Bus 3 akhirnya berhasil menemukan jalur yang benar menuju Ancol. Namun matahari sudah terlalu condong ke barat, waktu tidak lagi memihak. Panitia di bangku depan berdiskusi cepat sambil memijat pelipis, wajah mereka penuh kelelahan. “Mas… kalau dipaksakan sampai Ancol, nanti jadwal berikutnya molor semua,” ujar salah satu panitia, napasnya berat. Panitia lainnya mengangguk cepat. “Udah, Pak supir… berhenti aja di rest area yang paling deket. Kita tunggu Bus 2 di sana. Bus 1 dan 2 sebentar lagi keluar Ancol.” Pak supir mengangkat tangan sebagai tanda paham. “Iya, Mas… saya belok ke rest area.” Bus pun menepi pelan ke rest area. Lampu-lampu warung kecil dan papan petunjuk berpendar kekuningan, membuat area itu terasa seperti tempat istirahat sementara bagi manusia yang sedang kehilangan

