PART 6

2371 Words
Keadaan berjalan semakin baik setelah Deri dan Melan lebih sering berkomunikasi. Jika sempat, mereka bertemu setidaknya satu kali dalam sehari, entah saat makan siang atau saat makan malam. Terkadang Melan lebih memilih memasak di apartemennya untuk Deri. Jika keduanya sibuk, maka intensitas bertemu jadi berkurang, terkadang hanya saat weekend. Seperti beberapa hari ini mereka sudah tidak bertemu sejak tiga hari yang lalu. Deri membuka chatroom tertuju pada Melan. "Hey, sudah jam sembilan malam. Masih di kantor?" "Sedikit lagi dan aku akan pulang. Ingat ya, kamu akhir-akhir ini kebanyakan lembur. Nggak usah minum kopi dulu. Nanti sampai apartemen langsung tidur." "Oke nyonya. Tapi malam ini sedikit dingin. Cepatlah pulang." "Sepuluh menit lagi." Balas Melan. "Waaah,,sepertinya aku nggak bakat bikin kejutan. Sekarang aku di bawah Mel. Cepetlah turun, sepuluh menit terlalu lama. Disini dingin banget.", balas Deri menyerah. Melan kemudian turun dengan terburu-buru setelah membaca pesan terakhir. Sedikit jengkel namun lebih banyak bahagia. Sampai di bawah, Melan langsung menggenggam tangan Deri yang memang terasa dingin. "Dari jam berapa? Dasar CEO kurang kerjaan." "Mmmhhh.....setengah jam kayanya." "Dingin tuh, sok kuat.", Melan berkata sambil mengeluskan ibu jarinya ke punggung tangan Deri. "Ya karena aku udah nggak kuat, makanya pengen ketemu. Mobil kamu titip kantor dulu ya?" "Iyaaa iya." Menembus dinginnya kota malam ini, mereka memilih langsung pulang tanpa mampir karena kelelahan. Sesampainya di apartemen Melan, Deri langsung pamit. Sebelum keluar dari mobil, Deri memeluk Melan erat. "Apa cuma aku yang kangen?", tanya Deri disela pelukan mereka. "Mungkin.", jawab Melan. "Waahh, kayanya malam ini bakal ada CEO yang nggak bisa tidur nyenyak." "Stop it, Der. I'm here for you. Dan....aku ada kabar sedikit. Besok bunda sama Ayah balik ke Indonesia." Mengurai pelukan, Deri terkejut, "Ya ampun Melan, itu kabar besar yang terlalu mendadak. Apa persiapan rumah di sini udah siap? Atau mereka harus tinggal di apartemenmu dulu? Kenapa nggak bilang jauh-jauh hari sih. Aku bisa pinjemin rum......." Melan menutup mulut Deri dengan telunjuknya secara cepat. "Sssssttt..... tenang ganteng, tenang. Kok jadi bawel gini sih?" "It's such an important news for me...", Deri menyela dengan tegas. Melan tersenyum lebar mendengar perkataan Deri, "Iya makasih. Rumah kami disini terawat dengan baik, siap pakai kok." "Besok aku jemput di Bandara." "Idih, emang aku minta? Aku aja yang jemput, besok kedatangan mereka masih di jam kerja, nanti biar aku dibantu Dina sahabatku." "Kenapa harus Dina? Ada aku." "Kamu kerja aja, Der. Tenang." "Apa aku nggak penting di matamu, Mel? Kamu selalu begini. Nggak terlalu terbuka tentang aku ke orang lain." "Aku kenalin kamu ke temen-temenku kan?" "Tapi nggak pernah cerita ke orangtuamu. Benar?" "Itu karena........(ucap Melan menggantung)....nanti juga aku bakal cerita Der, tunggu waktu yang tepat aja. Ayah sama Bunda udah kenal kamu, aku cuma nggak mau mereka ikut campur dan mendikte kita." "Kamu nggak percaya sama orangtua kamu sendiri, Mel?" "Cukup Deri. Kita lagi sama-sama capek, nggak usah berantem ya?" "Harus ada yang mengalah, dan kali ini bukan aku. Apa ruginya jika aku ikut menjemput mereka sih? Sekali aja kamu......" "Oke...oke...oke..... besok jam 9 aku tunggu kamu di apartemen, kita ke Bandara bareng.", Jawab Melan membuat Deri akhirnya tenang. "Apa aku perlu bawa mobil yang lebih besar?" Melan tertawa mendengar ucapan Deri. Dia keluar dari mobil setelah mengecup pipi kiri Deri. Malam ini Deri begitu menggemaskan, katanya dalam hati. Ada sedikit rasa belum siap jika Melan harus membawa Deri bertemu orangtuanya. Takut akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang begitu menekan hubungan mereka. Jawaban seperti apa yang bisa menenangkan sang Bunda jika saat ini Melan dan Deri masih dalam proses pendekatan. Di sisi lain, Deri ingin membuktikan bahwa dia bisa diandalkan. Ingin menjadi tumpuan Melan, perlahan tapi pasti. *** Melan berdiri sejajar dengan Deri yang tampak tak bisa santai. Melan memutuskan untuk ijin kerja hari ini demi menyambut Ayah Bundanya. Tampak dari jauh, mereka terlihat seperti pasangan yang teramat serasi. Melan memakai pakaian casual yang tetap terlihat mahal, sneaker putih, dan satu sling bag menggantung di pundaknya. Deri dengan harum kebanggaannya sudah siap dengan setelan kerja yang begitu rapi. Sedikit menyimpan keringat di kening. Melan menahan tawa melihat penampilan Deri saat ini. "Bundaaaaaa....Ayaaaaaah..... , Melan disini !!", teriak gadis itu saat melihat dua sosok kesayagannya. Ayah dan Bunda Melan menghampiri mereka dengan senyum merekah, dipeluknya Melan satu per satu, lalu mereka menyalami Deri. Bunda menyimpan senyum curiga ke arah Melan. "Deri ya?", tanya Ayah Melan. "Hallo Om, Tante. Udah lama nggak ketemu ya? Tante sama Om sehat?" "Kami baik, sehat.....Oh ya, ini kok Deri ikut jemput?", tanya Ayah Melan. "Nggak sibuk Nak Deri?", Bunda menyahut. "Enggak Om, Tante. Deri pengen ketemu langsung sama Om dan Tante, sebelumnya cuma dapet cerita-cerita aja dari Mama Papa." "Yaudah, ayok kita pulang kalau gitu. Kamu libur kan, Mel? Temenin Bunda beres-beres." "Iya, Bunda. Siap.", jawab Melan. "Boleh Deri bantuin bawa barangnya?", pinta Deri kepada mereka. Selama perjalanan, pembicaraan general tentang kabar Orangtua Melan, Orangtua Deri, Pekerjaan, Jerman, dan sekarang membahas Jakarta memenuhi suasana mobil Deri yang saat itu berganti Alphard. Dapat pinjam dari sang Mama. Bunda tidak menyinggung perihal perkembangan hubungan Melan dan Deri sesuai janjinya. Walapun Bunda yakin, dengan datangnya Deri saat ini sudah membuktikan keadaan menuju baik. *** Beberapa hari setelah kedatangan orangtua Melan, Papa Mama Deri tak tinggal diam. Mereka meminta untuk bertemu satu sama lain. Di sebuah restoran Jepang yang sedikit privat, Mama Deri memesan satu ruangan untuk reuni mereka berempat. "Bagaimana Jeng Anggi kemajuan anak-anak kita? Aku nggak dapet akses kabar apapun dari Melan.", tanya Bunda Melan. "Saya rasa mereka makin deket, Jeng. Tapi saya juga belum yakin, soalnya Deri kalau nggak ditanya juga nggak bakal cerita. Cuma begitu saya tanya, Deri itu seneng banget pas cerita tentang Melan. Semoga aja ada perkembangan." "Kapan-kapan kita ikuti mereka aja gimana? Penasaran bangeeeet...." "Setuju Jeng, saya siap kapanpun." "Bundaaaa...nggak usah gitu-gitu lah, kasihan anaknya.", sergah Ayah Melan. "Iya Mama juga nih, udah biarin aja mereka pendekatan dulu. Mana bisa Mama mata-matain anak sendiri. Jangan lupa Ma, lusa kita liburan ke Dubai. Eh, Dirga sama Jeng Eti mau ikut sekalian? Yuk !!" , ucap Papa Deri. "Waah, terimakasih banyak tawarannya, Mo. Tapi aku mau penyesuaian kerja dulu. Pindah tugas selalu bikin crowded pikiran, maklum udah mau tua, haa. Aku juga mau cek investku langsung ke perusahaan-perusahaan disini. Nanti misal ada masalah, aku konsultasi gratis ke kamu ya, Mo?" "Siap...siap, jangan sungkan. Anytime. Hahaha", mereka berempat kembali melanjutkan pembicaraan dan menghabiskan hidangan yang sudah tersaji. Berbeda dengan orangtua Deri yang kini memilih pensiun dini dan menghabiskan sisa hidupnya untuk berlibur, orangtua Melan justru masih senang untuk bekerja. Ayah Melan masih bekerja di pemerintahan sementara Bunda Melan mencoba bisnis kuliner sesuai ide dari Mama Deri. Kemampuan memasak Bunda sangat baik. Berbagai masakan dari segala penjuru dunia sudah dikuasai olehnya. Bekerja menjadi obat sepi paling manjur bagi kedua orangtua Melan. Sebenarnya, saat ini mereka bisa saja berhenti bekerja dan menikmati hasil sewa villa juga rumah yang tersebar di beberapa kota di Indonesia dan luar negeri. Setiap pindah tugas, Ayah Melan mengutamakan untuk membeli rumah di tempat itu sebagai investasi masa depan. Belum lagi, Ayah Melan sudah memasukkan beberapa investasi di berbagai macam perusahaan ternama di Indonesia, semuanya atas nama Melan. *** Akhir bulan ini Melan harus mendatangi undangan pernikahan anak dari Direktur Utama di perusahaannya. Acara diadakan di Bali. Sebenarnya keluarga inti yang diundang, namun jajaran manajer dan dewan direksi juga mendapat kehormatan untuk ikut serta sekalian bonus liburan gratis. Melan sangat menyayangkan tidak bisa mengajak Uni. Dari beberapa manajer di kantornya, tidak ada satupun yang dekat dengan Melan, mereka hanya sebatas partner kerja yang baik. Acara inti ada di hari Sabtu malam, namun para manajer sudah disediakan akomodasi dan tempat tinggal mulai jumat hingga minggu. Sebagai calon pasangan yang baik, Melan tak lupa memberi kabar kepada Deri walaupun Deri mengeluh karena tak boleh menemani Melan. Acara kali ini secara tidak langsung juga disebut sebagai acara kantor. Melan sudah siap berangkat, duduk di seat pesawat dan telah mematikan ponselnya. Di samping Melan ada Ari yang terlihat begitu exited. Melan hanya memperhatikan majalah fashion di tangannya. Hening hingga pesawat kini sudah tenang di atas awan. "Mel, kamu nggak pengen ngobrol apa gitu?", Ari memulai percakapan. "Haa? Apa? Ngobrol apa? Kerjaan? Sekarang?" "Ya enggaklah Mel, jutek banget sumpah. Ngobrol pribadi aja. Mmhh, yang kemarin itu beneran pacar kamu?" "Deri?" tanya Melan, Ari mengangguk sekilas. "Bukan urusan kamu.", lanjut Melan. "Kamu tahu aku suka sama kamu, Mel. Cuma kamu aja nganggep aku bercanda. Ya kan?" "Lha gimana nggak bercanda orang koar-koar bilang suka ke banyak cewek kok." "Berarti kalau aku cuma bilang sama kamu, kamu percaya?" "Enggak!!" "Kasih aku kesempatan dong, Mel. Aku pasti buktiin kalau aku bisa setia." "Ari, gini ya. Kamu itu sebenernya baik, pinter juga, dan kita emang cocok. Tapi cuma sebagai temen kerja. Nggak lebih. Berapa kali lagi aku harus ngomong kaya gini?" "Kita belum nyoba, Mel. Kita aja belum pernah kencan, pergi berdua gitu, makanya kamu nggak tahu bisa suka sama aku atau enggak." "Bisa diem nggak sih? Aku pengen liburanku tenang, kamu....", nada suara Melan meninggi. "Iyaaa, oke oke. Jangan emosi, Mel. Sorry...sorry... kamu kalau jutek gitu makin manis. Heee." Melan tak menanggapi perkataan Ari lagi, dia memilih menutup mata dan berpura-pura tidur menjauhkan kepala dari sisi kursi Ari dan menutup wajahnya dengan majalah. *** Begitu sampai di Bali, Melan mendapat teman sekamar bernama Andin yang merupakan seorang manajer keuangan. Mereka memilih istirahat dan baru keluar untuk makan malam bersama di resto dekat pantai. Keesokan harinya, Bali masih bersahabat. Udara yang dingin tapi tidak hujan membuat suasana pernikahan menjadi syahdu. Beruntungnya, karena acara outdoor sangat bergantung pada kondisi cuaca. Para tamu memakai pakaian serba putih dan mempelai terlihat manis menggunakan pakaian warna peach gelap. Lantunan lagu cinta bergema di sepanjang resepsi. Para tamu diminta untuk ikut menari disalah satu roundown acara. Ari meninggalkan Erlan dan tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendekatkan diri pada Melan yang sedang asyik menari bersama Andini, Sasa, dan Bella. Teman-teman Melan tersebut sadar pergerakan Ari karena mereka sudah sering mendengar bahwa Ari sejak lama mengejar cinta Melan. Akhirnya mereka bertiga memutuskan menjauh dan menyisakan Melan dengan Ari. Melan merasa tak nyaman, dia memutuskan untuk berhenti menari dan menepi dari kerumunan orang secara diam-diam agar Ari tak menyadarinya. Berdekatan dengan Ari hanya membuat mood nya memburuk. Melan berdiri di bawah pohon dengan mengedarkan pandangan ke arah keramaian, berniat mencari ketiga manajer cewe yang tadi telah membuatnya terpojok. Pandangannya justru terpaku pada sosok pria yang postur dan rahanya sudah sangat dikenal Melan walaupun dari kejauhan. Deri berdiri menyalami sang Direktur utama kemudian dia turun dan menghilang di kerumunan para tamu. Melan berniat mencari Deri tapi sepertinya akan sia-sia karena ada Ari disana, dan pasti susah menemukan Deri diantara para tamu yang sedang menikmati musik itu. Akhirnya Melan bertahan di posisinya tadi dengan mendekap tubuhnya yang diterpa angin malam. Dia akan mencari Deri saat acara selesai. Beberapa detik kemudian, ada seseorang yang membuatnya terkejut. "Makanya pake baju nggak usah minim gitu, udah tau outdoor malam tapi pundak masih dibuka-buka.", suara Deri mengagetkan jantung Melan. Deri mengalungkan jas putihnya di tubuh mulus Melan, kemudian membenarkan rambut gerai Melan kembali ke tatanan semula. "Kamu? Waaah waaah....", Melan melongo. "Aku mau ngejutin kamu, eh malah aku udah dikasih kejutan duluan. Tadi aku lihat cewek cantik lagi dipepet sama cowo tengil gitu disana. Abis itu si cewe sembunyi di bawah pohon." "Aku?" "Siapa lagi?", jawab Deri penuh percaya diri. "Kok bisa nyampe sini sih? Ini lagi, kenapa bisa dapet undangan?" "Ya..itulah kekuatan relasi, Mel. Aku tahu kalau ini acara privat, tapi aku bilang ke Dirutmu kalau aku ada acara di Bali, jadi mau sekalian mampir. Eh malah dianya yang seneng aku bisa dateng. Mungkin karena tanpa biaya akomodasi." "Kamu tadi lihat aku sama Ari? Aku dance sama temen-temen yang lain juga kok, tapi nggak tau nih pada kemana sekarang. Jadi sebenernya bukan cuma berdua..." "Kamu mau aku marah atau enggak?" Melan tampak menimbang-nimbang jawaban dengan memperhatikan mimik wajah Deri. "Nggak tau." "Yaudah kalau gitu, kamu balik ke hotel aja abis ini. Cepet cari temen-temen kamu keburu mereka pulang duluan. Nggak usah mampir-mampir lagi, dingin. Jasku bawa aja. Aku mau langsung balik ke Jakarta kayanya. Sampai jumpa...", Deri kemudian berjalan menjauh. Melan heran dan kaget, apa itu tadi? Kenapa itu orang? Tak habis pikir, Melan reflek langsung melangkah mengikuti Deri dan sedikit mempercepat langkahnya. Setelah dekat, Melan menarik tangan kiri Deri dari belakang. Sebuah sentuhan yang menghangatkan jiwa. Melan merasa ini yang dia tunggu beberapa hari terakhir. Dia mendekatkan tubuhnya ke Deri. Aroma pria itu tak hilang walau angin malam semakin besar. Melan berdiri di depan Deri dengan tatapan terkunci hangat. "Kamu pergi? Aku kedinginan, Der. Hug me please...", pinta Melan tiba-tiba. "Please...", ucapnya sekali lagi. Melan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Deri. Perlahan, tubuh mereka menempel satu sama lain. Melan melingkarkan tangannya di pinggang Deri. Mereka bertahan di posisi tersebut seakan saling membutuhkan. Dinginnya angin membuat situasi semakin nyaman. Deri masih belum menggerakkan tangannya. Dia hanya menikmati sentuhan Melan tanpa membalas. Melan bertanya disela pelukannya, "Jadi pulang?" "Nggak tau." "Kamu mau aku nahan kamu atau nggak?" "Iya lah!!", jawab Deri cepat. "Yaudah, jangan pulang ya?" Tanpa menjawab, Deri membalas pelukan Melan. Mereka tersenyum sekarang. "Aku bakal ketagihan meluk kamu." "Terserah.", ucap Melan. Keesokan harinya, mereka masih punya cukup waktu untuk bersenang-senang sebelum jadwal keberangkatan kembali ke Jakarta. Melan memutuskan untuk berpisah dari rombongan, berkilah ada acara penting menyangkut keluarga, akhirnya teman-teman Melan pun setuju. Semua barang Melan sudah dipacking dan Melan juga ijin untuk kembali ke Jakarta seorang diri, tidak ikut rombongan. Penerbangan akan ia tanggung sendiri. Sebenarnya ini permintaan khusus dari seorang Deri. Melan menghabiskan waktu berdua bersama Deri. Mereka berkeliling untuk sekedar menikmati kuliner dan mencari udara segar. Lokasi hanya pendukung suasana, yang terpenting adalah kita sedang bersama siapa. Deri menyewa satu mobil dengan atap terbuka untuk membawa Melan berkeliling dan berhenti di villa Deri. Mereka masuk untuk berenang disana. Berenang secara privat, dimana kolam renang Deri menghadap langsung ke arah laut. Akhirnya mereka bisa menikmati momen dengan tenang. Villa dua lantai itu begitu luas karena sudah memiliki fasilitas lengkap plus taman yang bisa dijadikan lokasi barbeque atau garden party. Melan juga mempunyai villa di Bali, walalupun tak sebesar punya Deri, namun sering disewa oleh para wisatawan secara bergantian. Jarang mempunyai waktu olahraga membuat keduanya belum lelah berenang kesana-kemari. Sekitar satu jam dan akhirnya penjaga villa datang membawakan handuk, kacamata hitam, jus dan makanan ringan. Melan menikmati suguhan di depannya dengan tenang. Mereka kini sudah duduk bersebelahan menghadap ke laut. Setelah berhenti memandangi Melan dengan kekagumannya, Deri ikut menyantap hidangan itu. Pembicaraan tentang semalam menjadi topik utama pagi itu. Tak ada amarah karena sikap dewasa Deri membuat Melan menjadi nyaman. Sikap romantis Deri membuat jantung Melan sering tak karuan, dan gaya bicara Deri seperti saat ini membuat Melan terhipnotis. Kenapa semua penuh dengan Deri?, tanya Melan dalam hati. "Aku mungkin sudah gila karena menyetujui permintaanmu untuk berpisah dari rombongan.", ucap Melan. "Kamu bukan gila, kamu beruntung.", Deri membanggakan diri. Melan hanya mencebik mendengarnya. Setelah berenang, mereka memutuskan untuk makan siang di resto milik Gilang yang ada di Bali, kemudian balik ke Jakarta dengan tiket super yang berhasil diperoleh Deri agar mereka bisa duduk berdampingan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD