6. Driver Taxi

1114 Words
Sudah setengah jam berlalu semenjak pemeriksaannya selesai. Saat ini Selena sedang duduk di salah satu kantin rumah sakit yang tersedia di sana. Ini adalah kali pertamanya makan di tempat itu. Selena tidak memesan makan. Ia hanya memesan kopi dan sepotong sandwich mini. Selama itu pula Selena berpikir untuk pergi dari sana. Selain karena ia punggungnya yang mulai sakit, ia juga merasa kalau salju akan segera turun. Ia tidak begitu menyukai salju. Apalagi dengan keadaannya yang seperti saat ini. Bisa-bisa ia mati beku dalam beberapa menit saja. Akan tetapi, Selena masih khawatir dengan keadaan Lily. Ia juga tidak enak dengan sopir taksi yang merupakan anak Frans tadi. Selena bahkan lupa nama anak itu. Ada banyak pertanyaan yang menguasai kepalanya kini. Akhirnya, Selena memutuskan untuk pulang. Katakan ia mementingkan kesehatannya dan sang calon bayi. Selena hanya berharap jika Lily tidak apa-apa. Wanita itu memiliki semua kebahagiaan yang menunggu. Suami dan anak yang begitu begitu penuh dengan kasih sayang. Tidak sepertinya. Mungkin, jika ia mati pun, tidak akan ada yang menangisi kepergian itu. Setelah memesan sebuah taksi online lainnya, Selena pergi dari kantin itu. Tidak lama kemudian, taksi yang Selena pesan tiba. Ia masuk ke dalamnya dan memberikan alamat rumah yang selalu ia bawa di dalam tas. Ia punya beberapa lembar kartu berisikan alamat rumahnya sendiri. Hanya jaga-jaga. “Sepertinya salju akan turun dalam beberapa menit,” kata sopir taksi yang terlihat seusia dengannya. Selena memandang ke luar mobil dan menyetujui perkataan sopir itu. “Ya. Anda benar … padahal saya tidak begitu menyukai salju. Apalagi dalam keadaan hamil seperti ini,” ungkap Selena. “Salju bisa jadi sangat menyebalkan, bukan?” tanyanya kemudian. “Seperti itu lah. Frostnip, frostbite, flu, bahkan hipotermia. Pilih yang mana dan hal itu akan tiba,” jelas Selena. Sopir itu mengamati Selena dari kaca spion mobilnya. Ia tersenyum dan sepertinya baru menyadari jika penumpangnya mungkin adalah seorang dokter. “Anda pasti dokter yang hebat!” katanya dengan sangat yakin. “Well … tidak juga. Saya sudah tidak bekerja di rumah sakit lagi. Mungkin dulu saya dokter, tapi sekarang saya hanya seorang ibu rumah tangga yang mencoba untuk melahirkan makhluk mungil ini dengan selamat …,” gumam Selena dengan pandangan yang masih menjelajahi kondisi kota New York yang dingin. Sepuluh derajat celcius dan dinginnya jauh lebih tinggi daripada kemarin. Kalau tidak salah ingat, kemarin dinginnya hanya lima belas derajat celcius saja. Setelah perjalanan yang cukup membosankan, Selena tiba di rumahnya sendiri. Ia tidak lupa jika malam ia ada makan malam dengan tetangganya. Ia memutuskan untuk beristirahat dulu sejenak. Duduk dalam waktu yang lama juga akan membuatnya lelah. Selena memutuskan untuk menghubungi kakaknya. Sudah lama ia tidak menghubungi wanita itu. Padahal, Evelyn berjanji untuk menghubunginya secara rutin. Apakah sedang ada kasus penting sehingga saudarinya itu tidak bisa rajin menghubunginya? Tut tut tut …. Bahkan nomor ponsel Evelyn tidak aktif. Rasa khawatir mulai menjalar di dalam hatinya. Ia tidak tahu harus menghubungi siapa lagi saat ini. Apakah Justin ada di Indonesia saat ini? Bisakah ia menghubungi anak itu untuk mendengar kabar tentang kakaknya? Selena langsung saja menghubungi nomor Justin. Namun tampaknya nomor itu sudah lama tidak digunakan. Dengan sangat kebingungan, Selena memutuskan untuk menunggu. Ia tidak punya orang lain yang bisa dimintai tolong. Siapa? Teman lamanya di rumah sakit? Alex? Tidak mungkin … terakhir kali ia ingat, Selena sedang kabur dari laki-laki itu. Ia menghindari Alex yang mencoba untuk menolongnya. Selena tidak bisa membawa semua orang masuk ke dalam hidupnya yang menyedihkan. “Oke … mungkin aku hanya harus ber-positif thinking. Tidak baik untuk calon bayiku jika terus begini …,” monolog Selena. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidur. Salju yang sudah mulai turun membuat Selena tersenyum. Bukannya ia menyukai salju, hanya saja ia suka saat tebakan yang ia pilih terbukti benar. Hari ini akan turun salju …. *** Selena menghela napas panjang. Matanya langsung terbuka dan ia duduk secara tiba-tiba. Hal itu mengakibatkan kepalanya langsung terasa berputar. Tadi Selena memimpikan sesuatu yang mengerikan, tapi sekarang ia tidak bisa mengingat apa yang tadi ada di dalam mimpinya. Hanya saja Selena ingat kalau mimpi itu mengerikan dan ada banyak darah. Hipotensi orthostatik atau hipotensi postural yang terjadi padanya pasti karena kehamilan yang ia alami saat ini. Dari apa yang ia ingat, ia tidak punya penyakit darah rendah, selalu normal dan terkadang sedikit tinggi. Selena merasa jika kehamilan membuatnya cukup menderita. Selena memutuskan untuk kembali berbaring setelah menghabiskan satu gelas air dingin. Dilihatnya jam yang tergantung di dinding, sudah menunjukkan angka lima. Semoga saja sakit kepalanya sudah hilang setelah jam enam nanti. Kalau tidak, ia tidak akan bisa pergi ke rumah tetangganya untuk memenuhi undangan makan malam. Mrs. Morgan pasti akan mengerti jika ia tidak datang ke rumahnya malam ini, tapi Selena juga akan mati kelaparan jika tidak pergi ke sana. Ia tidak punya apa-apa di dalam lemari pendinginnya malam ini. Ia belum ke supermarket karena berpikir akan makan malam di luar, tepatnya di rumah Mrs. Morgan. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Selena kepada dirinya sendiri. Padahal, beberapa minggu yang lalu Jean menawarkan untuk mencarikannya seorang asisten rumah tangga agar bisa menemani Selena di rumah, tapi ia menolaknya. Ia bilang, masih cukup kuat untuk melakukan semuanya sendiri. Rumahnya tidak pernah berantakan dan seorang ART akan sangat sia-sia. Akan tetapi, setelah mengalami hal ini, Selena sadar kalau ia bisa saja mengalami hal lainnya yang jauh lebih berbahaya. “Mungkin Jean benar. Aku harus punya seorang ART untuk membantuku di sini,” katanya kemudian. Selena mengambil sebuah benda pipih yang ada di atas nakas. Dengan sedikit kesusahan, Selena mengatur tubuhnya agar bisa berbalik menghadap ke kanan. Lama-lama menghadap ke satu sisi membuatnya pegal. Kemudian, ia menghubungi Jean untuk menanyakan tawarannya waktu itu. “Hallo! Ada apa Sel?” tanya Jean yang terdengar sangat panik. Selena sampai harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Terasa sedikit berdengung. “Apa kamu tidak bisa bertanya dengan lebih pelan? Kamu mengagetkan satu kota!” sahut Selena yang merasa jika kepalanya semakin sakit. “Eh … maaf, aku kira kamu sudah akan melahirkan. Tumben saja menghubungiku pada jam-jam begini …,” terang Jean. “Maaf kalau aku menganggu waktumu.” “Tidak tidak. Maksudnya bukan itu … aku baru saja pulang kerja dan kamu tahu itu. Lalu, ada apa sebenarnya?” tanya Jean lagi. “Emm … tiba-tiba aku sakit kepala lalu—” “Tenang! Aku akan datang ke sana sekarang!” seru Jean memotong omongan Selena. Wanita itu terkikik karena kepanikan Jean. “Hei … tidak usah buru-buru. Tapi … kalau kamu memang mau ke sini, bisakah kamu membawakan makan malam untuk kita sekalian? Sepertinya aku tidak mungkin hadir ke undangan Mrs. Morgan malam ini …,” pinta Selena. Ia tahu hal itu begitu memalukan, tapi mau bagaimana lagi? Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD