BAB 3 Kado Dari Tiyo

1131 Words
Malam datang pelan-pelan ke kamar kost Nayla. Lampu neon di langit-langit menyala temaram, memantulkan bayangan dinding yang mulai sunyi. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah sengaja mengingatkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun. Nayla duduk bersandar di ranjang, ponsel berada di genggaman. Layarnya menyala - lalu mati - menyala lagi. Ia mengecek jam, lalu membuka aplikasi pesan, menatap nama yang sejak sore tadi paling ia tunggu. Andi. Di luar kamar, suara sendal teman kost lalu-lalang, diselingi tawa kecil dan obrolan ringan. Tapi di dalam kamar Nayla, dunia terasa seperti mengecil, hanya tersisa dirinya, jam dinding, dan ponsel yang tak kunjung berbunyi. Ini ulang tahunnya. Dua belas menit lagi menuju pergantian hari. Takut ketiduran, Nayla memasang alarm. Jam 00.00. Jam yang terasa sakral untuk sebuah harapan kecil. Ia merebahkan badan, tapi matanya tak mau terpejam. Tangannya masih menggenggam ponsel, seolah takut melepasnya barang sedetik. Detik berganti. Menit merambat. Dan tepat saat jarum jam bertemu di angka dua belas - ponselnya bergetar. Jantung Nayla berdegup kencang. Ia tersenyum refleks, lalu cepat-cepat membuka layar. Bukan Andi. Nama yang muncul di layar justru membuat senyumnya meredup pelan. Tiyo “Malam Nay, selamat ulang tahun. Semoga panjang umur.” Nayla membaca pesan itu sekali lagi. Lama. Lalu membalas singkat.“Terima kasih.”Hanya itu. Ia kembali menatap jam dinding. 00.03. Ponsel kembali ke genggaman. Layarnya kembali kosong. Tak ada notifikasi baru. Tak ada nama Andi. Menit demi menit berlalu, Nayla berkali-kali mengecek ponselnya, seolah dengan menatapnya cukup lama, sebuah pesan akan muncul dengan sendirinya. Tapi layar itu tetap dingin. Sunyi. Matanya mulai terasa berat. Tanpa sadar, Nayla tertidur - dengan ponsel masih berada di dadanya, dan harapan kecil yang belum sempat ia lipat rapi. ----- Alarm berbunyi pukul lima pagi. Nayla terbangun dengan jantung berdegup, seolah ada sesuatu yang terlewat. Hal pertama yang ia lakukan adalah meraih ponselnya. Tidak ada pesan baru. Nama Andi masih sama - diam, tanpa satu pun ucapan. Ada rasa yang tiba-tiba menekan dadanya. Bukan marah. Bukan kecewa sepenuhnya. Lebih seperti perih kecil yang datang tanpa suara. Ia menghela napas panjang. Tiba-tiba, ketukan terdengar dari pintu depan kost. Tok. Tok. Tok. Nayla terdiam. Ia masih duduk di tepi ranjang ketika terdengar suara Retno, teman kostnya, dari ruang tamu. "Mau ketemu siapa?” Suara laki-laki terdengar dari balik pintu. Agak ragu, tapi jelas. "Mbak… saya mau ketemu sama Nayla.” Nayla mengernyit. “Itu siapa?” tanyanya pelan dari dalam kamar. “Kayaknya temen sekelasmu,” jawab Retno. “Tunggu sebentar ya.” jawab Nayla Nayla merapikan rambut seadanya, lalu berjalan keluar. Di teras kost, Tiyo berdiri canggung. Tangannya masuk ke saku jaket, matanya menatap lantai. “Oh…” Nayla berhenti. “Saya kira Andi.” Tiyo mendongak. Ada sesuatu yang singgah di matanya—kecewa, tapi cepat ia sembunyikan. “ Tiyo...? Ada apa pagi-pagi?” “Nay… aku mau ngomong penting sama kamu.” Nayla ragu sejenak, lalu duduk di kursi teras. “Mau ngomong apa, Yo?” Tiyo melangkah mendekat. Dari balik tembok kecil teras, ia mengambil sebuah bingkisan sederhana yang sejak tadi ia sembunyikan. "Ini, Nay,” katanya pelan sambil menyerahkan hadiah itu. “Maaf… aku cuma bisa ngasih ini.” Nayla menerimanya. Tangannya sedikit gemetar. “Terima kasih, Tiyo. Ini… sudah lebih dari cukup.” Tiyo tersenyum kecil, lalu menelan ludah. “Nay… aku… aku mau ngomong sesuatu.” Nayla menatapnya. Ia sudah bisa menebak. Ada rasa yang sejak lama terasa menggantung di udara di antara mereka. “Mau ngomong apa? Ngomong aja, Tiyo.” Tiyo menghela napas. “Aku… aku sayang sama kamu, Nay.” Nayla tertegun. "Tiyo…?” “Mau nggak Nay, kamu jadi pacarku?” Ada hening yang tiba-tiba terasa berat. Nayla tersenyum kecil—senyum yang lebih mirip pertahanan. "Maaf, Tiyo. Nggak bisa. Aku sudah mencintai seseorang.” Wajah Tiyo mengeras. “Siapa, Nay? Andi?” Nayla terdiam. Tiyo tertawa pendek, pahit. “Semalam Andi jadian sama Rima. Kalau kamu nggak percaya, nanti kamu bisa lihat sendiri di kampus.” Kata-kata itu seperti menghantam dadanya tanpa aba-aba. Napas Nayla tertahan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menjalar, pelan tapi menyakitkan. “Kamu jangan terlalu naif, Nay,” lanjut Tiyo. “Aku tulus mencintai kamu.” Nayla berdiri. Nada suaranya sedikit bergetar, tapi tegas. “Tiyo, sekarang kamu pergi. Aku mau siap-siap berangkat kuliah.” Tiyo menatapnya lama. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi meninggalkan teras kost. Nayla berdiri sendirian. Di tangannya, hadiah ulang tahun itu terasa semakin berat. Dan di dadanya, ada satu pertanyaan yang tak mau pergi - jika benar Andi memilih orang lain,lalu… selama ini, Aku berada di posisi apa?" Ulang tahunnya baru saja dimulai. Dan ia sudah belajar satu hal pahit: tidak semua yang ditunggu, akan datang tepat pada waktunya. ----- Saat Nayla tiba di kampus, lorong- lorong masih lengang. Udara pagi terasa dingin, bercampur bau khas lantai keramik yang baru saja dipel. Langkahnya pelan saat ia masuk ke kelas. Kelas itu masih sepi. Hanya ada satu mahasiswa. Riyan. Ia duduk di pojok belakang samping tembok. sendirian, tubuhnya membungkuk, kepalanya tertunduk di atas meja. Tangannya terlipat, seolah sedang menyimpan kecewa yang terlalu berat untuk dibicarakan. Nayla berhenti sejenak, lalu menyapanya pelan. “Pagi, Yan… tumben nggak bareng sama Ratna.” Riyan mengangkat kepalanya. Matanya menatap Nayla cukup lama, seolah sedang mencari kata yang tepat - atau mungkin sedang menahan sesuatu agar tidak jatuh dari matanya. “Nay,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Kamu cantik hari ini.” Nayla terkejut. Ada jeda kecil sebelum senyum tipis terbit di bibirnya. “Terima kasih,” ucapnya pelan. Ia tak bertanya lebih jauh. Tak duduk. Tak ingin percakapan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih berat. Nayla hanya meletakkan tasnya di bangku, lalu melangkah keluar kelas. Kemudian langkahnya membawanya ke pagar besi lantai dua. Ia berdiri di sana, tubuhnya bersandar, kedua tangannya menggenggam dinginnya besi. Dari ketinggian itu, halaman kampus terlihat jelas - mahasiswa mulai berdatangan, motor-motor berlalu-lalang, pagi yang bergerak seperti biasa. Lalu Nayla melihatnya. Andi. Ia sedang membonceng Rima. Motor itu melaju pelan di halaman kampus. Rima duduk di belakang Andi, tangannya melingkar di pinggang Andi dengan begitu wajar—terlalu wajar. Mereka tertawa bersama, kepala Rima sedikit mendekat ke punggung Andi, seolah dunia pagi itu hanya milik mereka berdua. Nayla tak bergerak. Dadanya terasa kosong, lalu perlahan… perih. Semua perasaan mulai menyatu. Pesan yang tak datang. Ulang tahun yang sunyi. Kata-kata Tiyo tadi pagi terasa kejam - tapi kini terdengar jujur. Tangannya mencengkeram pagar besi lebih erat. Di bawah sana, Andi masih tertawa. Senyum yang sama. Senyum yang kemarin membuat Nayla merasa pulang. Hari ini, senyum itu bukan lagi miliknya. Angin pagi menyapu rambut Nayla, tapi dinginnya tak seberapa dibandingkan rasa yang menyusup ke dadanya. Ia menunduk. Dan untuk pertama kalinya, Nayla menyadari_ jatuh cinta tidak selalu berarti dimiliki, dan ulang tahun tidak selalu membawa bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD