BAB 1 Belum Saling Kenal
Suasana ksmpus selalu tampak ramai. Langkah kaki mahasiswa yang berkejaran di koridor, lewat tawa yang pecah tanpa sebab jelas, dan lewat pintu-pintu kelas yang menutup setengah hati - tak pernah benar-benar sunyi, tak pernah benar-benar diam. Gedung-gedungnya berdiri kokoh, seolah tahu lebih banyak dari yang diucapkan para penghuninya. Tentang mimpi yang baru tumbuh. Tentang perasaan yang belum tahu harus bernama apa.
Di kelas sastra, Nayla duduknya sering berdekatan dengan Risa dan Nita. Mereka duduk bersebelahan, dan ternyata berasal dari latar belakang yang sama - anak petani dari desa kecil. Mereka tinggal di satu kos, hanya beda kamar. Hubungan mereka tumbuh dari rasa senasib, merantau, berjuang, dan punya mimpi yang tak ingin padam.
Semester satu selalu terasa seperti halaman pertama buku yang masih bersih. Nama-nama belum hafal. Wajah-wajah masih asing. Mahasiswa baru sibuk mencari tempat berpijak - di bangku kelas, di daftar absen, dan diam-diam, di hati orang lain. Bagi Nayla tempat berpijak itu sudah ia temukan. Namanya Andi.
Andi bukan siapa-siapa yang mencolok. Badannya agak gemuk, jaketnya hampir tak pernah lepas meski matahari sedang terik, dan selera humornya seringkali absurd. Tapi entah kenapa, Andi selalu berhasil membuat hari-hari Nayla terasa lebih ringan. Bahkan ketika tugas menumpuk dan dosen bicara terlalu cepat.
Pagi itu mereka duduk di taman fakultas, menunggu kelas dimulai. Andi menyesap es tehnya pelan, lalu mencondongkan badan seolah hendak membocorkan rahasia besar.
“Tau nggak, Nay,” katanya berbisik, “fakultas kita ini mirip gado-gado.”
Nayla mendesah malas, tapi sudut bibirnya sudah terangkat. “Kenapa lagi?”
"Isinya campur-campur Nay, ada yang dari SMA IPA, ada yang dari IPS, ada yang dari PKBM, ada yang dari STM, lah kamu Nay, dulunya si SMK ambil perkantoran, kok kuliahnya ambil sastra”
Tawa Nayla pecah begitu saja - lepas, jujur, tanpa beban. Andi ikut tertawa, puas seperti orang yang baru saja menyelamatkan dunia kecilnya sendiri: membuat Nayla bahagia.
" Kamu juga Ndi, kata kamu, kamu ingin jadi TNI, kok nyasar ke sini. nanti perangnya bukan pakai senjata tapi pakai kata-kata."
Tawa meledak lagi. "paling nanti perang pantun Nay"
"Nay, kenapa kamu ambil sastra?" tanya Andi, sambil melempar bungkus es teh ke tong sampah di dekatnya.
Nayla tersenyum kecil. "karena hanya dengan kata-kata, aku bisa bercerita tentang hidupku."
"Kamu pernah bilang, kamu suka nulis?" tanya Andi lagi.
"iya. Dulu aku suka nulis cerita di buku tulis biasa. Tentang sawah, tentang hujan, tentang...cinta"
Andi tertawa. "Cinta...? Siapa tuh"
Nayla pura-pura memukul lengan Andi. Kemudian mereka memutuskan untuk masuk kelas bareng.
Mereka sering bersama. Bukan karena janji, bukan karena status. Hanya karena nyaman. Nayla memang mudah akrab dengan siapa pun, tapi bersama Andi, ada rasa aman yang tak bisa dijelaskan. Seperti ada seseorang yang akan berdiri di depan, kalau dunia tiba-tiba berubah kejam.
----
Siang hari sepulang kuliah, mereka hampir selalu mampir ke warung kopi kecil dekat kampus. Meja kayu panjang, kipas angin berderit, dan pelayan yang hafal pesanan mereka - dua es teh manis, satu piring bakwan. Obrolan mereka mengalir tanpa arah: tentang dosen, tentang mahasiswa aneh, tentang hidup yang terasa terlalu besar untuk dipikirkan serius.
Di sela tawa itu, Andi kadang menatap Nayla terlalu lama. Tatapan yang menggantung, seolah ingin jatuh tapi tak pernah berani mendarat.
Dan Nayla - yang mulai merasakan debar aneh di dadanya -- memilih pura-pura tidak tahu.
---
Di kelas yang sama, ada lingkaran cerita lain yang pelan-pelan terbentuk. Salah satunya bernama Tiyo. Wajahnya terlihat lebih tua dari mahasiswa baru kebanyakan. Rambut klimis, pakaian batik yang terlalu rapi untuk ukuran kuliah, dan cara bicara yang selalu serius - seolah hidup adalah rapat panjang yang tak pernah usai.
Tiyo sering satu kelompok dengan Nayla. Entah kebetulan atau takdir iseng dosen, namanya selalu muncul di kertas yang sama. Ia rajin, terstruktur, dan diam - diam memperhatikan Nayla lebih dari yang seharusnya. Ia menyukai Nayla.
Tapi ia tidak tahu caranya menjadi ringan seperti Andi. Tidak tahu caranya membuat Nayla tertawa tanpa berpikir. Dan bagi Nayla, Tiyo hanyalah teman kelompok - terlalu kaku untuk jadi cerita, terlalu serius untuk jadi candaan.
Suatu ketika saat sedang mengerjakan tugas bersama Tiyo di kost-kostan Tiyo selalu bilang " Nay aku perhatiin muka kamu putih bercahaya gitu meskipun nggak pakai mske up, kamu pasti sering sholat malam ya. Aku suka dengan wanita yang taat beribadah."
Nayla terdiam sejenak. "Tiyo kita bahas tugas saja ya" Bagi Nayla hal itu tidak semestinya untuk dibicarakan.
----
Ada satu nama lagi di kelas itu yang akan masuk dalam kehidupan Nayla berikutnya. Tak banyak disadari. Tak banyak dibicarakan. Ia adalah Riyan.
Riyan bukan tipe yang mencuri perhatian. Ia bukan aktivis kampus, bukan musisi pentas seni, bukan pula sosok yang selalu dikelilingi orang. Ia lebih sering duduk di pinggir dekat tembok kelas bersama beberapa teman lelaki, tertawa seperlunya, lalu kembali diam.
Wajahnya maskulin. Tatapannya tenang, tapi menyimpan sesuatu yang sulit ditebak. Cara bicaranya santai, kadang terdengar sok tenang, kadang justru seperti anak muda yang sedang belajar menyangkal kenyataan.
Ia tahu Nayla ada. Tapi belum pernah benar- benar mengenalnya.. Pikiran Riyan sedang sibuk pada satu nama lain: Ratna - pacarnya dari jurusan sastra juga, yang gosipnya mereka jadian di hari ke - lima mereka berkenalan. Gadis imut dan centil yang akhir-akhir ini terasa menjauh. Pesan yang dibalas lama. Tawa yang dibagi dengan orang lain di taman belakang kampus. Riyan berpura-pura santai. Padahal hatinya sedang belajar retak perlahan.
---
Senja turun pelan di halaman kampus begitu keluar dari tempat parkiran. Burung-burung beterbangan di sekitar pohon ketapang. Suara azan magrib mengambang dari masjid, menyentuh dinding-dinding gedung yang mulai lengang.
Andi mengantar Nayla pulang seperti biasa. Motor melaju pelan, angin sore menyentuh wajah mereka tanpa banyak kata.
Hati Nayla justru tak setenang itu. Ada harapan yang tumbuh diam-diam - hangat, tapi belum tahu harus diletakkan di mana. Sementara itu, di taman kampus yang hampir kosong, Riyan duduk sendiri. Ponsel di tangannya menyala, lalu redup kembali. Tak ada pesan baru. Tak ada jawaban.
Dua dunia yang berjalan beriringan, tapi belum pernah bersinggungan. Belum saling mengenal. Belum saling menyapa. Namun waktu, seperti biasa, tidak pernah benar-benar netral. Karena ada pertemuan yang lahir dari ketidaksengajaan. Dan ada luka yang bermula… justru sebelum cinta sempat diberi nama.
Kadang, cinta tidak datang sebagai pilihan yang tepat. Ia datang sebagai kebiasaan, sebagai kehangatan, sebagai rasa aman yang keliru. Dan ketika kita menyadari kesalahannya, kita sudah terlalu dalam untuk kembali.