama tiga bulan membuat Mahesa bergegas untuk melakukan apa yang Gatra perintahkan kepadanya. Gatra kembali menatap wajah Eshana yang masih tersisa jejak tangisannya. Lalu tak sengaja matanya melihat pergelangan tangan Eshana. Matanya membola melihat itu. Gatra mendekat dan melihat pergelangan tangan Eshana di mana pergelangan tangan itu terdapat bekas sayatan. "Apa ini? Apa dia mencoba untuk bunuh diri?" gumam Gatra. Lalu ponsel Eshana kembali berdering dan itu dari laki-laki yang kemarin mengganggu Eshana. Gatra mengangkatnya tapi dia hanya diam saja. ("Eshana, kamu jangan keterlaluan. Aku sudah terlalu sabar dengan mu. Dan karena kamu nggak kirim uangnya, aku hari ini gagal menikah dengan Yuki. Kamu membuat kami malu.") Gatra mengepalkan kedua tangannya mendengar itu, jika tadi ia mendengar ibunya juga mengatakan hal yang sama, sekarang laki-laki b******n itu juga masih menghubungi nya. "Apa pukulan ku kemarin masih belum membuat mu kapok sampai kamu harus menghubungi Eshana malam-malam seperti ini? Perihal kamu nggak jadi nikah itu bukan urusan Eshana. Laki-laki tapi ngemis duit sama perempuan itu, laki-laki apa banci?" Klik..... Gatra langsung mematikan sambungan telpon itu dengan cepat. Ia menonaktifkan ponsel Eshana agar keluarga Eshana tak lagi mengganggu wanita itu untuk malam ini. Gatra ingin Eshana tidur dengan nyenyak agar besok ia bisa kembali bekerja dengan baik lagi. Gatra melihat wajah Eshana sekali lagi, sebelum dia berpindah ke sofa di sana untuk mengistirahatkan badannya sendiri. # Sementara itu, di kediaman Jimmy dan juga Yuki semua tengah menahan kemarahan mereka karena Eshana mengabaikan telpon dan pesan mereka. "Gimana Jimmy, apa dia mau memberikan uang itu?" tanya Raras. "Boro-boro mau kasih uang, yang angkat telpon bukan Eshana tapi laki-laki yang kemarin memukuliku!" jawab Jimmy kesal. Mata semua orang melotot mendengar itu, mereka tahu saat ini hari sudah tengah malam dan Eshana bersama seorang laki-laki. "Laki-laki? Siapa? Eshana tidak dekat siapapun kan? Bagaimana laki-laki itu?" Yuki bertanya dengan tak sabaran. Jimmy berdecak kesal karena semenjak Yuki hamil dia menjadi lebih cerewet dan menyebalkan. Rasanya dia enggan sekali berdekatan dengan Yuki. Terlebih ketika Yuki tak bisa di ajak bermesraan seperti dulu. "Sudahlah, aku pulang dulu. Kita bicara lagi besok. Perihal pernikahan ini, aku nggak bisa mikir sekarang. Kalian cari cara biar Eshana mau kasih uang. Kalau dia nggak mau kasih uang, jangan harap pernikahan ini terjadi!" Mata Yuki dan kedua orang tuanya melotot mendengar itu. "Jimmy kamu gila, aku sedang hamil anakmu. Kenapa kamu malah bicara seperti ini?" pekik Yuki tak terima. "Nggak lupa kan siapa yang menggoda lebih dahulu? Nggak lupa kan kalau kamu yang duluan nawarin diri kamu sama aku sampai aku putus sama Eshana? Lagian siapa suruh kamu hamil duluan, aku udah bilang jangan hamil duluan sampai kita menikah pakai uang Eshana. Jadi nggak usah teriak-teriak. Aku nggak tuli!" Setelah mengatakan itu, Jimmy mengajak kedua orang tuanya pergi dari rumah Yuki. Yuki yang melihat Jimmy pergi seperti itu langsung meraung pada Hega dan juga Raras. "Ma, Pa, gimana ini kalau Eshana nggak mau kasih uang itu? Jimmy nggak bakal nikahi aku. Perut aku juga makin membesar nantinya. Bisa-bisa karir ku tamat kalau begini!" Raras juga dibuat pusing dengan apa yang terjadi sementara Hega tak berani mengatakan apapun, karena selama ini perusahaan nya juga mendapat suntikan dana dari keluarga Jimmy. "Sudahlah, jangan manja. Besok temui sana Eshana. Minta maaf padanya agar dia mau memberi kalian uang. Sejak awal aku sudah bilang, jangan main-main dengan sebuah hubungan. Kamu sendiri yang repot." Hega lalu pergi begitu saja dari hadapan Raras dan juga Yuki. Yuki semakin kesal karena Papa nya bersikap acuh kepadanya dan seolah tak peduli dengan pernikahannya. "Ma, bantu aku. Bujuk Eshana, Ma. Aku sudah susah payah mendapatkan Jimmy sampai harus seperti ini, jangan sampai aku gagal menikah dengan nya!" Raras sudah berusaha menghubungi Eshana tapi Eshana hanya membaca pesan singkatnya. "Sebenarnya di mana gadis sialan itu sekarang? Kenapa dia berubah seperti ini, padahal biasanya selalu menurut kepada ku!" batin Raras. "Yuki, dengar Mama. Sekarang kamu istirahat, Mama yang akan mencari Eshana untuk mendapatkan uang itu agar kamu bisa menikah dengan Jimmy." Yuki masih terus menangis tapi dia langsung mengangguk saat Mamanya mengatakan akan mencari Eshana. Yuki lalu pergi ke kamar nya yang membuat Raras menghembuskan napas panjang. "Aku cari kemana lagi, gadis itu. Kenapa dia malah menyusahkan ku saat ini?" Rasya mencoba menghubungi Eshana tapi hanya tersambung dengan operator selular. "Sialan!" # Pagi hari, Eshana mendesis kecil saat merasakan kepalanya berdenyut. Gatra yang baru saja selesai mandi, melangkah cepat ke arah Eshana. "Kamu kenapa?" Eshana yang awalnya belum sadar dia di mana langsung menoleh saat mendengar suara Gatra. Matanya membola, tapi detik berikutnya dia merasa jika kepalanya kembali berdenyut. Gatra semakin panik melihat itu. Ia mendorong pelan bahu Eshana agar Eshana kembali tidur. "Jangan di paksa kan bangun, setelah ini aku panggilkan dokter." Namun Eshana tak berani melihat ke arah Gatra yang membuat Gatra menatap Eshana penuh tanda tanya. "Tu-tuan kenapa nggak pake baju?" tanya Eshana lirih. Gatra berkedip lalu dia melihat ke arah tubuhnya yang hanya mengenakan handuk sampai di pinggang dan sedang bertelanjang d**a. "Ah, aku baru selesai mandi. Aku panik lihat kamu hampir jatuh tadi." Gatra berkata jujur karena itu memang keadaan yang sebenarnya tak ada yang di tutupi. Eshana benar-benar tak berani menatap Gatra saat ini, selain kepalanya yang berdenyut, dia tak punya tenaga untuk berdebat dengan Gatra. "Tunggu sebentar, aku minta Mahesa ambilkan sarapan untukmu dan membawa pelayan perempuan untuk membantumu berganti pakaian!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD