(BAB 34)

1100 Words
"Sia-sia." Dua kata dari Kak Fikri yang terus aja wara-wiri di otak gue sekarang, memikirkan kembali pekara hidup, mati, bahkan jodoh, padahalnya semuanya bisa sangat sederhana kalau kita memandangnya dari segi hidup yang positif, bukan hanya sekedar angan-angan yang tergantung setinggi harapan tapi ada kenyataan hidup yang terkadang gak sejalan tapi harus kita terima dan jalani apa adanya, gak ada masalah tanpa solusi, itu janji Allah jadi sangat mustahil kalau masalah gue sekarang gak ada penyelesaiannya, gue sudah berusaha, gue sudah mencoba melakukan yang terbaik tapi kalau memang belum mendapatkan titik terang atau belum berjalan sesuai harapan bukan berarti gue gagal menjalani hidup gue yang sekarang. Kata sia-sia yang Kak Fikri ucapkan tadi bukan untuk mengatakan bahwa semua yang udah gue lakukan untuk melupakan dan merelakan perasaan gue ke Lian selama ini itu sia-sia tapi Kak Fikri mau gue memikirkan ini semua dari sudut pandang yang lain, kalau gue sudah berusaha keras tapi hasilnya masih sama itu apa artinya? Apa mungkin Lian memang yang terbaik untuk gue? Apa salahnya kalau gue mau mencoba membiarkan perasaan gue tetap seperti ini? Gue pergi hanya karena gue merasa takut akan keadaan yang kemungkinan akan semakin memburuk kalau gue gak bisa nahan diri. Gue takut kalau gue akan semakin mencintai Lian dan menyiksa gue sendiri lebih parah nantinya, gue takut kalau gue akan mengecewakan Bunda sama Mas Ali untuk kesekian kalinya, gue bahkan takut karena umur Lian yang jauh lebih muda dari gue membuat orang akan menilai dan membicarakan hubungan gue sama Lian nantinya, gue takut semuanya gak akan berjalan mudah untuk hubungan gue dan Lian kedepannya, gue takut Lian akan menyesal dan berubah pikiran dengan perasaannya sekarang, gue takut keinginan Lian memperjuangkan gue hanya semata-mata karena gue masih menolak perasaannya tapi begitu perasaannya terbalaskan, Lian akan bosan dan meninggalkan gue nantinya. Begitu banyak hal yang gue takutkan sekarang, gue takut untuk sesuatu yang belum jelas asal usulnya, gue takut untuk sesuatu yang belum tentu menjadi kenyataan, hanya karena kemungkinan itu ada makanya gue memotong habis semua kemungkinan itu makanya gue menhindar kaya gini, gue menolak terluka makanya gue mencari aman untuk perasaan gue sendiri, gue sampai lupa kalau apa yang selama ini gue usahakan, apa yang selama ini gue inginkan, akan tetap menjadi jalan hidup gue kalau memang itu adalah takdir gue yang Allah tentukan, gue mengabaikan semua hal itu dan mengkhawatirkan sesuatu yang gak perlu sama sekali. "Kalau kamu berubah pikiran dan mau pulang ke rumah, Kakak bisa nganterin." Ini adalah kalimat terakhir Kak Fikri tadi sebelum bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan gue masuk ke kemarnya lebih dulu, gue mengiyakan dan juga bangkit masuk ke kamar gue, untuk sekarang biar kaya gini dulu, gue gak akan punya alasan untuk pertanyaan Bunda sama Mas Ali kalau seandainya mereka berdua nanya gue kenapa pulang lagi padahal baru balik seminggu? Gue gak mungkin ngomong kalau gue khawatir sama Liankan? Gue gak mau berdebat sama mereka berdua, nanti kalau memang gue mau pulang ke rumah, gue bisa nanya sama Mbak Lia, paling gak Mbak Lia gak akan salah paham sama maksud gue nantinya. Gak mau semakin berlarut dengan pimikiran gue sendiri, gue beberes kilat dan milih berangkat ke toko es krim, Kak Fikri ikut juga sih karena hari ini libur gak ke kampus jadi dari pada bengong di rumah, Kak Fikri ikut gue nangkring di toko es krim, lumayan juga sih ada tambahan pegawai gratisankan, gak berbayar tapi dapat di percaya, alhamdulillah toko es krim gue dapet respon cukup baik dari orang-orang sekitar sini, buka belum sampai sebulan tapi udah ada beberapa orang yang bisa dikatakan langganan, gue bersyukur untuk itu. "Loh, Mas Rifki dateng lagi toh." Sapa Wina yang biasa kaga di bagian kasir, gue tersenyum kecil menatap muka kaget Kak Fikri sambilan geleng-geleng kepala, Wina mah suka banget ngegodain Kak Fikri asal tahu aja ya tapi Kak Fikri doang yang sadar diri atau memang pura-pura gak sadarkan diri, setiap kali Wini beraksi, muka kaget Kak Fikri pasti udah keliatan jelas, lagian udah tahu Wina kaya gitu ngapain masih pasang muka gak karuan coba? Harusnya Kak Fikri udah bisa nebak kalau ikut gue kemari itu artinya kudu siap ngadepin Wini yang modelannya memang udah begini, gak bisa diapa-apain lagi. "Ini kalau bukan Kak Rifki terus kamu pikir apaan Win? Setan?" Tanya gue tertawa lepas yang dibalas tatapan membunuh Kak Fikri dan senyum garingnya Wina, gue kalau ngeliatin mereka berdua pingin banget rasanya gue jodohin tapi gue kasian Kak Rifki, kudu siap mental sama telingan buat dengerin semua ocehan dan curhatannya Wina setiap hari tar, bukannya apa-apa, Wina lagi dalam mood biasa aja omongannya gak habis-habis, ada aja topik barunya nah gimana kalau Wina lagi bahagia? Gak bakalan kelar-kelar mah itu sesi curhatnya, kalau lagi bad mood ya jangan ditanya lagi, siap-siap nemenin Wina nangis kejer seharian, palingan berhenti kalau lagi laper atau mau ke kamar mandi doang, kan kasin Kak Fikri kalau begitu. "Kalau setannya seganteng Mas Fikri mah didatengin setiap hari juga ayo mah, ndak papa, ikhlas saya Mbak, lahir bathin malah." Balas Wina yang membuat tawa gue semakin pecah seketika, asli ni anak kocak parah, jangan tanya tatapan Kak Fikri begitu denger jawaban Wina barusan, dengan omongan gue aja tatapannya udah begitu apalagi denger jawaban Wina barusan, apa yang ada dihadapan bakalan jadi sasaran empuk untuk meluapkan emosi yang belum tersalurkan dari tadi kayanya, orang di sekitar kudu wasapada. "Becandaan kalian berdua gak lucu tahu gak, ini lagi, setan setan, mana ada setan seganteng ini? Sadarlah saudara-saudara, sadarlah, kalau mau mimpi masih kecepetan, malam masih lama." Kak Fikri menatap gue sama Wina kesal dan minta Wina bergeser dari bagian kasir dan Kak Fikri ngambil alih tempat sebgai gantinya, gue sih gak masalah, mau Kak Fikri jaga dimana aja juga jadi, gue percaya sama saudara gue. "Kak! Kakak gak tertarik gitu sama Wina? Kayanya Wina serius banget suka sama Kakak, anaknya cantik jugakan? Gak bakalan kelupaan Kakak ajak pulang kalau jalan." Ucap gue menautkan kening gue didepan muka Kak Fikri, tatapan ngeri tiba-tiba terlihat jelas diwajah Kakak sepupu gue, sehoror itukah kalau gue ngejodohin mereka berdua? Gak santai amat bawaannya, padahal mah gue baru nanya, belum ngasih nyuruh Kak Fikri suka beneran. "Milih pasangan bukan sekedar menilai tampang, hari-hari Kakak bakalan kaya apa kalau setiap hari kudu ngeledenin curhatannya Wina? Kamu gak kasian sama Kakak? Kalau mau nyariin calon yang wajaran sedikit kenapa Syia?" Tanya Kak Fikri yang membuat senyum gue mengmbang. "Kalau nyari calon lain takutnya malah mereka yang gak sanggup untuk nerima Kakak." Dan kali ini Kak Fikri tersenyum kecil menatap gue, kan gue bener, kalau perempuannya waras, belum tentu mau sama Kak Fikri yang otaknya sering gak waras kaya gini.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD