Siang itu kuliah berakhir lebih cepat dari biasanya. Dosen tiba-tiba pamit lebih dulu, entah karena urusan penting atau sekadar bosan melihat wajah-wajah letih mahasiswa baru yang belum juga paham cara membaca jurnal akademik.Ruangan terasa kosong sebelum waktunya, dan satu per satu bangku kayu mulai ditinggalkan.
Langit di luar berwarna biru muda yang biasa menggantung. Udara kampus siang itu seperti berhenti sejenak - hening, nyaris tak bergerak.
Riyan masih tertawa bersama Ratna, pacarnya duduk di kursi pojok Tapi tawanya kosong. Hubungan mereka hangat di luar, tapi keropos di dalam. Ratna punya rahasia besar: ia sedang menjalin hubungan dengan pria lain yang lebih menjanjikan secara materi. Dan Riyan... belum tahu bahwa senyum Ratna sedang menunggu waktu untuk meninggalkannya.
Nayla melangkah keluar kelas dengan tergesa., tangannya sibuk memasukkan buku ke dalam tas selempangnya, tapi pikirannya jauh ke mana-mana. Hari itu seperti banyak hari lainnya: lelah, sunyi, dan menggantung.
Sementara itu di parkiran, Andi sudah menunggu Nayla. Duduk di motornya dengan santai, helm cadangan tergantung di spion.
“An, kapan makan- makannya?” tanya Bayu sambil menyikut bahu Andi di parkiran kampus, senja menari perlahan di ujung langit.
Andi tersenyum. Ringan, tapi rapuh. “Aku belum jadian sama Nayla, Bay.”
Bayu tertawa, tapi tak menyembunyikan keheranannya. “Serius? Padahal kalian udah kayak magnet. Nggak bisa dipisah. Apa lagi yang kamu tunggu?”
Andi hanya diam. Pandangannya menembus langit biru,, seolah mencari sesuatu yang bahkan tak bisa ia sebutkan. “Aku nunggu momen yang tepat,” ujarnya pelan. “Ulang tahunnya sebentar lagi. Aku mau bikin dia ingat selamanya.”
Tak lama kemudian Nayla datang menghampiri Andi di parkiran . Andi ternyenyum pada Nayla - senyum lebar yang entah kenapa - selalu berhasil membuat Nayla merasa… pulang.
“Hei Nay,” sapa Andi, ringan, tapi hangat. Seperti biasa.
Nayla mengangguk kecil.
“Mau langsung pulang, Nay?” tanyanya Andi.
Nayla menggeleng pelan. “Nggak”
Andi menaikkan satu alisnya, lalu tertawa pendek. “Kalau gitu… keliling kota yuk?”
Mereka tidak membahas arah. Tidak bertanya mau ke mana. Tidak perlu. Karena bersama Andi, Nayla merasa bisa ke mana saja. Motor Andi melaju menembus udara siang yang hangat. Nayla duduk di jok belakang, memeluk tasnya, membiarkan kepalanya terayun pelan mengikuti ritme jalan. Sesekali ia tertawa mendengar celotehan Andi yang tak pernah kehabisan bahan candaan.
“Tau nggak,” kata Andi di tengah jalan, “dosen Hendra itu nyebelin banget.”
Naya menyipitkan mata, menebak arah gurauan itu. “Kenapa?”
“Tadi aku disuruh bikin tugas lagi. sudah capek-capek semalaman nggak tidur, ternyata salah semua.”
Tawa Naya pecah, lepas - dan untuk sesaat, semua beban harinya menguap bersama angin. Tawa kecilnya seperti menyusup ke sela-sela pepohonan di pinggir jalan, menempel di kaca helm Andi, dan jatuh perlahan ke dadanya… tanpa pernah benar-benar bisa ia artikan.
Mereka berhenti di warung kopi sederhana di pinggir jalan kota. Warungnya reot, bangku kayunya sudah usang, dan kipas anginnya hanya berputar bila dipukul dulu. Tapi justru di tempat seperti itu, Nayla merasa tenang. Tak perlu jaim. Tak perlu berpura-pura kuat.
Mereka memesan dua es teh manis dan sepiring gorengan panas. Di hadapan makanan sederhana itu, mereka membicarakan banyak hal—tentang tugas kuliah yang menyebalkan, teman sekelas yang mulai menjodohkan mereka, dan masa depan yang masih jauh tapi entah kenapa terasa dekat kalau dibayangkan bersama.
Dan sesekali, Andi memandangi Nayla diam-diam. Matanya menyimpan sesuatu. Bukan sekadar kekaguman, tapi juga… ketakutan. Takut kehilangan, sebelum sempat menggenggam.
Sementara Nayla, diam-diam mulai menyimpan rasa yang tidak ia tahu harus dibawa ke mana. Ia menyukai cara Andi membuatnya tertawa. Ia menyukai bagaimana dunia terasa lebih ringan saat bersamanya. Tapi ia juga takut. Takut kalau semua ini cuma permainan satu arah. Bahwa Andi sebenarnya tidak benar-benar menaruh apa-apa… selain kebaikan.
Beberapa teman sekelas lewat dan melambaikan tangan. Beberapa tersenyum geli, lalu berbisik - cukup keras untuk didengar:
“Fix. Mereka pacaran.”
Kalimat itu sudah sering Nayla dengar akhir-akhir ini. Dan ia tak pernah membantah. Tapi ia juga tak pernah membenarkan. Ia hanya tersenyum kecil… lalu memalingkan pandangan ke langit.
Di dadanya, perasaan itu mulai tumbuh. Seperti benih yang pelan-pelan merekah—tapi tak berani disiram. Ia takut perasaannya tumbuh di tanah yang salah.
Andi bukan cowok yang tampan luar biasa, tapi caranya berbicara dengan santai, matanya yang menyipit tiap kali tertawa, dan kebiasaannya menyelipkan humor dalam obrolan-obrolan kecil membuat hati Naya menghangat. Andi seperti kopi pagi yang tak terlalu manis, tapi selalu berhasil mengusir kantuk dan membangkitkan semangat.
Di kelas, ia sering duduk di barisan tengah. Nayla pun, entah sejak kapan, selalu memilih tempat yang tak jauh darinya. Mungkin agar bisa mendengar leluconnya, atau hanya agar bisa melihat senyumnya saat ia berhasil membuat semua orang tertawa. Tapi buat Nayla, tawa Andi adalah satu-satunya yang terdengar paling tulus.
Andi bukan tipikal cowok yang suka tampil. Ia ramah tapi tidak murahan, dekat tapi tetap memberi ruang. Justru itu yang membuat Nayla jatuh. Andi tidak pernah mencoba memikat, tapi kehadirannya selalu terasa menenangkan.
Kadang Nayla diam-diam mencatat hal-hal kecil tentang Andi - cara ia mengacak rambut sendiri saat bingung, gumaman lucunya saat salah menjawab pertanyaan dari dosen, atau bahkan cara ia memperlakukan semua orang dengan sopan tanpa dibuat-buat.
Nayla tahu, ia perempuan yang lemah terhadap cowok yang bisa membuatnya tertawa. Tapi lebih dari itu, Nayla jatuh pada rasa nyaman yang tak perlu dijelaskan panjang lebar. Ia jatuh pada Andi, dengan cara yang tidak meledak - ledak, tapi perlahan dan pasti—seperti hujan gerimis yang diam-diam membuat baju basah.
Mereka kembali naik motor. Angin malam menampar pipi, tapi Nayla tidak merasa dingin. Ia diam saja. Menikmati kebersamaan yang sunyi tapi berarti. Seolah mereka berdua sedang berjalan dalam dunia kecil milik mereka sendiri—dunia yang hanya akan ada sore ini saja.
Andi tidak banyak bicara di perjalanan pulang. Tapi genggaman tangannya di setang motor terasa lebih kaku dari biasanya. Mungkin karena ia menyadari sesuatu yang Nayla belum tahu. Bahwa rasa yang tumbuh tanpa pengakuan… pada akhirnya hanya akan berubah jadi perih yang pelan-pelan menusuk.
Hari itu berakhir seperti banyak hari sebelumnya: dengan Nayla yang tersenyum di balik helmnya, mencoba menepis debar yang tak perlu… dan Andi yang diam-diam berharap, waktu bisa ia bekuan di momen itu saja.
Di depan kost, sebelum Nayla masuk rumah kost, Andi menatapnya lama.
“Nay… besok kayaknya kamu harus siap,” ucapnya pelan.
“Siap apa?”
Andi tersenyum tipis—senyum yang tidak menjawab apa pun. "Hari ulang tahunmu. Ada yang mau ngasih kamu sesuatu."
Nayla mengernyit. “Maksudmu… siapa?”
Andi tidak sempat menjawab. Ponsel Nayla bergetar lagi. Satu pesan baru masuk:
“Besok. Tunggu aku." Tanpa nama. Tanpa penjelasan.
Nayla menatap layar itu. Dan untuk pertama kalinya… ia benar-benar bingung—
siapa yang sebenarnya sedang mendekatinya? Dan siapa yang akan akhirnya berdiri di sisinya?