Bus 3 terus melaju meninggalkan parkiran TMII. Suara mesin bergetar lembut, sementara langit siang semakin cerah, seolah tak peduli ada dua hati yang sama-sama tertinggal di belakang. Nayla duduk di kursinya—kursi yang tadi ia bayangkan akan dipenuhi suara ributnya Riyan, komentar jahilnya, tangan yang suka iseng nyentil ujung rambutnya, dan nafas cowok itu yang kadang terlalu dekat tapi entah kenapa… tidak pernah membuatnya ingin menjauh. Jaket Riyan tetap terlipat rapi di sampingnya. Tas ransel Riyan itu masih bersandar di sudut kursi. Tapi pemiliknya… tak ada. Nayla menarik napas perlahan, mencoba menghalau gelisah yang mengumpul seperti awan mendung di dadanya. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Riyan: “Nay aku ikut bus 2, bareng sama anak matematika. Nanti kita ketemu lagi di Anco

