5. Istriku Kritis

1162 Words
Satu bulan berlalu semenjak kepindahan Selena di rumah barunya. Hari ini ia ada janji dengan Mrs. Morgan untuk makan malam bersama di rumah wanita itu. Mrs. Morgan adalah tetangga depan rumah Selena. Seperti kata Evelyn, keluarga itu adalah orang baik. Ternyata mereka pernah bekerja di rumah sakit yang sama dengan Evelyn beberapa tahun silam. Selama satu bulan ini pula, Selena mengabaikan pesan-pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Pesan yang ia abaikan itu adalah pesan-pesan dari Frans. Sekuat tenaga ia mencoba untuk menghindar. Ia tidak ingin berhubungan lagi dengan pria itu karena banyak alasan. Alasan yang paling utama adalah karena Selena tidak ingin Frans berpaling dari istrinya. Keadaan istrinya memang sangat memprihatinkan, tapi wanita itu berhak untuk diperhatikan oleh Frans. Walaupun begitu, Selena selalu membaca pesan-pesan yang Frasn kirimkan. Ia tidak ingin melewatkan kabar penting yang mungkin akan laki-laki itu berikan padanya. Sore ini Selena akan pergi ke klinik dokter kandungan untuk meminta vitamin lagi. Vitamin yang kemarin sudah habis dan ia tidak ingin mengalami masalah selama kehamilannya. Entah kenapa, selama ia berada jauh dari kehidupan lamanya, Selena semakin menghargai apa yang ia miliki saat ini. Sebagai contoh, bayi yang ada di dalam kandungannya. Selena sudah memanggil sebuah taksi untuk mengantarnya, untung saja ada taksi online, kalau tidak, ibu hamil sepertinya akan sedikit kesulitan jika harus bolak balik naik bus. “Ke rumah sakit, Mam?” tanya driver taksi online itu dengan aksen Inggris yang begitu kental. Sosoknya juga masih begitu muda. Selena merasa pernah melihat sosok itu sebelumnya. “Ya. Terima kasih …,” sahut Selena. Taksi online itu beranjak dari sana. Meninggalakan pekarangan rumah Selena yang belum terurus dengan baik. Di dalam perjalanan, ponsel sopir taksi itu bergetar. Selena dapat mendengar getarannya karena di dalam sana begitu sepi. “Anda tidak menjawab panggilan itu?” tanya Selena bingung. “Saya sedang menyetir, Mam. Polisi akan menilang saya karena menjawab panggilan itu,” ungkapnya. “Kalau begitu, Anda boleh menepi sebentar. Mana tahu saja panggilan itu penting,” ungkap Selena. Driver taksi online itu terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun, ia tetap menghentikan mobilnya di bahu jalan. Dengan cepat ia menjawab panggilan yang masuk sebelum panggilan itu berakhir. “Hallo, Dad?” sapa driver muda itu dengan suara pelan. Di belakang, Selena hanya mengedarkan pandangan ke arah gedung-gedung di kiri kanan jalan. “Oke. Setelah mengantarkan penumpang, Finn langsung ke sana!” serunya lagi. Suasana kembali hening untuk sejenak. “I-iya … Finn tidak akan mengantar penumpang lagi ….” Pemuda itu terdengar menyesal. “Iya, Dad. Setelah mengantarkan ibu hamil ini, Finn akan ke sana secepatnya!” Panggilan itu diakhiri. Pemuda tersebut kembali melajukan mobil yang ia kemudikan. Kali ini ia mengemudikannya dengan kecepatan yang lebih tinggi. “Eem … mungkin Anda bisa menurunkan saya di sini. Saya tidak akan memberikan bintang jelek untuk Anda,” jelas Selena yang mulai merasa tidak nyaman. “So-sory. Tapi mommy saya kembali kritis di rumah sakit. Barusan dad meminta saya untuk lekas datang,” terangnya dengan pandangan yang masih fokus ke depan. Entah kenapa, Selena langsung memikirkan Frans dan istrinya yang koma. Kenapa ia merasa kalau pemuda di depannya kini agak mirip dengan Frans, temannya itu? Selena memberanikan diri untuk menanyakan nama orang tua pemuda itu. Kalaupun salah, ia tidak perlu malu, bukan? Ia adalah orang asing di kota itu. “Apa … Anda anaknya Frans dan Lily?” tanya Selena ragu. Mendengar pertanyaan itu, pemuda tersebut mengamati Selena dari kaca spion di depannya. Ia tidak paham kenapa Selena bisa mengetahui nama mommy dan daddy-nya. “Bagaimana Anda mengetahui hal itu? Saya tidak mengenal Anda,” kata Finn bingung. “Apa yang terjadi dengan mommy-mu? Kritis? Kamu harus segera ke sana!” tukas Selena setelah mendapat kepastian dari driver di depannya. “A— la-lalu bagaimana dengan Anda?” “Aku? Aku ikut saja! Lekaslah!” perintah Selena. Ia tidak mau pemuda itu sampai menyesal. Apalagi saat ini Frans pasti sedang merasa begitu kalut. Mobil yang membawa Selena belok di simpang tiga. Kalau Selena ingin pergi ke rumah sakit, ia harus mengambil belokan ke kiri. Namun semunya telah terjadi. Saat ini ia sedang berada di perjalanan menuju klinik tempat pertama kali berjumpa dengan Frans. “Apakah ini takdir?” batin Selena cemas. *** Setelah memarkirkan mobilnya di lahan parkir klinik, Finn langsung keluar dari dalam mobilnya sendiri. Ia terlihat gelisah saat menunggui Selena. “Kamu pergi saja deluan, tidak perlu menunggui saya. Saya tidak apa-apa,” kata Selena seperti menjawab kekhawatiran pemuda tersebut. Pemuda bernama Finn itu tersenyum dan berterima kasih. Ia berbalik dan meninggalkan Selena di sana sendirian. “Ya Tuhan … semoga saja istri Frans tidak apa-apa. Mengejutkan sekali, kenapa aku bisa menaiki taksi yang dikemudikan anak dari Frans. Kenapa juga anak itu menjadi driver taksi online? Berapa usianya? Apa keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja?” batin Selena yang dipenuhi berbagai pertanyaan. Langkahnya terus maju menuju ke lobby klinik. Semuanya tidak berubah. Selena masih melihat deretan bangku yang sama, lorong-lorong yang sepi, dan meja pendaftaran yang persis seperti satu bulan lalu. Sayang sekali, ia harus kembali lagi ke tampat itu. Apalagi, hal yang membuatnya kembali datang adalah anak dari Frans sendiri. Selena memilih untuk menunggu di ruang tunggu klinik. Ia tidak ingin naik ke atas walaupun ia tahu di mana lokasi kamar rawat Lily. Ia tidak ingin bertemu dengan Frans dalam keadaan seperti ini. Selena mengeluarkan benda pipih yang ia simpan di dalam tas. Ternyata ada dua pesan masuk di dalam ponsel miliknya. Yang satu dari Evelyn dan yang satu lagi dari Frans. “Istriku kritis!” baca Selena dengan suara pelan. Wanita hamil itu mendekap ponselnya di depan d**a. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin sekali menghibur laki-laki itu. Selena adalah seorang dokter, ia tahu betul bagaimana perasaan keluarga pasien saat mengetahui jika keluarga mereka kritis, sekarat, atau mungkin sudah tidak ada harapan hidup. Rasanya hilang arah. Mau apa pun tidak tenang. “Ya, aku tahu …,” ketik Selena akhirnya. Pesan itu terkirim. Entah kenapa, Selena merasa bisa memberikan laki-laki itu sedikit ketenangan. “Dampingi dia. Kamu adalah sosok yang ada di dalam pikirannya selama ini. Jangan meninggalkannya di saat yang tidak tepat. Keajaiban bisa saja terjadi.” Selena mengetikkan kalimat itu dengan cukup cepat tanpa kesalahan sedikit pun. Tidak perlu waktu lama, pesan itu terkirim. Terlanjur. Ia tidak akan bisa menariknya kembali. Selena memutuskan untuk menyimpan ponsel tadi kembali ke dalam tasnya. Selena mendekati meja pendaftaran untuk mendaftarkan pemeriksaan kandungannya. Untung saja dokter praktek masih ada pada jam-jam segitu. Jadi Selena tetap bisa mendapatkan vitaminnya sekalian memeriksakan kandungannya juga. “Silakan ditunggu. Nomor antrian Anda akan kami panggil setelah ini,” kata seorang perawat yang terlihat seperti perawat magang atau mahasiswa yang sedang menjalankan praktek kerja lapangan. Selena menerima lembaran kertas yang baru saja keluar dari dalam mesin tiket. Ternyata benar, satu nomor lagi dan nomornya akan dipanggil. Selena cukup kelelahan saat ini. Ia memejamkan matanya sejenak. Berusaha menghilangkan pikiran-pikiran jeleknya tentang banyak hal. “Semoga Lily baik-baik saja ….” [Bersambung]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD