BAB 7 Satu Kursi Dua Hati

1154 Words
Bis wisata mulai melaju perlahan keluar dari gerbang kampus. Lampu- lampu kota Jogja perlahan berubah menjadi garis-garis cahaya yang tertinggal di kaca jendela. Suara obrolan riuh, tawa mahasiswa, dan denting botol minuman plastik yang saling berbenturan memenuhi ruang bis malam itu. Nayla duduk di kursi tengah, di antara Risa dan Nita, dua sahabat yang sudah seperti saudara sendiri bagi Nayla. Nayla membawa bantal leher, snack, dan semangat yang sedikit pura-pura—karena sejujurnya ia masih belum sepenuhnya bisa ikut senang seperti mereka. Hati Nayla masih sibuk berdialog dengan ketidakpastian akan perasaannya terhadap Riyan. "Eh, Nay," bisik Risa sambil melihat ponselnya, alisnya terangkat heran. "Riyan nyuruh aku pindah ke kursi belakang. Katanya dia mau duduk sama kamu." Nayla menoleh cepat. “Hah?” Nita ikut mengangguk sambil menunjukkan pesan yang sama. “Aku juga dapat ini. Dia nyuruh aku sama Risa duduk di baris belakang. Dia udah tukeran sama Andra.” Belum sempat aku merespons, Riyan muncul di lorong bis dengan jaket abu-abu favoritnya. Senyum- nya tipis, tapi matanya penuh harap. “Nay, boleh ya?” tanyanya pelan, tapi tegas. Nayla hanya mengangguk. Risa dan Nita saling melirik penuh kode sebelum mengambil barang mereka dan bergeser ke kursi belakang. Riyan duduk di samping Nayla, menghela napas pelan, seolah akhirnya bisa bernapas lebih lega. Beberapa menit mereka hanya diam. Hanya suara mesin bis dan musik sayup-sayup dari earphone teman- teman lainnya yang terdengar. Lalu Riyan mengeluarkan headset dari saku jaketnya. Ia memegang satu tangkai, lalu menyodorkannya satu ke telinga Nayla.. "Dengerin ini, ya Nay,” katanya lembut. “Lagu ini… isi hatiku.” Nayla ragu sejenak, tapi tetap memasangnya di telinga. Lalu lagu itu mulai mengalun. "Ku tak bisa jauh, jauh darimu…" "Ku tak bisa…" Ia mengenal lagu itu. Tak Bisa dari Band Slank. Lagu lama, sederhana, tapi liriknya langsung mengetuk pintu hatinya. Tapi pintu itu masih setengah tertutup. Lagu itu masuk, tapi tak menyentuh dasar. Hatinya masih seperti kaca kosong: suara bergema, tapi tak meninggalkan bekas. Ia hanya diam. Tak berkata apa-apa. Tak menoleh pada Riyan sedikitpun. Riyan tidak memaksa. Ia hanya menatap ke luar jendela. Tangan kirinya meraih jaket abu-abunya, lalu disampirkan ke pundak Nayla, perlahan. “Biar nggak masuk angin,” katanya pelan. “Tidurlah, Nay. Kita masih jauh.” Nayla menoleh. Sekilas. Cuma beberapa detik. Tapi cukup untuk melihat betapa matanya menyimpan harapan yang tak Riyan ucapkan. Ia menunduk. Memeluk dirinya sendiri di balik jaket yang hangat dan sedikit wangi. Wangi sabun dan sedikit kopi, aroma yang entah kenapa membuat dadanya sesak. Ada kehangatan aneh yang mengalir. Dari lagu di telinganya. Dari jaket yang menyelimutinya. Dari jarak yang perlahan makin dekat, walau hatinya masih melangkah pelan-pelan. Lampu-lampu jalan tol berganti- ganti melewati jendela. Bintang- bintang di luar samar, tapi cukup membuat Nayla diam-diam berharap—semoga satu di antara mereka membawa doa Riyan pada-nya. Nayla belum bisa menjawab cintanya. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya… ia merasa tidak sendiri dalam keraguannya. Dan Riyan—dia tetap di sana. Menunggu. Dengan lagu, dengan jaketnya, dengan diam yang hangat. Malam itu… mereka tidak butuh kata-kata. Cukup musik dan keheningan. Cukup kehadiran. Cukup cinta… yang masih mencari jalannya. Nayla merogoh tas ranselnya di pangkuannya, mengeluarkan sebungkus camilan yang tadi sempat ia beli di toko dekat gerbang kampus—keripik singkong rasa balado, biskuit dan beberapa permen mint. “Yan', bisiknya sambil menyodorkan nya. “Makan dulu. Biar nggak masuk angin.” Riyan menoleh, sedikit terkejut. Tapi senyum tipisnya langsung muncul. “Wah, dapet jatah snack juga aku rupanya,” ujarnya setengah bercanda. “Makasih ya, Nay.” Nayla mengangguk kecil, lalu bersandar ke kaca jendela. Matanya mulai terasa berat. Udara dalam bis perlahan jadi makin sejuk. Jaket Riyan masih menutupi tubuhnya, hangat dan nyaman. “Kalo aku ketiduran… jangan tinggalin aku, ya,” gumamku pelan sebelum benar-benar memejamkan mata. Riyan tidak langsung menjawab. Tapi Nayla bisa merasakan tatapannya sebentar ke arah-nya. “Yan sini, sini! Ada bangku kosong!” suara Janu memanggil dari belakang. Suaranya tak begitu keras, tapi cukup terdengar di tengah keheningan yang mulai merambat dalam bis malam. Lalu Riyan bangkit dan melangkah pelan saat dari kursi - pelan-pelan sekali agar tak membangunkan Nayla. Ia membawa keripik singkong , biskuit dan permen dari pangkuannya, lalu berjalan menyusuri lorong bis. Nayla masih setengah sadar, tapi membiarkan semuanya terjadi. “Bawa apa tuh? Ciee... dikasih Nayla, ya?” celetuk Amin dengan gaya usil. Riyan duduk di sebelah mereka, membuka bungkus keripik dan langsung diserbu lima tangan lain. “Eh, pelan-pelan, woy!” keluhnya, tapi tak bisa menyembunyikan tawa. “Wangi Nayla nempel di keripik ini,” goda Tiyo sambil mencium keripik lebay. “Aromanya kayak cintanya Nayla!” “Makanya jangan digodain terus, Yo, Biar cepat menikah mereka,” tambah Puput sambil menyuapkan keripik ke mulutnya dengan ekspresi puas. Riyan hanya tertawa kecil. “Belum waktunya. Nayla masih kuliah. Ak juga.” serentak semua tertawa. Sementara itu, Nayla tertidur dengan tenang di kursi tengah. Tanpa tahu Riyan sedang duduk di baris belakang, dikelilingi tawa dan candaan sahabat-sahabat konyolnya. Tapi Nayla tidak terganggu. Bahkan dalam tidur-nya, tubuhnya tetap tertutup jaket abu-abu milik Riyan. Hangatnya tetap menjaga-nya. --- Sekitar dua jam kemudian, Riyan kembali ke tempat duduk tengah di samping Nayla lagi. Wajahnya terlihat sedikit mengantuk, tapi ia tersenyum saat melihat Nayla masih tertidur dalam posisi yang sama, dengan pipi menempel pada bantal leher biru muda. Ia duduk pelan-pelan. Merapikan jaket yang nyaris terjatuh dari pundak Nayla. Lalu bersandar, menatap jendela dengan sorot mata yang sulit ditebak—campuran lelah, sayang, dan sabar. “Tidur yang nyenyak, ya, Nay,” bisiknya nyaris tak terdengar. Di luar sana, jalanan tol terus memanjang, seolah membawa mereka pada sesuatu yang belum mereka mengerti. Dan di dalam bis yang melaju itu, lagu dari headset yang tadi sudah lama berhenti, tapi diam-diam... masih terdengar di hati mereka masing - masing. Riyan pun akhirnya tertidur di sebelah Nayla dengan melipatkan kedua tangan di perutnya dan menundukkan kepala. Mereka berdua tidur di kursi yang sama. Lalu, tanpa ia sadari, tubuhnya condong perlahan ke kanan. Kepalanya mulai berat. Dan beberapa menit kemudian, ia pun tertidur. Kepalanya nyaris bersentuhan dengan kepala Nayla. Tak sepenuhnya bersandar, tapi cukup dekat untuk saling berbagi kehangatan di malam yang dingin itu. Dalam tidur, jarak di antara mereka menghilang. Tak ada kecanggungan. Tak ada kebingungan. Hanya dua jiwa yang diam-diam saling mencari arah, dan untuk sementara... menemukan jeda yang sama. Seluruh isi bis tertidur. Bahkan suara AC pun terasa seperti bisikan. Sunyi, tapi tidak kosong. Dan di antara banyak kursi yang berjajar itu, hanya satu tempat yang menyimpan dua hati yang sama - sama belum yakin, tapi tidak pergi. Satu tempat kecil, di antara jendela dan lorong, di mana keheningan berubah jadi pengakuan yang tak diucapkan. Malam itu, tanpa kata, tanpa genggaman, tanpa pelukan, mereka saling menemani dalam tidur. Mungkin cinta tak butuh janji manis saat semua masih ragu. Mungkin cukup saling duduk di tempat yang sama. Cukup membiarkan kepala bersandar pelan—dan mungkin, pada rasa yang perlahan menemukan rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD