Gue memang semakin sering memikirkan Lian selama ini, gue semakin sering memikirkan Lian dan semakin sering pula gue mencoba menolak kenyataan itu, hati yang seolah gak pernah sejalan dengan pemikiran gue, hati yang terkadang selalu berbeda pendapat dengan gue dan hati yang terkadang menolak untuk mengakui kalau memang benar gue sering memikirkan Lian juga, otak gue udah gue wanti-wanti untuk gak mikirin apapun tentang Lian, otak yang udah gue peringati untuk gak terus mikirin laki-laki yang sedang gue coba lupakan sekarang tapi apa? Baru tahu kabar Lian sakit aja rasanya gue mau langsung pulang untuk ngeliat keadaannya, apa ini akan berhasil?
"Apalagi yang kamu pikirin sekarang? Mikirin keadaan Lian? Kamu bingung mau pulang ke rumah atau enggak? Jadi serba salah sendiri?" Gue mengiyakan, gue memang jadinya kaya ngerasa serba salah sendiri, mau mundur salah, mau ngelanjutin perasaan gue juga salah, ibarat katanya gue mau pulang sekarang ya terus ngapain gue jauh-jauh pindah tapi kalau gue gak pulang gue juga bingung sendiri, gue kalau kepikiran kaya gini juga gak bakalan fokus ngapa-ngapainkan? Gue gak bakalan fokus untuk ngerjain kerjaan gue, boro-boro ngerjain tugas dan kewajiban, semangat untuk berangkat ke toko es krim aja udah gak ada gue sekarang.
"Kak! Kakak pernah suka sama orang gak sih? Gimana kalau Kakak dituntut untuk ngelupain orang yang Kakak suka tanpa alasan jelas? Mendadak dan buru-buru? Apa Kakak bakalan bisa?" Tanya gue sangat antusias mendengarkan jawaban Kak Fikri sekarang, lagian masalah gue sekarang kalau orang lain ada diposisi gue apa mereka akan melakukan hal yang sama atau mereka malah akan melakukan hal sebaliknya? Ketika hati sama pemikiran udah gak sejalan, gue kudu gimana? Apa ornag lain akan memilih hal yang sama seperti gue atau memang ini cuma murni keputusan gue aja, keputusan yang melibatkan perasaan gak karuan gue sendiri.
"Suka sama seseorang? Ya pasti ada, kalau Kakak sering malah, menurut Kakak pertanyaan kamu sekarang mungkin lebih tepatnya kamu sebut cinta, ya karena kalay itu hanya sekedar perasaan suka atau semacamnya, kamu gak perlu buang-buang waktu sama tenaga cuma untuk menghindar kaya gini, balik ke pertanyaan kamu awal, apa kalau Kakak punya seseorang yang Kakak cinta dan terpaksa harus Kakak lupakan tanpa ada alasan pasti dan harus sesegera mungkin, jawabannya itu gak akan mudah Syi, perasaan seseorang gak akan semudah itu jadi kamu gak perlu nyalahin diri kamu sendiri kalau memang kamu belum bisa melupakan Lian, melupakan memang gak mudah jadi jangan nyalahin diri kalau belum berhasil, itu cuma akan jadi beban baru." Jelas Kak Fikri lagi-lagi yang gue angguki.
Setidaknya setelah mendengarkan jawaban Kak Fikri barusan gue bisa balik mikir, ini tu bukan cuma gue yang terlalu terbawa emosi atau perasaan tapi semua orang yang ada di posisi gue juga akan melakukan hal yang sama, gue gak akan menyalahkan diri gue sendiri dan gue akan sendikit bisa berdamai dengan perasaan dan hati gue, gue mungkin juga bisa berdamai dengan keadaan, gak perlu ada lagi yang gue pertanyakan, entah itu pilihan karena gue terlalu mementingkan perasaan atau pilihan gue cuma karena keegoisan gue yang semakin gak karuan, seharusnya jawaban Kak Fikri bisa membuat gue merasa jauh lebih baik.
"Jadi sekarang rencana kamu apa? Pulang? Atau masih mau tetap disini? Dengan pemikiran kamu yang melayang entah kemana-mana itu? Apa kamu bakalan bisa fokus kerja? Apa perasaan kamu bisa berubah jauh lebih baik kalau kamu mau tetap bertahan dengan keinginan kamu?" Gue terdiam untuk pertanyaan Kak Fikri yang sekarang, kenapa? Karena gue sendiri gak yakin apa gue harus pulang atau tetap stay disini seperti rencana, lagian, kalaupun gue mau pulang, gue harus ngasih alasan apa sama Bunda atau Mas Ali kalau mereka nanya nanti? Alasan apapun pasti sulit mereka berdua terima.
Belum lagi Lian, bukannya selama sebulan ini Lian gak nyariin gue, gue sama Lian sama sekali gaka da kontekan bahkan nomer gue aja Lian udah gak ada, kata memperjuangkan yang Lian maksud gue gak ngeliat dan merasa itu sama sekali jadi apa wajar kalau gue dateng tiba-tiba dan ngejengkuin Lian sakit kaya gini? Ayolah, itu bakalan aneh banget, Lian bakalan mikir apa? Gue yang punya rencana pindah, bisa dikatakan gue yang menghindar dari awal tapi gimana ceritanya tiba-tiba gue balik dan ngedatengin Lian secara suka rela cuma karena dia sakit? Lian bakalan ngetawain gue habis-habisan, Bunda sama Mas Ali juga gak akan ngebiarin gue ngelakuin hal bodoh kaya gitu.
"Kak! Kalau pun Syia pulang, apa Kakak pikir Bunda sama Mas Ali bakalan terima dengan alasan Syia nanti? Mereka pasti bakalan langsung bisa nebak alasan Syia pulang itu apa? Baru juga sebulan tapi Syia udah nyerah kaya gini, Bunda sama Mas Ali pasti bakalan makin kecewa Kak." Dan gue gak mau Bunda sama Mas gue kecewa lagi, gue udah berbuat banyak hal yang mengecewakan mereka sebelum ini jadi gak mungkin gue ulang lagikan? Bisa makin kecewa mereka sama gue.
"Kamu takut dengan Bunda sama Mas Ali atau kamu takut Lian yang gak akan sesuai dengan harapan kamu nanti? Kamu takut harapan yang udah kamu bangun kembali hancur? Atau kamu takut dan gak yakin dengan diri kamu sendiri?" Kenapa pertanyaan Kak Fikri dari tadi seolah nampar gue banget? Semua yang Kak Fikri tanya itu jelas sama dengan apa yang gue pikirkan sekarang, gue bingung dengan perasaan gue sendiri iya, gue takut gue kenyataan kalau Lian udah melupakan gue iya dan gue takut dengan reaksi Bunda sama Mas Ali juga iya, banyak hal yang sebenernya gue takuti sekarang.
"Semuanya Kak! Semua yang Kakak sebutin barusan adalah ketakutan Syia sekarang, ditambah lagi dengan keadaan yang sepertinya gak pernah mendukung keinginan dan harapan Syia, bukannya itu lebih membuat Syia bingung? Apa dan gimana mau Syia, Syia sendiri gak tahu, Syia pikir menjauh bisa membuat perasaan Syia lebih tenang, Syia pikir dengan memberikan jarak, maish ada banyak hal yang bisa Syia pikirkan tapi kenyataan gak kaya gitu, gak ada banyak hal yang berubah, bahkan yang terpenting juga gak berubah sama sekali." Harapan yang seolah terus dibalas angan, gue pikir semuanya akan semakin membaik tapi nyatanya? Bukannya membaik tapi cuma gue anggap baik-baik aja.
"Mau tahu solusi yang pernah Kakak coba untuk merelakan perempuan yang Kakak cintai dulu?" Pertantaan Kak Fikri yang membuat mata gue berbinar antusias.
"Tetap mencintai seperti biasa, karena kalau memang bukan dia jodoh kamu, perasaan itu akan menghilang dengan sendirinya tapi kalau memang itu jodoh kamu, sekeras apapun kamu nyoba melupakan, semuanya akan sia-sia."