(BAB 28)

1151 Words
Setelah pembicaraan gue sama Lian tadi, gue gak busa mikir apapun sekarang, gue udah memperingatkan diri gue sendiri untuk jauh lebih berhati-hati dengan perasaan gue ke Lian sekarang tapi pada akhirnya gue kembali meragu dan bingung dengan keputusan gue sendiri sekarang, apa pilihan gue sekarang adalah pilihan yang tepat? Apa keputusan gue sekarang adalah keputusan yang terbaik? Apa gue gak terlalu mengakiti perasaan Lian? Gue bahkan terus menanyakan hal ini pada diri gue sendiri, gue takut kalau pilihan gue sekarang itu salah, gue takut kalau apa yang gue putuskan bukan ini jalan terbaiknya, bukannya menyelesaikan masalah tapi cuma bakalan nambah rumit keadaan. Sadar kalau pembicaraan gue sama Lian gak akan ada akhir, gue milih menurunkan Lian di halte bus terdekat dan langsung pulang ke rumah, gue juga belum memberikan jawaban apapun untuk kalimat terakhir Lian tadi sebelum kita berdua pulang terpisah, Lian meminta gue untuk gak pergi kemanapun tanpa sepengetahuannya sedangkan rencana gue sekarang adalah pergi tanpa perlu siapapun tahu kalau gue akan pindah, kapan dan kemana? Gue berniat merahasiakan ini semua tapi kenapa semuanya malah semakin rumit, permintaan Lian tadi jelas bertentangan dengan rencana gue sekarang, gue harus gimana menanggapi permintaan Lian yang kaya tadi itu? Belum lagi dengan ancaman Lian yang akan ngelakuin apapun seandainya gue gak nurutin keinginannya, andai gue tetap keras kepala dan mengabaikan Lian sekarang, gue gak akan bisa membayangkan apa yang bakalan Lian lakuin untuk menepati ucapannya tadi, gue gak bisa memikirkan apapun tentang apa yang bakalan Lian lakuin kalau gue tetap memilih pergi tanpa pemberitahuan apapun, gue keras kepala nah Lian jangan tanya lagi, dia lebih keras kepala dari gue terlebih dia juga laki-laki, apa keadaannya akan semakin membaik kalau udah kaya gini? Gue udah gak yakin, kalau Lian beneran nekat, bakalan banyak hal yang semakin berantakan, bakalan makin ada banyak masalah yang harus gue selesaikan nantinya. Tapi apa gue bisa mengabulkan permintaan Lian untuk tetap tinggal tadi? Jawabannya juga jelas gak bisa, gue gak akan ngelakuin itu, permintaan Lian akan bertentangan rencana terakhir yang gue punya sekarang, gue akan pindah dan gue gak mau siapapun tahu kecuali keluarga terdekat gue, tapi balik mengingat reaksi Lian sewaktu tahu gue berhenti ngajar tadi aja udah kaya orang rumahnya kebakaran, Lian keliatan sangat marah bahkan berani ngomong kaya tadi di dalam kelas, apa gue masih yakin kalau Lian akan mengerti keadaan gue dan gak akan ngelakuin hal aneh apapun? Orang gila juga gak akan yakin kalau udah kaya gini ceritanya. Terus sekarang gue harus gimana? Pada akhirnya gue malah berada disituasi yang mengharuskan gue untuk kembali memilih, memilih diantara dua pilihan yang cukup berat juga, itu gak akan mudah sama sekali, dulu gue pernah ada diposisi ini sewaktu Bunda sama Mas Ali menolak hubungan gue dengan Mas Galang, waktu itu gue yang sangat keras kepala malah memilih Mas Galang dengan bodohnya sampai mengabaikan semua ucapan keluarga gue sendiri, dan sekarang disaat hal yang sama terulang untuk kedua kalinya, apa gue masih mempunyai keberanian untuk memilih Lian dan mengabaikan keluarga gue lagi? Gue gak mungkin bertindak segila itu. Keputusan gue gak akan berubah tapi Lian juga gak akan main-main dengan ucapannya, kalau Mas Galang bisa menyelingkuhi gue tanpa mau berjuang untuk gue sama sekali, disaat Lian malah berisi keras berjuang untuk perasaannya ke gue, gue harus gimana? Mengabaikan terasa sulit tapi menerima perasaannya Lian terdengar lebih tidak mungkin lagi, berapa banyak hati yang harus gue korbankan kalau gue mengikuti perasaan gue sendiri sekarang? Bunda sama Mas Ali gak akan tinggal diam kalau gue berubah pikiran saat ini juga, Lian mungkin bisa melakukan apapun tapi keluarga gue juga bisa melakukan apapun, semuanya gak akan mudah. "Kamu gak ngajar Dek?" Tanya Mbak Lia ke gue yang memang sedang duduk dimeja makan sembari menyeruput s**u kotak gue seperti biasa. "Ngajar Mbak tapi cuma satu kelas, Syia udah mutusin untuk ngundurin diri dan berhenti ngajar mulai sekarang, pengganti Syia juga udah ada jadi Syia gak harus maksain diri lagi, nanti tinggal ngomong sama Mas Azzam aja tar selebihnya Mas Azzam yang ngurus." Jelas gue seandanya, Mbak Lia mengangguk pelan dan ngambil posisi duduk berhadapan dengan gue, Mbak Lia memang sering makan belakangan karena Dara kalau makan maunya disuapin terus alhasil anaknya makanya duluan, Bundanya ya makan jurusan belakangan. "Apa gak terlalu terburu-buru? Ian udah tahu kamu berhenti ngajar?" Tanya Mbak Lia di sela suapannya, gue mengangguk pelan untuk pertanyaan Mbak Lia barusan, terdengar teeburu-buru memang tapi gue buru-buru aja masalah udah kaya gini apalagi kalau gue perlambat? Mungkin masalahnya bisa jadi lebih besar, lagian cepat atau lambat Ian akan tetap tahu kalau gue berhenti ngajar, ini cuma masalah waktu, begitupun dengan rencana gue untuk pindah, cepat atau lambat pasti bakalan ketahuan juga, gue udah nganti sipasi untuk ini, setidaknya gue harus bisa menghadapi apapun sikap Lian nanti, entah itu anak bakalan marah tau bahkan bertindak diluar dugaan gue sekalipun, semua kemungkinannya ya tetap bakalan ada. "Ian udah tahu dan dia marah tapi Syia tetap ngerasa begini jauh lebih baik, mau sekarang atau nanti, Syia akan tetap keluar dari kerjaan Syia, itu cuma masalah waktu dan Syia yakin reaksi Lian akan tetap sama." Mau Lian tahu nanti atau sekarang, hasilnya akan tetap sama, tu anak bakalan tetap ngamuk kalau dia tahu, dia bakalan marah sama gue dan itu wajar, gue gak bisa melarang Ian melakukan itu semua, tapi ya balik lagi, gue udah yakin dengan keputusan gue, walaupun gue sedikit meragu tapi gue gak akan mengubah keputusan gue. "Dan gimana sama rencana kamu untuk pindah, apa Lian udah tahu? Lian mungkin akan bereaksi lebih parah dari ini kalau sampai Ian tahu nanti." Gue tahu, makanya itu gue bilang tadi kalau gue harus nyiapin mental untuk nerima apapun sikap Lian, gue gak mau ambil pusing tapi masalahnya memang bikin pusing, sekarang udah cukup untuk gue memikirkan pilihan gue dan semua konsekuansinya juga harus udah siap untuk gue tanggung, gue gak akan mundur apalagi berubah pikiran cuma karena takut dengan sikap Lian nanti, selama gue menuruti keinginan keluarga gue, selama keluarga gue gak akan salah paham, masalah seberat apapun akan tetap ada penyelesainnya. "Untuk sekarang Ian cuma baru tahu kalau Syia berhenti ngajar Mbak, masalah Syia mau pindah orang lain belum ada yang tahu termasuk Ian, Syia gak mungkin cerita sekarang kan Mbak? Kalau sampai Ian tahu Syia mau pindah, Ian bakalan ngelakuin hal aneh-aneh, nanti kalau Syia udah pindah, cepat atau lambat Ian juga akan tahu sendiri." Kalau gue udah gak tinggal di rumah, Ian pasti bakalan nanya gue kemana dan kenapa gak keliatan lagi dirumah sama keluarga gue dan kalau sampai saat itu dateng, setidaknya gue udah gak perlu ngadepin kemarahannya Ian, asalkan keluarga gue tutup mulut dan gak ngasih tahu siapapun gue pindah kemana, Ian juga gak akan bisa berbuat apapun. "Yaudah kalau memang menurut Adek itu yang terbaik, Mbak cuma bisa ngedukung." Gue tersenyum kecil dengan ucapan Mbak Lia barusan, gue sangat tahu kalau yang mendukung penuh gue selama ini ya memang cuma Mbak Lia, itu gak terbantahkan sama sekali.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD