Suasana kampus hampir selalu ramai. Langkah kaki mahasiswa berseliweran di koridor, diselingi suara tawa yang muncul begitu saja, dan pintu - pintu kelas yang buka - tutup mengikuti jam kuliah. Jarang sekali benar-benar sepi. Gedung - gedungnya berdiri diam, menyimpan banyak cerita—tentang mimpi yang mulai dirangkai, dan perasaan- perasaan yang masih samar, belum sempat diberi nama.
Di kelas PBSI atau kelas sastra, Nayla duduknya sering berdekatan dengan Risa dan Nita. Mereka duduk bersebelahan, dan ternyata berasal dari latar belakang yang sama - anak petani dari desa kecil. Mereka tinggal di satu kos, hanya beda kamar. Hubungan mereka tumbuh dari rasa senasib, merantau, berjuang, dan punya mimpi yang tak ingin padam.
Semester satu selalu terasa seperti awal yang canggung. Nama-nama belum sepenuhnya hafal, wajah - wajah masih terasa asing. Mahasiswa baru sibuk menyesuai- kan diri—mencari bangku langganan di kelas, memastikan namanya tercatat di daftar absen, dan pelan-pelan mengenal orang-orang di sekitarnya. Bagi Nayla, ada satu orang yang sejak awal terasa familiar. Namanya Andi.
Andi bukan siapa-siapa yang mencolok. Badannya agak gemuk, jaketnya hampir tak pernah lepas meski matahari sedang terik, dan selera humornya seringkali absurd. Tapi entah kenapa, Andi selalu berhasil membuat hari-hari Nayla terasa lebih ringan. Bahkan ketika tugas menumpuk dan dosen bicara terlalu cepat.
Pagi itu mereka duduk di taman fakultas, menunggu kelas dimulai. Andi menyesap es tehnya pelan, lalu mencondongkan badan seolah hendak membocorkan rahasia besar.
“Tau nggak, Nay,” katanya berbisik, “fakultas kita ini mirip gado-gado.”
Nayla mendesah malas, tapi sudut bibirnya sudah terangkat. “Kenapa lagi?”
"Isinya campur-campur Nay, ada yang dari SMA IPA, ada yang dari IPS, ada yang dari PKBM, ada yang dari STM, lah kamu Nay, dulunya si SMK ambil perkantoran, kok kuliahnya ambil sastra”
Tawa Nayla pecah begitu saja - lepas, jujur, tanpa beban. Andi ikut tertawa, puas seperti orang yang baru saja menyelamatkan dunia kecilnya sendiri: membuat Nayla bahagia.
" Kamu juga Ndi, kata kamu, kamu ingin jadi TNI, kok nyasar ke sini. nanti perangnya bukan pakai senjata tapi pakai kata-kata."
Tawa meledak lagi. "paling nanti perang pantun Nay"
"Nay, kenapa kamu ambil sastra?" tanya Andi, sambil melempar bungkus es teh ke tong sampah di dekatnya.
Nayla tersenyum kecil. "karena hanya dengan kata-kata, aku bisa bercerita tentang hidupku."
"Kamu pernah bilang, kamu suka nulis?" tanya Andi lagi.
"iya. Dulu aku suka nulis cerita di buku tulis biasa. Tentang sawah, tentang hujan, tentang...cinta"
Andi tertawa. "Cinta...? Siapa tuh"
Nayla pura-pura memukul lengan Andi. Kemudian mereka memutuskan untuk masuk kelas bareng.
Mereka sering bersama. Bukan karena janji, bukan karena status. Hanya karena nyaman. Nayla memang mudah akrab dengan siapa pun, tapi bersama Andi, ada rasa aman yang tak bisa dijelaskan. Seperti ada seseorang yang akan berdiri di depan, kalau dunia tiba-tiba berubah kejam.
----
Siang hari sepulang kuliah, mereka hampir selalu mampir ke warung kopi kecil dekat kampus. Meja kayu panjang, kipas angin berderit, dan pelayan yang hafal pesanan mereka - dua es teh manis, satu piring bakwan. Obrolan mereka mengalir tanpa arah: tentang dosen, tentang mahasiswa aneh, tentang hidup yang terasa terlalu besar untuk dipikirkan serius.
Di sela tawa itu, Andi kadang menatap Nayla terlalu lama.Tatapan yang menggantung, seolah ingin jatuh tapi tak pernah berani mendarat.
Dan Nayla - yang mulai merasakan debar aneh di dadanya -- memilih pura-pura tidak tahu.
---
Di kelas yang sama, ada lingkaran cerita lain yang pelan-pelan terbentuk. Salah satunya bernama Tiyo. Wajahnya terlihat lebih tua dari mahasiswa baru kebanyakan. Rambut klimis, pakaian batik yang terlalu rapi untuk ukuran kuliah, dan cara bicara yang selalu serius - seolah hidup adalah rapat panjang yang tak pernah usai.
Tiyo sering satu kelompok dengan Nayla. Entah karena kebetulan atau aturan dosen, nama mereka hampir selalu muncul di kertas yang sama. Tiyo termasuk mahasiswa yang rajin dan teratur. Ia jarang banyak bicara, tapi perhatiannya pada Nayla sering muncul lewat hal-hal kecil yang nyaris tak terlihat. Tiyo menyukai Nayla.
Namun Tiyo tidak tahu caranya bersikap santai seperti Andi. Ia tidak pandai melontarkan candaan yang bisa membuat Nayla tertawa begitu saja. Bagi Nayla, Tiyo tak lebih dari teman satu kelompok—terlalu kaku untuk dijadikan cerita, terlalu serius untuk sekadar bahan bercanda.
Suatu ketika saat sedang mengerjakan tugas bersama Tiyo di kost-kostan, Tiyo selalu bilang " Nay aku perhatiin muka kamu putih bercahaya gitu meskipun nggak pakai mske up, kamu pasti sering sholat malam ya. Aku suka dengan wanita yang taat beribadah."
Nayla terdiam sejenak. "Tiyo kita bahas tugas saja ya" Bagi Nayla hal itu tidak semestinya untuk dibicarakan.
----
Ada satu nama lagi di kelas itu yang akan masuk dalam kehidupan Nayla berikutnya. Tak banyak disadari. Tak banyak dibicarakan. Ia adalah Riyan.
Riyan bukan tipe yang mencuri perhatian. Ia bukan aktivis kampus, bukan musisi pentas seni, bukan pula sosok yang selalu dikelilingi orang. Ia lebih sering duduk di pinggir dekat tembok kelas bersama beberapa teman lelaki, tertawa seperlunya, lalu kembali diam.
Wajahnya terlihat maskulin. Tatapannya tenang, meski ada kesan yang sulit ditebak di baliknya. Cara bicaranya santai—kadang terdengar dibuat-buat, kadang justru seperti anak muda yang sedang berusaha menyangkal kenyataan.
Riyan tahu Nayla ada, tapi ia belum pernah benar-benar mengenalnya. Pikirannya masih dipenuhi satu nama lain: Ratna—pacarnya dari jurusan sastra juga, yang katanya sudah jadian sejak hari kelima mereka saling kenal. Ratna gadis imut dan centil, tapi akhir-akhir ini terasa menjauh. Pesan-pesannya sering dibalas lama, tawanya lebih sering terdengar bersama orang lain di taman depan fakultas. Riyan berusaha terlihat santai, padahal hatinya pelan-pelan mulai retak.
---
Senja turun pelan di halaman kampus saat mereka keluar dari area parkiran. Burung-burung beterbangan di sekitar pohon ketapang, sementara suara azan magrib terdengar dari masjid, menggema di antara gedung - gedung yang mulai sepi.
Andi mengantar Nayla pulang seperti biasanya. Motor melaju pelan, angin sore menyentuh wajah mereka. Keduanya sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Di dalam hati, Nayla justru gelisah. Ada harapan kecil yang tumbuh tanpa diminta—hangat, tapi belum tahu harus ditempatkan di mana.
Di sisi lain, di taman kampus yang hampir kosong, Riyan duduk sendirian. Ponsel di tangannya sempat menyala, lalu kembali gelap. Tak ada pesan masuk. Tak ada balasan yang ditunggu.
Dua cerita berjalan berdampingan, tanpa saling bersinggungan. Belum saling mengenal, apalagi menyapa. Namun waktu jarang bersikap netral. Ada pertemuan yang lahir dari kebetulan, dan ada luka yang justru muncul sebelum cinta sempat diberi nama.