Pintu Bus 3 terbuka dengan suara ceklek kecil. Beberapa mahasiswa yang sedang duduk langsung menoleh refleks ke arah pintu depan. Dan di sana…Riyan muncul. Masih ngos-ngosan. Rambutnya acak-acakan tertiup angin. Keringat tipis mengilap di pelipisnya. Napas- nya belum stabil setelah lari kayak dikejar malaikat maut. Begitu matanya menangkap Nayla—yang duduk di kursi ketiga dari depan—Riyan langsung bersuara lantang tanpa mikir: “NAYLAAA!!” Seluruh isi Bus 3 otomatis meledak. “WOOOOOOO!!” “AKHIRNYA DIPERTEMUKAN LAGII!!” “AWWWWW RIIYAN NYARIINNN~” Suara sorakan datang dari segala arah. Dari depan, tengah, belakang. Bahkan panitia di bangku depan ikut nengok sambil senyum-senyum. Nayla pipinya memanas sampai kuping. “YA ALLAH…” gumamnya kecil, antara malu, senang, dan pengen ngilang a

