Siang itu kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Koridor penuh mahasiswa yang berlalu-lalang dengan wajah tegang, membawa map, buku tebal, dan jadwal ujian yang menumpuk di kepala. Dua minggu menjelang ujian akhir cukup untuk membuat siapa pun kehabisan napas.
Tapi Nayla tidak sedang sibuk memikirkan soal ujian. Dadanya sibuk menahan sesuatu yang lebih rumit - gelombang perasaan lama yang tiba-tiba muncul tanpa izin. Ia duduk di kantin bersama Riyan, dua mangkuk bakso terhidang di depan mereka, lengkap dengan sambal yang -- seperti biasa_dituang Riyan terlalu banyak, seolah sambal itu bisa menjadi pelampiasan sesuatu yang tak terucap.
“Besok ada kelas pagi?” tanya Riyan sambil meniup kuah baksonya.
“Ada,” jawab Nayla pelan. “Tapi dosennya sering telat.”
Percakapan berjalan ringan. Tawa muncul sesekali. Tapi Nayla tahu_ada sesuatu yang menggantung di udara. Seperti langit mendung yang tak kunjung menurunkan hujan. Lalu matanya menangkap satu pemandangan yang membuat dadanya menegang.
Andi. Duduk di sudut kantin bersama Rima. Mereka tertawa. Saling menyuapi. Jari-jari mereka sesekali saling bersentuhan, dengan tatapan yang… dulu Nayla kira hanya akan ia rasakan sendiri.
Nayla menghentikan makannya. Suara kantin mendadak menjauh. Yang tersisa hanya tawa mereka, bergema di kepalanya - terlalu jelas, terlalu dekat. Dan di benaknya, satu pertanyaan yang selama ini ia pendam akhirnya muncul dengan utuh:
"Kenapa bukan Andi? Kenapa bukan dia yang duduk di depannya sekarang? Kenapa bukan dirinya yang ada di sisi Andi, menggenggam tangan itu? Kenapa bukan ia yang dipilih?"
Padahal dulu, Nayla menaruh harap di setiap percakapan kecil mereka. Di setiap perhatian yang tampak sederhana. Di setiap sikap Andi yang terrnyata - bukan cinta. Nayla menunduk. Tak ingin Riyan melihat matanya yang mulai basah. Tapi Riyan terlalu peka untuk tidak tahu.
“Nay…” suaranya pelan. “Kamu lihat Andi, ya?”
Nayla hanya mengangguk kecil.
“Masih sakit?” tanya Riyan, hati-hati.
Nayla menarik napas. “Aku kira aku udah nggak ,” katanya lirih. “Tapi lihat dia sama Rima… aku masih nyesek.”
Riyan diam cukup lama sebelum bicara lagi. “Nggak apa-apa,” katanya lembut. “Kamu nggak harus pura-pura kuat di depanku.”
Nayla menoleh. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat ketulusan di mata Riyan - tanpa tuntutan, tanpa paksaan. "Kamu nggak marah?” tanya Nayla.
“Marah?” Riyan tersenyum kecil. “Aku nggak punya hak buat marah. Aku cuma berharap… kalau suatu hari kamu sembuh, aku masih ada di sini.”
Kalimat itu terasa seperti pelukan yang tak menyentuh tubuh, tapi mengguncang sampai ke dalam.
Ia memejamkan mata, kemudian menatap Riyan - orang yang menunggu tanpa menuntut.
Dan untuk pertama kalinya, Nayla merasa takut. Takut jika nanti, saat ia benar-benar siap mencintai Riyan… Riyan justru sudah lelah menunggu.
Riyan menatap wajah Nayla dan berkata "Nay... aku tadi janji mau cerita sesuatu yang aku tahu ya? "
Nayla memgangguk, Iya Yan... ada rahasia apa?
Riyan berkata "Sebenarnya Andi cinta sama kamu Nay, tapi karena Tiyo juga mencintaimu, makanya Andi memilih mengalah dan ia memilih bersama Rima.
Nayla terdiam dunia seperti berhenti, dadanya sesak. “Nay…” suara Riyan terdengar serak, jauh berbeda dari biasanya.
"Kenapa Yan?" Tanya Nayla
“Aku cuma mau bilang…” Riyan terdiam, seperti menimbang kata. “Kalau suatu hari aku tiba-tiba berubah, atau menjauh… itu bukan karena kamu.”
Nayla duduk tegak. “Yan, maksud kamu apa?” Nayla menatapnya lama, jantungnya berdegup tak karuan.
Dan siang itu, tanpa Andi, tanpa kenangan lama - Nayla merasakan satu hal yang lebih menakutkan kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat benar-benar ia belum genggam.
---
Hubungan ini rasanya seperti berjalan di atas jembatan gantung. Goyang. Tak stabil. Setiap langkah terasa ragu. Seolah ia bisa jatuh kapan saja ke jurang yang tak ia kenal. Tapi anehnya… ia tetap berjalan. Bukan karena yakin. Tapi karena takut menoleh ke belakang. Takut melihat betapa kosongnya jalan yang telah ia tinggalkan.
Di Meja kantin itu, dunia mereka terasa semakin terasa penuh warna. Kini, mereka sama-sama mulai membuka diri, berbicara tentang hal-hal yang lebih personal dan tak terucap sebelumnya.
Tentang rumah masa depan versi mereka masing-masing. Tentang ayah dan ibu. Tentang masa kecil. Tentang luka-luka yang pernah disembunyikan.
Riyan bercerita bahwa kedua orang tuanya tinggal di Sumatra, dan ia besar bersama neneknya yang kini sudah sepuh di kota Jogja. Sementara Nayla bercerita tentang ibunya yang selalu menyetrika sambil mendengarkan lagu-lagu Ebiet G. Ade. Lagu yang dulu tak ia mengerti, tapi kini terasa menyentuh ketika mendengar kembali di kantin itu.
Mereka punya satu mimpi yang sama: menjadi pendidik.
Lucu, ya? Dua orang yang sama-sama membawa luka dari rumah, tapi bermimpi menyembuh kan dunia dengan ilmu dan kasih sayang.
Mereka tertawa bersama. Tulus. Kadang terlalu lepas hingga mereka lupa bahwa di dalam masing - masing masih ada dinding yang belum sepenuhnya runtuh.
Tapi begitu tawa itu berhenti. Nayla kembali merasa sendiri, sunyi datang menghampiri dan saat suara kipas angin kantin menggantikan tawa Riyan… satu pertanyaan itu datang di benak Nayla.
Apakah ia benar-benar ingin ini?
Nayla memandangi telapak tangannya. Tangan yang tadi digenggam seseorang yang begitu sabar. Tapi ia tahu… tangan ini belum bisa menggenggam balik dengan penuh. Hatinya belum bulat. Masih ada ruang yang kosong, belum terisi siapa pun. Bahkan oleh Riyan.
Monolog bathin Nayla
"Kenapa semua ini terasa cepat?"
"Kenapa aku mudah bilang 'iya', padahal aku belum yakin?"
"Apa aku jahat karena membiarkan Riyan berharap, sementara aku sendiri belum menemukan hatiku sepenuhnya?"
Nayla menarik napas dalam-dalam, tapi tak ada lega. Yang ada hanya sesal dan takut. Takut menyakitinya. Tapi juga takut kehilangan seseorang yang begitu tulus datang saat ia rapuh.
Riyan tampak ceria. Ia bercerita panjang lebar soal rencana liburan semester. Kampus akan mengadakan studi banding ke Jakarta, ke Taman Mini Indonesia Indah setelah ujian smester selesai. Nada suaranya antusias, penuh semangat, seperti anak kecil yang akan pergi berlibur untuk pertama kalinya.
“Nay,” katanya sambil makan. “Nanti duduknya jangan sesuai absen, ya. Kalau kamu duduk di sebelah Tiyo, bisa-bisa aku nggak bisa tidur semalaman.”
Nayla tertawa pelan. "Aku nggak mau duduk sama Tiyo”
“Duduknya sama aku ya. aku pengen tidur sambil dengerin kamu ngoceh,” ujarnya santai, matanya menyirat- kan harap yang tak main-main. “Di bis malam, kita bisa ngobrol soal mimpi. Tentang jadi guru. Tentang punya sekolah sendiri. Tentang masa depan...”
Nayla tersenyum. Tapi tidak penuh. Ada satu kalimat yang lama mengendap di dadanya, menunggu waktu tepat untuk keluar. Dan waktu itu datang sekarang.
“Yan…”
Dia menghentikan ceritanya. Menoleh. “Hmm?”
“Kalau suatu hari… ternyata aku nggak bisa cinta kamu… kamu bakal benci aku, nggak?”
Riyan diam. Hening menjalar di antara kami. Hanya suara angin dan kicau burung yang mengisi kekosongan.
Matanya menatap Nayla lama. Bukan dengan amarah, tapi dengan sorot sedih yang tak bisa ia sembunyikan.
“Nay…” katanya pelan, “aku pacaran sama kamu bukan untuk main-main. Tapi aku juga nggak mau kamu pura-pura.”
Nayla menggigit bibirnya. Suara hatinya makin gaduh.
“Kalau nanti kamu nggak bisa cinta aku,” lanjutnya, “aku akan sakit. Tapi aku nggak akan benci kamu. Karena… setidaknya kamu udah nyoba.”
Kalimat itu menampar Nayla. Lembut, tapi dalam. Dan sebelum ia bisa menahan, air matanya mengalir pelan.
Ia menoleh, menatapnya. Wajahnya begitu tenang, seakan ia benar- benar siap menerima luka hanya demi memberi ruang Nayla mencari jawabannya sendiri.
“Terima kasih…” bisik Nayla
Riyan menggenggam tangan Nayla lebih erat. Tapii ia tahu… hati Nayla belum benar-benar digenggam. Ia masih di tengah jalan. Masih berusaha meruntuhkan tembok dalam dirinya sendiri.
Namun entah kenapa, hari itu mereka merasa sama-sama lebih ringan. Mungkin karena untuk pertama kalinya mereka saling jujur. Mungkin karena Riyan tidak lari. Ia tetap di sini. Menunggu Nayla. Dengan sabar.
Dan Nayla pun mulai percaya, mungkin nanti… ketika liburan datang, ketika mereka duduk berdua di bus malam Jakarta… hati Nayla akan lebih dekat padanya. Lebih dekat pada cinta yang pelan-pelan mulai tumbuh… tanpa paksaan. Tanpa pura-pura.