BAB 8 Field Trip Yang Menguji Hati

1698 Words
Langit Jakarta cerah hari itu. Awan menggantung pelan seperti enggan menutupi birunya. Bus kampus berhenti di area parkir Taman Mini Indonesia Indah. Hari ini kampus mengadakan field trip liburan semester. Katanya, ini bagian dari mata kuliah Sosial dan Budaya. Tapi bagi Nayla, ini lebih dari sekadar tugas kampus. Ini jadi momen di mana ia bisa melihat sisi Riyan yang lain—yang ceria, yang penuh semangat, dan yang mencintai dunia pendidikan sepenuh hati. Sama seperti dirinya. “Nay, ayo turun. Jangan melamun terus.” kata Riyan Riyan menggandeng tangan Nayla. "pelan Nay..." senyumnya merekah seperti matahari pagi. Nayla tersenyum, mengangguk, lalu berjalan bersamanya menuruni anak tangga bus. Di belakang Nayla, Risa dan Nita menyusul dengan langkah riang. Mereka seperti dua anak kecil yang baru saja dibebaskan dari tugas rumah. Wajah mereka penuh semangat dan harapan akan hari yang panjang. “Cepetan! Kita harus foto di semua rumah adat mumpung masih sepi!” seru Risa sambil mengangkat HP Oppo A 71 kesayangannya. “Kalau bisa sih, kita juga kita juga harus bikin konten video tik tok juga” timpal Nita, yang langsung membuat semua tertawa. Mereka memulai perjalanan dari rumah adat Sumatera. Riyan langsung mengambil peran layaknya pemandu wisata. Dia menunjuk ke ukiran kayu di dinding rumah, menjelaskan panjang lebar tentang filosofi dan sejarahnya. Nayla tahu sebagian besar itu karangan bebas, tapi ia menikmati, mendengarnya. Suaranya tenang, penuh semangat. Cara dia berbicara membuat segala hal terdengar penting, bahkan tentang selembar daun yang jatuh dari pohon. Semua ia jelaskan. Nayla, Risa dan Nita hanya mengangguk - angguk, seolah-olah apa yang disampaikan Rian itu semuanya sangat penting. “Coba kamu berdiri di sana, Nay. Aku mau ambil gambar,” kata Nita sambil mengarahkan lensa HP-nya padaku. Nayla berdiri di tangga rumah adat, mencoba tersenyum manis. Tapi tiba-tiba, Riyan muncul dalam rumah adat memeluknya dari belakang sambil berteriak, “Senyum manis untuk calon guru Bahasa Indonesia!” Nayla menjerit, spontan menendang kakinya pelan, dan Riyan kabur sambil tertawa. “Riyaaaaan! Jangan lari!” teriak Nayla sambil berlari mengejarnya. Seketika suasana menjadi seperti taman bermain. Nayla mengejar Riyan melewati halaman rumput, di antara pohon-pohon dan patung - patung miniatur budaya. Risa dan Nita tertawa terpingkal-pingkal dan sibuk merekam adegan itu dengan ponselnya. “Nay, sumpah ini cocok banget untuk bahan kontenku hari ini. Teriak Nita Riyan berlari dengan tubuh idealnya yang lincah. Tapi Nayla cukup cepat untuk menarik ujung bajunya. Riyan kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, tapi Nayla juga ikut terseret ke depan. Akhirnya mereka sama-sama terjungkal di atas rumput, tertawa, kehabisan napas. “Nyerah nggak Yan?” “Kalau kamu yang ngejar, aku nggak akan pernah nyerah,” ucap Riyan sambil menatap Nayla dari jarak dekat, senyumnya lebar sekali—senyum yang selalu berhasil membuat hati orang luluh tanpa izin. Nayla mendelik manja. “Ih, modus banget.” Ia menjulurkan tangan dan mencubit lengan Riyan. “Aduuuh.....!!” Riyan langsung menggeliat dramatis sambil memegang lengannya. “Sakit, Nay ! Kamu jangan terlalu jahat dong! Aku kan pacarmu yang rapuh!” Nayla langsung ngakak. “Rapuh dari mana? Suara teriak kamu aja kayak toa masjid!” Mereka berdua terbaring di atas rumput, bahu hampir bersentuhan, wajah menghadap langit biru. Tawa mereka menyatu dengan suara dedaunan—hangat, ringan, dan sulit untuk tidak ikut tersenyum. Namun tak jauh dari mereka, Andi dan Rima baru saja muncul dari arah lain taman. Langkah Andi terhenti perlahan. Matanya memaku pada sosok Nayla dan Riyan yang terlihat begitu bahagia. Bibirnya mengeras, dan dadanya seolah mengencang seperti tali yang ditarik kuat. “Nayla… kok bisa sebahagia itu sama Riyan?” gumam Andi dalam hati. “Kenapa… kenapa dadaku sesak banget liatnya?” Ia tidak sadar bahwa pandangannya mulai terlalu lama menatap Nayla. Rima yang berjalan di sampingnya melihat perubahan wajah Andi—rahang mengetat, tatapan yang tidak bisa lepas. Rima menelan ludah, matanya ikut bergerak ke arah Nayla dan Riyan yang berbaring tertawa.Dalam hatinya muncul rasa tidak nyaman. Ia tahu tatapan itu bukan tatapan biasa. Rima menarik napas pelan, lalu berkata dengan suara lembut namun tegas, “Andi… ayo pergi dari sini.” Andi tersentak kecil. “Eh… kenapa? Kita baru sampai sini, kan?” Rima memaksakan senyum, tapi matanya tampak gusar. “Iya, tapi… kayaknya kamu terlalu fokus ngelihat mereka. Aku nggak enak aja. Lagian, tempat ini mendadak… sesek buat aku.” Andi memalingkan wajah, berusaha menutupi hatinya yang kacau. “Aku cuma… ya, cuma kaget lihat mereka.” “Kaget boleh,” Rima menatapnya dengan sedikit keberanian, “tapi jangan sampai kamu nyakitin dirimu sendiri karena seseorang yang udah milih jalannya.” Wajah Andi memudar, bersalah dan bingung tercampur jadi satu. Rima melanjutkan sambil menarik pelan lengan baju Andi, “Ayo, kita cari tempat lain. Aku nggak mau kamu terus ngeliatin Nayla kayak gitu. Itu bikin… aku nggak nyaman.” Andi mengangguk pelan. “Maaf, Rim.” “Gak apa-apa,” jawab Rima, kali ini lebih pelan. “Yuk.” Rima berjalan sedikit lebih cepat, seolah ingin menjauhkan Andi dari pemandangan itu secepat mungkin. Sesekali ia menatap ke belakang—ke arah Nayla dan Riyan yang masih tertawa, dan ke arah Andi yang masih berusaha mengatur napas. Sementara itu, tawa Nayla dan Riyan terus pecah tanpa mereka tahu ada hati lain yang sedang retak di belakang mereka. Tak lama kemudian, Risa dan Nita datang menghampiri. Risa langsung duduk di sebelah Nayla sambil memamerkan layar HP-nya. “Nih, aku buat video waktu kamu ngejar Riyan. Sama satu lagi... ini...waktu kalian jatuh bareng. Mau dibuat trailer nggak? bagus ini buat opening Film FTV” Nayla mengambil HP itu, menatap layar yang agak buram tapi penuh makna. “Mana sih… Ya ampun… Aku kelihatan agak gendutan ya?” “Gendutan apanya! Kamu imut tahu!” bela Nita cepat. Nayla ngakak. Di video itu, Nayla mengenakan kaos lengan panjang warna merah yang ketat di bagian perut, dan rambutku agak berantakan karena tertiup angin saat berlari. Sementara Riyan dengan baju birunya terlihat sangat... nyaman. “Kalian lucu banget. Nggak usah pacaran. Udah langsung nikah aja besok. Aku sama Nita jadi tukang fotonya,” kata Risa dengan nada menggoda. Riyan hanya tertawa ngakak, sambil menggaruk rambutnya, dan tangannya nyubit lengan Nayla. Nayla mengalihkan pandangan, pura-pura mencari botol minum di tas. Tapi jantungnya masih berdegup karena cubitan singkat Riyan—dan tawa yang terasa seperti obat luka lama. Kalimat Risa itu bagi Nayla seperti air yang mengalir masuk ke retakan hatinya yang lama mengering. Riyan bukan hanya cowok lucu yang suka bercanda. Ada bagian dari dirinya yang diam-diam mengerti luka- lukaku, dan mencoba menyembuhinya tanpa Nayla sadari. --- Mereka berjalan berdampingan melewati jejeran miniatur rumah adat dari berbagai provinsi. Cahaya pagi menyentuh dinding-dinding kecil itu, memantulkan warna-warna kayu yang hangat. Riyan beberapa kali berhenti di depan salah satu rumah dan mulai menjelaskan dengan gaya sok ahli—tangan menunjuk ke sana-sini, ekspresi serius tapi lucu. “Kamu lihat ini, Nay?” katanya sambil berdiri tegap di depan rumah adat Toraja, seolah sedang memimpin tur resmi. “Kalau di Toraja, bentuk atapnya itu melambangkan—” “Yan…” Nayla memotong sambil tertawa, “kamu tuh calon guru bahasa Indonesia bukan guru sejarah, lebih baik kamu deskripsikan rumah-rumah miniatur ini” " Duh..aku nggak tau deskripsi Nay". sambil menggaruk rambutnya Nayla menahan tawa sambil memukul pelan lengannya. Riyan memiringkan kepala, menatapnya lembut. “Nay, kalau kamu jadi guru bahasa Indonesia nanti… kamu sukanya ngajar materi apa?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tapi tatapan Riyan sungguh - sungguh. Nayla terdiam sejenak, mengedarkan pandangan ke rumah adat di belakang mereka, lalu tersenyum kecil—senyum yang muncul dari kenangan masa kecilnya. “Pertanyaan serius di tengah liburan?” balasnya menggoda. “Serius tapi manis,” Riyan menambahkan cepat, bibirnya melengkung lebar. “Ayo jawab.” Nayla menarik napas pelan sebelum bicara. “Aku pengen ngajarin anak-anak mencintai kata-kata… nulis puisi, bikin cerita.” Matanya berbinar, suaranya menghangat. “Dulu waktu kecil aku sering pura - pura jadi guru, ngajarin kayu-kayu yang aku susun. Mereka rapi banget, kayak murid yang patuh.” Riyan menatapnya lama, senyumnya semakin lebar hingga matanya ikut menyipit. “Kamu pasti bakal jadi guru paling berprestasi sedunia.” Nayla memutar bola mata. “Masa sih, Yan?" Riyan mendekat, wajahnya dibuat - buat takjub. “Lah muridnya kayu, Nay! Jangankan manusia, benda mati aja bisa kamu ajarin bikin puisi, bikin cerita. Kamu hebat, Nay.” Nayla mencubit perut Riyan dengan cepat. “Aw! Nay!” Riyan melonjak kecil sambil memegang perutnya. “Tega banget kamu!” Nayla sudah berlari menjauh, tertawa. “Sekarang gantian! Kamu kejar aku!” Riyan langsung memasang kuda - kuda pura-pura seperti pelari sprint. “Siap! Kamu nggak bakal lolos!” Nayla berputar di antara replika rumah adat, rambutnya terbang tertiup angin. Riyan mengejarnya dengan semangat seperti anak kecil yang menemukan permainan baru. “Ayo, Yan! Buruan ngeja—Akh!” BRUK. Nayla kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di depan seseorang. Andi. Andi yang baru beranjak dari arah lain langsung ternganga kecil, terkejut. Ia buru-buru berjongkok dan mengulurkan tangan. “Nay, kamu nggak apa-apa?” suaranya lirih, tapi paniknya jelas. Nayla memandang wajah Andi beberapa detik—wajah yang dulu begitu akrab, sekarang terasa seperti ruang sempit yang sulit ditempati. Bibirnya bergerak, tapi tak ada kata yang keluar. Riyan yang melihat dari jauh langsung mempercepat langkah. Nafasnya memburu, bukan karena lelah, tapi karena bayangan Andi yang menyentuh tangan Nayla. “Nay! Sini, aku gendong aja,” kata Riyan cepat, dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya. Tatapannya menunjukkan kepemilikan, seperti ingin memberi sinyal ke Andi: dia bersamaku sekarang. Andi menatap Riyan balik, sorot matanya dingin dan tak suka. Ada sinis yang berputar di sana, seperti badai yang dipaksa diam. Namun sebelum kedua laki-laki itu sempat saling menyindir dengan kata-kata, Nayla sudah bangkit sendiri. “Sudah, aku nggak apa-apa,” katanya datar. Senyumnya tipis, lebih seperti upaya melerai suasana. Ia melihat sejenak ke arah dua laki-laki itu—dua wajah yang sama-sama tegang—lalu Nayla justru tersenyum kecil, entah karena geli atau lelah melihat mereka seperti sedang beradu kepemilikan. Tanpa berkata apa pun lagi, ia melangkah pergi, menghampiri Risa dan Nita yang tengah sibuk membuat video dengan gaya lebay. Sementara itu, Riyan dan Andi masih berdiri mematung, sama-sama tidak sadar bahwa Nayla sudah meninggalkan mereka sejak beberapa detik lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD