PART 8

2227 Words
(Deri POV) Pagi ini aku terbangun dengan perasaan lelah. Mimpi yang baru kudapat dua jam yang lalu terlalu abstrak. Aku keluar kamar menuju dapur untuk membuat kopi. Pandangan mataku kosong, aku bingung. Apa tadi malam aku menyakitinya? Apa aku salah? Apa aku perlu bertemu dengannya untuk mendengar semua penjelasan darinya? Aaahhhh kenapa semua jadi begini, Melan? Kenapa kamu nggak terbuka? Apa hanya aku yang menyimpan perasaan untukmu? Aaah...semua makin runyam gara-gara kehadiran Teo. Aku tak pernah semarah ini kepada Teo. Dulu, saat Teo memukuliku karena masalah Sandra pun aku hanya bersikap pasrah. Dulu, saat Teo bilang aku bukan pria sejati pun, aku diam. Aku kecewa pada Teo hanya karena dia tak sepenuhnya percaya padaku, sahabat kecilnya. Kali ini aku tak bisa terima jika Teo menyentuh Melan. Aku tak tahu apa yang mereka rencanakan, aku hanya takut Melan meninggalkanku. Tapi apa yang sudah kulakukan? kenapa justru aku yang membuat Melan pergi? Pagi ini aku baru bisa berpikir jernih, ya aku salah. Bukan perkara mudah untuk membuat Melan memaafkan sikapku tadi malam. Melan orang yang tegas, aku sendiri tak begitu percaya diri untuk minta maaf secepat ini. Aku merasa seperti ABG labil yang hanya terlalu menuntut pasangannya. Mungkin Melan memang benar, semua butuh waktu. Aku memutuskan untuk bekerja walaupun semangatku mungkin hanya tinggal 30%. Kewajibanku di kantor hari ini begitu padat. Apa yang Melan lakukan? Apa dia bisa pergi ke kantor dengan nyaman? Atau dia sama halnya denganku, uring-uringan? Aku tak henti-hentinya bicara sendiri dalam hati. Di sela pekerjaan, aku sering membuka ponsel dan melihat beberapa foto yang diam-diam aku ambil saat Melan tersenyum. Sampai aku sadar, bahwa aku belum memiliki foto berdua dengannya. Ahh, hari ini aku ingin melihatnya. Pekerjaan kuserahkan pada sekretarisku. Istirahat makan siang, aku akan mencoba kesana, kantor Melan. *** Sampai disana, aku berhasil memarkir mobilku dekat pintu masuk. Untungnya masih ada satu cela sehingga aku tak perlu pergi ke basement. Hanya melihatnya sekali saja, lalu aku akan pergi. Mobil Melan masih ada di tempat biasanya, parkir khusus diperuntukkan bagi manajer. Aku bisa melihatnya karena memang tak jauh dari pandanganku. Setengah jam aku menunggu, tapi dia belum keluar untuk makan siang. Beberapa menit kemudian aku melihat Uni bersama dua orang lainnya keluar bersama. Melan dimana? Tak lama setelah kepergian Uni, aku melihat Melan keluar dari lobby sendirian. Tak ada senyum dari wajahnya. Dia hanya sekilas menyapa security lalu pergi menuju mobilnya. Ini dia, aku akan melihatnya dari dekat. Setelah masuk ke mobil merah itu, Melan diam. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Apa yang dia lakukan sehingga dia tak juga melajukan mobilnya? Kenapa dia tak segera makan siang? Aku ingin pergi ke hadapannya tapi aku takut hanya akan memperburuk suasana. Mungkin kekecewaan Melan belum reda. Sudah lebih dari lima belas menit aku memperhatikan Mobil Melan masih bertahan disana, hingga ada seorang driver gojek mendekat. Melan pun membuka kaca mobil lalu berbincang sebentar dan kembali menutup kaca mobilnya. Kenapa dia tak jadi pergi dan lebih memilih delivery makanan? Belum selesai aku berpikir, driver yang tadi menemui Melan kini sudah datang ke arahku, mendekati mobilku, dan mengetuk sekilas. Aku membuka dan dia berbicara, "Pak, ini ada makanan dari Ibu di mobil merah. Tadi pesen dua porsi, satu suruh dikasih ke Bapak. Permisi..." Aku terpaku dan hanya bisa diam mendengar ucapan sang driver. Sedetik kemudian, ada notif pesan masuk, kulihat itu dari Melan. 'Jangan menemuiku seperti itu. Kita sedang tidak dalam emosi yang baik. Makanlah, jangan habiskan waktumu hanya untuk berdiam di dalam mobil dan kembalilah bekerja.' Sejenak aku mencerna kata-kata Melan, lalu aku memilih menghampirinya. Sampai di mobil Melan, aku tak menemukannya, dia sudah pergi. *** (Author POV) Melan melihat mobil Deri pergi. Dia kini berdiri dekat kaca besar di lantai atas gedung kantornya. Masih ada sedikit kemarahan untuk Deri, tapi Melan juga merasa bersalah karena dia yang seharusnya meredam keadaan justru membuat hubungannya sendiri kacau. Dia kembali ke ruangan dengan lesu, d**a terasa sesak, lalu sedetik kemudian air mata Melan terjatuh. Uni yang sejak tadi melihat gelagat aneh dari sahabatnya itupun memilih masuk tanpa mengetuk ruangan Melan. "Mel....lo kenapa?" "......", Melan tak bisa menjawab, dia masih terisak. Uni memilih memeluk dan menenangkan Melan terlebih dahulu. Uni ambilkan minum dan menyerahkannya ke Melan yang kini sudah mulai tenang. Membereskan mukanya yang berantakan, kini Melan sudah membuka mata dan mengangkat wajahnya. "Lo udah sanggup cerita atau masih mau sendirian?" "Gue bingung, Un. Gue benci tertekan karena perasaan kaya gini. Kalau masalah hati pasti bikin pusing, tapi gue nggak bisa nggak mikirin dia." "Deri?", tanya Uni dan dijawab anggukan Melan. Karena sudah tenang, Melan menceritakan masalah dia dengan Deri secara singkat. "Udah, lo tenangin diri dulu, Mel. Lo bisa pulang cepet kok kalau mau, gue lihat nggak ada jadwal penting hari ini." "Oke Un, makasih ya udah dengerin cerita gue tanpa menghakimi apapun. Gue lagi males debat soalnya. Thanks banget. Gue selesaiin jam kerja gue aja, abis itu langsung pulang." *** Hampir seminggu keadaan mereka belum membaik. Menerka satu sama lain dan belum memiliki ujung. Orang sekitar merasakan ketidakstabilan Deri dan Melan beberapa hari ini. Akhirnya Uni menghubungi Gilang untuk meminta penjelasan secara lebih detail. Pertemuan mereka terjadi di cafe Gilang. Hasilnya, Gilang akan bertemu Melan untuk meminta maaf. Sebelum mengaku salah, Gilang sudah terlebih dahulu bertanya pada beberapa pegawai dan melihat rekaman CCTV di malam saat Teo, Melan, dan Dina bertemu. Dari rekaman itu terlihat mereka bertiga bertemu dengan riang. Dina dan Teo memiliki beberapa kontak fisik yang mengisyaratkan kedekatan keduanya. Beberapa saat kemudian, Dina meninggalkan Melan dan Teo ke toilet. Percakapan antara Melan dan Teo tidak mengisyaratkan rayuan dan semacamnya. Tak ada emosi yang muncul, hingga Dina kembali bergabung dan mereka mengobrol seperti semula. "Aku akan minta maaf pada Melan karena sudah ikut campur dan mengirim kabar yang tidak jelas pada Deri.", ucap Gilang. "Mungkin begitu lebih baik. Nanti aku bantu atur waktu agar kalian bisa bertemu.", Uni setuju. "Makasih Uni. Semoga keadaan bisa membaik. Walau bagaimanapun, Deri dan Teo adalah sahabatku." Dua hari kemudian, akhirnya Gilang bisa bertemu Melan setelah Uni harus menyesuaikan jadwal dan membujuk Melan. Pertemuan kali ini bukan di cafe Gilang, tapi di apartemen Melan. Tanpa sepengetahuan Gilang dan Uni, Melan sudah menghubungi Dina dan Teo untuk datang ke apartemennya juga. Melan ingin keadaan membaik dari berbagai sisi, urusan hatinya, akan ia pikirkan kemudian. Saat ini dia merasa geram dengan dirinya yang menjadi korban kesalahpahaman. Melan, Uni, dan Gilang kini sudah berada di ruang tamu. Duduk saling berhadapan, Melan dan Gilang hanya bertegur sapa sekilas. Uni mati-matian menghidupkan suasana dengan mengacak-acak camilan. Gilang akan memulai pembicaraan namun dihentikan oleh Melan. Menunggu tamu selanjutnya, baru dia boleh menjelaskan. Tak lama, Dina dan Teo datang lalu merekapun kini sudah berpindah duduk melingkar di meja makan. Ekspresi kaget dan heran ditunjukkan oleh Teo dan Gilang. Setelah sekian lama, baru kali ini mereka bertatap muka lagi. Gilang merasa paling bersalah disitu, maka dia tak segan untuk segera menjelaskan apa yang terjadi. Semua penjelasan Gilang sudah didengar oleh mereka, ia pun tak lupa meminta maaf. Kini giliran Teo yang angkat bicara untuk menceritakan kronologi Deri melabrak dirinya, lalu alasan selama ini dia hanya diam kepada Deri dan Gilang. "Jadi gitu, jujur gue kecewa sama Deri, diawal. Tapi setelah gue tahu kalau Sandra yang curang, gue jadi kasihan sama Deri. Gue malu buat minta maaf, gue udah bersikap kekanakan sama kalian sementara kalian cuma terima aja semua emosi gue waktu itu.", ucap Teo. "Asal lo tahu ya, gue sama Deri nggak pernah sekalipun marah ke elo. Sampai detik ini gue nunggu elo buat ke kita, kenapa? karena kita tahu bahwa lo juga korban. Kita masih ngaggep lo sebagai sahabat. Saat lo diem, mungkin lo lagi marah dan nggak butuh kita, jadi kita mau kasih elo waktu buat berpikir. Tapi suatu hari lo pasti balik. Kita yakin.", balas Gilang. "Gue harap, lo bertiga bisa baikan.", sela Melan. "Iya, Mel. Kita akan coba pelan-pelan. Banyak hal yang udah kita lewatin satu sama lain. Untuk menjadi dekat seperti dulu memang butuh proses. Tapi jujur, gue emang kangen banget sama Gilang dan Deri. Sekali lagi gue minta maaf", ungkap Teo. "Gue juga minta maaf bro. Semoga kita bisa kayak dulu, gue kangen banyolan lo. Haaa...." Tiga wanita disana hanya tersenyum memperhatikan Teo dan Gilang yang sudah mulai mencoba akrab kembali. Ternyata persahabatan cowok ada dramanya juga. Masalah yang harusnya selesai dari dulu, dipendam hingga dua tahun lamanya. Cuma butuh ngobrol enak, dan semua menjadi baik. Mereka hanya butuh komunikasi yang jujur. "Hmmm, Mel. Gue disini juga mau minta maaf karena udah bikin hubungan elo sama Deri jadi nggak baik.", ucap Gilang. "Gue sama Deri bukan berantem karena masalah kalian kok. Mungkin itu cuma muncul di awal, tapi ada hal lain yang harus gue selesaiin sendiri sama Deri. Yang penting persahabatan kalian harus membaik, itu bisa membantu gue juga nantinya." Melan menyadari kondisinya, hubungan dengan Deri saat ini tak lebih dari drama batin yang bergejolak mencari jawaban sendiri. Mungkin komunikasi yang baik juga dibutuhkan Melan dan Deri saat ini. Setelah perbincangan serius, malam itu suasana dicairkan dengan game-game yang mereka mainkan. Melan sengaja mengisi penuh lemari es dengan camilan dan minuman ringan. Melan bersyukur bahwa ada orang-orang baik disekitarnya. Di sela canda tawa, Melan terdiam karena teringat Deri. Akan lebih indah jika malam ini Deri ada di antara kedua sahabatnya dan berada disini, di sisi Melan. Beberapa detik kemudian, ada notif pesan dari Bunda. Melan membaca setelah mengalihkan perhatian dari teman-temannya. 'Mel, besok temenin Ayah sama Bunda ke acara Om Danu ya? tetangga Bunda dulu. Dandan yang cantik.' Melan bertanya-tanya setelah menjawab 'iya' pada Bunda. Ada apa dengan Om Danu sehingga dia harus ikut? Apa ini masalah perjodohan lagi? Hubungan dia dan Deri saja masih belum selesai, apa jadinya jika ini benar masalah perjodohan?! Mood Melan menjadi buruk. *** Keesokan harinya, Melan sudah menyerahkan pekerjaan kepada Uni dan dia ijin untuk tidak lembur karena harus menghadiri acara keluarga. Melan belum cerita detail kepada Uni karena Melan sendiri belum tau malam ini sang Bunda punya rencana apa lagi untuknya. Melan mampir di salon langganan dekat apartemen untuk menata make-up dan rambutnya agar selesai lebih cepat. Setelah sampai di apartemen, dia memilih gaun berwarna silver selutut yang terlihat simple. Kini Melan tampak cantik dengan aura yang membuat orang selalu penasaran. Dia menuju rumah untuk menjemput Ayah dan Bunda. Tak lupa, Melan membawa beberapa baju santai karena besok adalah hari libur dan Bunda meminta Melan untuk menginap di rumah. Acara yang berlangsung di hall hotel ternama itu terlihat sungguh indah. Tak banyak tamu yang diundang karena malam ini acara eksklusif untuk kerabat dekat. Meja tamu berbentuk lingkaran telah tertata rapi memenuhi ruangan. Dekorasi bertema putih kuning itu tak membuat Melan salah kostum. Beruntungnya dia. "Bun, itu yang nikah anaknya Om Danu yang keberapa?", selidik Melan. "Ya cuma satu, Mel. Orang anak tunggal kok." Melan hanya bisa ber-ooh ria mendengar jawaban Bunda. Berarti ini bukan acara perjodohan lagi, batin Melan lega. Dari jauh nampak sepasang suami istri tersenyum lebar menyambut lambaian tangan Ayah Melan. Mama dan Papa Deri mendekat. Beberapa langkah di belakangnya, Deri terlihat tampan dengan setelan jas abu tua tanpa dasi. Deri merapikan sedikit tatanan jasnya kemudian menyusul langkah kedua oragtuanya. Melan dan Deri begitu canggung saat menyapa satu sama lain. Pandangan mereka saling menghindar. Mama dan Bunda yang sudah tau kondisi anak mereka saat ini hanya bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Dina adalah sahabat Melan sejak kecil, maka dari itu Bunda tak segan-segan untuk mengorek informasi tentang Melan dan Deri. Sebelum menemui pengantin dan duduk di meja tamu, mereka menyempatkan mampir di photobooth yang sudah disediakan. Foto masing-masing keluarga sudah, kemudian Mama Deri meminta keluarga Melan untuk bergabung. Setelah gambar diambil, Mama dan Bunda menarik suaminya masing-masing menyisakan Melan dan Deri untuk foto berdua. Awalnya ada sedikit protes, namun dengan terpaksa mereka tersenyum sambil mendekatkan diri, demi orangtua mereka. Setelah selesai menyalami pengantin, Melan sedikit melongo melihat keluarga Deri ikut bergabung di mejanya. Acara makan malam pun berlangsung tenang. Sesekali Bunda Melan dan Mama Deri menyahut candaan satu sama lain. "Deri sama Melan kok diem aja? Lagi kenapa?", tanya Papa Deri secara tiba-tiba. Bunda dan Mama saling bertatap dengan kening berkerut dan sedikit khawatir karena dua laki-laki di sampingnya ini tidak mengetahui kondisi Melan dan Deri yang sedang bertengkar. Dengan sedikit tersenyum, Melan menjawab pertanyaan Papa Deri, "Nggak kenapa-napa, Om. Biasanya juga begini. Kalau mau ngobrol, takut ganggu nanti. Melan sama Deri kayanya sama-sama lagi banyak kerjaan, jadi banyak diem." Setelah menyelesaikan ucapan, Melan mengatupkan mulut rapat lalu berpikir, apakah jawabannya rasional? Melan menatap Deri kemudian. Tak ada suara keluar dari mulut Deri untuk menanggapi jawaban Melan. Raut wajah Deri juga tetap datar, tanpa memandang Melan sedikitpun. Sedetik kemudian, Deri tiba-tiba berdiri. "Maaf, Deri ada urusan mendadak, selamat menikmati makan malamnya. Permisi....." "Der, tunggu !! Kamu mau kemana?", tanya Mama Deri. Deri berlalu tanpa menjawab dan tanpa menoleh ke belakang. Langkahnya pun dipercepat. Melan yang sadar dengan sikap Deri memilih mengejar tanpa menghiraukan kedua orangtuanya. "Deri tunggu, jangan kayak anak kecil.", ucap Melan berhasil membuat langkah Deri berhenti. Kini mereka sudah ada di luar lobby hotel. "Aku mau kita bicara berdua.", lanjut Melan. "Apa yang kamu bilang tadi? Kita lagi banyak kerjaan? Apa nggak ada alasan lain agar kedua orangtua kita nggak ketawa mendengarnya, Mel?" "Maksudmu?" "Kamu masih sama. Menyembunyikan keadaan kita dari mereka. Apa susahnya bilang kalau kita emang sedang tidak baik?" "Kurasa mereka bisa menebak itu, Der. Aku hanya tidak mau merusak suasana kebahagiaan mereka saja. Kamu lihat tadi kan? Dan bukannya lebih baik kalau kita nggak melibatkan orangtua di masalah kita?" "Poinnya bukan disitu, Mel. Akan lebih baik kalau kita terbuka. Lebih dari itu, aku merasa kamu belum mengakuiku. Sudahlah, aku nggak bisa berdebat lagi." "Kamu kenapa sih? Kamu aneh Deri. Bukan ini Deri yang aku kenal, seorang Deri harusnya bisa berpikir jernih sebelum bicara. Kamu bilang aku nggak terbuka, tapi kamu juga sama." "Semua tentangku menjadi kacau saat menyangkut tentangmu, Mel." Akhirnya Deri pergi setelah menghentikan satu taxi. Melan hanya terpaku melihat kepergian Deri. Keadaan belum membaik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD