PART 7

1933 Words
Hari ini Melan berjanji untuk menemani Dina jalan-jalan ke mall. Sudah lama mereka tak berjumpa. Kesibukan keduanya menjadi penghalang. Dina sebagai penyiar radio yang memiliki jadwal harian, kini sudah merambat ke dunia MC. Event dan wedding organizer menjadi langganan yang datang satu per satu. Duduk di deretan kursi chatime, mereka menikmati minuman dingin itu sambil bersenda gurau. "Selamat ya, nona Dina sekarang udah nampang go public. Bangga deh...", ucap Melan. "Lo kapan mau nikah? Sini gue yang bawa acaranya. Gue bikin ramee..." "Masih lama kali, belum ada niat nikah deket-deket ini. Lagian kalau nikah gue mau acara biasa aja. Simple, nggak bikin pusing. Haaa." "Yee, mana bisa acara biasa? Nggak boleh. Oya, kalau belum dilamar, lo dulu aja yang ngelamar nggak papa kan?" "Ya nggak papa sih, cuma guenya yang nggak mau. Lo sendiri gimana? Belum ada cowo khilaf yang mau?" "Enak aja lo, ini gue punya temen deket tapi nggak tahu bisa serius apa enggak. Namanya Teo, sukses, ganteng juga. Gue sering nggak PD kalau lagi jalan sama dia." "Kerjanya apa?" "Bankir gitu, Mel." "Nama panjang?" "Richard Prasetyo, sukanya dipanggil Teo." "Udah tau bibit bebet bobotnya?" "Jeli banget sih pertanyaan lo, kaya KPK. Gue baru-baru ini deket sama dia, jadi belum terlalu kenal. Tapi nggak masalah, soalnya gue nggak mau dijodohin kaya lo, jadi gue mau usaha cari sendiri dulu....." "Bukan mau gue juga sih buat dijodohin, tapi rejekinya kaya gitu ya gimana lagi." Dina dan Teo bertemu di ulang tahun perusahaan Teo, sebuah bank kelas internasional yang kini telah ikut menguasai pasar di Indonesia. Teo tertarik pada keceriaan Dina sehingga memutuskan untuk mendekati gadis tersebut. Sekitar dua minggu mereka sudah menjalin kedekatan, walaupun belum terlalu mengenal satu sama lain, namun kecocokan keduanya membuat hubungan berjalan lancar. Dina memang belum resmi memperkenalkan Teo pada Melan, seperti halnya Melan yang belum resmi mengenalkan Deri pada Dina. Mereka melanjutkan pembicaraan seputar dunia fashion dan apa aja yang wanita perlu bahas. Tak lupa mereka belanja keperluan harian dan mengejar diskon disana-sini. Melan sering lupa waktu jika sedang jalan bersama sahabat kecilnya itu. Melan dan Dina memiliki agenda rutin yang baik. Menghabiskan beberapa uang untuk keperluan pribadi tak membuat mereka lupa berbagi. Sebuah Yayasan Yatim Piatu di pinggiran Jakarta menjadi tempat yang wajib mereka kunjungi sebulan sekali. Setiap habis gajian, mereka sisihkan beberapa uang untuk disumbangkan ke Panti asuhan tersebut. Awal mula mereka menemukan tempat itu adalah saat Melan mencari anak yatim untuk diundang di acara amal perusahaannya. Ternyata donatur di panti itu masih sedikit, jadi niat untuk membantu muncul dari diri Melan. Seperti hari ini, setelah selesai mencari barang pribadi, mereka memutuskan untuk mampir ke hypermart. Membeli beberapa makanan pokok dan bermacam alat tulis untuk adik-adik di Panti. Adik-adik yang memiliki rentang umur antara balita hingga sekolah menengah itu menyambut Melan dan Dina dengan antusias. Mereka memberikan barang-barang kepada pengasuh untuk dipergunakan sebagaimana mestinya, lalu Dina bertugas menghibur adik yang kecil, sementara adik yang remaja kini sudah duduk bershaf di depan Melan siap mendengar bagaimana kehidupan dunia kerja dan strategi untuk menjadi orang yang bisa dipercaya. "Mel, bulan depan orangtua gue bilang mau ikut kesini. Bareng sama lo juga ya, cari tanggal yang enak.", ucap Dina. "Oke, siap sistaa. Makasih ya buat hari ini." Perasaan lega yang sangat nyaman pasti mereka dapatkan setelah pulang dari Panti. Tidak semua orang bisa merasakannya. Melan dan Dina pun tersenyum satu sama lain. *** Hari ini Dina tidak memiliki jadwal siaran ataupun MC, dia mengajak Teo untuk bertemu dengan Melan di malam hari. Melan menyetujui dengan tidak menambah jam lembur di hari itu. Awalnya, mereka akan bertemu di mall, namun karena cuaca cerah, Melan merubah tempat bertemu di cafe Gilang. Pemandangan hijau membuat otak yang lelah bekerja menjadi sedikit tenang. Melan sudah terlebih dahulu datang dan mencari meja dengan penerangan yang bagus. Dari kejauhan sudah terlihat dua sejoli yang ditunggu Melan. Mereka berjabat tangan sebagai awal perkenalan. "Hallo, saya Melan, sahabat Dina." "Saya Teo, semoga segera menjadi pacar sahabat anda.", mereka pun tertawa bertiga. Poin bagus di awal untuk Teo, batin Melan. Setidaknya dia mau mengakui Dina dengan terang-terangan. "Mana Deri, Mel?", tanya Dina. "Oh dia harus ke Bandung malam ini, jadi sorry nggak bisa dateng." "Gila ya, kebanyakan property tuh....super sibuk cowo lo." "Calon, Din. Ingat. Gue masih belum resmi.... kaya kalian..... menuju resmi. Hahaaa" Percakapan mereka mengalir begitu baik. Melan bisa menanggapi candaan Dina dan Teo dengan baik. Teo mudah menghidupkan suasana, sama seperti Dina. Hingga suatu detik tibalah mereka membahas Deri. Dibanding Melan, Dina justru lebih bersemangat menceritakan latar belakang dan sifat Deri. Merekapun tertawa bersama, kecuali Teo. Dina ijin untuk pergi ke toilet, tinggallah Melan berdua bersama Teo. "Jadi lo deket sama Panggih Handeri? Pengusaha property keluarga Risyad?", Teo tiba-tiba bertanya. "Bisa dikatakan begitu. Lo kenal dia?", jawab Melan. "Sangat kenal, dan sayangnya kami tidak dalam hubungan yang baik. Sebenarnya gue juga tau kalau cafe ini punya Gilang." "Gue nggak tahu kemana arah pembicaraan lo. Hubungan kalian apa? Deri nggak pernah cerita." "Butuh keberanian buat Deri bisa nyeritain tentang gue ke lo, Mel." "Udah, jangan muter-muter Teo. Intinya aja. Biar kita sama-sama enak." "Gue, Deri, dan Gilang itu temen lama. Kami renggang karena masalah klasik, cewek. Kaya anak kecil, kan? Tapi emang begitu. Ini semua karena Sandra." Sandra, gadis manis berasal dari Bandung yang dulu menjadi incaran Teo, namun ia berpaling setelah mengenal Deri. Teo sadar, dia pasti kalah dalam persaingan karena memang Deri memiliki banyak kelebihan dibanding dirinya. Kemarahan Teo memuncak bukan saat Sandra dan Deri menjalin hubungan, namun saat hubungan mereka berjalan lima bulan tetapi harus berakhir begitu saja. Teo marah karena Deri tidak bisa menjaga Sandra dengan baik, pengorbanannya terbuang sia-sia. Deri tidak mengetahui bahwa Teo juga menyukai Sandra. Dia hanya tahu bahwa Teo dan Sandra hanya sebatas teman. Hal itu juga disadari Teo karena memang ia tidak menceritakan perasaannya pada siapapun. Hingga hari itu tiba, hari saat Deri memutuskan hubungan dengan Sandra, maka Teo menjadi sangat marah dan meluapkan semuanya. Akhirnya terkuak bahwa Teo menyimpan perasaan dan simpati untuk Sandra. Hari itu adalah hari dimana Teo memutus hubungannya dengan Deri dan juga Gilang. Teo tidak mau mencari pembenaran dari Gilang karena Gilang selalu ada di sisi Deri hingga hari dimana Sandra tersakiti dan Gilang hanya bisa diam. Berkali dan berbagai cara telah dicoba Deri untuk memperbaiki hubungan tetapi gagal. Teo terlalu keras kepala saat itu. Hingga suatu hari Gilang memberi tahu bahwa Sandra berpaling dari Deri demi pria lain, sehingga Deri harus memutuskan hubungan dengan Sandra. Deri saat itu belum siap menikah. Hubungan lima bulan dirasa terlalu cepat bagi Deri untuk menuju jenjang pernikahan. Maka dari itu, walaupun masih dalam masa pacaran, akhirnya Sandra menemukan pria lain dari Bandung yang setara dengan Deri dan bersedia menikahinya dalam waktu dekat. Teo sudah terlanjur kecewa, hingga pembenaran yang diberi Gilang tak cukup membuat dia memaafkan Deri saat itu. Melan mendengar penjelasan Teo dengan seksama, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Di saat yang sama, ternyata Gilang yang sedang berjalan ke luar bersama rekan bisnisnya melihat Melan dan Teo dari kejauhan. Dengan satu dua kali lirik, Gilang bisa mengenal sosok di depan Melan. Akhirnya dengan cekatan, Gilang memotret mereka berdua, kemudian berlalu mengejar langkah rekan bisnisnya tadi. Beberapa menit kemudian, Dina datang dan kembali bergabung dengan Melan juga Teo. "Hei, kalian kenapa? So awkward suddenly....", tanya Dina. "Din, temen aku yang kemarin aku ceritain ke kamu, mantan Sandra, itu Deri. Deri nya Melan.", jawab Teo melunak. "What? Mel, itu bener?" melan hanya mengangguk sekilas, "Gilaaaa...", sahut Dina. "Sorry Mel, bukan maksud gue buka aib orang, tapi gue cerita ini biar kita sama-sama bisa bersikap.", ucap Teo. "Apa menurut lo sikap lo ke Deri dengan mengacuhkan dia itu udah bener? Ini bukan karena gue belain dia ya...dia juga salah. Salahnya Deri adalah dia nggak peka dan terlalu polos, mau aja ditipu sama cewek.", jawab Melan. "Iya, kayanya gue juga salah, Mel. Kemarin Dina juga udah marahin gue karena bersikap cuek selama ini sama temen sendiri. Tapi gue juga nggak tahu gimana mau balikin suasana biar enak kaya dulu lagi." "Wait..gini ya, sebenarnya aku masih shock karena temen kamu itu si Deri. Cuman, kalau dipikir-pikir, ini justru sebuah kebetulan. Jadi aku sama Melan bisa bantuin kamu. Ya nggak Mel?" Melan setuju dengan niat Dina. Memperbaiki hubungan dua sahabat yang sedang kacau. Tapi sebenarnya dia juga sedikit marah karena persoalan ini berakar pada cewek yang bernama Sandra. Siapa si Sandra ini? Tanya Melan dalam hati. Diawal perkenalan, Deri hanya menyebut dirinya putus karena tidak cocok. Melan akan mencari waktu yang tepat untuk membahas masalah itu dengan Deri. Deri wajib menceritakan semua hal dengan jujur, harapan Melan. *** Keesokan harinya, Melan tiba di apartemen dengan lelah. Ia rebahkan tubuh di ranjang tanpa melepas setelan kerjanya. Dia membuka ponsel berharap ada pesan balasan dari Deri tapi nihil. Detik selanjutnya, ada notif pesan masuk dari Dina. 'Mel, Deri tadi abis berantem sama Teo. Untungnya cuma adu mulut, lo coba tenangin Deri ya...' Melan menutup chatroom dan beralih mencari kontak Deri untuk melakukan panggilan. Tidak terjawab. Akhirnya Melan bergegas untuk pergi ke apartemen Deri. Dia raih tas dan mencari kunci mobil. Sampai di lobby, Melan terhenti karena melihat Deri baru saja tiba dengan mobil hitamnya tepat di hadapan Melan. Deri keluar dari mobil dengan raut wajah yang tak biasa. Melan menyambut Deri dengan mencoba tenang... "Hai, masuk yuk.", pinta Melan. "Nggak Mel, aku nggak lama." "Aku baru aja mau berangkat ke apartemen kamu." "Buat apa? Buat jelasin tentang Teo? Kamu kenapa bisa ketemu Teo? Apa dia bilang yang enggak-enggak tentang aku?" nada bicara Deri meninggi. "Enggak sama sekali, Der. Teo cerita semunya, tapi dia juga ngaku salah. Dia udah nggak peduliin Sandra juga kok." "Jangan sebut nama itu dulu, Mel." "Oke... tapi kamu jangan emosi Deri. Ngapain pake berantem sama Teo sih? Kalian harusnya meperbaiki keadaan, bukannya bikin tambah buruk kaya gini." "Jadi, sekarang kamu nyalahin aku? "Yaampun, enggak gitu Deri. Aku cuma......." "Ooohhh... apa mungkin Teo mau balas dendam ke aku lewat kamu?" "Aku rasa enggak kaya gitu, Der. Teo nggak ada niat balas dendam sama sekali." "Mel, kamu lebih percaya Teo? Apa itu hasil dari pertemuan kalian berdua kemarin malam haah?" "Deri cukup! Aku nggak cuma berdua ya, aku bertiga sama Dina. Kita udah pernah bahas masalah miss information kaya gini, dan aku nggak tahu darimana kamu dapet kabar ini. Aku minta kamu percaya sama aku, Der !!", pinta Melan. "Percaya? Kamu yang nggak percaya sama aku, Mel. Ada banyak hal yang nggak kamu ceritain ke aku. Aku cuma diem nunggu kamu cerita. Tentang panti asuhan, tentang saham kamu di perusahaan aku, dan sekarang tentang Teo. Aku yakin masih ada banyak hal yang masih kamu sembunyiin...." Deri mengetahui kebiasaan Melan dan Dina di panti asuhan dari hasil membuntuti waktu itu. Saham Melan di perusahaan Deri memang hanya 3%, tapi hal itu sangat penting untuk diketahui Deri. Hal ini dia ketahui setelah ia menjabat posisi CEO. "Jangan main hitung-hitungan, Der!! Aku udah coba terima bahwa kamu nggak cerita sebenarnya tentang alasan kamu bisa putus dengan mantanmu dua tahun lalu." "Aku salah? aku harus gimana lagi, Mel? Aku kayak orang nggak berguna di matamu. Aku berharap kamu bisa cerita semuanya, bisa berbagi masalah sama aku, dan aku pengen jadi orang yang bisa kamu andelin. Itu aja. Tapi kamu nggak ngebuka pintu itu buat aku, Mel !!" "Pelan-pelan Deri, aku udah sering bilang ke kamu, aku nggak mau ada tekanan. Kita jalani aja dulu...jangan menuntut lebih..." "Ohh begitu? Sekarang aku merasa menjadi pecundang yang bertepuk sebelah tangan. Well, makasih Mel !!" Melan menarik tangan Deri, "Tunggu Deri, tunggu. Kamu jangan salah faham, kamu lagi emosi. Jangan pulang sekarang, bahaya!! Kamu lagi kacau." "Jangan kasih perhatian kaya gini kalau kamu nggak pengen aku nuntut lebih. Aku butuh waktu buat sendiri. Kamu bisa nikmati waktu sama Teo, terserah kamu." "Kamu keterlaluan, Der!!", Melan mulai terisak, air matanya tak bisa dibendung lagi. Kalimat terakhir Deri begitu menusuk. Tanpa menoleh, Deri beranjak dan kini sudah berada di balik kemudi lalu melajukan mobilnya dengan cepat. Deri merasa terpukul sebagai pria, harapan yang perlahan ia bangun kini sedikit retak. Perasaan yang mulai tumbuh untuk Melan harus kembali ia tahan. Malam yang penuh emosi antara mereka berdua ditutup dengan kegundahan hati masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD