Pagi di kampus terasa sejuk. Matahari belum tinggi, tapi halaman sudah ramai oleh langkah mahasiswa yang tergesa ke kelas. Beberapa membawa gelas kopi plastik, aroma tanah basah masih terasa setelah hujan semalam. Burung-burung berkicau di atap gedung lama, mengiringi pagi yang berjalan seperti biasa.
Namun pagi itu, hati Nayla tak ikut terang. Ia berdiri di lantai dua gedung Fakultas Sastra, tepat di depan kelasnya. Angin menggerak- kan rambut panjangnya pelan, sementara pandangannya tertahan ke halaman kampus yang mulai ramai.
Di sana, di antara mahasiswa yang lalu-lalang, Nayla masih fokus melihat Andi.
Laki-laki yang sejak semester satu selalu ada. Menunggu kelasnya selesai, berjalan bersamanya, memastikan ia makan dan pulang. Sosok yang membuat semua orang yakin mereka pasti tinggal menunggu waktu jadian.
Andi berjalan sambil tertawa… menggandeng tangan Rima. Wajah Rima berbinar. Andi menunduk sedikit, terlihat malu-malu_ cara yang sama seperti ketika ia memperlakukan Nayla. Tapi kini bukan Nayla yang ia lihat seperti dunia sedang mengecil menjadi satu titik.
Nayla hanya berdiri. Kakinya terasa beku. Di belakangnya, dua temannya muncul sambil berceloteh tanpa menyadari hatinya sedang retak.
"Eh, semalam Andi jadian sama Rima ya?”
“Iya! Payah banget sih Andi. Kukira dia mau nembak Nayla. Kok kejutan, malah jadian sama Rima!”
“Nanti harus kita palak tuh, makan-makan!”
Tawa mereka pecah.
Dan air mata Nayla jatuh begitu saja, sunyi, tanpa aba-aba. Ia mencoba mengedip cepat, berharap bisa menahan semuanya. Tapi sayangnya, hatinya terlalu penuh. Ia benar-benar mengira Andi menyukainya. Ia mengira semua perhatian itu berarti cinta. Ia mengira di hari ulang tahunnya, Andi akan datang membawa jawaban yang ia tunggu. Ternyata, ia salah. Sangat salah.
Nayla memeluk kedua tangannya, tubuhnya sedikit gemetar. Di sampingnya, tak jauh, seseorang memperhatikannya dengan wajah cemas.
Riyan. Teman sekelasnya yang jarang bicara dengannya. Laki-laki pendiam yang lebih sering kumpul bersama teman-teman satu geng-nya. Tapi pagi ini, matanya justru terpaku pada Nayla - pada air mata yang diam-diam ia hapus dengan punggung tangan.
Nayla menunduk, lalu tanpa pikir panjang, ia berbalik dan melangkah - menuju toilet wanita. Ia masuk ke dalam, menyalakan kran, dan bersandar pada wastafel. Air mengalir deras, menenggelamkan suara tangisnya. Ia menangis sejadi-jadinya, membiarkan semua runtuh: harapan, malu, kecewa, marah pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, ketika napasnya mulai stabil dan wajahnya sudah cukup dicuci untuk menyembunyikan bekas air mata, Nayla menghela napas panjang. Ia membuka pintu toilet. Di sana… seseorang berdiri. Riyan.
Tepat di depan pintu. Ia memegang sebungkus tisu dan memberikannya ke Nayla tanpa banyak bicara. Seolah sudah menunggu sejak tadi.
Nayla terkejut. Diambilnya tisu itu, untuk mengusap pipinya.
“Riyan… ngapain kamu di sini? Ini toilet wanita, loh,” bisiknya, bingung, malu, dan sedikit takut kalau ada orang yang melihat.
Riyan hanya meletakkan telunjuknya di bibirnya - gestur meminta Nayla diam. Sunyi tercipta di antara mereka. Lalu dengan suara pelan tapi tegas, Riyan berkata: “Nay… kamu mau nggak jadi pacarku?”
Dunia Nayla membeku. Ia menatap Riyan_mata itu serius, tapi juga gugup. Jelas ia tidak main-main. Ada keberanian bodoh sekaligus tulus yang memancar dari wajahnya. Nayla mematung. Bingung. Kaget. Takut.
Namun di saat yang sama… ia merasa ada seseorang yang memilih dirinya, justru di saat ia baru saja merasa tidak dipilih oleh Andi. Tanpa sadar, tanpa logika panjang yang biasanya ia pikirkan, bibir Nayla bergerak. “Iya… aku mau.”
Riyan tersenyum - senyum lebar yang jarang terlihat. Sementara wajah Nayla dipenuhi kebingungan yang belum sempat ia urai.
Mereka berjalan pelan-pelan melewati lorong toilet wanita. Riyan menunduk, menutupi sebagian wajahnya ketika beberapa mahasiswi keluar dari toilet dan memandang mereka tajam.
“Ngapain laki-laki itu masuk toilet wanita?”
“Gak tahu aturan banget, heran!”
Nayla merasa malu, rasanya ingin menghilang saja. Riyan menutup wajah dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam tangan Nayla - erat. Sangat erat. Saat mereka sudah keluar dari lorong dan tiba di teras gedung, Nayla akhirnya tak tahan bertanya.
“Yan… kenapa kamu menggandeng tanganku erat banget?”
Riyan menoleh, bibirnya terangkat sedikit. “Karena sekarang kamu pacarku.”
Dan pagi itu - pagi yang awalnya penuh retakan - membawa langkah pertama Nayla menuju sebuah kisah yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Mereka berjalan bergandengan menuju kelas. Tidak ada kata yang keluar dari bibir keduanya, hanya derap langkah yang saling mengikuti. Angin pagi menyelip di antara sela-sela jari yang saling menggenggam, membuat Nayla semakin sadar akan keputusan yang barusan ia ucapkan.
“Apa yang aku lakukan tadi?” Pikir Nayla. “Kenapa aku bilang ‘iya’? Beraninya aku memutuskan jadi pacarnya, padahal aku bahkan… tidak mencintainya.”
Dadanya terasa sesak. Bukan karena Riyan menggenggam terlalu kuat, tapi karena dirinya sendiri bingung dengan langkah yang baru saja ia ambil.
Sementara itu, dalam diam, hati Riyan berkecamuk. “Kenapa aku tadi minta dia jadi pacarku?”.Ia menunduk sedikit. "Aku sendiri belum ngerti perasaanku. Apa aku suka sama Nayla… atau cuma kasihan karena aku juga lagi patah hati?”
Tidak ada yang mampu mereka jawab__karena sebenarnya keduanya sama-sama sedang kabur dari luka mereka sendiri. Ketika memasuki kelas, suara riuh langsung menyambut mereka.
“Waaah, selamat ya Rim!” seru Puput dari tengah kelas. “Jangan lupa syukuran, dong!” tambahnya sambil terkikik.
Bayu menoyor bahu Andi sambil tertawa keras, “Pokoknya nanti harus traktir kita makan bakso, Ndi !”
Andi tertawa lebar, wajahnya jelas penuh bangga dan bahagia.
“Boleh, boleh! Nanti aku traktir kalian.”
Semua orang tertawa. Semua orang bahagia. Kecuali Nayla.
Ia menghentikan langkahnya, menatap ke arah Andi dan Rima. Tatapannya bukan benci - lebih seperti luka yang belum sempat dibalut.
Senyum Andi, cara ia menatap Rima, cara Rima memeluk lengannya… semua itu menghantam Nayla seperti air dingin yang disiram tanpa peringatan. Di sampingnya, Riyan melihat perubahan kecil di wajah Nayla.
Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Nayla lebih erat. Seakan ingin berkata tanpa suara: udah, jangan lihat lagi… lihat aku aja.
Nayla mengalihkan pandangannya dan duduk di kursi paling depan --pilihan paling jauh dari Andi dan Rima. Risa sahabatnya yang sudah duduk di belakang hanya melirik ke depan, heran melihat Nayla yang biasanya duduk di tengah kini memilih di depan.
Riyan melihat Nayla duduk sendiri, lalu tanpa ragu ia menyeret salah satu kursi dari barisan belakang dan menempatkannya tepat di samping Nayla. Kursi itu terdorong dengan suara berderit yang membuat beberapa mahasiswa menoleh, tapi Riyan tidak peduli.
Ia duduk di samping Nayla. Dekat. Lebih dekat dari biasanya.
Nayla hanya diam, menunduk. Riyan menatapnya sebentar, seperti ingin memastikan Nayla masih bernapas setelah pagi yang berat itu.
Dosen masuk. “Selamat pagi, mahasiswa Sastra,” katanya sambil membuka laptop. "Kita mulai mata kuliah Apresiasi Sastra.”
Kelas sunyi. Tapi tidak bagi Nayla. Kepalanya dipenuhi gema tawa Andi dan Rima yang terus memukul - mukul pikirannya. Kata-kata teman-temannya serasa menusuk telinga. Dan genggaman tangan Riyan yang masih terasa hangat di kulit telapak tangannya membuat rasanya semakin campur aduk.
Riyan duduk diam di sampingnya. Sesekali ia melirik Nayla yang terlihat menguap tanpa suara. Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak mengganggu. Ia hanya…memperhatkan. Dalam diam.
Kuliah hampir berakhir ketika dosen mulai membacakan tugas minggu depan. Semua mahasiswa sibuk menyalin catatan, tetapi Nayla tidak mendengar apa pun. Suaranya seperti jauh… semakin jauh… sampai benar-benar hilang.
Ia hanya menatap meja. Telinganya berdenging. Dadanya terasa sempit. Dan entah kenapa, tanpa bisa dikendalikan, air matanya menetes lagi. Pelan. Diam-diam. Tapi cukup besar untuk jatuh dan membasahi kertas catatan.
Riyan yang sejak tadi hanya memperhatikan dari sudut mata terkejut melihat tetesan air itu. Ia menoleh cepat, mencondongkan tubuh, wajahnya berubah serius.
“Nay…” bisiknya pelan.
Nayla langsung mengusap wajahnya buru-buru, tapi terlalu terlambat. Riyan sudah melihat semuanya.
Ia meraih lengan Nayla, lembut tapi tegas. “Nayla, lihat aku.”
Nayla menggeleng. “Sudah, Yan. Aku nggak apa-apa.”
“Bohong,” balas Riyan tanpa ragu.
Kata itu membekukan gerakan Nayla.
Dosen menutup buku -kelas berakhir. Suara kursi digeser, langkah-langkah bergerak, tawa - tawa mahasiswa lain memenuhi ruangan.
Tapi Nayla dan Riyan tetap diam. Saat semua orang mulai keluar kelas, tiba-tiba dari belakang terdengar suara tawa kecil yang sangat Nayla kenal.
“Rim, nanti pulang bareng aku, ya?” suara Andi. Rima mengangguk manja, “Iya, Ndi.”
Tawa mereka memecah udara. Nayla menutup matanya rapat. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat dadanya kembali remuk.
Dan saat itu, tiba-tiba Riyan berdiri tepat di samping mejanya. Dengan ekspresi yang belum pernah Nayla lihat sebelumnya - mata yang dingin, rahang yang mengeras, dan tangan yang terkepal di sisi tubuhnya. Ia berkata dengan suara pelan tapi tajam, “Nay… mulai hari ini, kamu nggak akan nangis karena dia lagi.”
Nayla terkejut. "Hah? Maksud kamu apa, Yan?”
Riyan menatapnya lama, seolah mencari keberanian untuk kalimat berikutnya. Kemudian ia berkata: “Aku punya sesuatu yang harus kamu tahu… sesuatu tentang Andi.”
Nayla membeku. Jantungnya tiba-tiba berdebar cepat.
“Apa, Yan?” suaranya hampir tidak terdengar.
Riyan menelan ludah. “Nanti. Bukan di sini.”
Ia meraih tasnya dan menatap Nayla sekali lagi - tatapan yang sulit dibaca. Entah itu kejujuran, luka, atau sesuatu yang lebih gelap dari itu.. Kita obrolin nanti di kantin, setelah kelas siang. Aku bakal cerita semuanya.”
Dan tanpa menunggu jawaban, Riyan melangkah pergi… meninggal- kan Nayla dengan sebuah pertanyaan yang mengguncang:
Apa yang Riyan tahu selama ini?