Bab 10

1033 Words
Gatra meminta Eshana untuk kembali beristirahat. Ia melihat wajah Eshana yang pucat. "Aku telfon Mahesa terlebih dahulu, kamu tetap di sini." Eshana mengangguk pelan, ia sungguh tak kuat untuk bangun. "Mahesa bawakan sarapan ku dan juga Eshana ke kamar ku. Juga minta karyawan hotel wanita untuk datang kemari membantu Eshana berganti pakaian." # Byur ..... Uhuk..... Lagi-lagi Mahesa tersedak minumannya karena tiba-tiba sekali tuannya bersama dengan sekretaris nya. Dan apa tadi, di kamarnya? "Eshana di kamar Tuan Gatra?" Apa yang terjadi pada mereka berdua? Apa aku melewatkan sesuatu?" Lalu mata Mahesa membola ketika mengingat beberapa waktu lalu, Gatra juga sudah menugaskan ia untuk menyelediki perihal Eshana dan juga keluarganya. Di tambah dengan perintah semalam. Mahesa memang belum menyerahkan semuanya pada Gatra tapi dia sempat membaca sekilas tentang apa yang ia dapatkan. "Tapi kalaupun Tuan Gatra dan Eshana ada sesuatu, itu malah bagus kan? Jadi biar Tuan juga ada yang mengurusnya." gumam Mahesa. Drt. drt. Mahesa terlonjak kaget ketika ponselnya kembali berbunyi. "Halo Tuan .... " "Mahesa, kamu lama sekali? Kamu pingsan ya? Secepat ke sini, Eshana semakin demam!" Mahesa sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya yang berdengung karena teriakan Gatra barusan. "Astaga, aku sampai lupa!" Mahesa lalu turun ke restoran hotel untuk memesan sarapan dan juga pergi ke resepsionis untuk meminta karyawan hotel membantunya. Selain itu, Mahesa juga membawa obat-obatan untuk Eshana. Mahesa bergegas ke kamar Gatra setelah mendapat semua yang dia perlukan. Gatra segera membuka pintu kamarnya dan menyuruh Mahesa masuk ke dalam meletakkan beberapa makanan yang juga dibantu karyawan hotel membawanya. "Tuan, ini obat-obatan nya dan juga pakaian yang baru. Juga karyawan yang Tuan minta." Gatra mengangguk, lalu mempersilahkan karyawan itu membantu Eshana ganti pakaian sementara Gatra mengajak Mahesa menjauh terlebih dahulu. "Tuan, apa yang terjadi? Kenapa Eshana ada di kamar Tuan? Apa dia salah masuk kamar?" Mahesa yang sangat penasaran mengajukan banyak pertanyaan untuk Gatra. Gatra mendengus kesal karena Mahesa terlalu cerewet pagi-pagi. "Kamu banyak bicara, Mahesa." "Di mana berkas yang aku minta?" Mahesa yang ingat berkas itu masih ada di kamarnya segera melesat pergi menuju kamarnya yang membuat Gatra memijat kepalanya pelan. Berbarengan dengan Mahesa karyawan hotel itu juga sudah selesai mengganti pakaian Eshana dengan yang nyaman di kenakan oleh Eshana. "Tuan sudah selesai, dan Nona Eshana kembali tertidur." Gatra memberikan sejumlah tip kepada karyawan tadi. Lalu ia pergi dari kamar itu. "Tunggu di sini, aku lihat Eshana sebentar. Dia belum makan, dan dia harus meminum obatnya terlebih dahulu sebelum kembali tertidur." Mahesa melongo melihat Gatra yang sangat peduli pada Eshana. Gatra yang melihat wajah pucat Eshana, membangunkan Eshana kembali. "Bangun sebentar, dan sarapan dulu. Lalu minum obatnya." Eshana yang tubuhnya demam, patuh pada Gatra. Tak membantah sama sekali, terlebih ketika Gatra menyuapi Eshana sedikit demi sedikit sampai Eshana menolak untuk suapan yang terakhir. Mahesa sampai mengucek matanya berkali-kali karena melihat Gatra melakukan hal yang sama sekali belum pernah Gatra lakukan pada wanita manapun. "Tuan Gatra menyuapi Eshana? Wah kejadian yang langka!" gumam Mahesa. Belum hilang rasa terkejutnya, Mahesa kembali dibuat syok ketika Gatra menyuapi obat pada Eshana dan memberikan air itu melalui mulutnya sendiri. "Hah??" "Tuan Gatra langsung mencium Eshana? Gila, ini aku melewatkan apa saja?" teriak Mahesa dalam hati. Gatra memastikan Eshana sudah kembali terlelap dan ia kembali ke tempat di mana Mahesa sedang menunggunya. Gatra duduk dengan tenang di depan Mahesa tak peduli dengan wajah penasaran Mahesa dengan apa yang ia lakukan pada Eshana tadi. Gatra bahkan langsung membuka berkas penyelidikan Mahesa terkait Eshana. Raut wajah Gatra yang semula masih terlihat santai berubah menjadi keruh. Ternyata apa yang ia dengar semalam dan juga laporan Mahesa terkait keluarga Eshana dan Jimmy benar adanya. Brak..... Mahesa kembali terlonjak kaget karena tiba-tiba Gatra menggebrak meja di depannya. Mahesa yang penasaran mengambil berkas itu lalu membacanya. Matanya membelalak ketika mendapat semua fakta bahwa Eshana selama ini menderita sekali. Pantas saja jika ia jarang berkumpul bersama yang lainnya. "Aku kira dia memang pendiam, tapi ternyata memang semua uangnya untuk keluarganya. Dan lagi, apa ini?" "Mahesa, hari ini kamu yang turun ke lapangan, aku akan di sini menjaga Eshana. Dan kirim beberapa orang untuk mengawasi keluarga nya yang sialan itu, aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan." Mahesa mengangguk mengerti, ia lalu menghubungi orangnya untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Gatra. "Ada lagi yang Tuan butuhkan?" Gatra diam, lalu ia melihat ke arah Eshana sekilas. "Siapkan berkas pernikahan ku dengan Eshana!" Mata Mahesa lagi-lagi membelalak mendengar itu. "Tuan, apa ini tidak terlalu terburu-buru? Apa Tuan sudah membicarakan semuanya dengan Eshana? Tuan jangan seperti ini, aku tahu Tuan mau melindunginya, tapi kita bisa gunakan cara yang lain. Jangan terlalu mendadak. Tuan tahu Eshana seperti apa, terlebih Tuan tidak lupa bukan dengan Nyonya Sanala dan juga wanita ular itu?" Beberapa informasi terkait Eshana membuat pikiran Gatra tak tenang. Dari awal penyelidikan Mahesa terkait Eshana membuat Gatra ingin melindungi wanita itu lebih dari apa yang terlihat tapi mengingat apa yang terjadi di keluarganya, apa yang dikatakan Mahesa ada benarnya. "Tuan, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian berdua. Tapi Tuan harus ingat, jika Tuan membawa Eshana masuk ke dalam rumah Tuan dengan kondisi Eshana yang sekarang, aku pastikan jika Eshana tidak akan bisa bertahan. Tuan harus bisa membuat Eshana setara dalam hal apapun dengan Tuan. Lebih baik, selesaikan satu persatu semua masalah yang ada. Jika perlu, Tuan juga harus mengatakan pada Tuan besar dan Nyonya besar, aku yakin mereka berdua akan mendukung Tuan. Jangan sampai Eshana juga akan menganggap Tuan hanya kasihan kepadanya." Gatra mengusap wajahnya kasar, semua yang dikatakan Mahesa benar. "Kamu benar Mahesa, aku terlalu terburu-buru." Mahesa bernapas lega, ia sangat tahu Eshana wanita seperti apa. Jika saat ini, Eshana masuk ke dalam keluarga Gatra dengan latar belakang yang sekarang, sudah di pastikan jika Eshana akan hancur perlahan. "Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Gatra. Tiba-tiba otaknya buntu mengingat semuanya serba tiba-tiba. "Semalam ibunya menghubungi lalu tak lama, mantan kekasihnya juga menghubunginya. Mereka memaksa Eshana memberikan uang untuk pernikahan laki-laki b******n itu dengan adiknya dan karena uang nya tak kunjung di berikan pernikahan itu batal." Mahesa dengan setia mendengarkan apa yang dikatakan oleh Gatra. "Kalau begitu saat ini, Tuan harus bersikap baik pada Eshana. Jangan memaksanya melakukan hal yang membuat dia takut juga Tuan harus bersikap lembut kepadanya." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD