(BAB 29)

1117 Words
Mencoba mengabaikan semua kemungkinan yang akan terjadi, gue tetap dengan keputusan gue untuk pindah dan hari ini adalah harinya, gue pindah tanpa sepengetahuan Lian sama sekali, gue menutup mata dan telinga gue untuk beberapa hari ini, gue mengganti nomer telfon gue dan lelah dengan chat dan panggilan masuk dari Lian, gue gak mau perasaan gue kembali goyah dan berakhir dengan meragu untuk keputusan gue sekarang, ganti nomer dan pindah tanpa sepengetahuan tetangga depan rumah gue adalah salah satu usaha untuk menyelesaikan masalah, ini adalah usaha terbaik yang bisa gue lakukan untuk waktu terdekat, gue mau menenangkan perasaan gue yang udah gak karuan kaya apa bentukannya. Sekali kali gue memperingati keluarga gue, apa yang gue lakuin sekarang bukan berarti gue menghindar, gue akan kembali menyelesaikan masalah gue, kepergian gue sekarang cuma untuk mencari celah dan jarak antara gue sama Lian, gue mau tahu, perasaan gue ke Lian sedalam apa sebenernya? Apa jarak dan waktu bisa mengubah perasaan gue ke Lian? Begitu sebaliknya? Apa jarak dan waktu bisa membuat Lian mengubah perasaannya ke gue? Kalau berpisahpun masih bisa membuat Lian bertahan dengan perasaannya yang sekarang, mungkin akan ada alasan lebih untuk gue juga mau memperjuangkan perasaan gue nantinya, Lian juga bisa melakukan hal yang sama ke gue. Gue juga mempergunakan kesempatan ini untuk membiarkan keluarga gue menilai Lian sebaik mungkin, apa pekara umur bisa menjadi penghalang dalam hubungan gue sama Lian nanti? Karena sejujurnya, membicarakan masalah dalam suatu hubungan gue yakin gak akan ada yang luput dari ujiannya, entah itu untuk yang hubungan pacaran atau bahkan dalam hubungan sebuah pernikahan, semuanya akan ada masalahnya, gak akan ada yang berjalan lancar selancar jalan tol, masalah akan selalu hadir, entah itu untuk memperkuat suatu hubungan atau bahkan menghancurkannya karena kurangnya sebuah kepercayaan terhadap pasangan, gue ingin memastikan ini, caranya mungkin bisa melalui hal kaya gini juga. Jarak yang akan gue hadapi dengan Lian nanti apakah akan membuat gue menjauh bahkan sampai melupa? Apakah Lian masih akan sama walaupun gue udah mengabaikan bahkan menyakiti perasaannya, karena bagi gue, saat kalian tulus mencintai seseorang, kemarahannya tidak akan membuat kalian mengalah lalu pergi begitu aja, marah dan berbeda pendapat itu hal biasa, yang namanya dua kepala disatuin ya pasti bakalan susah, gak akan ada yang mulus, ini lagi yang gue pertimbangkan, apa sikap dan sifat kekanak-kanakan Lian bisa menjadi masalah yang sangat besar nantinya? Atau bahkan sifat keras kepala dan egois gue juga akan menghancurkan hubungan itu dengan begitu mudahnya? Ini yang sedang gue pertanyakan. Mencintai bukan hanya tentang memperjuangkan, ada saatnya kalian berada diposisi bukan perjuangan yang kalian inginkan tapi pengertian untuk saling mengerti keadaan satu sama lain, kalau perjuangan adalah segalanya dalam hal mencintai, apa kabar dengan cinta sepihak? Bukannya memperjuangan cinta sepihak malah akan menyakiti satu sama lain? Sakit untuk orang yang mencintai dan berat untuk orang yang menerima cinta sepihak itu juga, cinta gak sesederhana itu, ada banyak hal dan segi dalam menilai cinta itu sendiri, entah menilai dalam bentuk perjuangan atau belajar memahami perasaan satu sama lain dan saling mengerti perasaan. Cinta terbaik tidak akan selalu terbungkus dengan hal-hal indah, ada banyak cara Allah menghadirkan cinta, semuanya tercatat sebagai jalan takdirnya masing-masing, pekara hidup, mati, rezeki bahkan jodoh, itu ada takdirnya, berusaha memang perlu tetapi setelah berusaha tapi keadaannya masih juga terasa berat, coba pertimbangkan lagi, apa benar ini yang gue yakini jalan terbaik? Ini memang jalan terbaik atau hanya pandangan yang gue lihat dari sudut gue sendiri agar terlibat baik? Apa ini yang terbaik atau memang kita tanpa dasar memaksa keadaan karena nyatanya ini yang kita inginkan, terkadang kita lupa, yang kita inginkan belum tentu menjadi yang terbaik dan yang terbaik tidak selalu datang sesuai dengan harapan. Untuk sekarang, ini adalah yang gue yakini akan menjadi jalan terbaik untuk gue menyelesaikan masalah, membiarkan keadaan menjadi lebih tenang, membiarkan semua orang berpikir hal terbaik untuk diri mereka sendiri dan andai kata suatu saat takdir akan kembali mempertemukan gue dangan Lian, mungkin yang gue yakini sekarant bukanlah yang terbaik, yang memang ditakdirkan menjadi milik gue gak akan tertukar menjadi takdir milik orang lain, gue bukan menyerah tapi gue pasrah dengan keadaan, gue gak mau menyakiti keluarga gue, gue juga gak mau menyiksa diri gue lebih lama lagi, pergi adalah keputusan yang gue rasa paling tepat, setidaknya untuk saat ini. "Udah siap? Ada yang ketinggalan?" Tanya Mas Ali membuka pintu kamar gue, gue mengangguk pelan, kalaupun ada yang kurang gue bisa minta Mas Ali ngirimin atau beli lain, lagian gue juga udah janji sama Bunda kalau gue akan sering pulang, minimal sebulan sekali, ini adalah syarat yang diberikan Bunda supaya gue bisa keluar dari rumah, mengenai orang yang nemenin gue juga udah dicariin sama Mas Ali, kebetulan ada saudara sepupu Bunda yang memang diminta Bunda sendiri untuk nemenin gue disana jadi gue gak akan sendirian apalagi sampai gak ada yang ngurusin pas disana nanti. Masalah rencana gue yang mau buka toko es krim juga udah dalam proses, semoga secepatnya gue bisa mulai, ini adalah rencana gue yang gue rencana dengan harapan besar, gue sangat berharap kalau semuanya akan semakin membaik, entah untuk keadaan, rencana masa depan dan perasaan gue juga, harapan yang terdengar sangat sederhana dan gue berharap kalau harapan sederhana gue akan berjalan sesuai rencana, apapun masalahnya nanti semoga gue bisa menyelesaikan semuanya dengan cukup baik, gak perlu ada lagi yang gue takutkan, kalau gue melakukan dengan berlapang d**a, gak akan ada usaha yang sia-sia, ini yang ingin gue yakini. "Mas! Syia cuma mau ngingetin lagi, jangan ngasih nomer baru Syia untuk siapapun, jangan sampai Lian atau Mas Rian tahu Syia pindah kemana, kalau mereka nanyain Syia, jangan ngasih jawaban apapun, yang terpenting, apapun yang akan Lian lakuin kalau nanti dia tahu Syia pindah, jangan kasar dan menyakiti perasaan Lian lebih parah dari ini, Syia minta tolong." Ucap gue dengan tatapan sangat memohon, gue ngomong kaya gini bukan tanpa alasan, karena gue tahu kalau Mas Ali sama Bunda gak suka dengan kenyataan Lian yang membalas perasaan gue makanya gue ngomong kaya gini, jangan bersikap kasar kalau cuma untuk membuat perasaan Lian lebih tersakiti lagi, gue gak mau. "Apa kamu sangat mencintai Lian?" Pertanyaan Mas Ali tiba-tiba, Mas Ali bahkan memegang kedua bahu gue dan menatap gue dengan tatapan yang gak bisa gue artikan sama sekali, kenapa Mas Ali mendadak nanya kaya gini sama gue? "Gimanapun perasaan Syia ke Lian, gak akan mengubah kenyataan kalau Syia tetap menyakiti perasaannya Mas." Dan ini adalah jawaban gue sekarang, mencintai sederhana atau bahkan dalam sekalipun, akhirnya masih akan tetap sama, Mas Ali sama Bunda menentang hubungan kita berdua jadi gak ada yang perlu gue sama Mas Ali bahas, gak ada yang harus gue jelasin lagi supaya Mas Ali mau mengerti, percuma. "Ayo turun." Gue menurunkan genggaman Mas Ali di bahu gue dan tersenyum sekilas.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD