Saat ini, Selena dan Jean sudah sampai di sebuah rumah di salah satu perumahan. Rumah yang ada di sana terlihat mirip satu sama lain. Selain itu, lingkungannya ternyata ramah layaknya lingkungan keluarga.
Selain itu, apa yang dikatakan Evelyn ternyata memang benar. Di dekat sana ada sebuah rumah sakit. Selena belum tahu, rumah sakit itu milik swasta atau pemerintah.
“Wow! Rumah ini keren juga!” ungkap Jean saat melihat tampilan luar bangunan satu lantai itu.
“Yeah ... semoga saja isi di dalamnya tidak mengecewakanku ...,” kata Selena yang masih sibuk mencari kunci rumah di dalam tas yang ia bawa.
Setelah Selena menemukan kunci yang dimaksud, ia memberikannya kepada Jean. Sepupu cantiknya itu langsung saja memasukkan anak kunci tersebut ke dalam lubang.
Cklek.
Pintu rumah itu terbuka. Hal pertama yang mereka lihat adalah sebuah sofa yang tertutup dengan selembar kain putih. Ternyata tidak hanya sofa itu, benda lain yang ada di sana juga ditutupi oleh kain putih.
Selena mengedarkan pandangan, ia dapat melihat jika rumah itu belum lama ditinggalkan pemilik sebelumnya. Terbukti dari tidak banyaknya sarang laba-laba atau debu yang menempel di atas lantai.
“Not bad. Sebaiknya kita singkirkan dulu semua kotoran ini ...,” ungkap Jean.
Akan tetapi, Selena memiliki ide lain yang jauh lebih baik.
“Tunggu!” tukas Selena saat Jean mau menarik lembaran kain itu.
“Apa?” tanya Jean.
“Sebaiknya pakai jasa tukang bersih online saja. Bagaimana? Debunya bisa membuatku sesak napas ...,” ungkap Selena.
“Ah, iya! Kamu benar juga! Aku sampai lupa dengan hal-hal seperti itu. Biasanya, aku melakukan semua ini sendirian. Maklum ... wanita strong,” katanya malu-malu.
“Kamu sudah cocok sekali untuk memiliki keluarga dengan kekasihmu. Tidak sepertiku ...,” gumam Selena.
“Ha ha ha! Kamu bicara apa? semua orang pasti bisa berkeluarga suatu saat nanti.” Jean berusaha membesarkan hati Selena.
“I hope so ....”
***
Setelah semua pekerjaan rumah yang Selena dan Jean lakukan bersama selesai, jasa bersih-bersih online yang mereka pesan juga pemit pergi. Selena agak terkejut saat mengetahui biaya yang ia keluarkan tidak begitu besar. Padahal, ia mengira kalau biayanya akan sangat mahal.
“Sepertinya kamu perlu seorang pembantu. Perutmu tidak semakin kecil setiap harinya. Kamu juga perlu teman, bukan? Hanya untuk jaga-jaga,” jelas Jean.
“Ya, kamu benar. Kalau tidak begitu, aku tidak akan bisa bertahan sendirian di sini. Sayang sekali Evelyn tidak bisa menemaniku. Dia harus bekerja.” Selena mengelus perutnya yang semakin besar.
“Hei ... kan, ada aku! Kamu ini tidak menganggapku, ya? Aku bisa datang kapan pun kamu perlu bantuan!” terang Jean.
“Terima kasih, Jean! Kamu memang yang terbaik!” ungkap Selena. “Kalau begitu, aku akan masak makan malam untuk kita! Kamu lapar tidak?” tanya Selena basa-basi. Tentu saja mereka lapar. Ini sudah hampir malam dan mereka lumayan kelelahan.
“Lapar, lah! Kamu yakin mau masak sendiri? Dengan belanjaan tadi?” tanya Jean lagi.
“Iya! Kalau soal masak memasak, aku cukup pandai! Tenang saja!”
Kedua orang itu melanjutkan pekerjaan mereka di dapur. Selena akan masak spagethi simple untuk makan malam mereka kali ini. Lalu menggoreng ayam madu yang juga ia beli dalam perjalanan ke rumah ini tadi siang.
Setelah setengah jam berkutat di dapur baru, Selena akhirnya bisa duduk tenang di belakang meja makan bersama dengan Jean. Keduanya sudah mendapatkan makanan mereka. Dua porsi besar spagethi dan ayam goreng madu yang banyak.
“Pemilik rumah ini pasti lebih banyak menghabiskan waktu di dapur ini ketimbang di ruangan lain,” tebak Jean sebelum menyuapkan satu sendok besar spagethi buatan Selena.
“Kenapa kamu yakin sekali, Sist?” tanya Selena ingin tahu.
“Saat ini kita sedang menikmati acara TV di dapur. Bukankah cukup jelas? Pemilik rumah ini suka menghabiskan waktu di sini ...,” ungkap Jean lagi.
Selena tersenyum mendengar penjelasan itu. “Tapi ... bagaimana kalau TV itu hanya untuk hoby memasaknya? Mungkin mereka tipe orang yang suka memasak dengan melihat resep. Bisa saja, kan?” terka Selena.
“Itu juga masuk akal. By the way ... spagethi ini enak juga. Ternyata kamu memang pandai memasak!” kata Jean kemudian menyuapkan spagethi lain ke dalam mulutnya.
“See? Selena gitu loh ....” Ia membanggakan diri.
Keduanya menikmati malam itu dengan tenang. Selain makan, mereka juga sedang menyaksikan acara TV tentang pencarian bakat sebagai model. Ternyata, tempat itu memang lokasi yang cocok untuk menghabiskan waktu. Selena saja sampai tidak mau beranjak dari sana.
Saat sedang asik dengan acara di depannya, ponsel Selena bergetar sekali dan singkat. Itu artinya, ada sebuah pesan yang masuk. Selena meraih HP dan langsung melihat pengirimnya.
Rupa-rupanya, pesan itu berasal dari Frans. Tiba-tiba saja Selena merasa gugup. Entah kenapa, ia takut jika Jean sampai mengetahuinya. Tentu saja ia akan malu. Hal seperti itu bukanlah konsumsi umum.
Selena membuka pesan itu dan membacanya dengan seksama. Ternyata laki-laki itu baru saja mengajaknya untuk makan siang keesokan harinya. Sayang sekali, Selena sudah tidak tinggal di rumah Jean lagi. Itu artinya, mereka telah dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh.
Tanpa menjawab pesan itu, Selena meletakkan HP-nya kembali di atas meja.
“Loh, tidak dibalas?” tanya Jean bingung.
Akan tetapi, Selena hanya menggelengkan kepala. Ternyata Jean begitu memperhatikannya.
“Nanti saja. Kita lagi makan, kan ...,” sahut Selena.
Jean mengangkat sebelah alisnya. ia berpikir mungkin pesan itu tidak begitu penting. Makanya Selena tidak langsung membalasnya.
“Hei ... tambah, dong! Ini ayamnya masih banyak ...,” kata Selena kepada Jean. Namun wanita itu hanya bisa menggelengkan kepala dengan mulut tertutup rapat.
"Sudah cukup, Cantik. Aku sudah sangat kenyang. Biasanya aku hanya makan sandwich isi daging saat malam. Baru kali ini aku makan malam begitu berat. Spagethi dan ayam. Gila!" kata Jean yang akhirnya buka suara.
Namun, Selena malah mengambil lagi satu potong ayam yang paling besar dan meletakkannya di atas piring kosong Jean.
"Kamu tidak boleh menolaknya. Ini adalah rezeki yang diberikan Tuhan!" ungkap Selena dengan senyum jahat tergambar di wajahnya.
"Ha ha ha ... kamu jahat sekali. Ini adalah ayam ketigaku. Apa kamu ingin aku gendut agar tidak bisa pergi dari sini?
"Yeah, kamu benar. Habiskan, ya ...," bujuk Selena lagi.
Jean hanya geleng-geleng kepala. Ia lalu mengangkat ayam itu dan meletakkannya kembali ke mangkok berisi dua potong ayam tersisa.
Selena terkekeh melihat kelakuan sepupunya itu. Tidak salah ia memilih kota ini. Jean memang bisa membuatnya tersenyum lagi ....
[Bersambung]