Siang di kantin kampus selalu gaduh dengan caranya sendiri. Deretan meja panjang penuh mahasiswa yang berebut tempat duduk, suara sendok beradu dengan piring plastik, aroma gorengan yang berminyak bercampur bau kopi sachet dan nasi hangat.
Tawa pecah di mana-mana. Ada yang membicarakan dosen killer, ada yang sibuk merencanakan nongkrong sore, ada pula yang diam menatap layar ponsel—menyembunyikan pikirannya sendiri.
Di antara keramaian itu, Nayla duduk dengan perasaan yang tak ikut riuh. Seperti penonton yang salah masuk panggung. Riyan tetap duduk di sampingnya.
Dan saat mereka hendak berdiri, Tiyo muncul di depan bangku Nayla, seperti badai kecil yang membuka kembali luka yang belum sempat mengering.
“Nay..., bener kan? Aku udah bilang, Andi jadian sama Mira. Kamu terlalu baik buat percaya sama dia.”
Nayla menatapnya tajam. Amarah melonjak naik dari perutnya, merayap ke tenggorokan.
“Tiyo!” suaranya bergetar. “Kenapa sih kamu harus menyukaiku?! Karena kamu suka aku, Andi malah menjauh… dan sekarang dia sama Rima!”
Tiyo terdiam. Nayla bisa melihat keterkejutan di matanya. Tapi ia tak peduli.
Di kepalanya, semuanya kusut. Salah siapa semua ini? Dirinya? Tiyo? Atau Andi yang terlalu cepat pindah hati?
Riyan berdiri. Suaranya tenang, tapi tajam. “Udah. Cukup. Jangan bikin makin rumit. Nayla, ayo kita pulang.”
Nayla mengangguk. Tak tahu lagi harus marah pada siapa. Dunia terasa seperti pasir hisap yang menariknya ke dalam—semakin ia melawan, semakin ia tenggelam.
Saat mereka melangkah keluar kantin, tiba-tiba Riyan menggenggam tangannya lagi. Refleks ia menoleh, terkejut.
“Yan… kenapa kamu gandeng tangan aku lagi?”
Riyan tersenyum kecil. "Nay.. bukannya tadi pagi aku udah bilang. Kamu pacarku sekarang. Bukannya itu yang biasa dilakukan pasangan?”
Nayla menatap genggaman tangan mereka. Hangat. Tapi juga asing. Jemari mereka bersatu, tapi jiwanya seperti berdiri beberapa langkah di belakang.
“Kalau pacaran harus digandeng ya Yan?” bisik Nayla pelan
“Iya dong,” jawab Riyan sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan udara yang terlalu berat di antara kami.
Dari kejauhan, seseorang memanggil, "Riyan, ikut nggak ke perayaan jadian Andi?”
“Nggak,” jawabnya cepat, tajam.
Nayla menoleh. “Kenapa kamu nggak ikut?”
Riyan menatap Nayla dalam. "Karena aku mau ajak kamu jalan. Kita keliling kota, Hari ini ulang tahunmu, kan?” Ia tersenyum kaku. “Selamat ya Nay... Tapi… aku nggak bisa beliin kado apa-apa buat kamu.”
Entah kenapa, kalimat sederhana itu menampar Nayla lebih dalam dari yang ia kira. Ia mengangguk, bibir melengkung lemah.“Nggak apa-apa Yan”
---
Di atas motor, angin siang menyapu wajah Nayla. Rambutnya berantakan, dan jantungnya entah kenapa berdetak lebih cepat ketika tangan Riyan menggenggam tangannya lalu meletakkannya di pinggangnya. Ia menoleh sedikit.
“Nay...” bisiknya, “Aku cinta kamu.”
Nayla membeku. Jiwanya menolak, tapi bibirnya menjawab, “Aku juga cinta kamu…”
"Tapi benarkah itu, Nay? Apakah kamu sungguh mencintainya? Atau hanya karena kamu tak ingin merasa sendirian?" suara hati Nayla
"Apakah aku sungguh mencintaimu Nay? Atau aku hanya ingin membuktikan bahwa kamu bukan pilihan kedua?" Suara hati Riyan
Mereka tertawa. Bernyanyi di jalanan seperti dua anak muda yang dimabuk cinta. Tapi di d**a mereka... masih ada ruang kosong. Rasa itu belum menetap. Masih bergema seperti suara asing dari masa depan yang tak mereka mengerti.
Di kos, Nayla membuatkan kopi untuk Riyan. Mereka duduk berhadapan di teras rumah kost. Membicarakan cuaca, dosen yang galak, dan tugas yang menumpuk. Tapi semuanya terdengar hambar. Mereka berbicara... tapi tidak benar-benar bicara. Seperti dua orang asing yang dipaksa menjadi pasangan karena keadaan.
Sebelum pamit, Riyan menjabat tangan Nayla, Lembut. Diam. Lama.
Nayla tak tersenyum. Tak menangis. Hanya diam. Tak tahu apa yang harus ia rasakan. Apakah ini cinta... atau hanya pelipur luka?
---
Pagi berikutnya, ketukan di pintu mengejutkan Nayla. Ia buka, dan di sana Riyan berdiri dengan senyum paling ringan yang bisa ia tawarkan.
“Riyan?”
“Aku kan pacarmu sekarang,” katanya enteng. “Udah kewajiban dong antar jemput pacar.”
Nayla mengerjap. “Emang harus gitu?”
“Iya lah. Ayo, nanti telat.”
Kami naik motor lagi. Tangan mereka kembali bertaut. Tapi Nayla... masih belum menemukan detak yang benar di hatinya.
Sampai kampus, tak ada satu pun teman yang menggodanya. Bahkan Risa dan Nita hanya tersenyum samar. Rasanya... sepi. Bahkan di tengah keramaian.
"Kenapa semua kayak biasa aja?"
Kenapa hatiku malah makin sunyi?
Hari itu, Riyan duduk agak jauh dari Nayla. Ia memilih duduk di dekat Ratna - perempuan yang baru saja menjadi masa lalunya. Nayla melihatnya. Tapi tak ada cemburu. Hanya... kehampaan.
"Apakah aku sedingin itu?" Atau mungkin… hatimu belum benar-benar ada di sini?" bathinnya
Setelah kelas selesai, Riyan menghampiri Nayla yang sedang duduk bersama Risa dan Nita. Ia membisikkan sesuatu ke Risa dan Nita. Mereka mengangguk dan langsung berpamitan.
Nayla menatap mereka bingung. “Kok aku nggak diajak, Ris ?”
“Nggak apa-apa. Nanti aku cerita,” jawab Risa buru-buru.
Mereka pergi. Meninggalkan Nayla bersama Riyan.
Riyan duduk di samping Nayla,. menggenggam tangannya. “Nay… lihat aku.”
Nayla menatap matanya. Tapi yang ia lihat hanya bayangan kosong. Tak ada hangat. Tak ada cahaya.
Lalu ia mencium pipi Nayla, Sekilas. Lembut. Tapi cukup untuk membuat dadanya bergetar makin bingung harus merasakan apa.
Riyan bangkit lebih dulu, lalu menarik tanganku pelan. “Jangan langsung pulang ya Nay...,” katanya lirih. “Temenin aku ke taman kampus bentar.”
Nayla ragu sesaat, lalu mengangguk. Entah kenapa, ia tak punya tenaga untuk menolak.
---
Taman kampus siang itu lebih sepi dari biasanya. Rumput hijau membentang seperti karpet kusam yang terlalu sering diinjak. Pohon-pohon trembesi berdiri teduh, daunnya bergoyang pelan diterpa angin. Beberapa bangku kayu kosong, hanya satu dua mahasiswa yang duduk jauh—tenggelam dalam dunianya masing-masing.
Mereka duduk di bangku paling ujung.
Tak ada pegangan tangan kali ini. Tak ada tawa. Hanya diam yang panjang, seolah kata-kata takut jatuh dan pecah di antara keduanya.
“Aku tahu kamu lagi capek dan bingung kan Nay ?” ujar Riyan akhirnya. Suaranya lebih rendah dari biasanya. “Capek dan bingung sama semua yang terjadi.”
Nayla menunduk. ia menggeser kerikil kecil di tanah dengan ujung sepatu- nya. ."Entah kenapa, Yan… aku ngerasa kayak orang yang salah masuk cerita,” katanya jujur. “Semua berjalan cepat, tapi hatiku tertinggal jauh di belakang.”
Riyan menarik napas panjang. Menatap ke arah kolam kecil, tempat air memantulkan bayangan langit siang yang pucat. “Aku juga,” katanya. “Aku juga bingung, Nay.”
Nayla menoleh. Itu pertama kalinya ia terdengar tidak yakin.
“Aku ngajak kamu pacaran… bukan karena kamu pelarian,” lanjutnya pelan. “Tapi karena aku takut kalau aku nggak bilang waktu itu, aku bakal kehilangan kamu Nay.” lanjut Riyan
Kata-kata itu jatuh perlahan. Tidak menusuk. Tapi membuat d**a Nayla sesak. "Yan.. aku nggak mau jadi alasan kamu buat lupa sama siapa pun,” katanya lirih. “Dan aku juga nggak mau kamu jadi alasan aku buat nutup luka lama.”
Riyan tersenyum tipis. Senyum yang rapuh. "Berarti kita sama-sama jujur ya… sama-sama belum sembuh.”
Angin berembus lebih kencang. Daun - daun kering jatuh satu per satu, seperti waktu yang tak pernah mau menunggu kesiapan siapa pun.
“Kita pelan-pelan aja, ya Nay,” katanya kemudian. “Nggak usah pura-pura bahagia. Nggak usah maksa jatuh cinta. Kalau nanti rasa itu datang… biar dia datang sendiri.”
Nayla mengangguk.Tenggorokannya terasa hangat. "Kalau nggak datang?”
Riyan menatap wajah Nayla. Tatapannya lembut, tapi pasrah. "Berarti kita pernah saling jujur. Dan itu udah cukup buat aku.”
Mereka duduk lama. Tanpa sentuhan. Tanpa janji. Hanya dua hati yang sama - sama letih dan bingung, mencoba bernapas di sela reruntuhan perasaan masing- masing.
Saat matahari mulai condong ke barat, Riyan berdiri. “Ayo Nay. Aku anter kamu pulang ke kos.”
Nayla bangkit mengikutinya. Kali ini, ketika Riyan meraih tangannya lagi, ia tak bertanya lagi tentang kenapa ia menggandeng tangannya. Tapi ia juga tak menggenggam erat. Mereka berjalan berdampingan—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Di dalam benaknya, pertanyaan itu kembali bergaung pelan:
Apakah cinta memang selalu dimulai dari kebingungan? Atau justru… kebingungan inilah tanda bahwa hatinya sedang belajar jujur?
Dan taman kampus itu, dengan segala sunyinya, menjadi saksi—bahwa sebelum pulang ke kos, Mereka sempat berhenti sejenak… untuk mendengar hati masing-masing.